Jangan Mendekat Gadis Kecil

Jangan Mendekat Gadis Kecil
83. Aku tidak ingin berbagi Milikku.


__ADS_3

Naomi merasa hidupnya hancur lebur melihat tubuh Jacob yang tergeletak bersimbah darah tidak bergerak sedikitpun.


Tangisan Naomi begitu pilunya memeluk tubuh Jacob yang tidak bergerak sama sekali, meratapi kehidupannya yang sangat miris.


Dia telah kehilangan kakak angkatnya, sekarang suaminya sekarat, sepertinya tidak akan tertolong lagi.


"Kakkk..! jangan tinggalkan aku, ku mohon bertahanlah kak!" jerit Naomi dengan histerisnya.


Gadis itu menangis sekencang-kencangnya.


"Naomi, sayang..kau kenapa?!" samar-samar terdengar suara seseorang dari jauh memanggilnya dengan nada yang begitu cemas.


"Kakk...!" jerit Naomi lagi mengabaikan suara samar yang tidak begitu jelas didengarnya.


"Naomi! Naomi! sayang...bagun! kau kenapa?!"


Naomi merasakan tubuhnya di tepuk seseorang, dan suara samar itu mulai jelas didengarnya.


Naomi sesenggukan di sela-sela tangisnya.


"Sayang bangun!"


Naomi merasakan tubuhnya diangkat seseorang, lalu merasakan tubuhnya didekap dengan kuat oleh orang itu.


Karena goncangan pada tubuhnya terasa begitu kencang dilakukan oleh orang tersebut, perlahan Naomi mulai jelas melihat siapa yang melakukannya.


Mata Naomi terbuka, dan melihat wajah Jacob yang tampak begitu panik menatapnya.


"Kak" gumamnya mengerjapkan matanya.


Bukankah barusan dia melihat Jacob tergeletak tidak bergerak dengan bersimbah darah?


Kenapa sekarang dia yang berada dalam dekapan Jacob.


"Kau kenapa sayang?" tanya Jacob dengan nada yang begitu cemas.


Perlahan Naomi mengangkat tangannya, menyentuh pipi Jacob untuk memastikan kalau pria yang di cintainya itu nyata.


"Kak"


"Iya sayang, ada apa denganmu?"


Jacob mendekap Naomi dalam pangkuannya.


"Kakak tidak apa-apa kan?"


"Tentu saja sayang, aku dari tadi bersamamu, dan tidur bersamamu, tapi tiba-tiba kau berteriak, membuatku ketakutan!"


Naomi mengerjapkan matanya, apa tidur?


Mata Naomi kembali mengerjap, lalu melihat sekelilingnya.

__ADS_1


"Eh..." dia baru tersadar setelah melihat sekelilingnya, ternyata dia bermimpi.


Perlahan Naomi mengingat, kalau dia tadi tertidur disofa karena matanya berat saat melihat ponsel.


"Ohh..." jemarinya menekan pelipisnya, ternyata hanya mimpi.


Kemudian Naomi menghela nafas dengan lega.


"Apa yang terjadi denganmu sayang, sepertinya kau mengalami sesuatu yang mengerikan!" ujar Jacob dengan perasaan masih khawatir.


"Aku bermimpi kak, memimpikan kak Jacob sekarat, sangat mengerikan, pemandangan yang sangat menyakitkan!" ucap Naomi, lalu memeluk tubuh Jacob dengan erat.


"Aku takut kak, aku merasa mimpi itu seperti nyata!" kata Naomi semakin erat memeluk tubuh Jacob.


"Tidak akan ada yang terjadi, aku akan selalu melindungi dan menjagamu, jangan cemas sayang!" Jacob membelai rambut Naomi dengan lembut.


Naomi mengangguk dalam pelukan Jacob.


"Ayo, kita pergi makan siang, ini sudah jam makan siang!" kata Jacob perlahan melepaskan pelukannya.


"Iya!" Naomi mengangguk.


Jacob membawa Naomi makan siang ke sebuah Restoran yang tidak jauh dari lokasi kantor.


Jacob memilih menu makan siang yang sangat disukai Naomi.


"Bagaimana perasaanmu sekarang? apakah sudah merasa tenang?" tanya Jacob di sela-sela makan mereka.


"He-eh!" Naomi menganggukkan kepalanya.


Hanya bermimpi buruk saja tentang dirinya, yang sekarat karena di aniaya seseorang.


