Jangan Mendekat Gadis Kecil

Jangan Mendekat Gadis Kecil
90. Akhirnya kebenaran terungkap.


__ADS_3

Jacob mendekati lelaki tua yang bernama Toni itu, dan menarik kerah kemeja Toni.


"Ayo, jelaskan dengan jujur, ada apa semua ini, kau mempermainkan keluarga istriku, trik apa yang sedang kau mainkan!" ujar Jacob menarik lelaki itu ketengah ruangan.


Lalu membuat Toni tersungkur ke lantai di sebelah Julius.


Julius langsung menoleh memandang ke arah Toni, lalu bangkit dari lantai dan kemudian meninju wajah Toni.


"Brengsek kau, sialan! ternyata kau bunuh Clarissa, kau selama ini sudah membohongiku, sejak kapan kau melenyapkan Clarissa!" teriak Julius histeris, tubuhnya bergetar karena emosi.


Toni yang terkena pukulan Julius meringis menahan sakit di rahangnya.


"Aku tidak terima kau hidup bahagia bersamanya, kau pikir siapa dirimu, hanya seorang pria miskin yang tidak bisa mempunyai harta, kenapa aku bisa kalah dengan dirimu yang hanya bermodal tampang saja?!" teriak Toni


Mendengar itu emosi Julius semakin berkobar, wajah tuanya masih terlihat meninggalkan sisa-sisa ketampanannya di masa muda, dan tubuhnya masih terlihat kekar, mungkin karena selama ini selalu melakukan pekerjaan keras di beri Toni.


Dengan kalap melayangkan tinjunya ke arah Toni, dan tidak memberi ampun pada lelaki itu.


"Seseorang! cepat ke mari!" teriak Toni dengan kencang saat tubuhnya tersungkur ke lantai di tendang Julius.


Terdengar suara drap kaki berlarian datang ke dalam ruangan tersebut, tapi kemudian di tahan beberapa Bodyguard Jacob.


"Jangan biarkan mereka lolos, cepat! aku ingin mereka membayar ke rusuhan yang telah mereka buat di rumahku!" teriak Toni kepada beberapa pria yang datang.


"Baik Tuan!" jawab para pria kekar itu.


Terjadilah perkelahian di ruangan itu.


Jacob dan Don dengan cepat dapat melumpuhkan beberapa anak buah Toni.


Melihat itu, Toni jadi menciut, dia tidak menyangka telah membuat suatu kesalahan yang dia pikir akan aman sampai kapanpun.

__ADS_1


Julius kembali menghadap Toni, memandang Toni dengan tajamnya.


"Katakan, sejak kapan kau merencanakan ini semua?" tanya Julius.


"Tentu saja semenjak dia menolak ku, kalau aku tidak bisa mendapatkannya, kau juga tidak bisa mendapatkannya!" sahut Toni tersenyum mencibir.


"Jadi janjimu akan membiarkan Clarissa untuk hidup bahagia, dengan lelaki lain, dan tidak mengganggu hidupnya kalau aku bekerja padamu, itu semua hanya bohong?" tanya Julius lagi dengan tangan yang terkepal dengan erat.


"Ya! aku sengaja mempekerjakanmu padaku, agar aku bisa memantau mu, agar tidak bisa bertemu, maupun bersama dengan Clarissa, dan berbohong tidak akan menggangu hidup Clarissa!" sahut Toni menyeringai mengejek.


"Kau brengsek! sialan kau Toni, ku pikir Clarissa sudah bahagia sekarang, dengan menurutimu bekerja padamu, agar kau tidak mengganggu hidup Clarissa lagi, ternyata itu semuanya adalah rencana licikmu untuk memisahkan kami!" teriak Julius dengan histeris.


Bukk!


Julius kembali melayangkan tinjunya pada Toni, dan karena merasa sakit hati selama ini dia sudah mengalah agar Toni tidak mengganggu hidup Clarissa, ternyata dia telah di tipu Toni.


Tinju Julius berkali-kali di hantamnya ke wajah Toni, dan air mata Julius mengalir.


Air mata Julius terus mengalir tiada henti, dia memang pria miskin yang tidak berguna, tidak bisa melindungi kekasih yang sangat mencintai dirinya.


Tidak bisa berbuat banyak, saat seseorang mengancam dirinya akan membunuh Clarissa kalau dia terus menjalani hubungan dengan Clarissa.


Karena cintanya pada Clarissa, dengan hati yang sakit, Julius terpaksa mengikuti kemauan Toni, agar pria itu tidak mengusik hidup Clarissa lagi.


Tapi, ternyata itu hanya siasat licik Toni ingin memisahkan mereka, dan yang tidak di sangka karena Clarissa tidak bisa di rayu Toni walaupun sudah berpisah dari Julius.


Membuat Toni gelap mata, dan melenyapkan Clarissa.


Lalu tetap mempekerjakan Julius di sampingnya, mengawasi pria itu agar tidak mencari tahu keberadaan Clarissa.


Dan selalu memberi kabar pada Julius, kalau Clarissa sudah bahagia dengan lelaki lain, dan tidak mengingat Julius lagi.

__ADS_1


Walau ada rasa sakit hati mendengar Clarissa bahagia dengan lelaki lain, hati kecil Julius harus merelakan cintanya hilang.


Karena lelaki yang memprovokasi mereka orang yang berduit, mau kemanapun mereka pergi, mereka selalu saja bisa di temukan.


Julius sudah gelap mata, mulut Toni sampai mengeluarkan darah.


Air mata Julius semakin deras turun, hatinya sakit sekali, bagaikan di iris dengan silet, sakit dan perih.


"Papa!" panggil Naomi tanpa sadar, dia tidak tega melihat tubuh tua Julius yang terlihat sangat rapuh meninju wajah Toni.


Spontan tangan Julius berhenti meninju wajah Toni, suara Naomi membuat dia membeku.


Sangat mirip sekali dengan suara kekasih yang sangat di cintainya, Clarissa.


Dia ingat waktu itu, Clarissa dengan tulus menyerahkan keperawanannya pada dirinya.


Walau awalnya dia menolak, tapi Clarissa tidak ingin lelaki lain menjamah tubuhnya, yang diinginkan Clarissa hanya dirinya.


Julius menoleh memandang pada Naomi berjalan mendekat ke arahnya.


Ternyata Clarissa menjaga buah cinta mereka berdua, dan sekarang telah tumbuh menjadi seorang gadis yang sangat cantik, sama seperti dirinya.


"Putriku..." sahut Julius parau karena tangisnya yang terus saja mengalir.


Julius bangkit dari atas tubuh Toni yang tergeletak tidak berdaya di lantai, dan perlahan menyambut kedatangan Naomi menghampiri nya.


"Papa..." tanpa sadar air mata Naomi ikut mengalir melihat wajah rentan Julius yang menyedihkan.


Naomi mengulurkan kedua tangannya saat Julius mendekat padanya.


Ayah dan putri itu pun saling berpelukan dengan eratnya, dan menangis dengan begitu pilunya.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2