Jangan Mendekat Gadis Kecil

Jangan Mendekat Gadis Kecil
85. Rencana pencarian orang tua Naomi.


__ADS_3

Naomi jadi memikirkan perjalanan hidupnya, begitu mantan Mertua Jacob menceritakan tentang kehilangan adik bungsunya tiga puluh lima tahun lalu.


Seingat Naomi, Nora bercerita kalau Naomi masih bayi saat masuk panti asuhan.


Seorang wanita tua menyerahkan Naomi kepada kepala panti, menitipkan Naomi karena orang tua Naomi sudah meninggal.


"Kejadiannya memang sudah begitu lama, adikku menyukai seorang pria biasa yang tidak memiliki pekerjaan tetap, dia mencintai lelaki itu apa adanya, tanpa perduli dengan statusnya, dan saat itu adikku sudah dijodohkan dengan seorang putra rekan bisnis Papaku, mereka sudah bertunangan, tetapi adikku tidak mencintainya, karena lelaki yang dijodohkan padanya ternyata pria yang kasar dan sombong!" mantan Ibu Mertua Jacob mulai bercerita tentang adik bungsunya yang menghilang.


"Clarissa lebih memilih lelaki pilihan hatinya dari pada pilihan Papaku, karena Papa bersikeras akan menikahkan adikku pada pilihan Papa, mereka pun kawin lari pergi dari kota ini entah kemana, kami sudah mencarinya bertahun-tahun, tapi tidak ada kabar sama sekali!" sahut mantan Mertua Jacob dengan nada yang lirih.


Jacob dan Naomi menyimak cerita wanita tua itu tanpa sedikitpun mencoba untuk memotong ceritanya.


"Lalu?" tanya Naomi tiba-tiba merasa tertarik dengan cerita wanita tua itu.


"Tidak ada kabarnya sampai sekarang!" sahut wanita itu menatap Naomi dengan lekat.


"Mungkin mereka pergi keluar negeri!" ujar Naomi.


"Papa sudah mengerahkan orang untuk mencarinya, dan sampai Papa meninggal, adikku tidak ketemu juga, saat terakhir sebelum kematian Papa kata-kata terakhirnya yang terucap, dia sangat menyesal sudah menentang hubungan adikku dengan lelaki pilihan hatinya!" nada wanita tua itu terdengar begitu lemah, dia terlihat begitu sedih mengingat kembali tentang adiknya yang hilang.


Ruang tamu sesaat hening, mereka diam satu sama lain.


"Kau terlihat sangat mirip dengannya, semuanya terlihat begitu mirip!" sahut Camelia setelah mereka saling diam, "Coba ceritakan, kenapa kau bisa tinggi di panti asuhan?" tanya Camelia, dia terlihat penasaran dengan kehidupan Naomi.


"Kedua orang tua saya meninggal, saya dititipkan seseorang ke panti asuhan!" jawab Naomi.


"Siapa yang menitipkanmu ke panti?" tanya Camelia, dia semakin penasaran tentang Naomi.


"Kak Nora bercerita seorang wanita tua datang ke panti menemui kepala panti asuhan, dan memberikan saya yang masih bayi untuk di rawat dan tinggal di panti!"


"Apakah wanita itu masih hidup?" tanya Camelia.


"Tidak tahu, kami tidak pernah mencari dan menanyakan siapa dia sebenarnya, dan kenapa orang tua saya bisa meninggal!"


"Bolehkah aku mencari tahu tentang siapa orang tuamu?" tanya Camelia dengan hati-hati.


Naomi angkat bahu.


"Terserah Nyonya!" jawabnya.


"Terimakasih, aku senang mengenalmu, Jacob pasti sangat mencintaimu, sampai dia tidak rela mempertemukan kita berdua, dia begitu takut kalau aku mengambilmu, dan menjadikan mu sebagai pengganti Nora, untuk ku adopsi menjadi putriku!" Camelia tampak tersenyum mengucapkan perkataannya itu.


"Oh!" Naomi tiba-tiba merasakan wajahnya merona, Jacob begitu takut berjauhan dengannya.


Kalau Naomi di adopsi Camelia, otomatis Naomi akan selalu kerumah Camelia.

__ADS_1


"Kalau begitu aku permisi dulu, terimakasih sudah mau menemuiku!" sahut Camelia.


"Iya, sama-sama Nyonya!"


Camelia perlahan bangkit dari duduknya, dengan cepat Asisten nya membantunya untuk berdiri.


Dengan langkah pelan wanita itu meninggalkan ruang tamu.


"Selidiki latar belakang istri Jacob, dia sangat mirip dengan adikku yang sudah lama menghilang!" kata Camelia pada Asistennya.


