
Pukul dua belas tengah hari jenazah Zahra dibawa pulang ke rumah. Sepanjang perjalanan masuk komplek, sudah banyak mobil, motor dan juga para tamu yang akan melayat kerumah duka.
Tiba didepan rumah, Zahra di turunkan bersama bangkar rumah sakit untuk masuk ke dalam rumah.
Mama Rani pingsan saat melihat jenazah Zahra dibawa masuk. Papa Reza memapahnya untuk dibaringkan diruang tamu yang sudah penuh dengan para pelayat.
Zidan dengan sigap memangku Kepala Mama Rani. Pemuda tampan mirip Zahra itu pun wajahnya basah dengan air mata.
''Hks.. bangun Ma. Sadar. Mama..'' lirih Zidan sembari mengoleskan minyak kayu putih di dahi serta hidung Mama Rani.
Sementara Mami Alisa sudah duduk di kepala almarhumah Zahra yang sudah terbujur kaku di lantai berlapiskan tilam busa milik Zahra.
Sementara diluar, Rayyan, Kinara dan Algi baru saja tiba. Tiba di depan pintu, mata itu menatap nanar pada sang istri yang kini sudah terbujur kaku.
Lagi kakinya lemas bagai tak bertulang. Matanya kembali buram. Ia kembali lagi seperti saat dirumah sakit tadi. Rayyan jatuh ambruk ke lantai dengan Kinara dan Algi pun ikut bersamanya. Karena mereka berdua yang memapah nya.
''Abang!! Astaghfirullah!! hiks.. Mamiiii.. Papiiiiii... Abang!!'' pekik Kinara karena melihat sang Abang sulungnya jatuh terkapar dilantai nan dingin lagi.
Mami Alisa berlari mendekati Rayyan dan kedua anaknya yang lain. Kak Ira dan bang Raga yang baru datang pun terkejut bukan main.
''Astaghfirullah! Adek!'' seru Kak Ira.
''Bawa masuk dulu ke kamarnya. Biar Abang periksa! Ayo! Ayo Pi!'' kata Bang Raga pada Papi Gilang yang mencoba memapah tubuh Rayyan.
Mereka bertiga memapah Rayyan untuk dibawa masuk ke kamar Zahra yang pernah ia tempati.
__ADS_1
''Kamu diluar aja kak. Biar Mak disini yang temani Abang. Kamu juga bang, adek! Kalian bertiga keluar dan duduk disampingnya. Tidak ada keluarga kita disana. Semuanya tumbang saat almarhumah dibawa pulang kerumah. Kamu perwakilan keluarga kita Kak. Ayo!''
''Iya Mak. Ayo Dek kita keluar dulu. Biarkan Abang istirahat sebentar. Ia pasti sangat shock saat ini.''
''Ya,'' sahut Algi dan Kinara.
Kini ketiga orang itu berlalu keluar. Hanya Bang Raga dan Mami Alisa yang tinggal di sana.
Bang Raga dengan cekatan memeriksa Rayyan. Setelah selesai ia menghela nafasnya. Walaupun ia seorang dokter kandungan, tetapi ia juga pernah menjadi dokter umum sebelum mengambil spesialisnya.
''Mak.. Rayyan shock berat. Perutnya kosong belum makan. Pikirannya saat ini sedang terpukul. Kalau bisa Mak jangan pernah tinggalkan Rayyan walau sedetik pun. Kalau dirumah ini bisa membuatnya bertambah terpuruk, bawa pulang ke rumah Mak. Bawa juga kedua anak kembarnya. Mungkin dengan melihat itu Rayyan bisa tambah semangat lagi..'' lirih Bang Raga dengan mata mengembun menatap pada Rayyan yang saat ini terpejam dengan wajah pucat pasi seperti mayat hidup. Sama seperti Zahra yang terbujur kaku.
''Ya, Mak akan bilang sama Papi kamu. Ia pasti setuju. Sebaiknya kamu keluar. Temani para tamu kita. Mak yakin, Papi dan Papa Reza kewalahan saat ini.''
''Baik Mak. Abang tinggal ya?''
Bang Raga pun keluar dari kamar Zahra. Sengaja pintu kamar itu ia buka lebar agar ketika Rayyan bangun, ia bisa melihat sang istri yang sudah terbujur kaku disana.
