
''BENAR KATAMU! KALAU AKU PENGKHIANAT! BUKAN KAMU! AKU RELA MENGOBRAL TUBUHKU PADA PRIA YANG SANGAT MENCINTAIKU! PERGILAH! AKU INGIN SENDIRI. AKU TIDAK INGIN MELIHAT WAJAHMU LAGI SAMPAI AKU MATI!!''
Dddduuuuaaaaarrrrrrrrr...
''Ra!!!!'' seru Rayyan dengan suara meninggi. Rayyan begitu terkejut mendengar Zahra berbicara seperti itu. Padahal saat ini ia sedang berbicara dengan adik sepupunya. Putri dari Budenya. Fatimah Zahra. Kakak kandung dari Mama Vita.
Gadis yang didalam sambungan ponsel itu terkejut. ''Abang! Siapa dia?! Ada apa ini?! Bisa kamu jelaskan?!'' Seru gadis di seberang telepon sana.
''KELUAR KATAKU RAYYAN PUTRA BHASKARA! AKU MENYESAL KARENA TELAH MEMINTA MU UNTUK MENIKAHI KU! AKU MENYESAL! AKU TIDAK INGIN MELIHATMU LAGI! PERGIIIII!! PERGI KAU BERSAMA GADIS PILIHAN MUU!! AKU TUDAK SUDI MENERIMA SUAMI SEPERTIMU!!! AKU KOTOR!!! DIA BERSIH!!! AKU TIDAK PANTAS DENGANMU!! KELUAR KAU RAYYAN PUTRA BHASKARA!!! MULAI HARI INI, KAU BUKAN LAH SUAMI KU LAGI! SETELAH ANAK INI LAHIR, AKU AKAN BERPISAH DARIMU UNTUK SELAMA NYA. SELAMANYA RAYYAN PUTRA BHASKARA! SE LA MA NYA!!!''
Dddduuuuaaaaarrrrrrrrr...
Pletak!
Ponsel Rayyan jatuh ke lantai sedang Rayyan mematung mendengar ucapan Zahra yang begitu tinggi dengan suara memekik.
Braaakkk...
''Rayyan! Zahra!!!'' pekik Mama Rani dan Papa Reza. Mereka tertegun mendapati Zahra sedang mengamuk dan melepmapr tubuh Rayyan dengan semua benda yang ia jumpai di dalam kamarnya.
''Pergiiiii!!! Aku tak ingin melihat wajah mu lagi!!! Pergi dari ku!!! Aku membencimu!!! Tuhaaaannn... ambil nyawaku sekarang juga!!! Aku benci hidup ini!! Aku benci kehidupan ku yang ternoda seperti iniiii!! Kenapa akuuuu!!! Kenapa akuuu!!!! haaaaaaaaaa..... aaaaaaaaaa....'' Raung Zahra begitu pilu.
Rayyan tergugu. Ia takenyangka niat imhati hanya ingin menunjukkan dirinya juga bersalah dalam hal hubungi kami merdeka, malah menjadi bumerang untuk dirinya sendiri.
Plaak..
Bugghh..
Bugghh..
Bugghh..
Semua benda yang ada di kamar itu Zahra lempar ke tubuh Rayyan dengan kuat. Seperti kerasukan Zahra terus menjerit dan melompat apapun yang ia temui.
__ADS_1
Rayyan tak melawan. Tapi air mata itu membanjiri seluruh pipinya. ''Sa-sayang...'' lirihnya begitu menyayat hati.
Zahra menoleh dengan wajah berlinangan air mata. ''PERGI!!! HIKS.. AKU TSK INGKN MELIHAT WAJAHMU RAYYAN! AKU MEMBENCIMU! SEUMUUR HIDUPKU!! PERGIIIII!!! AKU HINA!! AKU KOTOR!! DIA BERSIH!! DIA LAYAK UNTUKMU!! TAPI TIDAK DENGANKU!! BSHKSN UNTUK TIDUR SEJANST DENGAN MU PUN AKU TAK BISA!!!! KELUAR KALIAN SEMUA!!! AKU INGIN SENDIRI!!! KELUAAAAR!!!!''
Plaaakkk..
Brruukkk..
Pyaaarr...
Deg!
Brruukkk..
''Sayang!'' seru Papa Reza pada Mama Rani.
Mama Rani jatuh pingsan. Ia terkejut melihat Zahra ternyata terluka karena larangan darinya. ''Bangun sayang! Astaghfirullah!! Pamaaannn... Bibiiii....'' pekik Papa Reza pada Paman Ali dan Bibi Kasmi di dapur sana.
Mereka semua berlarian menuju kamar Zahra yang terbuka. Tiba disana, semuanya tertegun melihat keadaan ksmar Zahra.
Belum lagi, Rayyan berdiri membatu dengan dahi mengeluarkan darah hingga menetes ke pipi mulusnya. Pemuda itu menatap sendu pada sang pujaan hati yang masih mengamuk disana.
