
Setelah Pak penghulu pulang, kini yang tersisa hanya Rayyan, Zahra, dan seluruh keluarga besar Papi Gilang dan Keluarga besar Papa Reza dan Mama Rani.
''Nak.. saat ini kamu sudah sah menjadi suami dan imam Zahra. Mami harap kamu bertanggung jawab dengan kehidupan nya. Kamu harus menafkahi lahir nya. Penuhi semua kebutuhannya. Jika kamu kekurangan, katakan pada Mami. Maka Mami dan Papi yang akan memberikan nya untukmu. Untuk sekarang, kamu harus tinggal dirumah ini, untuk menemani Zahra. Jika kamu tinggal disini akan aman untuk pernikahan mu. Tetapi jika kamu tinggal dirumah Mami di komplek indah permai, kamu akan Ketahuan sudah menikah di usia muda dan masih sekolah.'' Jelas Mami Alisa Nyang memang benar adanya.
''Kamu tau kan bagaimana komplek perumahan kita itu?'' tanya Mami Alisa pada Rayyan.
Rayyan mengangguk. ''Ya, Abang paham Mami. Tak apa. Abang disini saja. Tapi setiap malam Minggu kami akan pulang kesana. Jangan halangi Abang untuk bertemu Kami dan Papi. Begitu juga dengan kedua saudara ku yang lain. Abang butuh kalian semua..'' lirih Rayyan sambil menunduk.
Zahra memegang tangan Rayyan untuk menguatkannya. Rayyan tersenyum tapi sendu. Mami Alisa dan Papi Gilang terkekeh kecil.
''Tentu saja Nak.. rumah itu rumah mu. Rumah yang selama hampir delapan belas tahun Kamu tinggali. Dari semenjak kamu masih bayi hingga sekarang, kamu masih berada dirumah itu. Perbedaan nya sekarang ialah, kamu sudah menjadi suami Zahra. Kamu harus selalu sedia di sampingnya. Kamu lihat kan, bagaimana Mami dan Papi?'' Rayyan mengangguk dan tersenyum.
''Kami selalu bersama dalam keadaan apapun. Tanpa terkecuali! Kamu temani Zahra disini, dan kapan pun kamu ingin pulang kerumah kita, silahkan! Kamu punya hak dirumah itu! Kamu putra sulung Papi! Sama seperti Lana, Abang mu! Walau kalian berbeda Mami, tapi kami tetap menyayangi kalian semua tanpa di beda-beda kan. Kamu bisa melihat sendiri bukan, seperti kami menyayangi kalian berenam??''
Rayyan mengangguk, ''Ya, kalian tidak pernah membeda-bedakan kami semua. Kami tau, Mami dan Papi yang terbaik!'' kata Rayyan dengan mengangkat di jempolnya ke hadapan kedua orang tuanya.
Semua yang ada disana tertawa bersama. Zahra pun ikut terkekeh. Walau hatinya saat ini ia masih merasa tidak nyaman dengan keadaannya, tapi Zahra tetap bahagia saat seluruh keluarganya menerima dirinya yang tidak suci lagi.
__ADS_1
Ya, keluarga besar Papi Gilang dan Papa Reza sudah mengetahui jika Zahra sudah tidak suci lagi karena Rayyan lah yang merenggutnya. Suami Zahra sekarang. Zahra tersenyum saat Pai Gilang dan Papa Reza saling debat dan menggoda.
Mereka berdua menceritakan masa lalu yang mereka yang begitu indah ketika bertemu dengan pasangan masing-masing. Membuat Zahra menunduk malu, karena dirinya tidaklah sesuci kedua orang tuanya itu.
Rayyan menguatkan Zahra dengan tersenyum padanya. ''Kak, aku mau ke kamar ya? Mau istirahat. Kepalaku terasa pusing sekali.'' Keluhnya pada Rayyan.
Rayyan mengangguk. ''Tentu, ayo kakak temani. Mami, Mama.. Rayyan ke kamar dulu ya? Zahra pusing katanya.''
''Ya, pergilah. Jika kalian membutuhkan sesuatu panggil saja Mama, hem??'' jawab Mama Rani.
Rayyan mengangguk, kemudian mereka berdua berlalu meninggalkan semua orang dan masuk ke dalam kamar Zahra. Tiba di kamar Zahra, Rayyan tertegun saat melihat figura besar di kepala ranjang Zahra.
