
Seminggu kemudian.
Jacob membereskan semua masalah yang telah Toni perbuat, menempatkan pria tua itu di rehabilitasi.
Dan membawa Ayah mertuanya tinggal bersama mereka di Mansion setelah Julius memastikan kalau Clarissa benar-benar telah meninggal.
Melihat dengan matanya sendiri tempat di mana Clarissa di semayamkan.
Barulah Julius tenang, dan menerima dengan hati yang sakit, kalau Clarissa benar-benar sudah tidur dalam kematian.
Clarissa telah memberikan kenang-kenangan padanya, untuk selalu mengingat cinta mereka yang dalam.
Putri mereka Naomi, gadis yang mirip dengan Clarissa, dan memiliki suara yang sama.
Naomi memeluk Ayahnya dengan erat saat pria tua itu menangis sesegukan di depan makam Clarissa, menguatkan tubuh rentan Julius walau masih terlihat kekar.
Camelia juga sudah tenang, akhirnya menemukan adiknya, walau hanya makamnya saja.
Mereka merelakan Clarissa, dengan lapang dada.
Mereka harus melanjutkan hidup mereka, jangan terlalu berlarut dengan kenangan yang menyakitkan.
Itu akan merusak kesehatan, pikiran dan waktu yang berharga.
Seperti biasa pagi ini, Naomi merasa tidak enak badan, perutnya mual-mual, dan hanya memakan sedikit sarapan saja.
Dengan lembut Jacob mengelus punggung istrinya itu, untuk menenangkan perut Naomi yang terasa bergolak tidak nyaman.
"Buatkan susu hangat Bi!" sahut Jacob pada Bibi koki.
"Baik Tuan!" jawab Bibi koki dengan cepat, dan dengan cekatan membuatkan susu hangat untuk Nyonya kecilnya tersebut.
"Kau kenapa nak?" tanya Julius melihat wajah Naomi yang pucat.
"Perutnya tidak enak Pa!" jawab Jacob.
__ADS_1
"Minum air hangat, masuk angin mungkin!" sahut Julius.
Naomi memandang Jacob, dan suaminya itu juga memandang Naomi, melihat tatapan Naomi yang memberi kode padanya.
"Ehem!" wajah Jacob merona baru tersadar, mereka belum memberitahukan prihal kehamilan Naomi kepada Julius.
"Naomi hamil muda Pa, karena itulah dia mual-mual!" ujar Jacob malu-malu.
Mendengar Naomi hamil muda, wajah Julius langsung berubah. Wajah Julius terlihat merona begitu senang, mendengar kabar kehamilan Naomi.
"Benarkah?" tanyanya begitu senang.
"Iya Pa!" angguk Naomi.
Julius langsung mendekati Naomi, ikut membantu Jacob mengelus punggung Naomi dengan lembut.
Ke dua pria berbeda usia itu terlihat saling berlomba menenangkan Naomi yang merasa mual.
Bibi koki yang datang mengantarkan susu hangat, terbengong melihat pemandangan di ruang makan tersebut.
"Ini susu hangatnya Tuan!" sahut Bibi meletakkan gelas susu di atas meja.
"Baik Bi, terimakasih!" sahut kedua pria itu dengan bersamaan.
"I..iya Tuan!" ujar Bibi koki menahan senyum, merasa lucu melihat ke dua pria yang penting di hidup Nyonya kecilnya itu, sama-sama menjawabnya bersamaan.
Naomi tersenyum melihat ke dua pria yang di sayanginya itu menjawab bersamaan, dia benar-benar wanita yang beruntung.
Memiliki dua pria tampan berbeda usia, memperhatikan dirinya, dan menyayangi nya dengan berlimpah.
Wajah Naomi berbinar-binar, rasa mualnya langsung hilang.
"Minum sayang!" sahut Jacob memberikan gelas susu pada Naomi.
"Hati-hati, masih panas!" sahut Julius sembari masih mengelus punggung Naomi dengan lembut.
__ADS_1
"Iya Pa!" jawab Naomi.
Dengan perlahan, Naomi meminum susu tersebut sampai habis.
"Hari ini istirahatlah, jangan melakukan apapun!" ujar Jacob menjauhkan gelas kosong yang diletakkan Naomi ke atas meja.
"Iya benar, berbaring di kursi malas di halaman belakang sambil berjemur matahari, biar tubuhmu segar!" kata Julius mengusulkan Naomi untuk menghabiskan waktu beristirahat nya.
"Baiklah!" jawab Naomi, dia harus menyenangkan ke dua pria yang berharga di hidupnya itu, "Papa dan kak Jacob sarapan dulu, jangan sampai lupa sarapan karena terlalu memperhatikanku!"
Naomi mengingatkan Ayah dan suaminya yang belum sarapan.
"Baiklah!" jawab pria berbeda usia itu bersamaan.
Naomi tersenyum lucu mendengar jawaban ke dua pria itu, mereka langsung duduk di tempatnya masing-masing.
Lalu mulai memakan sarapan mereka dengan cepat, pemandangan yang sangat indah.
Ke dua pria itu menghabiskan sarapannya dengan cepat, dan meminum jus mereka dengan sekali teguk.
Cepat sekali! bisik hati Naomi takjub, dia tidak menyangka ke dua pria itu terlihat begitu bersemangat ingin mengurusnya.
Naomi perlahan bangkit dari duduknya, dengan cepat di raih Jacob membantu Naomi untuk berdiri.
"Ayo kita berjemur ke halaman belakang!" kata Naomi menerima genggaman tangan Jacob.
"Iya, Ayo sayang!" jawab Jacob dengan senang.
Jacob membawa Naomi ke halaman belakang.
Sementara Julius sangat bahagia memandang Jacob membawa putrinya itu, pria tua itu merasa bersyukur mendapat menantu yang sangat menyayangi putrinya.
Walau selama hidupnya belum pernah membahagiakan Clarissa, wanita yang sangat di cintainya, setidaknya putrinya harus dapat merasakan kasih sayang dan cinta yang melimpah.
Bersambung.....
__ADS_1