"Baik Nyonya!" angguk wanita itu.


Sementara itu di ruang tamu, Jacob dan Naomi masih duduk di sofa.


Saling diam dan masih saling menggenggam tangan satu sama lain.


"Kak!" panggil Naomi.


"Kau terlihat begitu mirip dengan foto wanita yang ada di dalam ponsel Nyonya Camelia!" gumam Jacob masih tidak percaya dengan foto wanita yang di lihatnya tadi.


"Apakah kau mencurigai sesuatu kak?" tanya Naomi memandang wajah suaminya dengan lekat.


Jacob menoleh memandang Naomi, mencoba mencerna ucapan istrinya itu.


"Mencurigai?" tanyanya bingung.


Jacob diam beberapa detik, memikirkan apa yang dikatakan Naomi.


"Iya, bisa jadi, aku akan selidiki, apakah kau ada hubungannya dengan wanita itu!" Jacob mengangkat tangan Naomi, lalu mengecupnya dengan lembut.


"Baiklah sayang, kau perlu mengetahui juga indentitas dirimu yang sebenarnya!" Jacob membelai kepala Naomi, lalu meraih ponselnya.


Jacob kemudian menekan satu nama setelah membuka ponselnya.


"Datang ke ruang kerja ku, ada yang penting!" ucap Jacob setelah seseorang di seberang sana mengangkat ponselnya.


Setelah mengatakan apa yang disampaikannya, Jacob kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya.


"Sudah malam, pergilah tidur, aku akan bicara dulu dengan Don untuk mencari tahu keberadaan orang tuamu!" kata Jacob seraya meraih Naomi ke pangkuannya.


"Iya kak" jawab Naomi patuh.


"Sebentar sayang!"


Jacob meraih tengkuk Naomi, lalu mencium bibir Naomi dengan lembut, mengulumnya perlahan, dan menyusupkan lidahnya mencari lidah Naomi.

__ADS_1


Naomi reflek mengalungkan tangannya keleher Jacob, jemarinya dengan lembut masuk kesela-sela rambut Jacob.


Menyambut ciuman Jacob dengan membuka bibirnya, membiarkan lidah Jacob memilin lidahnya yang terasa lembut.


Jemari Naomi dengan perlahan meremas tengkuk Jacob, dan membelai rambut tipis di tengkuk Jacob dengan penuh rasa sayang.


Tindakan Naomi itu membuat ciuman Jacob semakin dalam, dan semakin mendominasi.


Tangan Jacob meremas dengan lembut benda lunak di dada Naomi, yang membuat Jacob tidak berhenti ingin terus meremasnya.


Benda itu semakin membengkak dari hari pertama sekali di sentuh Jacob, itu membuat Jacob begitu candu untuk menyentuh benda lembut milik Naomi tersebut.


Terasa nyaman di dalam telapak tangannya, karena dia lelaki pertama yang telah menyentuhnya.


Naomi kehabisan nafas.


Jacob melepaskan ciumannya, menatap wajah Naomi yang begitu merona, yang terlihat sangat menggoda.


Jacob tersenyum senang melihat penampilan istrinya itu, membuat tubuh bagian bawah Jacob bereaksi, ereksinya mengeras.


"Sayang" gumamnya dengan tatapan yang begitu nanar, menatap wajah Naomi yang terlihat menggoda.


Sementara tangannya masih bertengger pada benda lunak di dada Naomi.


"Ya, kak" jawab Naomi dengan bibir yang membengkak.


"Naiklah ke kamar, nanti kita lanjutkan lagi ya!" Jacob mengelap bibir Naomi dengan ujung jemarinya, "Aku hampir lupa diri, masih ada pekerjaan yang harus di selesaikan, Don sebentar lagi datang, pergilah naik sayang"


"Iya kak!" jawab Naomi patuh.


Kepala Naomi menunduk, menatap tangan Jacob yang masih bertengger di dadanya.


"Oh!" Jacob jadi tersipu melihat tangannya masih memegang benda lembut milik Naomi.


Jacob menarik tangannya, lalu membetulkan letak bra Naomi, dan merapikan pakaian istrinya yang sedikit berantakan.


"Naiklah!" Jacob memberikan kecupan sekilas pada kening Naomi.


"Iya kak!"


Jacob menurunkan Naomi dari pangkuannya, lalu mereka berdua keluar dari ruang tamu itu.


Jacob mengantarkan Naomi sampai di kaki tangga, melihat sebentar istrinya itu naik ke lantai atas.


Setelah itu, barulah Jacob pergi ke ruang kerjanya.

__ADS_1


Bersambung......


__ADS_2