
Rayyan menangis sesegukan didalam pelukan Mami Alisa dan Papi Gilang. ''Sudah.. semua ini sudah terjadi. Sekarang yang kita lakukan adalah.. kamu harus segera menikahi Zahra. Jangan sampai psikisnya terganggu. Ayo bersiap. Sudah masuk waktu dhuhur. Mandi, lalu sholat. Jangan biarkan hatimu berlarut-larut dalam rasa penyesalan. Kamu tidak salah Nak.. memang inilah jalannya. Jalan untuk menyatukan kalian berdua. Pergilah, kami akan menunggu mu di bawah. Mahar pernikahan mu sudah Papi siapkan. Ayo cepat mandi! Ayo sayang, kita ke bawah. Sholat dulu, hem??'' kata Papi Gilang pada Mami Alisa.
''Ya, Nak??''
''Iya Mami.. Abang mandi dan sholat. Emm.. untuk mas kawinnya Abang sudah siapkan. Tidak usah Papi yang siapkan. Mahar ini khusus permintaan Zahra.'' lirih Rayyan begitu lesu.
Mami Alisa dan Papi Gilang saling pandang. ''Baiklah, jika itu sudah menjadi keinginan mu. Bersiap lah. Kami tunggu kamu di bawah.''
''Ya,'' sahutnya.
Dengan segera mereka berdua berlalu dan meninggalkan Rayyan di kamar itu seorang diri. Mami Alisa sempat melihat kebelakang, terlihat sekali wajah Rayyan yang begitu sembab.
Wanita paruh baya yang masih cantik itu mengheja nafasnya. Sementara Rayyan mencoba mengiyakan dan menegarkan dirinya agar sanggup dan mampu untuk berdiri disamping Zahra.
Sungguh berat dirinya melakukan semua ini sebelum waktunya. Walaupun mereka sudah di jodohkan, tapi perjodohan itu akan terjadi ketika mereka sudah selesai sekolah.
Namun, itu semua diluar kendali nya. Seolah takdir sedang tidak berpihak padanya. Rayyan menyusut lagi air bening yang mengalir di pipi halusnya.
Ia mencoba tegar untuk menghadapi semua ini. Semuanya sudah terjadi. Tidak bisa dihindari lagi. Memang inilah takdir nya. Takdirnya harus menikah dengan Zahra pada saat umurnya masih belum genap delapan belas tahun.
Rayyan masih mengingat perkataan Annisa dua tahun yang lalu saat mereka akan berlibur kerumah nenek Alina.
Ia termenung.
__ADS_1
Saat itu seluruh keluarga sedang singgah di ruang makan. Mereka tertawa-tawa melihat tingkah kedua keponakan kembarnya. Putri kak Ira dan Bang Raga.
Rayyan terkekeh melihat keponakannya itu begitu rusuh saat makan. ''Pantas saja kakak sering ngomel sama nih bocah! Ternyata begini ya cara makan mereka berdua??'' kata Rayyan pada Annisa.
Annisa terkekeh begitu juga dengan yang lainnya. ''Maklum dek, si biang rusuh ya seperti ini! Tapi tanpa ada mereka berdua rumah kita terasa sunyi. Lihatlah Mak dan Papi. Mereka sudah tua. Sudah cocok untuk menimang cucu dari kita!''
''Nggak mau ah! Kakak aja dulu sama Bang Tama. Abang belakangan! Wong Zahra masih kecil juga? Kakak lah sama bang Lana yang ngasi cucu buat Mami dan Papi! Abang mah ogah, sekarang!'' sahut Rayyan.
Annisa tertawa. ''Belum lagi dek.. sebentar lagi. Takutnya Kakak yang duluan nikah, tapi kamunya yang duluan punya momongan!''
''Huss! Kakak ngomong apaan sih?! Nggak baik ngomong kayak gitu! Jangan mendoakan yang tidak-tidak kakak! Gimana sih?!'' gerutu Rayyan dengan wajah di tekuk.
Rayyan tertegun dengan ucapan Kakaknya. Annisa. Benar, bahkan sampai saat ini Kak Annisa belum memilki momongan. Ia masih sibuk dengan sekolahnya di Bandung.
Mami Alisa yang baru saja masuk pun ikut menangis lagi. ''Sayang..''
Rayyan mengusap lagi air mata yang terus mengalir tanpa henti itu. Ia tersenyum melihat Mami Alisa masuk dengan membawa es batu untuk di kompres ke matanya.
''Sini duduk,'' titah Mami Alisa.
