
Seminggu berlalu sudah, semenjak Rose di masukkan Jacob ke Rumah sakit jiwa.
Kehidupan rumah tangga Jacob dengan Naomi terasa damai dan harmonis.
Naomi kuliah seperti biasa, tetapi selalu di pantau Jacob.
Pria bertubuh tinggi dan kekar itu, selalu berpikiran negatif kalau Naomi sudah berada di seputar kampusnya.
Setiap menit dan jam, dia selalu menghubungi Bodyguard Naomi, untuk menanyakan keadaan istrinya itu.
Bodyguard Naomi memberikan laporan yang memuaskan, tetapi tetap saja Jacob tidak percaya.
Alhasil, akhirnya dia yang selalu datang untuk menjemput Naomi pulang kuliah.
Jacob yang posesif, terlalu cemburu membayangkan seorang lelaki teman kampus Naomi berbicara pada istrinya itu.
Jacob sudah pernah mengatakan pada Naomi, tidak perlu lagi kuliah, tetapi istrinya itu menolak.
Naomi ingin menyelesaikan kuliahnya.
Jacob dengan hati berat, terpaksa mengalah pada Naomi.
Pagi ini Jacob akan mengantar istrinya itu pergi kuliah, dari malam dia sudah berpikir keras bagaimana caranya untuk menahan Naomi agar tidak pergi kuliah.
Sampai pagi ini, pikiran Jacob terus berputar mencari ide untuk membatalkan Naomi pergi kuliah.
Jacob bisa memberikan apa pun pada Naomi, jadi kuliah mau lulus atau tidak lulus, menurut Jacob tidak masalah baginya.
Yang paling penting baginya, Naomi selalu ada di sampingnya, dan menjadi seorang Nyonya Jacob yang hanya menghabiskan uangnya saja.
Jacob memiliki kekayaan yang menurutnya, sudah sewajarnya Naomi pergunakan untuk apa pun.
Sepanjang jalan menuju kampus, Jacob selalu melirik Naomi yang terlihat tenang, yang sesekali menjawab apa yang dikatakan Jacob.
"Sayang, nanti pulang kuliah, jangan kemana-mana lagi ya, langsung saja pulang, tapi...kalau belum mau pulang, datang saja ke kantorku ya!" kata Jacob memberi nasehat pada Naomi.
"Iya kak!" jawab Naomi patuh.
Ckittt!
Tiba-tiba Don mengerem mobil.
__ADS_1
Sehingga Naomi terhuyung ke depan, tapi dengan cepat Jacob menangkap tubuh Naomi.
"Ada apa Don?" tanya Jacob.
Jacob memandang ke depan, tampak seorang wanita hendak menyeberang jalan berhenti di tengah jalan.
Wanita itu terlihat sedang marah-marah, seorang pengemudi mobil lainnya turun menegur wanita itu.
"Nyonya, kalau mau menyeberang lihat keadaan dulu, baru menyeberang, apakah Nyonya tidak lihat ini bukan khusus untuk menyeberang jalan, anda salah jalan!" sahut pria yang turun dari mobilnya itu.
"Tujuanku kan mau ke situ, kenapa aku musti pergi ke sana untuk menyeberang jalan, tujuanku kan jadi jauh, situ yang salah...sudah tahu ada yang mau menyeberang, berhenti sebentar kan tidak masalah!" sahut wanita itu tidak mau kalah, dia terlihat marah juga.
"Nyonya, anda tidak bisa begitu, ini kan...bla bla bla bla...."
"Bla...bla...bla....."
Pertengkaran dua orang di tengah jalan membuat macet yang panjang.
Jacob yang dari malam cari ide untuk membatalkan Naomi agar tidak pergi kuliah, akhirnya tercapai juga.
Ini kejadian tidak terduga, yang tanpa Jacob duga akhirnya keinginannya untuk membawa Naomi ke kantornya terkabul.
Wanita itu terlihat tidak mau kalah, dan tidak merasa bersalah.
"Keras kepala juga Ibu itu!" ujar Naomi melihat wanita itu melawan beberapa pengemudi mobil yang menegurnya, dan menyuruh wanita itu agar cepat pergi dari tengah jalan.
"Iya!" jawab Jacob singkat, tapi dalam hatinya, bagus! lama sedikit berdebatnya, biar istriku tidak jadi kuliah.
Senyuman licik tersungging disudut bibir Jacob, hatinya begitu senang kejadian ini tepat sekali di depan matanya.
"Tuan, apa kita memutar saja, Nona Naomi nanti bisa terlambat kuliah!" sahut Don dari depan dengan wajah malaikatnya.
Aih, sialan kau Don! bisik hati Jacob merasa kesal dengan ide Don tersebut.
"Kalau kita memutar sepertinya tidak bisa, lihat di belakang sudah panjang macetnya, kalau tidak sempat kuliah, istriku ikut kita saja ke kantor!" sahut Jacob menatap Don dari kaca spion.
Naomi langsung menoleh memandang Jacob.
"Lihat sayang, kau sudah terlambat masuk kuliah, bolos saja hari ini, ikut aku saja ke kantor, nanti siang kita makan diluar!" kata Jacob memperlihatkan jam tangannya, menunjukkan jam masuk kuliah Naomi sudah telat.
Naomi melirik jam tangan Jacob.
__ADS_1
Iya, benar sekali! sudah telat untuk masuk kuliah.
"Baiklah!" jawab Naomi setuju.
Senyuman Jacob langsung berubah begitu mendengar jawaban Naomi, terlihat merekah dengan bahagianya.
Cup!
Satu kecupan mendarat ke puncak kepala Naomi.
Naomi menoleh, menatap wajah suaminya yang tampak tersenyum begitu bahagianya.
"Kenapa sayang?" tanya Jacob masih tersenyum senang.
"Kayaknya....kak Jacob begitu senang aku tidak masuk kuliah!"
"Bukankah, dari kemarin aku sudah memberi saran padamu agar jangan kuliah lagi?" tanya Jacob membalas tatapan istrinya itu.
Naomi terdiam, memang benar Jacob sudah mengatakan agar tidak usah kuliah lagi.
Kejadian ini pasti membuat Jacob senang.
Naomi membuang mukanya cemberut, dan itu membuat Jacob semakin senang saja.
Naomi kalau cemberut terlihat imut di mata Jacob.
Jacob terkekeh lucu, lalu menarik Naomi ke dalam dekapannya.
"Jangan marah sayang, kita kan masih pengantin baru, wajar saja aku tidak ingin berjauhan denganmu!" kata Jacob membawa Naomi ke atas pangkuannya.
"Oke, baiklah!" akhirnya Naomi tidak cemberut lagi.
Tangannya melingkar ke balik jas kantor Jacob, memeluk tubuh Jacob.
Lalu membiarkan dirinya dimanja suaminya tersebut, menempelkan wajahnya ke dada Jacob.
Akhirnya pertengkaran di depan selesai juga, dan wanita itu ditarik ke seberang jalan.
Mobil kembali jalan, dan menuju kantor.
Bersambung.....
__ADS_1