
Naomi dengan erat memeluk tubuh Ayahnya yang terasa semakin bergetar karena tangisannya yang kencang.
Julius bagaikan mimpi, akhirnya bisa bersama dengan belahan jiwanya, walaupun bukan wanita yang selama ini selalu berada dalam mimpinya.
Wanita yang dicintainya itu memberikan seorang putri yang sangat cantik padanya, seorang putri yang sangat mirip dengan wanita itu.
Wajah dan suaranya, sangat mirip sekali.
Naomi mengelus punggung rentan Julius, wanita muda itu bisa merasakan betapa sedihnya kehidupan yang di jalani Ayahnya selama ini.
Karena dia juga pernah merasakan sangat kesepian dan menderita, merindukan keluarganya yang selama ini dia ketahui telah meninggal dunia.
Dan, sekarang mereka telah bertemu, dan tidak akan berpisah lagi.
Sampai mereka puas menangis dan berpelukan dengan eratnya, barulah mereka melepaskan pelukan mereka.
"Putriku, aku bahagia sekali, akhirnya aku bisa tenang menjalani masa tuaku yang selama ini selalu memikirkan Clarissa, Mamamu" ucap Julius mengelus kepala Naomi dengan sayang.
"Aku juga senang, akhirnya mengetahui siapa aku sebenarnya, dan siapa keluargaku, dan ternyata Papa masih hidup, tidak meninggal, seperti yang di katakan Kepala panti asuhan!" ujar Naomi di sela-sela tangis nya.
Mendengar perkataan Naomi itu, kembali Julius memeluk putrinya dengan erat.
"Maafkan Papa yang tidak berguna ini putriku" gumam Julius kembali terisak.
"Jangan menyalahkan dirimu Pa, mereka yang jahat memisahkan dirimu dengan orang yang kau cintai!" ujar Naomi serak, kembali dia ikut terisak dengan sedihnya.
Sementara Jacob dan yang lainnya, membiarkan mereka meluapkan rasa rindu mereka sampai puas.
Setelah mereka puas menumpahkan rasa rindu dan sedih mereka selama ini, mereka pun melepaskan pelukan mereka.
Setelah mereka tenang, Jacob membantu istrinya itu bangkit berdiri, lalu memberikan sapu tangannya untuk mengelap air mata Naomi.
"Terimakasih kak" ucap Naomi menerima saputangan yang diberikan Jacob tersebut.
__ADS_1
"Pergilah ke ruang tengah bersama dengan yang lainnya, aku akan mengurus lelaki yang telah mengacaukan keluarga mu, dia harus di beri hukuman yang akan membuat dia menderita seumur hidupnya!" kata Jacob.
"Baik kak!"
Naomi bersama Ayahnya dan Camelia keluar dari ruangan itu.
Jacob memerintahkan Don, untuk mengikat anak buah Toni dalam satu ruangan bersama dengan Toni.
Don bersama rekannya yang lain mengerjakan apa yang di perintahkan Jacob.
Lelaki itu terus saja terkekeh seperti orang yang kesenangan, wajahnya yang memar dan berdarah terlihat aneh dengan senyum seringainya yang terlihat menyeramkan.
Jacob dan Don menatap lelaki itu dengan lekat, menilik dari tingkah Toni, sepertinya pria tua itu begitu terobsesi dengan Clarissa.
Karena cemburu membuat dirinya, menjadi bukan dirinya.
Bertahun-tahun dia menahan Julius berada di sampingnya, agar Ayah Naomi itu tidak mencari tahu keberadaan Clarissa.
Itu sungguh mengerikan.
"Benar Tuan, selama ini sikapnya tidak terlihat, karena dia merasa kejahatannya, tidak akan pernah ketahuan!" jawab Don.
"Ya, kau benar!" angguk Jacob mengiyakan.
Sementara itu, Naomi beserta Camelia dan Julius duduk saling diam di sofa, di ruang tamu milik Toni.
Julius masih menggenggam tangan Naomi dalam telapak tangannya.
"Apakah dia suamimu?" tanya Julius memaksudkan Jacob.
"Iya Pa!" jawab Naomi sembari mengangguk.
"Dia pasti sangat mencintaimu, terlihat dari cara dia memperhatikan mu!" kata Julius lagi.
__ADS_1
"Ya, Jacob suami yang bertanggung jawab, dan sangat menyayangi Naomi!" sahut Camelia menimpali.
"Syukurlah" ucap Julius lega.
"Pa, setelah ini, ikutlah bersama kami, Papa tinggal bersama kami saja!" ujar Naomi memberi saran pada Julius.
Julius tampak merenung.
"Baiklah, Papa juga sudah tua, sudah mulai sakit-sakitan, Papa harus selalu dekat dengan mu mulai saat ini, agar kerinduan dan sakit hati Papa selama ini bisa terobati!" jawab Julius tersenyum memandang putrinya itu.
Naomi begitu senang mendengar jawaban Ayahnya itu, kembali Naomi memeluk Ayahnya dengan bahagia.
"Terimakasih Pa" ucap Naomi tersenyum senang.
"Aku yang seharusnya berterimakasih padamu putriku, kau sudah tumbuh dengan baik selama ini, tanpa ada aku di sampingmu, kau bisa menjaga diri dengan baik, sampai akhirnya kita bisa bertemu!" ujar Julius mengelus kepala Naomi dengan sayang.
Camelia yang melihat kebahagiaan keluarga dari almarhum adiknya itu, ikut tersenyum juga.
Akhirnya Camelia mau memaafkan Julius, setelah mengetahui kebenarannya.
Ternyata selama ini Toni yang telah membuat keluarga mereka menderita, Toni adalah dalang di balik tidak bisanya mereka menemukan Clarissa.
Dan membuat Ayah sakit-sakitan memikirkan Clarissa.
Juga merasa bersalah karena berpikiran, bahwa Clarissa masih marah pada Ayah mereka, karena perjodohan yang di atur oleh Ayah mereka.
Karena itu, Clarissa bersembunyi sampai sulit tidak bisa menemukan Clarissa.
Ternyata, semua itu, bukan seperti itu.
Toni lah dalang di balik tidak bisa ditemukannya adiknya itu.
Camelia menghela nafasnya dengan lega, beban di hatinya berkurang.
__ADS_1
Bersambung.....