Jangan Mendekat Gadis Kecil

Jangan Mendekat Gadis Kecil
51. Tidak suka dimanfaatkan.


__ADS_3

Don membuka pintu mobil untuk Jacob dan Naomi, lalu perlahan membawa mobil keluar dari dalam basement gedung.


Ditengah jalan Don menerima telepon dari seseorang, Don menekan tanda terima pada ponsel yang berada di car holder.


Dan terdengarlah suara yang berisik diseberang sana, suara musik terdengar begitu kuat.


"Halo!" sahut Don tanpa mengalihkan matanya menatap jalanan didepan.


"Hai Don..apa kabar, mana Bos mu..aku dari kemarin sudah mengirim pesan padanya, tapi tidak ditanggapi sedikitpun, aku ingin bicara dengannya, aku tunggu ditempat biasa, sudah lama aku tidak minum bersama dengannya..dalam waktu lima belas menit, datanglah, kutunggu!" sahut seorang pria diseberang sana.


Klik!


Ponsel ditutup tanpa menunggu jawaban dari Don.


"Tuan!" sahut Don melirik Jacob dari kaca spion.


"Ayo pergi sebentar kesana!" sahut Jacob menjawab Don.


"Baik tuan!"


Setelah mendapat jawaban dari Jacob, mobil pun menuju ke suatu tempat yang disebutkan pria dalam ponsel tadi.


Jacob merangkul pinggang Naomi yang duduk di pangkuannya, perlahan wajahnya terlihat menunjukkan aura yang dingin.


"Kita tidak akan lama sayang, ada urusan, kita kesana sebentar saja!" kata Jacob mengecup pipi Naomi.


"Iya kak!"


Mobil hitam tersebut perlahan berhenti di sebuah Pub mewah, dan kedatangan mereka disambut Manajer Pub, seorang wanita yang sangat cantik dan seksi.


"Tuan Ramon telah menunggu anda di ruangannya Tuan..silahkan!" wanita tersebut membawa Jacob, Naomi dan Don yang berjalan dibelakang mereka naik ke lantai dua.


Wanita itu membuka pintu sebuah ruangan yang diatasnya bertuliskan VIP Khusus.

__ADS_1


Begitu pintu terbuka terdengarlah suara alunan musik yang bergenre hip hop, didalam terdapat sofa panjang berbentuk setengah bundar.


Pintu kembali ditutup wanita cantik tadi setelah Jacob, Naomi dan Don masuk kedalam ruangan itu.


Lampu ruangan sedikit temaram, dan aroma alkohol tercium begitu menyengat.


Tampak di dalam ruangan ada tiga pria sedang dilayani beberapa wanita cantik dan seksi.


Di tengah-tengah sofa seorang pria yang kemungkinan bernama Ramon dikelilingi tiga wanita cantik, dengan kemeja yang setengah terbuka, satu tangannya memegang gelas berkaki tinggi berisi anggur merah.


Dua wanita tengah membelai tubuh pria tersebut, masing-masing membelai dadanya yang terbuka, dan seorang wanita lainnya tampak menunduk melakukan sesuatu diselangkangannya.


Dua pria lainnya duduk tidak jauh disebelah kanan dan kirinya, mendapat pelayanan juga dari wanita cantik dan seksi.


Meja penuh dengan minuman beralkohol.


Melihat pemandangan yang tidak pantas itu, Jacob mendekap Naomi, menyembunyikan wajah Naomi kedadanya agar tidak melihat pemandangan yang menjijikkan menurut pandangan Jacob.


Jacob berdiri ditengah ruangan sambil mendekap Naomi, menutup wajah Naomi dengan tangannya, berdiri tidak bergerak ditempatnya


Sementara Don berdiri tidak jauh dibelakang Jacob.


"Pergi! tidak memuaskan, sia-sia aku membayar jasamu..sungguh mengecewakan!" sahut Ramon dengan kasar mendorong ketiga wanita yang melayaninya tersebut.


Ketiga wanita itu dengan cepat pergi keluar dari ruangan itu.


"Hai sobatku..kenapa berdiri saja, marilah duduk, sudah lama aku tidak mengobrol denganmu!" sahut Ramon tersenyum menyeringai, tangannya dengan cepat membetulkan celananya yang terbuka.


"Ternyata kau sudah memiliki kemajuan ya, biasanya kau tidak suka disentuh oleh wanita, aku tidak menyangka si gunung es akhirnya mencair juga..kau dapat dari mana gadis itu?" tanya Ramon, senyuman menyeringainya terlihat semakin melebar.


Jacob tidak menanggapi perkataan Ramon itu, ia masih berdiri sambil mendekap Naomi.


Mata Jacob tajam menatap Ramon dengan wajah yang datar, Jacob merasa sangat bodoh menuruti perkataan Ramon untuk menemuinya.

__ADS_1


"Katakan!" sahut Jacob dengan datar.


"Baiklah...keluar!" seru Ramon kepada dua pria yang masih dilayani oleh wanita-wanita seksi di samping kiri dan kanannya.


Kedua pria yang masih menikmati dilayani para wanita cantik itu, langsung berdiri mendengar perintah Ramon, mereka bergegas keluar dari ruangan tersebut bersama dengan wanita-wanita cantik itu.


Tinggallah tiga anak buahnya yang berdiri tidak jauh dari sofa.


"Katakan!" sahut Jacob sekali lagi dengan datar.


"Baiklah!" Ramon mengambil sebuah berkas dan meletakkannya ke atas meja.


Jacob tidak bergeming ditempatnya.


Don yang sedari tadi berdiri tidak jauh dari Jacob dan Naomi, perlahan berjalan menuju meja.


Meraih berkas yang diletakkan Ramon, lalu membuka berkas tersebut.


Setelah Don melihat isi berkas, kemudian menunjukkannya kepada Jacob.


"Bagaimana? puas? tanah disebelah timur yang kau incar akhirnya bisa kudapatkan, tapi aku tidak ingin bernegosiasi denganmu begitu saja, aku ingin membuat satu persyaratan denganmu!" sahut Ramon meraih gelas anggurnya.


"Apa persyaratan yang kau inginkan?" tanya Don mewakili Jacob.


"Menikahi sepupuku, aku tidak gampang mendapatkan tanah itu, aku bekerja keras untuk mendapatkannya, banyak pesaing yang memiliki pengaruh kuat kuhadapi..jadi aku ingin memiliki ikatan yang kuat untuk melawan mereka kelak kalau kau menjadi bagian dari keluarga kami!" sahut Ramon dengan santainya sembari memutar anggur dalam gelasnya.


Wajah datar Jacob terlihat semakin dingin saja, dia tidak menyangka keluarga Ramon tidak berhenti mencoba untuk mengejarnya.


Senyuman sinis tersungging disudut bibir Jacob. Mau mencoba-coba memprovokasinya, dia paling tidak suka dimanfaatkan oleh siapapun.


Jacob masih dengan mendekap Naomi berbalik menuju pintu, dia tidak memperdulikan perkataan Ramon setelah pria itu mengungkapkan tujuannya memanggil Jacob untuk bertemu.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2