Jacob menyentuh tangan Naomi lembut, lalu menatap mata istrinya itu dengan lekat.


"Percayalah sayang, tidak akan ada apa pun yang akan membuat rumah tangga kita suram, aku akan menjaga diriku, dan akan selalu membahagiakan mu!" kata Jacob dengan nada yang begitu menenangkan.


Naomi menatap mata Jacob dengan lekat juga, melihat kesungguhan dalam mata pria dewasa yang telah menjadi suaminya tersebut.


Naomi menyunggingkan senyuman manisnya, lalu mengangguk mempercayai apa yang dikatakan Jacob.


"Iya kak, aku percaya padamu!" ucapnya dengan yakin.


Mereka kemudian sama-sama tersenyum, lalu kemudian melanjutkan makan siang mereka.


Drtt!


Ponsel Jacob bergetar.


Pria itu melirik ponselnya yang berada di atas meja, nama Don terlihat di layar ponsel.


Jacob menekan tanda hijau, lalu menekan speaker ponsel.

__ADS_1


"Katakan!" sahut Jacob tanpa basa-basi langsung ke inti laporan Don.


"Tuan, Mama angkat Nyonya Nora ingin bertemu dengan Nona Naomi, beliu ingin mengenal Nona Naomi!" sahut Don dari seberang telepon.


Jacob yang akan menyendok makanannya, tiba-tiba menghentikan tangannya saat mendengar apa yang dikatakan Don.


Naomi juga mendadak menghentikan kunyahannya mendengar laporan Don.


Jacob melirik Naomi, gadis kecil itu tampak memandang ponselnya tidak berkedip.


"Tuan!" panggil Don.


"Ya!" jawab Jacob.


"Malam ini Mama angkat Nyonya Nora ingin bertemu dengan Nona Naomi!" sahut Don lagi.


Wajah Jacob seketika berubah, dia merasa tidak senang dengan mantan mertuanya tersebut.


Naomi tidak ada hubungan dengan Nora, hanya sebatas saudara adopsi saja.


Jacob merasa Naomi ingin diambil mantan mertuanya tersebut, setelah mengetahui indentitas Naomi.


"Sampaikan padanya kalau mau melihat istriku, datang saja ke rumah!" jawab Jacob setelah berpikir sejenak.


Don diam sejenak, suaranya tidak terdengar beberapa detik.


"Sudah, tidak ada lagi kan? kami lagi makan siang!" sahut Jacob, telunjuknya perlahan akan mematikan ponselnya.


"Eh...Tuan, tunggu! Haikal membuat ulah di tempat proyek Hotel dipinggir kota!" sahut Don dengan nada cepat, takut Jacob keburu mematikan ponselnya.


Jacob mengetatkan gerahamnya, tangannya dikepalnya dengan erat.


"Bereskan dia, mau coba memprovokasi lagi dia, jangan kasih belas kasihan!" sahut Jacob dengan nada yang tajam.


Jacob mematikan ponselnya.


Naomi menatap Jacob dengan lekat, tampak suaminya itu menahan kesal mendengar laporan Don.


Jacob perlahan memandang Naomi, mata mereka saling bertemu, dan memandang satu sama lain.


"Aku tidak ingin milikku diambil orang lain, Nora hanya anak adopsi mereka, dan mereka sudah melunasi janji mereka dengan Kakek, dengan menikahkan Nora padaku, kau tidak ada hubungan apa pun dengan mereka, aku adalah wali sah mu!" ujar Jacob menatap Naomi.


Naomi merasakan, kalau suaminya itu tidak rela mempertemukan dirinya dengan orang tua angkat Nora.


Naomi perlahan tersenyum untuk memenangkan perasaan Jacob, dia juga tidak ada berkeinginan untuk memiliki orang tua angkat.


Dirinya sudah memiliki seseorang yang perduli padanya, dan mencintainya, jadi dia tidak tertarik lagi pada orang lain yang ingin menyayangi nya.


"Aku juga tidak membutuhkan orang tua angkat lagi kak, karena aku sebentar lagi akan menjadi orang tua, dan akan memiliki keluarga ku sendiri!" sahut Naomi menyentuh tangan Jacob dengan lembut.


"Iya sayang!" kata Jacob merasa senang mendengar apa yang dikatakan Naomi, dia pun tersenyum.

__ADS_1


Wajahnya yang tadi suram, dan kembali ceria.


Bersambung....


__ADS_2