Perlahan tapi pasti, dengan langkah yang berat Rayyan mendekati Zahra yang sudah duduk berjongkok dan menutup kedua wajah nya.
''Hiks.. hiks.. aku benci kamu Kak. Aku benci kalian semua. hiks. Aku terluka! Sakit! hiks. Aku benci kak Rayyan! Sakit! Pergi! Aku tak ingin bersamamu! Pergi Kak! hiks.. hiks...'' lirihnya semakin menyayat hati.
Apa kabar dengan Rayyan, ia pun sama. Bagai di tusuk sembilu jantungnya saat melihat keadaan Zahra yang begitu terpukul kala mengetahui dirinya juga sama sepertinya. Berkhianat. Tapi bukan itu maksudnya.
Rayyan ingin menunjukkan pada Zahra jika dirinya pun sama seperti Zahra. Mereka berdua sama-sama berkhianat. Itu yang ingin Rayyan tunjukkan. Tak disangka olehnya, Zahra bisa se histeris itu saat mengetahui jika dirinya pun sama seperti nya.
Rayyan berjongkok di depan Zahra. Wajah itu basah dengan air mata dan darah yang mengalir dari pelipisnya. Rayyan pun ikut tersedu ketika melihat Zahra begitu terluka karena nya.
''Sayang... maafkan aku.. aku tak bermaksud membuatku terluka. Tapi inilah kenyataan nya. Gadis itu sepupuku. Ia adalah adik sepupu ku dari Mama Vita di Bandung sana. Saat ini ia sedang jalan-jalan ke Medan bersama kedua orang tuanya. Dia ada disini sayang. Di hotel. Aku baru saja tau. Hiks.. maaf. Jika kamu mengira aku menyukainya. Jika sebagai laki-laki aku pastilah menyukainya. Dia sangat mirip denganmu, Ra. Sangat mirip. Bahkan aku mengira jika Cinta adalah titisan kamu. Sifat dan kelakuan kalian itu begitu sama. Kadang aku berfikir. Apakah Cinta di lahirksn untuk ku?? Itu pasti tidak mungkin. Setauku, jika ada orang yang sama mirip wajah itu memang ada.''
__ADS_1
''Bukan kah kita manusia Memiliki kembaran wajah serupa hingga tujuh orang?? Tapi kenapa Cinta berbeda? Cinta begitu mirip denganmu. Wajahnya pun sama persis seperti dirimu. Bahkan kesamaan watak dan sifat pun sama persis. Aku bingung. Ada apa ini? Kamu bisa menjelaskan nya sayang??''
Zahra terdiam, ia berhenti dari menangis. Namun, tidak menoleh pada Rayyan. Walau masih terus sesegukan, Zahra tetap setia mendengar semua perkataan Rayyan untuknya.
''Sayang, dengarkan kakak!'' katanya pada Zahra yang masih menyembunyikan wajahnya di kedua lututnya.
Ketiga paruh baya disana masih berdiri mematung di depan pintu. Mereka tetap setia menanti kelanjutan dari cerita Rayyan. Karena mereka pun penasaran. Apalagi Paman Ali dan Bibi Kasmi.
''Dulu, saat pertama kali kakak melihat Cinta. Kakak terkejut. Kakak pikir cinta itu kamu. Karena wajah kalian berdua bak pinang di belah dua. Belum lagi sikap manja nya. Sama persis seperti dirimu. Kakak bingung di buatnya. Belum lagi, Mama Vita dan bude Zahra-,''
Deg!
Zahra mendongak ketika mendengar nama Zahra.
Deg!
Deg!
Zahra terkejut melihat wajah Rayyan dipenuhi dengan darah yang terus mengucur di dahinya.
''Darah!'' Setu Zahra dengan panik.
''Darah? Dimana?? Nggak ada ah.'' katanya.
Rayyan merasakan pusing di kepalanya karena terlalu lama berjongkok, pikirnya. Ia jatuh terduduk. Sementara Zahra panik sendiri mencari kotak P3K.
Ia melewati ke tiga orang yang berdiri meraung karena melihat ulahnya. Bahkan ia melewati Papa Reza yang sedang membawakan minuman hangat untuk Mama Rani.
Zahra berlari ke belakang dimana kotak P3K berada. Ia membuka lemari kecil yang lengket di dinding itu dan mengambil kotak tersebut. Setelahnya ia kembali nerlarienuju ke kamarnya.
Rayyan masih duduk termenung memikirkan kesamaan antara Cinta sepupunya dan juga Zahra istri tercintanya. Hanya dengan Cinta Rayyan bisa berbicara seakrab itu.
Melihat Cinta sama seperti melihat Zahra versi kecilnya. ''Apakah Cinta reinkarnasi dari Zahra ?? Ah, tapi bagaimana bisa?? Sedang Zahra saja masih hidup dan bersama ku saat ini?? Sebenarnya ada apa ini??''' bisik Rayyan dalam hati.
__ADS_1