
Naomi perlahan mendekat pada Jacob, hatinya cemas bercampur bahagia, cemas melihat tangan Jacob terluka, dan bahagia karena mengetahui ternyata Jacob mencintainya.
"Kak.." panggil Naomi dengan lembut, matanya menatap mata Jacob yang terlihat membara karena amarah.
Jacob terpana mendengar suara lembut Naomi, perlahan matanya yang marah meredup menatap wajah Naomi yang terlihat begitu cemas.
"Tanganmu kak..!" sahut Naomi dengan suara tercekat.
Jacob baru tersadar dengan apa tadi yang dilakukannya, dia menunduk melihat tangannya, dan tampak ada darah menetes dari tangannya.
"Aku akan ambil kotak P3K..dimana disimpan?" tanya Naomi mengedarkan pandangannya ke seluruh ruang kantor Jacob, dia terlihat begitu cemas.
Jacob jadi melunak melihat Naomi yang begitu khawatir dengan tangannya, ada semacam rasa hangat dihati Jacob.
"Di kamar" sahut Jacob dengan suara normal, perasaannya yang marah telah mencair melihat wajah cemas Naomi.
"Ayo kak!" Naomi meraih tangan Jacob, dan menariknya masuk ke balik lemari, dan menekan kunci rahasia kamar di balik lemari tersebut.
Naomi menarik tangan Jacob masuk kedalam kamar, dan langsung berjalan menuju sofa, menarik Jacob untuk duduk di sofa.
"Duduk kak, aku akan ambil obat dulu..dimana?" tanya Naomi memaksudkan kotak P3K.
"Disini!" Jacob menunjuk dibawah kolong meja sofa.
Naomi melihat ada laci dibawah meja sofa, lalu menarik laci tersebut, dan benar saja ada satu kotak didalam laci.
Naomi mengambil kotak tersebut, lalu menaruhnya keatas meja sofa, dan kemudian membukanya.
Naomi mengambil kapas dan alkohol pembersih luka, dengan hati-hati dan lembut tangan kecil Naomi membersihkan darah yang mengalir dari luka ditangan Jacob.
"Maafkan aku kak" gumam Naomi sembari memberi obat pada luka Jacob, matanya tanpa sadar memerah melihat luka ditangan Jacob ternyata lebar juga.
__ADS_1
"Maafkan aku" gumam Naomi lagi, dia merasa bersalah membuat Jacob lepas kendali, "Seharusnya aku tidak membuat kakak marah, aku keterlaluan"
Perlahan tangan Jacob yang satu lagi mengelus kepala Naomi, dia terlalu cemburu hingga gelap mata dan emosinya tidak bisa dia tahan.
"Aku juga minta maaf, aku terlalu cemburu..aku tidak tahan memikirkanmu dengan lelaki lain, aku tidak rela!" gumam Jacob pelan.
Naomi menutup tangan Jacob yang terluka dengan plester, lalu mendongakkan wajahnya menatap Jacob.
Mereka saling menatap, Naomi bangkit dari jongkoknya, dan perlahan duduk keatas pangkuan Jacob.
Posisi mereka saling berhadapan, Naomi duduk diatas pangkuan Jacob dengan posisi mengangkang.
Mengalungkan tangannya keleher Jacob, dan mendekatkan wajahnya kewajah Jacob.
Satu kecupan mendarat di bibir Jacob, dan sontak membuat wajah Jacob merona.
"Aku juga mencintaimu kak..lelaki yang aku cintai adalah kakak!" gumam Naomi berbisik ditelinga Jacob.
Ternyata lelaki yang dicemburuinya adalah dirinya sendiri, Jacob jadi merasa malu dengan sikapnya yang begitu kasar tadi.
Naomi kemudian memeluk Jacob setelah mengungkapkan pengakuannya, bahwa dia juga mencintai Jacob.
Dan setelah itu, membenamkan kepalanya kedada Jacob dengan manja.
Sontak membuat Jacob membalas pelukan Naomi dengan sangat eratnya, dia tidak menyangka ternyata mereka saling mencintai.
Merekapun saling berpelukan.
Beberapa menit mereka seperti itu, diam saling berpelukan, tanpa ada niat untuk melepaskan pelukan mereka.
Perlahan tangan Jacob mengelus punggung Naomi, lalu mengecup leher Naomi.
__ADS_1
Perasaannya sangat bahagia, rasanya dia ingin mengecup dan mencium seluruh tubuh Naomi karena begitu bahagianya.
Tiba-tiba tubuh Naomi merasakan sensasi yang menggelitik di selangkangannya, dan membuat dia merasa terbuai.
Naomi merasakan ada yang menonjol menekan daerah sensitifnya dibawah sana, membuat dia tanpa sadar mendesah merasa sangat nyaman.
"Ahh..!"
"Naomi!" suara Jacob serak, dia juga merasakan hal yang sama, merasakan ereksi saat memikirkan ingin mengecup dan mencium seluruh tubuh Naomi.
"Ya kak..!" jawab Naomi semakin mengeratkan pelukannya.
"Maukah kau menikah denganku..dan menjadi Ibu dari anak-anakku?" tanya Jacob dengan suara yang serak, pelukannya juga semakin erat.
"Iya mau!" Naomi mengangguk dengan cepat.
"Sayang...aku sangat bahagia, mari kita menikah secepatnya, aku bisa lupa diri kalau sudah dekat dengan dirimu..aku takut lepas kendali, mulai besok aku akan mengurus pernikahan kita!" gumam Jacob mengeratkan pelukannya.
"Iya kak!" kata Naomi.
"Terimakasih sayang...apakah kau sungguh-sungguh mencintaiku, umurku sudah tidak muda lagi!"
"Tapi masih tampan dan gagah, tidak terlihat tua!" kata Naomi melepaskan pelukannya.
"Benarkah?" senyum Jacob merekah mendengar perkataan Naomi tersebut.
"Iya, benar..sangat tampan dan gagah!" Naomi mengelus rahang Jacob, lalu mengelus dada bidang Jacob.
Senyum Jacob semakin merekah mendengar pujian Naomi, dia begitu bahagia sekali, seumur hidupnya ini adalah hari yang sangat bahagia dirasakan Jacob.
Bersambung.....
__ADS_1