Janda Kembang Season 2 ( Ternoda )

Janda Kembang Season 2 ( Ternoda )
Zahra telah tiada


__ADS_3

Rayyan mengguncang kuat tubuh Zahra dengan wajah beesimbah air mata yang tidak mau berhenti.


''Tidaaaaaaaaaaaakkkkk... banguuuunnn... kamu nggak boleh pergi Raaaaaaa!!! Banguuuunnn!!!! Banguuuunnn... tidaaaaaaakkkk... aaaaaaaaaa....'' Raung Rayyan begitu terluka.


Kepalanya mendadak pusing, pandangan matanya buram seketika dan..


Brrruukkk.


''Astaghfirullah!! Rayyan!!''


Deg!


Deg!


Mami Alisa terkejut melihat Rayyan jatuh terkapar dilantai dengan wajah basah air mata. Sedang Zahra sudah terbujur kalau dibangkar nya.


Sedangkan bidan yang sedang mengurus bayi Zahra terkejut bukan main. Begitu pun dokter kandungan Zahra. Ia berulang kali memeriksa Zahra. Tetap saja. Wanita itu diam dan tidak bergerak.


Tidak putus asa, ia mencoba mengambil kejut listrik. Agar Zahra bisa kembali lagi. Satu kali, dua kali, hingga untuk yang kesekian kalinya Mami Alisa tidak tahan melihat itu.


''Hiks .. sudah dokter! Sudah.. putri saya sudah tiada.. tolong jangan sakiti raganya... hiks.. hiks.. putraku.. bangun Nak! Papiiiiii!!!''


Dddduuuuaaaaarrrrrrrrr..

__ADS_1


Papi Gilang tersentak dari lamunannya. Ia bergegas masuk ke dalam dan mendapati sang istri sedang berusaha menyadarkan Rayyan yang saat ini begitu damai dalam tidurnya.


''Sayang? Ini ada apa?''


Deg!


Papi Gilang terkejut melihat Zahra yang terbujur kaku kehabisan darah. Wajah cantik nan chubby itu pucat pasi seperti tidak di aliri darah sama sekali.


Papi Gilang berjongkok. Ia memeluk Mami Alisa yang kini semakin panik karena Rayyan tidak kunjung bangun.


''Hiks.. sayang! Putra kita! menantu kita! Zahra.. Zahra.. hiks..'' Isak Mami Alisa masih mencoba untuk menyadarkan Rayyan.


''Bang! Masuklah!'' seru pada Papa Reza.


Pria paruh baya Papa kandung Zahra itu mengangkat Mama Rani dan membopongnya untuk masuk keruang bersalin.


''Maafkan kami ibu Rani.. kami sudah berusaha. Tetapi takdir berkehendak lain..'' lirihnya dengan dada yang begitu sesak.


Mama Rani jatuh pingsan. ''Sayang!''


''Rani!!'' seru Mami Alisa. ''Pi? Bawa Rayyan! Mami akan mengurus jenazah Zahra. Kabarkan kepada seluruh keluarga besar kita dan juga sekolah Zahra. Sembunyikan tentang penyebab kematian nya. Katakan jika Zahra meninggal karena kecelakaan bersama Rayyan!'' ucapnya menatap serius pada Papi Gilang.


Wajah pemuda tampan yang masih muda itu tersenyum, ia mengangguk. ''Baik, kalau ada apa-apa. Hubungi aku segera. Kuatkan dirimu. Putra kita membutuhkan mu saat ini. Aku keluar dulu. Cup!'' Papi Gilang mengecup kening Mami Alisa membuat paruh baya itu meneteskan lagi air matanya.

__ADS_1


Papi Gilang bangkit dan keluar menuju Kakek Ali yang shock karena berita kematian Zahra. Bibi Kasmi pun begitu. Ia shock bukan main. Walaupun begitu pikirannya saat ini masihlah waras. Ia menghubungi ketiga anaknya yang tidak jauh tinggal dari mereka untuk datang kerumah Mama Rani. Untuk mempersiapkan kepulangan jenazah Zahra.


Begitu juga berita itu harus di umumkan di komplek perumahan mereka. Papi Gilang bergerak cepat. Begitu pun dengan Mami Alisa.


Ia mengurus segala sesuatunya untuk Rayyan. Kedua bayi kembar itu untuk sementara harus tinggal dirumah sakit karena masih membutuhkan bantuan dari dokter yang menangani Zahra melahirkan.


Kinara dan Algi bertugas menjaga Rayyan. Karena sampai saat inipun Rayyan belum sadarkan diri. Jenazah Zahra akan mereka bawa pulang kerumah duka setelah Rayyan sadar kembali.


Sedangkan di komplek perumahan mewah tempat tinggal mereka kini sudah diramaikan dengan para warga yang sedang menunggu jenazah Zahra.


Mana yang kenal dengan Papa Reza dan Mama Rani mereka semua ikut melayat dan takziyah disana.


Tidak terkecuali. Opa Angga dan Oma Dewi begitu terkejut mendengar berita itu dari Papi Gilang. Oma Dewi sempat pingsan karena berita kematian Zahra.


Belum lagi di sekolah Rayyan dan Zahra pun demikian. Mereka teman sekelas Zahra berbondong-bondong menghampiri rumah duka untuk melihat Zahra yang terakhir kalinya.


Satu jam kemudian Rayyan sadar. Tetapi tetap histeris. Beruntung nya ada Kinara dan Algi yang selalu setia menemani Rayyan yang begitu terpuruk saat ini.


Gilang dipapah oleh Kinara dan Algi untuk pulang kerumah duka. Mami Alisa dan Mama Rani sudah memasuki ambulan rumah sakit. Kedua orang itu begitu terpukul akan kejadian ini.


''A-aku sudah melarang nya Mbak. Dokter bilang, hiks. Kalau Zahra masihlah sangat muda untuk hamil dan melahirkan. Ia masih terlalu dini. Aku bilang operasi aja. Tapi Zahra menolak. Ia tetap Keukeh ingin melahirkan secara normal. Katanya kalau nanti ia mati, paling tidak ia mendapat kan pahala syahit saat ia melahirkan kedua anaknya. Haaaaaaa.. ia mendapatkan nya Mbak.. hiks.. hiks..'' Isak Mama Rani begitu menyayat hati.


Keempat saudara Zahra yang lainnya pun sudah diberitahu. Mereka sempat juga histeris. Termasuk Zidan. Saudara kembar Zahra.

__ADS_1


Baru Minggu kemarin ia pulang untuk menjenguk adik kembarnya itu. Dan hari ini? Ia mendapati kabar kalau Zahra sudah tiada.


Seluruh keluarga besar Bhaskara dan Alamsyah saat ini sedang berdua karena kepergian Zahra untuk selama-lamanya.


__ADS_2