
Sore harinya.
Zahra mengerjabkan matanya saat pintu kamar mereka berdua di ketuk dari luar. Dirinya yang masih mengantuk pun ia paksa untuk bangun.
''Hem.. jam berapa ini??'' gumam Zahra sambil melepaskan pelukan Rayyan dari tubuhnya.
Pelan-pelan Zahra menurunkan tangan Rayyan, tapi Karena pergerakan itu Rayyan terkejut. Ia membuka matanya. ''Eh? Kamu udah bangun? Jam berapa ini?'' tanya Rayyan.
Ia duduk menyender di kepala ranjang. Sedang Zahra berlalu untuk membuka pintu. ''Mama?''
Mama Rani tersenyum, ''Baru bangun?''
Zahra mengangguk. ''Ya, Ngantuk banget Ma. Ada apa Ma? perlu sesuatu kah??'' tanya Zahra dengan raut wajah bingung.
Mama Rani terkekeh. ''Nggak.. Mama nggak butuh apa-apa kok. Cuma ngingetin kalian berdua aja supaya. bangun, mandi dan sholat ashar. Sudah jam lima lewat tiga puluh. Keburu asharnya habis.''
Zahra terkejut. ''Iyakah?? Astaghfirullah!! Ya udah, Zahra mandi dulu ya Ma? Kak Rayyan pun baru bangun.''
Mama Rani terkekeh dan mengangguk. ''Ya sudah, mandilah. Ingat pesan Mama ya Nak??''
Zahra mengangguk, setelah nya ia pun segera masuk ke kamarnya kembali dan tidak mendapati Rayyan di ranjang mereka. Zahra menghela nafasnya.
''Aku mandi di kamar sebelah aja. Sekalian sholat ashar. Nggak pantas aku yang hina ini harus sholat bersama Kak Rayyan. Aku sadar diri. Aku tidak bisa disentuh olehnya.'' Lirih Zahra begitu sendu.
__ADS_1
Ada rasa sesak dihati saat Mama Rani tadi siang mengingat kan nya tentang hal ini. Sangat sakit rasanya. Tidur bersama tapi Tidak bisa menyentuh lebih sang suami.
Zahra mengambil handuk dan baju ganti. Setelah nya, ia keluar dari kamar itu bertepatan dengan Rayyan yang baru saja siap mandi.
Ia kebingungan mencari Zahra. Padahal tadi saat mandi, masih terdengar suara Zahra berbicara dengan Mama Rani. ''Zahra Kemana ya? Apakah ikut keluar bersama Mama Rani?? Eh, mukenah nya kemana? Sholat di musholla rumah ini kah? Baiklah, aku akan kesana saja.'' gumamnya pada diri sendiri.
Dengan tergesa ia memakai baju dan kain sarung untuk melaksanakan sholat ashar yang hampir habis waktunya.
Rayyan keluar dari kamar dan menuju Mushola rumah Zahra yang berada di ujung sebelah kiri rumahnya. Berdempetan dengan dinding ruang Opa Angga dan Oma Dewi.
Tiba di musholla rumah Zahra, tidak ada siapa-siapa disana. Hanya ia seorang diri. Rayan pun dengan segera melaksanakan sholat ashar. Ia tau, Jika Zahra tidak akan kemana-mana.
Ia bisa menebak. Jika tidak ke dapur, pasti ke taman belakang rumah mereka yang sengaja dibuatkan koalm ikan koi oleh Papa Reza untuk Mampir Rani. Sekaligus sebuah kebun mini untuk sang istri.
Lima belas menit berlalu.
Gadis itu tidak terlihat batang hidungnya. Ingin bertanya, tapi malu. Lebih baik diam, pikir Rayyan.
Sementara Zahra berada dikamar sebelah. Yaitu kamar tamu. Sedari sholat ashar hingga sholat Maghrib ia tidak keluar dari kamar itu. Ia sangat khusyuk dalam berdoa dan memohon ampunan atas segala dosa yang telah ia perbuat bersama pemuda itu.
Bagaimana pun Zahra pun ikut andil disana. Coba saja, Zahra bersikeras menolak dan menendang pusaka lelaki itu, pastilah ia tidak akan ternoda.
