Jangan Mendekat Gadis Kecil

Jangan Mendekat Gadis Kecil
87. Aroma yang sangat enak.


__ADS_3

Wanita tua itu diam membeku di tempatnya, matanya tidak berkedip mendengar penjelasan dari Don.


Tangannya yang memegang tongkatnya terlihat bergetar, bibirnya bergerak-bergerak menahan tangisnya yang ingin keluar.


Don meletakkan berkas hasil penyelidikan nya ke atas meja ke depan wanita itu.


"Terimakasih" ucap wanita itu dengan suara bergetar.


"Sama-sama Nyonya!" jawab Don, lalu membungkukkan tubuhnya sedikit.


"Prada Group, aku tahu siapa mereka!" sahut wanita itu.


Don mengangkat kepalanya, lalu memandang wanita itu.


"Tunangan yang dijodohkan Papa untuk adikku, yang ditolak adikku, karena dia tidak menyukai lelaki kasar tersebut!" sahut wanita itu lagi.


Matanya menatap berkas yang diletakkan Don di atas meja tanpa berkedip, memori kenangan adiknya melintas di pikirannya.


Tampak dari sudut matanya terlihat air matanya mengalir, wanita itu sangat sedih, ternyata adiknya di bunuh seseorang.


Wanita itu diam-diam menangis tanpa mengeluarkan suara, air matanya mengalir tiada berhenti.


Don bersama ke dua rekannya, diam saja di tempatnya melihat wanita itu menangis.


Mereka tidak bergerak di tempatnya, memberi wanita itu meluapkan emosinya yang terpendam.


Begitu juga Asisten wanita itu, beserta dua Pelayan lainnya, yang ada di ruangan itu, diam tidak bergerak di tempatnya.


Mereka juga diam, seakan ikut terhanyut juga dengan kesedihan Nyonya mereka.


Ruangan beberapa menit terasa begitu hening, hanya suara tangisan kecil yang terdengar.


Sementara itu di rumah sakit, Jacob membawa Naomi untuk tes DNA.


Jacob menginginkan hasil tes cepat keluar, lelaki itu tidak sabar untuk menunggu sampai malam.


Setelah sampel rambut Naomi di ambil, Jacob dan istrinya itu menunggu hasil tes di ruang tunggu khusus.


Dari tadi saat memasuki rumah sakit, Naomi merasa penciumannya tidak enak.


Kepalanya terasa pusing mencium aroma rumah sakit tersebut, membuat perutnya terasa mual, dan ingin muntah.


Naomi merapat pada Jacob, merangkul tangan suaminya itu, dan merebahkan kepalanya ke dada bidang Jacob.

__ADS_1


Jacob memeluk pinggang istrinya, pria itu pikir kalau Naomi merasa gugup menunggu hasil tes DNA nya keluar.


Tangan besarnya dengan lembut menepuk-nepuk punggung Naomi, dan kemudian mengelusnya.


"Kepalaku pusing kak" kata Naomi pelan.


"Apakah aku perlu memesan sesuatu padamu?" tanya Jacob seraya terus saja mengelus punggung Naomi.


"Iya, air minum hangat" jawab Naomi.


Jacob memencet bel yang tidak jauh dari tempat duduknya.


Tidak berapa lama pintu ruang tunggu terbuka, masuklah seorang Perawat wanita ke dalam ruang tunggu VIP itu.


"Ada yang bisa saya bantu Tuan?" tanya Perawat tersebut.


"Istri saya pusing, tolong bawakan padanya air minum hangat!" sahut Jacob.


"Oh, baik Tuan, saya akan ambil!" Perawat itu bergegas keluar dari ruang VIP tersebut.


Tidak berapa lama Perawat tadi datang dengan secangkir air hangat.


"Terimakasih" ucap Jacob menerima gelas air minum yang diberikan oleh Perawat itu.


"Terimakasih, anda boleh pergi!" sahut Jacob datar.


"Maaf Tuan, sepertinya istri anda sakit, wajahnya terlihat pucat!" ujar Perawat itu memandang Naomi dengan lekat.


Jacob menatap wajah Naomi, mengamati perubahan pada wajah istrinya itu.


Kenapa dia tidak menyadari, kalau ada perubahan pada diri Naomi.


"Apakah tubuhmu terasa tidak enakan sayang?" tanya Jacob lembut.


"Iya kak, saat pertama masuk ke dalam rumah sakit tadi, aku rasanya mual dan pusing mencium bau aroma rumah sakit ini!" ujar Naomi, lalu menekan keningnya ke dada Jacob.


"Baiklah, mungkin istri saya perlu vitamin!" sahut Jacob.


"Saya akan panggil Dokter umum untuk memeriksa istri Tuan!"


"Baik!" jawab Jacob.


Perawat itu kemudian keluar dari ruang tunggu tersebut.

__ADS_1


Jacob mengelus kepala Naomi, dan menekan jemarinya dengan lembut pada kulit kepala istrinya itu, untuk membantu meringankan pusing di kepalanya.


Naomi semakin merapat pada Jacob, menempelkan hidungnya ke ceruk ketiak Jacob.


Aroma tubuh Jacob terasa menenangkan kepalanya yang pusing, bau keringat Jacob terasa enak di hirup oleh hidung Naomi.


"Kak, bau mu enak sekali!" gumamnya semakin mengendus aroma tubuh Jacob.


Jacob tersenyum lucu mendengar apa yang dikatakan istrinya itu, dia tidak menyangka Naomi menyukai bau keringatnya.


"Pusing ku jadi hilang!" gumam Naomi lagi, sembari hidungnya masih terus saja mengendus aroma tubuh Jacob.


Senyuman Jacob semakin melebar, dan nyaris mengeluarkan tawanya.


Tidak berapa lama, pintu ruang tunggu terbuka, masuklah seorang Dokter wanita bersama Perawat tadi.


"Apakah istri anda kurang sehat Tuan?" tanya Dokter itu.


"Iya Dok, kepalanya pusing dan tubuhnya lemas mencium aroma rumah sakit!" jawab Jacob.


"Maaf Nyonya, boleh saya pegang tangan anda?" tanya Dokter itu mendekat ke arah Jacob dan Naomi duduk.


Naomi menyodorkan tangannya, dan kemudian Dokter itu memegang urat nadi Naomi pada pergelangan tangannya.


Setelah itu memeriksa matanya, dan denyut jantungnya.


"Sudah berapa lama menikah Tuan?" tanya Dokter tersebut, lalu mengukur tekanan darah Naomi.


"Sudah hampir dua bulan!" jawab Jacob.


Dokter itu tersenyum, lalu melepaskan alat pengukur tekanan darah pada lengan Naomi.


"Darahnya normal, sebaiknya diperiksa lebih detail lagi ke Dokter kandungan, Tuan!" sahut Dokter tersebut sambil menyusun kembali alat pengukur tekanan darah tersebut.


Jacob dan Naomi terdiam ditempatnya, mereka seperti kurang fokus dengan apa yang dijelaskan oleh Dokter tersebut.


"A..apa Dok?" tanya Jacob ter bengong.


"Mungkin istri anda sedang hamil, lebih baik periksa ke Dokter spesialis kandungan untuk pemeriksaan lebih jelasnya!" kata Dokter tersebut menjelaskan apa yang dikatakannya.


Dan, penjelasan Dokter itu sontak membuat tubuh kedua suami istri itu membeku ditempatnya.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2