
Akhirnya Jacob dan Naomi selesai juga berbelanja keperluan bayi mereka, setelah wanita yang tidak di kenal itu di singkirkan.
Sekarang mereka sudah selesai berbelanja, dan pihak butik telah di berikan alamat Mansion untuk mengantarkan keperluan bayi yang telah mereka beli.
Kini saatnya Jacob membawa Naomi untuk cuci mata ke tempat lain lagi.
"Kak, wanita itu temannya kak Nora, apa memang kak Jacob benar-benar tidak mengenal dia?" tanya Naomi saat ini mereka berada di dalam mobil, sedang menuju luar kota.
"Tidak sayang, aku tidak kenal sama sekali!" Jacob menggelengkan kepalanya.
"Mungkin dia merasa sudah kenal dengan kak Jacob, karena pernah di kenalkan kak Nora, jadinya dia bersikap begitu!" ujar Naomi sembari berpikir.
"Ya, benar juga kau katakan itu, tapi aku tidak pernah mau tahu, wanita manapun yang memperhatikanku, tapi aku tidak ada niat untuk mengenalnya, aku tidak tertarik untuk akrab dengannya, aku hanya fokus pada wanita yang ingin kulihat!" kata Jacob menjelaskan.
"Oh!" ucap Naomi, istri Jacob itu mulai memahami sikap suaminya terhadap seorang wanita.
"Tidak mungkin aku harus menanggapi semua wanita yang menyukaiku, aku bukan lelaki bajingan yang senang menerima wanita mana pun menjadi kekasihku, aku pria pemilih!" kata Jacob, lalu mengelus kepala Naomi dengan lembut.
"Jadi saat kita bertemu, apakah memang kak Jacob ada niat ingin melihatku?" tanya Naomi iseng, dia tersenyum memandang Jacob.
"Iya!" jawab Jacob jujur.
"Eh, kok bisa begitu?" tanya Naomi heran, ternyata perkataan bercandanya mengena juga.
"Karena kau adalah tanggung jawab ku, jadi aku memperhatikan mu, dan ternyata aku malah terpesona dengan matamu yang indah!" ucap Jacob jujur.
"Oh!" Naomi terpana dengan kejujuran Jacob, dia jadi tahu mengapa Jacob tertarik dengannya.
"Benar, pesonamu menghipnotis ku, dan aku selalu ingin dekat denganmu, aku merasa begitu senang mengurusmu!" kata Jacob melanjutkan perasaannya pertama sekali saat memperhatikan Naomi.
Ada sedikit rasa bangga pada Naomi mendengar penjelasan Jacob mengenai ketertarikannya pada dirinya, dia tersenyum senang.
Di raihnya tangan besar Jacob, lalu menggenggam tangan suaminya itu ke dalam kedua telapak tangannya.
Jacob melirik tangannya yang di genggam Naomi, dadanya berdesir senang.
Kepalanya menoleh memandang istrinya itu yang tampak senyum-senyum sendiri, wajahnya terlihat begitu senang.
Apakah dia begitu senang mendengar aku pertama sekali menyukainya? pikir Jacob mengamati ekspresi wajah Naomi yang terlihat berbinar.
Perlahan Naomi menyandarkan kepalanya ke bahu Jacob, dan Jacob mengelus kepala istrinya itu dengan sayang.
"Kenapa sayang? kok senyum-senyum terus?" tanya Jacob penasaran dengan isi hati Naomi.
__ADS_1
"Aku senang, ternyata aku bisa membuat kak Jacob terpesona!" sahut Naomi seraya mengangkat kepalanya, lalu menoleh memandang Jacob.
Wajah berbinar Naomi terus saja mengembangkan senyumannya yang manis.
Perlahan Jacob menurunkan wajahnya, lalu mengecup bibir Naomi yang tersenyum.
Tindakan Jacob itu membuat Naomi jadi tersipu, dan menambah kecantikannya.
Jacob tersenyum melihat pipi Naomi yang merona, terlihat begitu menggemaskan.
Kembali Jacob menurunkan wajahnya, lalu mengecup bibir Naomi.
Dan kali ini ciumannya lebih dalam.
Naomi menyambut ciuman Jacob, bibirnya perlahan mengulum bibir Jacob sembari perlahan matanya terpejam merasakan ciuman suaminya itu.
Jacob sangat menyukai bibir Naomi, dan cara Naomi membalas ciumannya.
