
Beberapa saat Jacob dan Naomi saling berpelukan dia bawah shower, dan Naomi dengan lembut membelai punggung suaminya itu untuk menenangkan perasaannya yang sudah tenang.
"Kak, tubuhmu sudah dingin, sudah waktunya keluar dari kamar mandi, Ayo!" ujar Naomi menepuk pelan punggung Jacob.
Jacob perlahan melepaskan pelukannya, lalu mengangkat dagu Naomi.
Jacob menurunkan wajahnya, lalu mengecup bibir Naomi dengan lembut.
"Aku mencintaimu sayang" gumam Jacob menatap mata Naomi lekat, setelah mengecup bibir kenyal Naomi.
"Aku juga kak" gumam Naomi mengelus pipi Jacob dengan sayang.
Mereka saling menatap, dan kemudian sama-sama tersenyum manis.
"Ayo, tubuhmu sudah semakin dingin kak!" Naomi perlahan bangkit dari lantai.
Tapi karena perutnya yang sudah membesar, Naomi agak kesulitan untuk bangkit.
Jacob mengulurkan tangannya meraih Naomi untuk membantunya berdiri.
Jacob mengambil sabun untuk membersihkan tubuh dan wajah Naomi yang terkena cairan miliknya tadi.
Dengan perlahan Jacob membersihkan tubuh dan wajah Naomi, mengelus perut Naomi yang membesar dengan sabun.
"Sudah semakin membesar sayang, putra kita pertumbuhannya cepat juga" bisik Jacob di telinga Naomi seraya mengelus perut istrinya itu dengan perlahan.
Naomi tersenyum mendengar perkataan suaminya itu, dia memang merasakan perutnya semakin membesar saja.
Setelah membersihkan tubuh mereka, Jacob mematikan kran, lalu meraih bathrobe dari lemari handuk.
Memakaikannya ke tubuh Naomi, lalu mengambil handuk dari dalam lemari handuk lagi untuk mengelap rambut basah Naomi.
Baru setelah itu Jacob mengambil handuk lainnya untuk dirinya sendiri.
Dengan sekali angkat Jacob membopong tubuh istrinya keluar dari kamar mandi.
Membawanya menuju meja rias untuk mengeringkan rambut Naomi yang belum kering.
Menyalakan hairdryer, lalu mulai mengeringkan rambut Naomi dengan perlahan.
Setelah kering, sekarang gantian Naomi yang mengeringkan rambut Jacob.
Setelah rambut mereka kering, mereka pun naik ke atas tempat tidur setelah mematikan lampu dan menyalakan lampu tidur.
__ADS_1
"Kak, apakah kau mau bercerita padaku? apa yang telah terjadi padamu?" tanya Naomi hati-hati sembari merapatkan tubuhnya yang di peluk Jacob.
Sekarang mereka sudah berada di balik selimut.
"Kehidupan masa kecilku tidak menyenangkan sayang, ke dua orang tuaku sering bertengkar, Papaku adalah suami brengsek, aku sangat membenci Papaku!" ucap Jacob sembari mengelus kepala Naomi perlahan.
Naomi diam menyimak cerita Jacob. Semenjak mereka menikah Naomi belum mengenal kedua orang tua Jacob.
"Mama depresi berat akibat sikap Papa yang suka berselingkuh, dia memiliki banyak wanita, dan kerap kali membawanya ke rumah!" ucap Jacob lagi.
Kembali Jacob mengelus rambut Naomi.
"Hingga akhirnya Mama bunuh diri karena tidak bisa menahan penderitaan hatinya, yang sering menyaksikan Papa selalu tanpa segan menunjukkan kemesraannya dengan selingkuhan nya di depan Mama!"
"Itu sungguh menyakitkan, orang yang kita cintai bermesraan dengan wanita lain!" gumam Naomi tidak percaya mendengar betapa suramnya kehidupan keluarga orang tua suaminya itu.
"Ya, bagaikan kehidupan tidak bermoral, salah satu selingkuhan Papa melecehkan aku!"
"Itu mengerikan kak!"
"Ya, sangat mengerikan sayang, setiap kali aku memikirkan itu, perutku selalu mual!"
Naomi memeluk tubuh suaminya itu dengan erat, sampai perutnya yang membesar tertekan ke tubuh Jacob.
Jacob membalas pelukan Naomi, dan membenamkan wajahnya ke kepala istrinya itu.