Rayyan menurut. Ia duduk di depan Mami Alisa yang juga matanya itu sembab. Ia mengambil Kompress es itu dan ia letakkan di mata Rayyan.
Rayyan diam saja. Begitu juga dengan sang Mami. Mereka berdiaman tanpa ada yang berkata satu patah pun. Namun, Air mata itu terus mengalir di mata tuanya.
__ADS_1
''Mami...'' lirih Rayyan dengan mata mengembun lagi.
Mami Alisa terisak. ''Cukup! Kamu nggak boleh nangis! Cukup Mami aja! Jangan sesalkan semua yang telah terjadi. Karena inilah takdirmu. Takdirmu dan kakak mu tidak jauh berbeda. Mami tau semuanya sayang. Mami tau! Tapi Mami tidak bisa ikut campur dalam hal rumah tangganya! Karena dia pun menutupinya dari Mami! Mami tau jika kakak mu tersiksa berjauhan dari suaminya! Tapi inilah keputusannya! Ia harus pergi karena memang ia butuh waktu untuk mendidik dirinya lebih dewasa lagi. Sudah cukup! Bersiaplah! Mami tunggu dibawah, hem? Mami percaya, putra Mami pasti bisa melewati ini dengan baik. Sabar dan tawakal hanya itu kuncinya. Paham??''
Rayyan mengangguk dan tersenyum. ''Iya Mami.. Abang akan bersiap!'' katanya pada Mami Alisa.
Mami Alisa tersenyum, ''Mandilah. Biar tubuhmu lebih segar saat menikah nanti. Jangan berpikir macam-macam. Jangan berpikir jika kamu terpaksa menikah dengan Zahra sekarang karena kejadian ini. Karena tanpa kejadian ini pun, kamu tetap akan menikahinya. Karena dia merupakan calon istri masa depan mu.''
''Bukan dia yang melakukan kesalahan itu, tapi memang sudah menjadi suratan takdir untuknya. Mungkin dengan ini, Zahra akan lebih baik lagi dari yang dulu. Kita tidak pernah tau dengan masa depan. Mami harap, kamu tidak menyangkal takdir. Jika Zahra itu memang jodohmu. Tetapi... jika suatu saat kalian terpisah karena suatu hal, maka yakinlah. Allah akan mengganti kan nya dengan yang lebih baik. Percayakan saja semua ini pada Allah. Karena apa yang menjadi keputusan nya itu adalah yang terbaik untuk kita.''
''Allah menyukai apa yang tidak kamu sukai. Begitu pun sebaliknya. Apa yang tidak kamu sukai tapi sangat disukai oleh Allah. Satu hal yang paling Allah benci. Yaitu perceraian! Pesan Mami.. apapun yang terjadi ke depannya jangan gegabah dalam mengambil keputusan. Kami imam di dalam rumah tangga mu. Tuntun Zahra. Bawa ia ke jalan Allah. Tapi ingat, kamu tetap tidak boleh menyentuhnya dalam hal menggauli nya. Paham??''
Rayyan mengangguk dan mendekati wanita yang telah menyusui dan membesarkan nya itu.
''Terimakasih Mami.. Mami selalu bisa menenangkan dan selalu bisa memberikan nasehat untuk Abang. Maka dari itu, Abang menerima pernikahan ini. Karena Abang melihat, jika Zahra memiliki seperti sifat yang Mami miliki. Awalnya Abang memang terpaksa menerima pernikahan yang seharusnya terjadi nanti. Tapi karena nasehat Mami baru saja, semakin membuat Abang yakin. Jika keputusan Abang menikahi Zahra sejak dini adalah benar! Serahkan semuanya pada takdir. Karena hanya takdir lah yang bisa menuntun dan mendidik diri kita menjadi semakin kuat dan percaya bahwa ketetapan Allah itu memang benar-benar terjadi dan benar adanya. Terimakasih Mami.. Abang sangat sayang sama Mami. Betapa beruntungnya Abang memiliki Mami sambung seperti Mami Alisa.''
''I Misa You Mami! Always ada forever! Cup!''
''Ya, me too..'' sahut Mami Alisa.
Mereka tertawa bersama . Inilah sifat Rayyan saat bersama Mami Alisa. Ia seperti memiliki sahabat untuk berbagi dan juga berkeluh kesah.
Dan ya, sebentar lagi Rayyan akan menikahi Zahra. Mengikuti keputusan takdir yang sudah menjadi ketetapannya. Walaupun awalnya terpaksa, tapi setelah mendengar nasehat Mami Alisa, Rayyan menerima pernihan ini dengan lapang hati.
__ADS_1