
Paginya, Naomi pergi lebih awal kekampus tanpa menunggu Jacob untuk berangkat bersama.
Linda pagi-pagi sekali sudah datang menjemputnya.
Tadi malam, Naomi sudah mengirim chat pada Linda untuk menjemputnya, berangkat bersama ke kampus.
Naomi sudah berpesan pada Bibi koki, kalau Jacob menanyakan tentang dirinya, dia pergi lebih awal ke kampus bersama temannya.
"Kau sudah sarapan?" tanya Linda.
"Sudah!" kata Naomi mengangguk.
"Aku belum, maukah kau menemaniku sarapan?" tanya Linda.
"Iya, mau..sarapan di mana?" tanya Naomi.
"Di kantin kampus saja!"
"Baik!"
Tidak berapa lama mereka sampai di kampus, dan langsung pergi ke kantin kampus.
Karena masih pagi, kampus terlihat masih sepi, hanya ada beberapa orang yang sudah datang.
Linda memesan sarapan, dan dua cangkir kopi latte panas.
Meletakkan satu kopi latte didepan Naomi.
"Untukmu!" kata Linda.
"Terimakasih" ucap Naomi.
"Oh iya, semalam begitu kamu dijemput sama kakakmu..aku dijemput sama kakakku, dia sempat melihatmu saat akan naik ke mobil..dia ingin berkenalan denganmu, sepertinya kakakku tertarik denganmu!" kata Linda.
"Uhuk..uhuk!" Naomi tersedak minumannya, dia kaget mendengar apa yang dikatakan Linda.
__ADS_1
"Pelan-pelan..!" Linda menepuk punggung Naomi pelan.
"Malam seperti itu, apa kakakmu bisa melihat orang dengan jelas...aku belum mau dekat dengan seorang lelaki, aku masih ingin kuliah dulu!" kata Naomi menolak kakak Linda yang ingin dekat dengannya.
"Kalian berteman saja dulu, soal rasa baru dibicarakan belakangan!"
"Maaf Linda, sepertinya tidak bisa..kita baru berteman jadi kau belum tahu siapa aku...aku ini anak yatim piatu..dan aku datang dari kampung, aku rasa kakakmu tidak cocok berteman denganku!" kata Naomi meyakinkan Linda, kalau dia tidak mau dekat dengan seorang lelaki.
Naomi tidak bisa menipu dirinya, hatinya sudah menyukai kakak iparnya. Hanya saja yang disukai tidak peka.
Linda terdiam mendengar penjelasan Naomi, dia tidak menyangka Naomi yang terlihat ceria dan cantik ternyata anak yatim piatu.
Naomi memandang Linda yang sepertinya terkejut dengan apa yang dikatakannya.
"Kau terkejut kan? aku rasa kakakmu juga bakalan terkejut mengetahui kalau aku ternyata anak perempuan yang datang dari kampung!" kata Naomi dengan yakin.
"Belum tentu Naomi, aku belum cerita ke kakakku!" sahut Linda mematahkan penilaian Naomi.
Naomi hanya bisa diam, dia tidak menyangka Linda aka menjawab seperti itu.
Apa dia masih marah padaku? pikir Jacob.
"Tuan..Nona Naomi sudah berangkat kuliah dari pagi tadi!" sahut Bibi koki.
Mendengar Naomi telah berangkat ke kampus, wajah Jacob langsung berubah.
"Naik apa dia ke kampus?" tanya Jacob menahan suara yang kesal.
"Dijemput sama temannya!" jawab Bibi koki.
"Laki-laki apa perempuan?" tanya Jacob lagi, wajahnya sudah mulai menggelap karena marah.
"Ku..kurang tahu Tuan!" jawab Bibi gugup, dia melihat perubahan pada Tuannya yang terlihat tidak senang.
Bibi merasakan aura Jacob yang ingin meledak, dan benar saja!
__ADS_1
Brakk!
Jacob meletakkan sendoknya dengan kasar ke meja makan.
"Aku sarapan dikantor saja, bungkus sarapanku Bi!" sahut Jacob dengan suara kencang.
"I..iya Tuan!" Bibi koki buru-buru pergi kedapur untuk membuat bontot Jacob.
Jacob merasa kesal, sepertinya Naomi benar-benar menghindari nya, dan tidak ingin berdekatan dengannya lagi.
Pikiran negatif Jacob menari-nari di kepalanya, dia harus bicara lagi dengan Naomi untuk meluruskan masalah mereka.
Setelah Bibi menyerahkan sarapannya, Jacob bergegas meninggalkan ruang makan.
Didalam mobil Jacob mengambil ponselnya, dan kemudian menelepon Naomi.
Beberapa detik, ponselnya tidak diangkat Naomi. Dan Jacob mencoba kembali, juga tidak diangkat.
Pikiran Jacob teringat pada teman kampus Naomi, mahasiswa yang pernah dilihat Jacob saat pernah menjemput Naomi.
Lelaki itu terlihat menyukai Naomi, apakah mereka sekarang sedang berduaan? pikir Jacob curiga.
Wajahnya yang sudah gelap, semakin menggelap menahan amarahnya. Tangannya mengepal menahan kesal.
"Don, kekampus Naomi sebentar!" sahutnya.
"Tapi Tuan..ini sudah siang, ada pertemuan dengan klien pagi ini..mungkin sedang menunggu anda dikantor!" sahut Don mengingatkan Jacob.
"Kekampus Naomi sebentar!" ujar Jacob dengan nada tajam.
"Ba..baik Tuan!" jawab Don, lalu memutar arah menuju arah kampus Naomi.
Tuan sepertinya begitu peduli pada Nona Naomi, Tuan pasti marah karena Nona Naomi pergi kuliah sendiri, pikir Don melirik Jacob melalui kaca spion.
Don tahu siapa sosok Jacob, dia tidak pernah peduli dengan seorang perempuan semenjak istrinya meninggal.
__ADS_1
Bersambung.....