Naomi kembali memeluk tubuh Jacob dengan erat, lalu mengelus punggung Jacob dengan lembut.
Sekarang Naomi mengetahui satu lagi rahasia Jacob.
Suaminya itu memiliki masa lalu yang suram, dan orang tua yang tidak harmonis.
Mereka sama-sama memiliki masa lalu yang menyedihkan, tapi berbeda situasi.
Naomi tidak ingin menanyakan lagi tentang kehidupan Ayah suaminya itu setelah kematian Ibu Jacob.
Saat suasana hati Jacob sudah benar-benar tenang, baru akan di tanyakannya lagi.
"Aku mencintaimu kak" gumam Naomi mengecup dada Jacob yang tidak memakai baju.
Mendengar gumaman Naomi, Jacob semakin membenamkan wajahnya di kepala Naomi, dia juga sangat mencintai istrinya itu.
Dia akan menjadi suaminya yang hanya mencintai satu istri saja, tidak akan ada wanita lain lagi di dalam hidupnya kelak.
__ADS_1
Mengingat penderitaan Ibunya dulu, membuat Jacob membenci lelaki yang suka membagi cintanya kepada wanita lain.
Jacob dulu sangat menyayangi Ibunya, karena Ibunya lah yang selalu memperhatikan dan menyayangi nya selalu.
Pernah Ayahnya berkata padanya, bahwa seorang lelaki tidak perlu memberikan cinta sepenuhnya pada satu wanita saja.
Itu akan membuat seorang pria menjadi lemah, dan terlihat bodoh menjadi budak cinta satu wanita saja.
"Dengan memiliki banyak wanita, tidak akan membuat hatimu terikat hanya kepada satu wanita saja, dan tidak perlu khawatir kalau ada musuh ingin menjatuhkan mu, karena mereka tidak bisa menemukan kelemahanmu!"
Kata-kata itu sangat menyakitkan di dengar Jacob, mengingat kalau Ibunya ternyata tidak begitu di cintai Ayahnya.
Melihat Ibunya sering menangis, membuat Jacob semakin membenci Ayahnya itu.
Dan, sampai Jacob mengetahui kalau dirinya juga tidak di cintai oleh Ayahnya.
"Kau akan menjadi satu incaran musuhku, yang akan menjatuhkan ku, jadi kau bukan seseorang yang perlu di nomor satu kan!" sahut Ayahnya waktu itu dengan nada dingin tanpa ada rasa cinta sama sekali.
Jacob semakin erat memeluk tubuh Naomi, dan semakin membenamkan wajahnya di kepala istrinya itu.
Dada Jacob begitu sakit mengingat perkataan Ayahnya itu, dan tanpa sadar Jacob menangis dalam diam.
Saat musuh menculiknya, Ayahnya sedikitpun tidak perduli.
Kalau tidak di selamatkan oleh salah satu penculiknya kala itu karena perduli padanya, Jacob mungkin sudah tidak ada lagi sekarang.
Gudang tempat penyekapan Jacob di ledakkan oleh Ayahnya sendiri untuk membuktikan kepada musuhnya, bahwa dia tidak bisa di gertak hanya dengan seorang anak kecil, yang di mana dia bisa buat lagi dengan wanita lain.
Naomi merasakan tubuh Jacob bergetar, dan merasakan kepalanya basah.
"Kak!" Naomi dengan pelan dan hati-hati menyingkirkan kepalanya dari dekapan Jacob.
Naomi mendongakkan kepalanya melihat wajah suaminya itu.
Tampak Jacob meneteskan airmata, suaminya menangis.
"Kak!" perlahan Naomi naik lebih ke atas lagi untuk bisa meraih kepala Jacob yang tengah menangis.
Naomi memeluk kepala Jacob ke dadanya yang lembut, membenamkan wajah suaminya di sana untuk menenangkan perasaan sedih pria kekar tersebut.
"Tidak apa-apa kak, jangan mengingat hal yang menyakitkan itu lagi, aku mencintaimu kak!"
Naomi mengelus kepala Jacob dengan lembut, dan kemudian mengecup kepala itu dengan lembut juga.
__ADS_1
Jacob semakin menangis membenamkan wajahnya ke dada istrinya itu, perasaan sakit hati yang sudah lama di lupakan nya, kembali muncul lagi.
Bersambung......