Zahra menangis pilu. Sajadah tempat ia bersujud basah dengan air mata nya. Zahra menangis tersedu. Kisahnya dan Rayyan baru saja dimulai, tapi dengan keadaan dirinya tidak sempurna.
__ADS_1
''Hiks.. hiks.. siapa aku untuknya? Aku tidak pantas bersama nya. Jangankan untuk menjadi istri nya, menyentuh nya pun ia menolak. Aku sadar diri. Diriku ini kotor. Tidak pantas untukmu. Hiks.. andai .. hiks.. aku tidak pantas bersama nya. Tapi aku bisa apa? Aaaaaa...'' Zahra tersedu di sajadah nya selepas ia berdua sholat Maghrib.
Sementara Rayyan kebingungan mencari Zahra. Hingga makan malam pun ia tidak ada. Sempat panik. Tapi Mama Rani menenangkan nya.
''Zahra kok nggak ada ya Ma? Rayyan cari dulu ya?'' kata Rayyan pada Mana Rabu begitu khawatir.
Papa Reza tersenyum, ''Zahra tidak kemana-mana. Ia hanya sedang bertaubat agar layak dan pantas untuk menjadi istrimu kelak. Bersabarlah menunggu nya, nak. Bawa saja makanan nya ke kamar. Paksa dia makan kalau ia tidak mau. Seminggu ini, makannya tidak menentu. Pergilah. Sebentar lagi, ia pasti balik ke kamar kalian. Zahra tidak kemana-mana kok,'' ucap Papa Reza sengaja untuk menenangkan pikiran Rayyan.
Papa Reza tau, jika Zahra ada di kamar sebelah. Karena beliau sempat mendengar isakan yang begitu lirih dari sebalik kamar yang tertutup rapat itu.
Rayyan mengangguk patuh. Ia pergi dengan membawa nampan berisi nasi untuk makan malam Zahra. Masuk ke kamar mereka dan meletakkan nampan itu di meja nakas.
Sembari menunggu Zahra datang, Rayyan membuka tas sekolah dan mengulang pelajaran untuk ulangan besok. Mengingat tentang ulangan, ada seseorang yang selalu merecokinya tentang jawaban dari ulangan itu.
Tapi .. untuk besok, Rayyan tidak jamin. Jika pemuda itu akan masuk sekolah. Mengingat dirinya yang terluka begitu parah. Entah apa yang terjadi dengan pemuda itu sekarang, Rayyan pun tak tau.
Rayyan sibuk dengan tugas sekolah nya. Sedangkan Zahra sibuk dengan menangisi takdir hidupnya.
Ingin bunuh diri tapi takut dosa. Buat apa cepat-cepat mati, jika masih diberikan kesempatan untuk hidup dan bertaubat? Inilah yang terjadi pada Zahra saat ini.
Rayyan tidak sadar, jika dirinya tertidur lagi setelah sholat isya tadi. Ia begitu lelah menunggu Zahra. Tapi Zahra tak kunjung datang.
Sedangkan Zahra saat ini sedang berada di dapur. Ia sedang makan malam yang sudah larut. Selalu seperti itu. Bukan ia tak mau makan bersama. Hanya saja, ia sadar diri tidak pantas duduk bersama keluarga nya lagi setelah dirinya ketahuan tidak suci lagi.
__ADS_1
Selama seminggu ini. Zahra hanya makan sekali dalam sehari. Itu pun ketika perutnya sudah benar-benar terasa lapar. Jika tidak, ia lebih memilih tidur di sajadahnya sampai esok hari.
''Maafkan aku kak.. mulai malam ini, aku tidak akan tidur bersama mu lagi. Aku harus sadar diri, jika aku ini tidak pantas bersama mu. Kamu menerimaku karena terpaksa. Aku tau itu kak. Dan aku sangat paham. Aku akan belajar hidup tanpa bergantung padamu. Karena, ketika aku pergi nanti, aku tidak ingin meninggalkan luka di hatimu yang begitu dalam akibat perbuatan ku. Maafkan aku kak Rayyan.. ini yang terbaik untuk kita. Biarkan sampai seperti ini. Sampai dimana, aku terbukti hamil. Mengandung darah dagingnya.''