Jangan Mendekat Gadis Kecil

Jangan Mendekat Gadis Kecil
89. Kebenaran lain yang belum terungkapkan.


__ADS_3

Jacob dan Naomi begitu sampai di Mansion, mantan Mertua Jacob sudah menunggu mereka di ruang tamu.


Wanita tua itu menatap Naomi dengan lekat, wajahnya terlihat begitu terharu menatap Naomi.


"Bolehkah aku memelukmu keponakanku?" tanya wanita itu setelah Jacob dan Naomi duduk di sofa berhadapan dengannya.


Naomi perlahan bangkit dari duduknya, dia sekarang sudah tahu siapa dirinya.


Naomi memeluk Tantenya tersebut, dan tangisan mereka pun meledak.


"Kita harus menemukan dalang yang telah membunuh Mama mu, mereka harus mendapatkan ganjarannya!" ujar Camelia seraya mengelus punggung Naomi dengan lembut.


Naomi hanya bisa mengangguk saja, sekarang dia tidak sendiri lagi, dia telah menemukan keluarganya.


"Terimakasih Jacob, berkatmu akhirnya kami bisa menemukan kebenaran tentang kematian Clarissa, pantas saja selama ini adikku tidak pernah bisa di temukan!" sahut wanita tua itu memandang Jacob.


"Prada Group harus di periksa!" ujar Jacob.


"Ya, kau benar, Ayo secepatnya kita mengunjungi rumah tua milik Prada Group, lelaki itu pasti ada di sana!" sahut Camelia.


"Baik!" jawab Jacob.


Mereka pun membuat rencana untuk menemukan pria yang selama ini dengan rapi menutupi kejahatannya.


Jacob mengerahkan beberapa Bodyguard nya untuk mengawal mereka menuju rumah tua milik Prada Group.


Setelah rencana tersusun rapi, merekapun bergerak menuju pinggiran kota, ke tempat komplek perumahan tua yang masih terlihat begitu indah dengan dekorasi tahun 70an yang terawat dengan rapi.


Perlahan empat mobil hitam anti peluru mendekati salah satu rumah tua yang cukup besar, dengan pagar model lama yang masih terawat dengan rapi.


Seorang pria berusia hampir enam puluhan bergegas menuju pintu pagar, begitu melihat empat mobil tesebut berhenti di depan pintu pagar rumah.


Don turun dari mobil, dan menghampiri pria tua tersebut yang berdiri di dalam pagar.


"Mau cari siapa Tuan?" tanyanya sopan.


"Mau mencari Toni Prada, apakah dia ada waktu? untuk membahas masalah proyek!" kata Don sedikit berbohong.


"Oh, silahkan masuk!" pria itu membuka pintu pagar lebar-lebar.


Lalu ke empat mobil itu memasuki pelataran halaman rumah tua itu, dan setelah itu pria itu mengatakan akan memberitahukan terlebih dahulu kepada Toni untuk memberitahukan kedatangan mereka.


Pria itu masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


Dia tidak menyadari kalau dirinya di ikuti beberapa pria yang keluar dari dalam mobil hitam tersebut, berjalan di belakangnya tanpa bersuara.


Langkah mereka mengikuti arah pria itu menuju sebuah ruang yang sepertinya ruang baca.


Tok! tok! tok!


"Siapa?" tanya seorang pria dari dalam ruangan tersebut, setelah pria itu mengetuk pintu.


"Ada yang ingin bertemu dengan anda Tuan!" sahut pria itu.


Pria itu perlahan membuka pintu ruangan tersebut, tapi belum sepenuhnya terbuka Jacob sudah masuk menerobos masuk bersama dengan Don.


Tampaklah seorang pria yang usianya hampir bersamaan dengan pria yang membuka pintu tersebut, sedang duduk di belakang meja kerja.


Sepertinya sedang memeriksa sesuatu pada beberapa berkas di atas meja, di temani secangkir kopi yang masih mengepul.


"Siapa kalian lancang sekali menerobos masuk ke dalam!" teriak pria itu seraya bangkit berdiri dengan wajah marah memandang pada Jacob.


