
Pintu gerbang yang tinggi itu perlahan terbuka secara otomatis, dan mobil pun perlahan masuk kedalam pelataran halaman Mansion yang luas.
Mobil berhenti di lobby pintu utama Mansion, tanpa menunggu Don turun untuk membuka pintu mobil, Jacob membuka sendiri pintu mobil.
Setelah Jacob turun, dia berdiri disebelah pintu menunggu Naomi turun dari mobil.
Perlahan Naomi pun turun dari mobil, Jacob menutup pintu dengan kencang begitu Naomi turun.
Dan, itu membuat tubuh Naomi tersentak.
Jacob meraih tangan Naomi, dan setengah paksa dia menarik tangan Naomi masuk kedalam rumah.
"Kak..tanganku sakit!" sahut Naomi meringis menahan pergelangan tangannya yang digenggam Jacob begitu erat.
Jacob tersadar begitu mendengar suara Naomi yang meringis, dengan cepat tangannya terlepas dari pergelangan tangan Naomi.
Naomi mengelus pergelangan tangannya, ada warna merah lebam disana.
Wajah Jacob langsung panik melihat warna merah di pergelangan tangan Naomi, dia tadi begitu emosi karena sepanjang jalan Naomi begitu cuek padanya.
Dengan sekali angkat, tubuh Naomi dibopong Jacob.
"Kak..!" jerit Naomi terkejut, dan dengan reflek tangannya dia kalungkan ke leher Jacob.
"Diam..jangan bergerak!" kata Jacob sembari membawa Naomi menaiki tangga.
Jacob membawa Naomi masuk kedalam kamar Naomi, lalu meletakkan Naomi disofa.
Lalu Jacob duduk disamping Naomi, meraih tangan Naomi yang memerah.
__ADS_1
"Maaf!" ucap Jacob, lalu mengelus pergelangan tangan Naomi.
Naomi diam saja tidak menjawab.
"Besok jangan lagi bekerja!" kata Jacob sembari mengelus tangan Naomi.
"Aku ingin bekerja kak..aku ingin memiliki penghasilan sendiri!" kata Naomi tetap dengan pendiriannya.
Jacob merogoh saku celananya, mengambil dompetnya, lalu mengeluarkan sebuah kartu hitam dari dalam dompetnya.
"Pakai ini untuk uang sakumu..jangan lagi bekerja!" kata Jacob menyerahkan kartu tersebut pada Naomi.
"Apa ini?" tanya Naomi bingung, walau Naomi tergolong mahasiswi jenius di kampusnya, tapi soal kartu yang diberikan Jacob itu dia tidak mengerti.
"Kartu tanpa batas..kau bisa membeli apapun yang kau inginkan, jadi tidak perlu lagi bekerja!" Jacob meraih tangan Naomi dan meletakkan kartu tersebut ditangan Naomi.
Naomi sesaat memandang kartu itu tidak berkedip, inikah kartu orang kaya yang bisa membeli barang branded? pikir Naomi.
"Tidak mau..kakak simpan lagi, aku takut kartunya nanti hilang..uangnya banyak didalam, aku tidak mau pegang!" Naomi memberikan kembali kartu itu kedalam telapak tangan Jacob.
Jacob memandang kartu hitam yang kembali diberikan Naomi padanya.
"Aku tidak mau memegang barang mahal, aku akan tetap bekerja, itu kakak simpan lagi!" kata Naomi, lalu berdiri dari sofa.
Kaki Naomi belum melangkah dua kaki, tangan Jacob yang panjang meraih tangan Naomi.
Dan, sekali tarik, Naomi terhentak kebelakang dan mendarat dalam pangkuan Jacob.
"Kak..!!" jerit Naomi terkejut.
__ADS_1
"Kau membantah ya..aku sudah katakan jangan bekerja, apakah aku harus mengurungmu dirumah agar tidak bisa keluar rumah? kau perlu dihukum, tidak mendengarkan apa yang kukatakan!" kata Jacob tajam seraya memeluk pinggang Naomi dengan erat.
"Aku sudah besar kak..aku harus bisa mencari uang sendiri, aku tidak selamanya tinggal denganmu kak!" kata Naomi dengan suara kencang.
"Apa katamu?" wajah Jacob langsung berubah mendengar apa yang dikatakan Naomi.
"Suatu waktu aku tidak akan tinggal lagi disini..jadi mulai sekarang aku harus mandiri!" kata Naomi menjelaskan lagi perkataannya.
"Atas dasar apa kau pergi dari sini!!" teriak Jacob marah.
"Atas dasar apa? apa kakak pikir aku tidak akan memiliki kehidupan ku sendiri?" ujar Naomi tidak mau kalah juga berteriak, seraya melepaskan tangan Jacob dari pinggangnya.
Tangan Jacob semakin erat memeluk pinggang Naomi, dan menariknya semakin rapat padanya.
"Apa katamu? kau adalah calon istriku..apa maksudmu pergi dari sini, kau tidak boleh pergi!" Jacob semakin kencang memeluk Naomi.
"Atas dasar apa kakak mengatakan aku calon istrimu..atas dasar apa?!" Naomi kembali berteriak membalikkan kata-kata Jacob.
"Atas dasar apa...?" Jacob mengulang kata-kata Naomi.
"Ya..atas dasar apa?" tanya Naomi, matanya dengan tajam menatap mata Jacob yang menatapnya juga.
Jacob terdiam mendengarkan pertanyaan Naomi tersebut, dia seperti bingung.
Huh! jelas-jelas dia tidak mencintaiku..untuk apa dia begitu perhatian padaku! pikir Naomi kesal dengan sikap Jacob.
Naomi merasa kalau Jacob hanya ingin bertanggung jawab saja untuk mengurusnya, karena wasiat dari kakak angkatnya.
Tidak ada perasaan khusus yang dirasakannya pada Naomi, dan itu membuat Naomi tidak mau terikat lebih dalam pada Jacob.
__ADS_1
Walau Naomi akui, ada rasa sakit dihatinya, dia tidak ingin bersama dengan Jacob hanya karena rasa tanggung jawab saja.
Bersambung.....