Jacob meraih Naomi, dan membawanya ke atas pangkuannya, lalu memperdalam lagi ciumannya.
Tangannya perlahan menjalar menyelusup masuk ke dalam baju Naomi, mengelus paha istrinya dengan lembut.
Tubuh Naomi bergetar merasakan belaian tangan Jacob, suara mendesah terdengar dari sela-sela ciuman mereka.
Suara Naomi yang terasa begitu merdu di telinga Jacob, membuat pria itu jadi kalap.
Tangan Jacob perlahan naik ke atas, dan menyentuh perut Naomi yang membesar.
Barulah Jacob tersadar, telapak tangannya menyentuh perut istrinya, bayi mereka yang tengah tumbuh di dalam perut Naomi.
Jacob menghentikan ciumannya, tubuhnya ikut bergetar juga menahan sesuatu ingin melahap istrinya itu.
Dia harus menahan diri, mereka belum bisa melakukan hal itu lebih jauh lagi, dia harus bersabar.
Dua bulan lagi mereka baru bisa melakukannya, pertumbuhan si bayi sudah kuat di dalam rahim istrinya.
Jacob menatap wajah Naomi yang terlihat sangat merona, dan bibirnya yang membengkak.
"Kak" gumam Naomi dengan tatapan mendamba.
Jacob tersenyum, perlahan dia menarik tangannya yang mengelus perut Naomi.
Lalu membetulkan letak baju Naomi yang berantakan, dan kemudian mengelap bibir Naomi yang basah dengan ujung jempolnya.
__ADS_1
"Istriku ini hampir membuat aku lupa diri, kau sangat menggoda sayang, walau perut sudah membesar begini, masih saja terlihat sangat menggairahkan!" ucap Jacob mengelus perut Naomi yang membesar.
Bibir Naomi perlahan tersenyum mendengar pujian Jacob tersebut, dia merasa senang bisa membuat suaminya selalu menginginkannya.
Naomi memeluk Jacob, dan membenamkan wajahnya ke dada bidang suaminya itu.
"Terimakasih kak, aku juga sangat menyukai ciuman mu, dan tanganmu menyentuh tubuhku, aku langsung terbuai" gumam Naomi menyembunyikan wajahnya.
Dia malu untuk mengungkapkan isi hatinya tentang Jacob yang begitu menggairahkan dan mempesonanya, hingga dia juga bisa lupa diri.
Jacob tersenyum senang mendengar pengakuan Naomi itu.
Jacob membalas pelukan Naomi dengan erat, hatinya sangat bahagia sekali.
"Kita mau kemana kak?" tanya Naomi setelah mereka puas berpelukan.
"Kita ke luar kota sayang, ke kebun bunga yang cukup luas, udara di sana sangat segar dan menyenangkan, kau pasti menyukainya!" ujar Jacob, lalu mengecup puncak kepala Naomi.
"Pasti indah sekali, aku belum pernah melihat taman bunga yang luas!" kata Naomi bersemangat.
"Pasti kau suka sayang, itu kebun bunga yang cukup luas, bagaikan padang bunga!"
"Wahh, aku jadi tidak sabaran untuk melihatnya!" mata Naomi berbinar-binar begitu senangnya.
Mobil yang di kemudikan pengganti Don, dengan kecepatan sedang membawa mereka ke luar kota.
Terlihat di sepanjang jalan kiri dan kanan, hutan dengan pepohonan yang menjulang tinggi.
Hutan yang terlihat begitu subur.
Jacob menggenggam tangan istrinya di dalam ke dua telapak tangannya, yang sesekali meremasnya dengan lembut.
Mereka sesekali saling melirik dan tersenyum manis.
Beberapa mobil tiba-tiba lewat dengan ke cepatan di atas sedang melewati mobil Jacob.
Dan, tiba-tiba berhenti tidak jauh di depan mereka di tengah jalan, Bodyguard Jacob dengan cepat mengerem mobilnya.
"Tuan!" panggil Bodyguard Jacob menatap tiga mobil yang berhenti tidak jauh di depan sana.
"Ada apa lagi ini!" ujar Jacob tidak senang.
Ini belum terlalu sore, baru jam satu siang.
__ADS_1
Sudah ada lagi yang mencoba mengusik ke tenangannya, sungguh membuat emosi.
Bersambung.....