
Tiga hari sudah berlalu. Dan hari ini Rayyan dan kedua orang tuanya akan pulang lagi ke Medan. Karena batas cuti dari sekolah yang Rayyan pinta hanya empat hari itu pun kepala sekolah melarang nya karena ia sebentar lagi akan ujian akhir. Sama seperti Dimas.
Dimas terpaksa melakukan homeschooling seperti usul Rayyan. Melihat dari daya tahan tubuh Dimas yang belum membaik, Dimas harus belajar tetapi dirumah saja.
Akan afa seorang guru dari sekolahnya yang akan mengajarkan Dimas nantinya. Rayyan sudah bersiap-siap sedari subuh. Dimas pun ikut membantu.
Dimas menatap sendu pada Rayyan. Rayyan tau itu. ''Abang tidak akan meninggalkan mu Dek. Kamu tetap sahabat sekaligus saudara buat Abang. Kapan pun kamu ingin pulang kerumah, Abang menyambut mu dengan senang hati. Atau.. kamu ikut Abang saja pulang ke Medan??''
Dimas tersenyum dan menggeleng, ''Nggak bang. Aku disini saja. Aku tidak mau mengganggu hubungan kalian berdua lagi. Cukup sudah yang terjadi. Biarkan aku merubah diriku dulu menjadi yang terbaik seperti keinginan Abang dulunya. Baru setelah itu kita akan bertemu kembali. Bukankah Abang akan kuliah di Bandung nanti?''
''Iya sih. Tapi itu kan masih lama? Masih ada sekitar tujuh bulan lagi sebelum kita tamat. Pesan Abang, kamu harus selalu sehat dan sembuh. Abang tidak ingin mendengar apapun tentang mu selama kamu di Jakarta. Kamu harus sehat dek. Jangan membuat Abang khawatir padamu. Abang jauh darimu. Tidak bisa mengurus dan memasakkan apa yang kamu mau.. ya?''
Dimas mengangguk dan tersenyum manis pada Rayyan. ''Tentu. Aku janji. Abang tidak akan mendengar apapun lagi tentangku setelah ini. Aku akan sehat seperti keinginan Abang. Tapi rasa bersalah ku padamu sangatlah besar bang. Apakah aku mampu melewati semua ini sendirian?? '' gumam hati Dimas, ''Abang tenang saja ya? Aku bakalan jaga diri kok. Abang tidak usah khawatir. Fokuskan saja pada sekolahmu dan juga istrimu.. sekali lagi mengenai dirinya.. aku minta maaf Bang..'' lirih Dimas dengan mata berkaca-kaca.
Wajah tampan itu mendadak sendu. Rayyan memeluk Dimas danengusap lembut tubuh belakang nya. ''Sudah.. dia sudah memaafkan mu. Karena dia tau, inilah takdir nya. Kamu jangan terus-terusan merasa bersalah seperti ini. Cukupkan sampai disini saja. Abang ingin melihatmu bahagia..''
__ADS_1
''Tentu Bang. Aku akan bahagia bila kalian bahagia..'' lirihnya, ''Tapi entah bagaimana dengan mimpi itu? Apakah aku mampu menghadapi nya? Belum lagi mimpi itu tentang kamu dan Zahra, Bang! Apakah aku sanggup? Aku takut, jika dirinya ini akan semakin merasa bersalah jikalau sampai kamu berduka karena mimpi yang akan segera terjadi ini..'' Batin Dimas semakin merasa sesak.
''Bersabarlah. Jika terjadi sesuatu dengan kami nanti, Abang harap kamu jangan menghukum dirimu sendiri. Abang tau apa yang kamu pikirkan Dek!''
Deg!
Deg!
Dimas semakin erat memeluk tubuh Rayyan. Rayyan pun demikian. ''Ingatlah satu hal. Setiap yang bernyawa pasti akan mati. Kita tidak bisa menolak takdir yang sudah tertulis untuk kita. Kita hanya bisa pasrah akan ketetapan yang sudah ada sedari kita diciptakan di lauhul Mahfudh. Jangan berfikir dan jangan bersedih. Abang tidak ingin melihatmu bersedih lagi Dek..'' Kini gantian Rayyan yang merasakan sesak di dadanya. Takut akan mimpi Dimas itu menjadi kenyataan.
Dimas mengangguk, ''Kan cuma duduk di mobil Bang?'' jawab Dimas dengan Terkekeh tapi sendu.
Rayyan mengelus kepala Dimas dengan sayang. ''Ayo!''
Dimas mengangguk.
__ADS_1
Kedua nya berjalan beriringan menuju teras dimana Mami Alisa dan Papi Gilang sudah menunggu mereka berdua.
Hari ini Rayyan harus pulang lagi ke Medan, karena batas cuti sudah selesai. Tiga hari bersama Rayyan, Dimas merasakan kebahagiaan lagi tetapi setelah nya berubah menjadi suram kembali.
Dimas tidak ingin menunjukkan nya pada Rayyan. Ia lebih menunjukkan wajah ceria nya ketimbang wajah sendunya. Dimas tidak ingin kalau Rayyan bersedih karena melihatnya yang terus sakit seperti itu.
Sepanjang perjalanan mereka terus saja bergurau. Ketiga paruh baya itupun ikut tertawa bersama mereka. Dimas tetap tersenyum walau hati menangis. Begitu pun dengan Rayyan.
Ia pun merasakan sesuatu hal akan terjadi dengan nya dan Zahra nanti. Tapi entah apa. Tabir rahasia di balik mimpi itu tidak ada yang tau. Semua itu akan di ketahui ketika musibah atau hal apapun itu sudah datang kepada mereka nantinya.
Dimas melambaikan tangannya saat terakhir kali melihat Rayyan menaiki pesawat untuk pulang ke Medan kembali. Kini tinggallah dirinya yang akan dibalut sepi sendiri tanpa ada yang menemani.
Demi menuruti permintaan Rayyan untuk menepati janjinya, Dimas rela pergi walau sebenarnya tidak ia inginkan sama sekali. Karena dirinya begitu menyayangi Rayyan sama seperti Rayyan juga menyayangi dirinya.
''Aku akan berusaha tegar Bang. Walau nantinya aku akan rubuh dan terjatuh, aku akan tetap berdiri kembali. Aku akan mengingat pesan mu ini. Aku sangat menyayangimu Bang Rayyan. Sangat menyayangi mu..'' lirih Dimas ketika pesawat itu sudah lepas landas di atas awan sana.
__ADS_1