Rayyan mengangguk, ia tidak menoleh sedikitpun pada Zahra. Matanya tetap fokus pada figuran besar disana. Dimana Rayyan dan Zahra sedang tertawa lepas, dengan Rayyan memeluk Zahra dari belakang.
Mereka berdua tertawa bersama. Tawa yang tidak di buat-buat. Tawa yang sesungguhnya tanpa beban.
''Kamu tau Kak? Aku sengaja membesarkan foto ini agar aku selalu mengingat kebersamaan kita disaat kiat bermain di pantai Anyer dulu. Saat itu tidak ada rasa takut ataupun kecewa seperti yang aku rasakan saat ini. Semua itu murni dari hati. Sedari kecil kita selalu berdua, kemana pun dengan mu, hingga rasa itu tumbuh di dalam hatiku.'' lirih Zahra dengan menunduk.
__ADS_1
Rayyan menoleh pada Zahra. Ia menatap dalam pada cinta nya itu. Cinta masa kecilnya. Cinta yang dulu pernah ia perebutkan dengan seseorang begitu dekat dengannya. Bahkan sampai saat ini.
Zahra tersenyum lembut pada Rayyan. Ia mengambil tangan kekar Rayyan dan ia genggam kemudian ia letakkan di kedua pipinya.
''Aku akan berusaha ikhlas Kak.. dengan kejadian yang menimpaku saat ini. Benar kata Mami. Aku harus ikhlas. Karena semua ujian ini memang ditujukan untukku. Aku ingin hidup denganmu di kehidupan ini walau hanya sebentar saja. Bersamamu, aku meniti kehidupan baru. Memang Tidak akan mudah. Karena masa lalu ku ini berkaitan dengan kita berdua. Tapi aku akan berusaha untuk melupakan nya. Melupakan dirinya yang dulu pernah dekat dengan ku.''
''Dirinya yang begitu tega menodai kesucian ku. Walau ia tau, jika aku tidak menginginkan dan tidak membalas cinta nya itu karena mu Kak.. aku kecewa padanya. Sakit hati dan juga marah padanya. Tapi apa yang harus ku perbuat jika semua ini sudah menjadi takdir hidup ku..'' lirih Zahra dengan mata mengembun lagi.
Rayyan menguat kan pegangan nya di pipi halus Zahra yang terasa begitu hangat. Buliran bening itu mengalir lagi dari pipinya. Rayyan mengusap air mata itu.
''Sudah.. jangan menangis. Kita jalani ini bersama-sama, hem? Kamu dan aku menjadi kita bersama mengarungi samudera untuk mencapai muara cinta dan ridho nya Allah SWT. Kakak yakin, kamu pasti bisa. Kamu wanita terpilih yang ditakdirkan untuk mendapatkan ujian ini. Kamu istimewa sayang.. sangat istimewa. Kakak beruntung bisa memiliki mu. Mulai sekarang, mari kita hidup bersama tanpa mengingat masa lalumu.''
''Jadikan itu pelajaran untuk anak-anak kita nanti. Bahwa tidak ada kata persahabatan bagi seorang lelaki dan perempuan. Sedikit tidaknya, rasa itu pasti tumbuh. Apalagi jika sering di pupuk dengan perhatian lebih padanya. Kakak tidak akan menghujat ataupun memarahi mu karena perhatian mu lebih kepadanya dibandingkan diriku. Tapi kakak bisa jamin, saat ini ia pasti menyesal karena telah menodai mu.''
''Biarkan ia dengan kesalahan nya. Dan kita dengan kehidupan baru kita. Jangan menangis lagi. Berbagilah dengan kakak apapun yang kamu rasakan, jangan lagi dengan orang lain. Kakak diam bukan berarti kakak tidak mendengar kan semua keluhan mu sayang. Tapi Kakak diam, agar bisa menghindari godaan setan yang selalu membisiki hal-hal buruk untuk Kakak lakukan padamu. Maaf.. Jika Kakak terlalu dingin padamu. Semua itu demi menjaga dirimu tetap suci Sampai kita menikah nanti.. tapi... hah! Semua ini menjadi sia-sia.. sia-sia belaka...'' lirih Rayyann semakin menyesakkan dadanya.
Begitu juga dengan Zahrani. Ia semakin tersedu kala perkataan Rayyan itu benar adanya.
__ADS_1
Dirinya yang salah karena terlalu kesal dengan tingkah Rayyan yang begitu dingin padanya. Sehingga ia memilih melampiaskan kepada orang lain.
Dan semua itu berakibat fatal pada kehidupan masa depannya. Zahra harus ternoda karena ke egoisan dirinya sendiri.