Banyak pelayat berbisik-bisik tentang penyebab kematian Zahra. Tetapi semua itu cuma sebentar setelah Bang Raga turun tangan untuk menjelaskan kronologis kejadian yang sebenarnya tetapi bohong.
Mereka baru percaya setelah Raga mengatakan jika Zahra meninggal karena kecelakaan tadi pagi bersama Rayyan.
Rayyan selamat karena ia terhempas ke sisi jalan. Sementara Zahra ia terlempar ke jalan dan terlindas oleh motor yang melaju begitu kencang.
Mereka percaya. Seluruh keluarga bisa bernafas lega. Seluruh adik Zahra pun sudah berkumpul dan sedang membaca Yasin untuk mendoakan Almarhumah yang sudah pergi meninggalkan mereka untuk selamanya.
__ADS_1
Saat ini seluruh keluarga besar itu sedang berduka karena kepergian Zahra. Sementara nan jauh disana seorang pemuda sedang merasakan sakit di tubuh serta di dadanya hingga ia tidak sanggup untuk bernafas.
Rasanya seperti ingin mati. Papa Rian kalang kabut ketika ia kambuh lagi. Bibir tipis itu terus saja memanggil nama Zahra dan Rayyan bersamaan dengan air mata yang bercucuran.
Sakit sekali. Papa Rian mencoba menghubungi Rayyan, tapi nomor itu tidak diangkat. Begitupun nomor Papi Gilang dan Mami Alisa.
Ketiga nomor itu seperti sengaja tidak ingin mengangkat panggilan dari Papa Rian. Sedangkan ketiga orang itu saat ini sedang berduka.
Jangankan untuk memegang ponsel, untuk mengisi perut sendiri pun mereka tidak ingat. Sungguh, kepergian Zahra meninggalkan Duka yang dalam untuk keluarga besar Alamsyah dan Bhaskara yang terkenal itu.
Semua orang tau kalau Zahra merupakan tunangan dari Rayyan Putra Bhaskara. Putra sulung pengusaha sukses Gilang Bhaskara.
Sehabis dhuhur, jenazah itu segera dimandikan dan akan di kuburkan sebelum ashar begitu permintaan Mami Alisa. Tidak baik menunda-nunda untuk menguburkan mayat yang sudah tiada.
Andai kita tau, bahwa satu helai bulu halusnya itu tertiup angin, semua itu begitu menyiksa mayat itu. Maka dari itu Mami Alisa meminta di percepat sementara keluarga Zahra ingin besok baru memakan kan almarhumah.
Tetapi karena ketegasan Mami Alisa , semua orang tidak berani berkutik. Dan disinilah jenazah Zahra sekarang.
Ia sedang dimandikan dengan Rayyan yang memangku kepalanya. Ketika ia sadar tadi, Zahra sudah dibawa ke tempat pemandian. Rayyan yang baru sadar langsung saja berganti celana menggunakan sarung.
Mami Alisa yang membantu nya. Ia ingin menemani sang istri untuk yang terakhir kalinya. Wajah itu sembab sekali. Pucat seperti tidak di aliri darah. Mulutnya terkunci rapat tetapi tetap berusaha untuk memangku kepala Zahra.
Saat seorang pemandu mayat itu ingin menyiramkan dan membasahi pusat inti Zahra, ia terkejut. Ia menatap Mama Rani, Mami Alisa, Kak Ira, dan Kezia bersamaan. Mereka berempat yang memangku Zahra saat ini. Tidak di izinkan orang lain oleh Mami Alisa. Ada Tiara, dan bibi Kasmi. Mereka keluarga dari Mama Rani.
''I-ini...''
__ADS_1
''Cukup anda yang tau Bu. Putri kami meninggal karena melahirkan kedua bayinya. Kami terpaksa menutupi semua ini karena ia yang masih sekolah. Putra saya suaminya. Ia ayah dari bayi itu. Tolong.. rahasia kan ini semua dari para pelayat lain..'' pinta Mami Alisa dengan wajah sendunya.
Wanita paruh baya yang bertindak sebagai Bilal mandi mayat itu terdiam. Mulutnya terkatup rapat. ia mengangguk dan kembali melanjutkan memandikan Zahra kembali.