
Pria tua itu dengan santainya tersenyum menyeringai mendapat tatapan dingin dari Jacob.
Dia terlihat tidak terganggu dengan sikap Jacob tersebut.
"Bukankah dia menantu baruku? kenapa kau tidak mengenalkan nya padaku? bagaimana sikapmu ini sebagai putraku, kau tidak menghormati aku sebagai orang tuamu!" sahut pria tua itu dengan santainya.
"Heh! orang tua? apakah kau pantas di sebut sebagai orang tua, yang mencoba untuk membunuh anaknya sendiri?" sahut Jacob dengan datar, sudut bibirnya tersenyum sinis menatap orang tua itu dengan dingin.
"Aku kan sudah katakan, masa lalu biarkan lah berlalu, jangan di ingat lagi, kau kan masih baik-baik saja sampai sekarang!" sahut pria tua itu lagi dengan santainya.
"Oh, begitukah? kalau begitu kembalikan Mamaku yang telah kau bunuh!" sahut Jacob dengan tajam.
"Jacob! kau sungguh tidak sopan! itu masa lalu! tidak perlu diingat lagi!" tiba-tiba pria tua itu berteriak pada Jacob.
"Begitukah menurutmu? Masa lalu yang membuat anak kecil itu mengalami trauma sampai dia dewasa, sewaktu-waktu anak kecil itu juga bisa sampai bermimpi buruk setiap malamnya!" sahut Jacob tidak memperdulikan teriakan pria tua itu.
Lelaki yang duduk di sofa itu jadi terdiam mendengar perkataan Jacob, dia mematung di tempatnya tidak bisa berkata-kata lagi.
"Pria yang menganggap masa lalu, biarlah berlalu jangan diingat lagi itu, tidak menyadari sudah memberi kesan buruk pada anak lelakinya yang tidak pernah dianggapnya sama sekali, pria itu lebih mementingkan kesenangan dan kekayaan dari pada istri dan anaknya sendiri!" ujar Jacob lagi dengan datar.
Lelaki tua itu semakin tidak bisa berkata-kata, mendengar apa yang di katakan Jacob.
__ADS_1
"Don, antar orang tua itu keluar, aku tidak ada waktu untuk mengobrol dengannya!" sahut Jacob memandang ke arah Don.
Don mendengarkan Jacob, pria itu berjalan menuju sofa.
"Silahkan Tuan!" Don merentangkan satu tangannya untuk mempersilahkan lelaki tua itu untuk keluar dari kantor Jacob.
"Aku punya alasan tersendiri melakukan itu semua!" sahut pria tua itu setelah terdiam beberapa saat mendengar penjelasan Jacob.
"Alasan bahwa dirimu lelaki yang tidak bisa di gertak!" sahut Jacob dengan sinisnya.
"Kau akan mengetahui, kalau kau sudah mengalaminya, kau pasti akan bertindak seperti apa yang ku lakukan!" ujar pria tua itu membela diri.
"Apapun pasti akan ku lakukan untuk melindungi keluargaku, walaupun nyawaku taruhannya, aku akan melindungi keluargaku, karena prioritas utama dalam hidupku, adalah keluargaku, aku bukan pengecut yang harus mengorbankan keluargaku!" kata Jacob dengan nada tajam menandaskan kata 'keluargaku'.
"Aku bukan dirimu, aku mencintai keluargaku, pergilah! kalau kau tidak ada hal yang penting untuk di sampaikan!" sahut Jacob dingin.
"Silahkan Tuan!" kembali Don mempersilahkan pria tua itu untuk keluar dari ruang kantor Jacob.
Dengan pelan pria tua itu bangkit berdiri dari sofa, lalu dengan langkah perlahan berjalan menuju pintu.
Tapi tubuhnya berbalik menghadap pada Jacob dan Naomi, tatapan matanya memandang ke arah Naomi.
__ADS_1
Tapi dengan cepat di lindungi Jacob, dia tidak memperbolehkan pria tua itu memandang istrinya.
"Setidaknya kau harus mengenalkan menantuku kepada ku, bukankah tidak lama lagi aku akan memiliki cucu?" sahut pria itu sembari tersenyum.
"Don!" sahut Jacob kencang, dia semakin jengkel melihat pria tua itu.
Dendamnya masih membara di dadanya, kematian Ibunya karena lelaki itu, karena dia sedari kecil sudah berjanji tidak ingin melihat Ayahnya itu lagi.
Don membuka pintu lebar-lebar, mempersilahkan pria tua itu untuk keluar.
Akhirnya lelaki itu pun keluar juga dengan langkah terpaksa, dia akan mencoba lain kali untuk bicara dengan Jacob.
Dia tahu telah melakukan kesalahan yang tidak bisa di maafkan di masa lalunya, yang tidak dia duga, membuat dirinya menyadari betapa pentingnya keluarga di masa tuanya.
Memang terasa sakit saat putranya sendiri membenci dirinya, dimana sewaktu dulu dia tidak akan menyadari akan datang masa dia merindukan keluarganya yang telah hilang.
Wanita-wanita simpanannya itu hanya menginginkan hartanya saja. Setelah mereka mendapatkan apa yang diinginkan nya, mereka pun satu persatu meninggalkan dirinya.
Tubuhnya yang sudah menua tidak diinginkan lagi oleh wanita-wanita yang dulunya tergila-gila padanya.
Saat dia sendiri, barulah dia ingat masih memiliki seorang putra yang sudah sekian lama di abaikan nya.
__ADS_1
Yang dia tidak duga, ternyata dia telah meninggalkan luka yang dalam pada putranya tersebut.
Bersambung....