
Jacob membantu Naomi mandi, mengisi bathtub dengan air hangat, dan mengukur suhu air hangat dengan tangannya.
Setelah kira-kira sudah pas hangatnya untuk tubuh Naomi, Jacob mematikan kran air.
"Sudah sayang, berendam lah!" kata Jacob seraya membantu istrinya itu membuka pakaiannya.
Jacob mengecup bibir istrinya sekilas, lalu membantunya untuk masuk ke dalam bathtub.
Naomi perlahan memasukkan tubuhnya ke dalam bathtub.
"Berendam lah sayang, aku akan menyelesaikan pekerjaan ku dulu, nanti aku datang lagi!" Jacob mengelus kepala Naomi dengan sayang.
"Ya, kak!"
"Aku akan panggil Ines untuk membantu mu mandi!" sahut Jacob saat akan keluar dari dalam kamar mandi.
"Tidak usah kak, aku sendiri saja!" kata Naomi menolak di layani oleh Pelayan mereka.
"Tidak apa-apa sayang, aku tidak ingin kau terlalu capek!"
"Baiklah kak!" akhirnya Naomi mengalah di layani oleh Ines.
Dengan pelan Jacob menutup pintu kamar mandi, lalu berjalan menuju tempat tidur Naomi.
Jacob menekan bel di dekat tempat tidur, setelah itu dia berjalan menuju pintu kamar.
Saat akan menutup pintu kamar Naomi, tampak Pembantu Mansion yang bernama Ines tergesa-gesa datang.
"Urus istriku, dia lagi berendam di kamar mandi!" sahut Jacob saat Ines datang mendekat.
"Baik Tuan!" angguk Ines, lalu masuk kedalam kamar Naomi.
Sementara Jacob kembali ke ruang bawah, menuju ruang kerjanya membawa kembali laptopnya.
Jacob melanjutkan pekerjaannya yang tertunda tadi sambil menunggu Don menyelesaikan tugas yang diberikan nya tadi.
Tidak berapa lama Don datang dengan wajah tegang.
Jacob menyingkirkan laptopnya ke samping, lalu memandang Don yang terlihat gelisah.
"Bagaimana?" tanya Jacob dengan tenang, memandang Asistennya itu dengan lekat.
Don dengan tangan yang sedikit gemetar menyerahkan berkas yang dipegang nya ke atas meja.
__ADS_1
Pria bertubuh kekar itu diam seribu bahasa, sepertinya dia tidak berani untuk buka suara.
Jacob merasa penasaran dengan hasil penyelidikan Don, apa lagi melihat sikap pengawalnya itu terlihat lain dari biasanya.
Tangannya dengan cepat membuka berkas yang di bawa Don, lalu memeriksa apa yang ada di sana.
Jacob melihat hasil yang diperoleh Don, di berkas tertulis kalau Nora meninggal karena penyakit Leukimia, tapi bisa di sembuhkan karena penyakitnya belum kronis.
Tangan Jacob seketika menegang memegang berkas tersebut, hasil dari rumah sakit yang di dapatkan Don berbeda dengan hasil diagnosa tiga tahun yang lalu.
Mata Jacob memandang Don dengan tajam.
"Apa maksudnya ini?" tanya Jacob dengan tegang.
"Tuan, aku juga terkejut mendapatkan informasi ini, dan ini!"
Don memberikan sebuah flashdisk kepada Jacob.
Jacob menerima flashdisk yang di sodorkan Don, lalu memasukkan flashdisk ke port USB pada laptopnya.
Tangan Jacob dengan cepat mulai membuka isi flashdisk, dan terlihatlah hasil yang di dapat Don.
Rekaman cctv yang tidak pernah dilihat Jacob, rekaman yang membuat Jacob tidak mempercayai apa yang dilihatnya.
Tangan Jacob terkepal dengan erat, sampai biku tangannya memutih.
Sangat jelas dalam layar laptopnya, seorang wanita yang dikenalnya begitu terobsesi padanya sedang berteriak pada Nora yang tengah berbaring lemah di ranjang pasien.
Lalu wanita depresi itu menampar pipi Nora dengan kencang, dan itu membuat tubuh Jacob semakin menegang menahan emosi.
Wajah Jacob sudah menggelap karena amarah yang sudah naik ke ubun-ubun.
Dua orang lelaki memakai seragam Dokter diam saja melihat aksi wanita depresi tersebut menyiksa Nora yang tidak berdaya di atas tempat tidur pasien.
Lalu terlihat seorang Dokter itu mendekati selang infus Nora, dan menyuntikkan sesuatu ke dalam slang infus.
Wajah menyeringai wanita depresi tersebut terlihat begitu senang memandang Nora yang terbaring tidak bergerak sedikitpun.
Emosi Jacob sudah tidak bisa di tahannya lagi, tangannya dengan kencang meninju layar laptopnya.
Dan laptop itu pun melayang dengan kencang membentur lantai.
"Brengsek! sialan! dasar wanita gila!" teriak Jacob emosi.
__ADS_1
Ternyata kematian almarhum istrinya memang tidak wajar, dua Dokter yang menangani penyakit Nora ternyata orang suruhan wanita depresi tersebut.
"Don, Ayo!" sahut Jacob.
Dengan langkah cepat Jacob keluar dari ruang kerjanya, dan bergegas naik ke lantai atas untuk menemui Naomi.
Di dalam kamar tampak Naomi sudah selesai mandi, dan sedang memakai pakaiannya di bantu Ines.
"Sayang!" panggil Jacob menghampiri Naomi yang sedang mengenakan pakaiannya.
Jacob tidak memperdulikan Naomi yang belum selesai memakai pakaiannya, tangan Jacob meraih Naomi ke dalam dekapannya.
"Hasilnya ternyata benar sayang, Nora tidak meninggal dengan sewajarnya, aku akan pergi sebentar untuk memberi perhitungan pada wanita gila itu, tunggu aku pulang sayang!" kata Jacob mendekap tubuh Naomi dengan erat.
Naomi terkejut mendengar apa yang dikatakan Jacob, ternyata memang benar wanita depresi itu yang menyingkirkan kakak angkatnya.
"Aku ikut kak!" sahut Naomi.
"Tidak sayang, kau di rumah saja, aku tidak mau kau terluka!" kata Jacob mengelus kepala Naomi.
Jacob melepaskan pelukannya, lalu mendaratkan ciumannya pada bibir Naomi.
"Aku pergi dulu, baik-baiklah di rumah!" Jacob kemudian berbalik dan keluar dari kamar mereka.
"Hati-hati kak!" sahut Naomi sebelum Jacob menutup pintu.
"Iya sayang, aku pergi dulu!" Jacob menutup pintu kamar.
Dengan langkah cepat sembari memakai jaketnya, Jacob menuruni anak tangga dengan tergesa-gesa.
Dia tidak menyangka telah di tipu selama ini tentang kematian almarhum istrinya.
Ke dua Dokter yang di percayanya ternyata orang suruhan wanita depresi tersebut.
Don sudah menunggu Jacob sedari tadi di dalam mobil bersama dengan salah satu Bodyguard Jacob lainnya, yang cukup handal dan juga orang kepercayaan Jacob.
Dengan kencang Jacob menutup pintu mobil hitam tersebut.
"Ayo berangkat!" sahut Jacob dari belakang.
Dia akan membalaskan malam ini kematian Nora yang ternyata begitu mengenaskan.
Jacob tidak ingin berbelas kasihan lagi, sisi pysco nya yang kejam sudah terlihat di raut wajahnya.
__ADS_1
Bersambung....