"Siapa kami anda tidak perlu tahu, kami datang untuk menagih hutang darah!" sahut Jacob dengan tenang, tapi wajahnya terlihat begitu menakutkan.


"Hu..hutang darah, si..siapa kalian, aku tidak kenal!" teriak lelaki itu.


"Oh ya, bagaimana kalau dengan dia!" Jacob menunjuk ke arah pintu.


Sontak wajah lelaki itu terlihat begitu terkejut.


"Apakah anda kenal dengan mereka?" tanya Jacob datar.


"Si..siapa itu, Clarissa su..sudah meninggal, ti..tidak mungkin, tidak mungkin!" sahut pria itu mundur beberapa langkah, wajahnya terlihat pucat.


"Apa katamu, Clarissa sudah meninggal?" sahut seorang pria di dekat pintu dengan kencang.


Semua mata menoleh memandang pada lelaki yang barusan bicara tersebut, ternyata pria yang tadi membuka pintu pagar untuk mereka.


"Katakan sekali lagi, apa benar Clarissa sudah meninggal, bajingan!" teriak pria itu bergegas menuju pria yang bernama Toni itu.


Lalu pria itu menarik kerah kemeja Toni, dan mencengkramnya dengan erat.


"Katakan, katakan sekali lagii!!" teriaknya dengan suara yang kencang.


"Julius!" sahut Camelia memanggil pria yang mencengkram kemeja Toni.


Pria itu menoleh memandang ke arah Camelia.

__ADS_1


Sesaat pria seperti bingung melihat Camelia.


"Kenapa kau ada di sini? apakah kalian bersekongkol membunuh adikku?" ujar wanita itu terlihat terkejut menatap pria itu.


"A..apa katamu?" tanya lelaki itu terkejut dengan apa yang dipertanyakan Camelia.


Pria itu seperti baru menyadari kehadiran dua wanita di dalam ruangan tersebut, matanya terlihat tidak percaya melihat apa yang dilihatnya.


"Camelia!" sahutnya pelan.


"Ternyata kalian sama-sama membenci adikku, kalian brengsek! kau sungguh hina Julius, betapa adikku mencintaimu, tapi kau ternyata tidak mencintai adikku, sialan kau Julius!!" teriak Camelia kalap, kemudian dia pun menangis dengan histeris.


"Tante!" Naomi memegang tangan Camelia yang hampir oleng karena emosinya yang meledak.


"Aku..tidak seperti yang kau pikirkan Camelia, aku tidak tahu kalau Clarissa sudah meninggal!" sahut pria bernama Julius itu tersungkur di lantai.


Naomi tidak mengerti apa yang di bicarakan ke dua orang tersebut, hanya bisa mendengarkan saja seraya membantu Camelia tidak terjatuh.


Tiba-tiba pria itu membeku begitu melihat Naomi, matanya tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.


"Clarissa!" sahutnya tanpa sadar.


"Kau bajingan! jangan kau sebut nama adikku, kau brengsek!" teriak Camelia lagi, wanita tua itu semakin histeris.


"Aku tidak membunuh Clarissa, dia wanita yang sangat kucintai, aku masih tetap mencintainya!" teriak Julius.


"Kau dasar pembohong! aku tidak percaya, kenapa kau ada di sini, bersama bajingan Toni, kau jangan mencari alasan yang tidak masuk akal!" teriak Camelia.


Julius merasakan dadanya sakit, kakak wanita yang dicintainya salah paham padanya.


Mata Julius menatap Naomi dengan lekat, tubuhnya gemetar, tidak mempercayai penglihatannya.


Clarissa versi masa mudanya ada di depannya, sama persis saat dulu dia mengenal Clarissa sewaktu muda.


"Apakah dia putriku?" sahut pria itu tanpa sadar.


"Brengsek kau Julius! kau tidak punya seorang putri, ini milik Clarissa, mulut busukmu itu tidak pantas menyebutnya sebagai putrimu!" teriak Camelia lagi.


Tubuh Julius semakin gemetar mendengar apa yang dikatakan Camelia, kepalanya perlahan menunduk merasakan sakit yang begitu sakit di dadanya.


Ternyata dia telah ditipu oleh Toni, pria yang di anggapnya memegang janjinya dengan jujur.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2