
Dokter memberikan arahan pada setiap suami untuk membantu istrinya melakukan terapi.
Setiap pasangan duduk di atas masing-masing matras, yang sudah di hamparkan di lantai.
Jacob duduk di belakang Naomi dengan kaki lurus ke depan, dan Naomi berada di tengah antara dua kakinya yang mengangkang.
Dan, begitu juga dengan Naomi, kakinya lurus ke depan dengan punggung tegak lurus.
Setelah setiap pasangan duduk diatas matras pada posisinya masing-masing, Dokter pun memberikan arahan.
Jacob memperhatikan dengan seksama bagaimana cara Dokter memberikan arahan, untuk terapi pada perut Naomi.
Tangan Jacob mulai melakukan terapi, memegang kiri dan kanan sisi perut Naomi.
Lalu melakukan gerakan perlahan mengurut sisi perut istrinya, ternyata ini menyenangkan.
Jacob terus mengikuti arahan dari Dokter.
Dokter terus berbicara, dan sesekali memberi semangat pada para Ayah bayi tersebut.
Jacob begitu senang melakukan terapi tersebut, bisa membantu Naomi dan ini membuat perasaan mereka jadi semakin dekat.
Setiap sentuhan saat melakukan gerakan terapi pada perut Naomi, Jacob bisa merasakan pertumbuhan bayi mereka dalam perut Naomi.
Beberapa saat kemudian, sesi terapi pun selesai. Dokter memberitahukan, bahwa setiap pasangan sudah bisa melakukan senggama seperti biasa pada pasangan masing-masing.
Sebagai suami istri, kebutuhan mereka sebagai suami istri sangatlah penting, agar hubungan Ayah dan Ibu si bayi semakin harmonis.
Karena pikiran dan suasana hati Ibu hamil sangat penting untuk pertumbuhan bayi.
Jacob mengelus kepala Naomi sembari tersenyum menatap istrinya itu.
"Kita sudah bisa melakukannya lagi sayang" bisik Jacob tersenyum mesum.
Naomi tidak bisa berkata-kata mendengar bisikan Jacob itu, dia tahu suaminya itu lelaki yang begitu sabar menahan keinginannya untuk menyentuhnya.
Pria yang terang-terangan mengungkapkan apa yang ada di pikirannya kepada Naomi.
Umur suaminya yang jauh di atasnya, duda almarhum kakak angkatnya, yang memang sepantasnya dia panggil kakak ipar, tapi di mata Naomi, suaminya itu seperti pria berusia tiga puluh tahun.
"Sepertinya kita sudah bisa pulang, hari ini aku ingin membawamu ke suatu tempat!" kata Jacob, lalu membantu istrinya itu untuk berdiri.
Setelah Dokter menutup sesi terapi, Jacob membawa istrinya ke kantor untuk mengurus sesuatu, setelah itu dia akan berencana membawa Naomi makan siang ke suatu tempat.
__ADS_1
Jacob membuka pintu mobil untuk Naomi, setelah itu pria tersebut pun menyusul istrinya masuk ke dalam mobil.
Perlahan mobil itu meninggalkan tempat terapi, dan meluncur menuju kantor Jacob.
Drttt!
Ponsel Jacob bergetar.
Jacob mengambil ponselnya dari saku celananya, lalu melihat nama penelepon dalam layar ponselnya.
Jacob kemudian menekan tanda hijau.
"Halo!"
Jacob diam mendengarkan apa yang dikatakan si penelepon, setelah itu pria itu menutup ponselnya.
Naomi menoleh memandang Jacob, dia melihat wajah suaminya terlihat berubah.
Naomi tidak ingin menanyakan apa yang terjadi, karena menurutnya dia terlalu lancang mau tahu urusan Jacob yang dia sendiri tidak mengerti soal pekerjaan suaminya itu.
Jacob menoleh memandang Naomi yang sedang menatapnya.
"Don menelepon, dia mengatakan ada seseorang yang tengah menungguku di kantor!" Jacob menjawab tatapan mata Naomi.
Tangan Jacob membelai rambut tergerai istrinya dengan lembut, lalu tersenyum menatap mata Naomi dengan lekat.
Naomi juga perlu tahu apa saja kegiatan dan urusan Jacob, agar hubungan mereka tetap harmonis, tidak ada menyimpan sesuatu yang membuat salah satu dari mereka merasa tidak di anggap.
Mobil anti peluru itu memasuki parkir bawah tanah, dan menuju parkir khusus VIP.
Tubuh kekar Jacob mengangkat tubuh mungil Naomi, begitu istrinya turun dari dalam mobil.
"Kak!" Naomi reflek mengalungkan lengannya ke leher Jacob.
Naomi kaget tiba-tiba di angkat Jacob menuju lift VIP.
"Aku tidak ingin tubuhmu terlalu capek membawa bayi kita sayang" bisik Jacob sambil tersenyum menyeringai.
Dia begitu bahagia sekali memiliki Naomi dan bayi mereka yang berada di dalam perut Naomi.
Jacob ingin selalu memanjakan istrinya itu, tubuh mungil itu terasa begitu ringan walaupun sudah memiliki perut yang membesar.
Dengan perlahan Jacob menurunkan Naomi begitu mereka berada di dalam lift.
__ADS_1
Ting!
Mereka sampai di kantor Jacob.
"Biarkan aku jalan sendiri kak!" ujar Naomi begitu melihat suaminya itu berniat ingin membopongnya lagi.
"Baiklah sayang" sahut Jacob mengalah.
Jacob terpaksa mengikuti langkah pendek istrinya itu menuju ruang kantornya.
Bodyguard Naomi dengan cepat membukakan pintu kantor Jacob, untuk kedua suami istri tersebut.
Di dalam ruang kantor Jacob, tampak Don duduk di belakang meja kerja Jacob, dan kemudian berdiri begitu melihat Bos nya itu di ambang pintu yang terbuka.
Jacob menoleh ke arah sofa, dan tampaklah seorang pria lanjut usia, duduk dengan santai di sofa sembari menopangkan kakinya pada kaki satu lagi.
"Hai Jacob, apa kabar nak!" sahut pria tua itu dengan santainya sembari tersenyum simpul.
Wajah Jacob langsung menunjukkan perubahan yang sangat jelas.
Pria tinggi kekar itu menunjukkan wajah yang dingin dan datar, tatapan matanya yang dingin terlihat begitu tajam menatap pria tua tersebut.
Jacob membawa Naomi duduk ke kursi di belakang meja kerjanya, dan sementara dia berdiri di samping Naomi yang telah duduk.
"Mau apa kau menemui ku!" sahut Jacob dengan dingin dan datar.
"Jawaban apa itu, rasanya tidak enak mendengar nya!" ujar pria tua itu sambil masih memperlihatkan senyumannya.
"Kalau tidak ada yang penting, pergilah!" sahut Jacob lagi dengan nada yang datar dan dingin.
"Ayolah nak, jangan kau marah lagi padaku, yang lalu biarkan lah jangan diingat lagi!" sahut pria tua itu masih dengan senyuman nya yang terus mengembang di bibir keriputnya.
"Tutup mulutmu, aku bukan anakmu!!" teriak Jacob tiba-tiba emosi, suaranya begitu kencang menggelegar memenuhi ruang kantornya.
"Pergi!!" teriak Jacob lagi.
Wajah Jacob terlihat sudah menggelap, tentu saja kenangan buruk itu terlintas lagi di kepala Jacob.
Itu semacam mimpi buruk yang sangat menakutkan, sampai membuat tubuh Jacob gemetar.
Kenangan yang membuat dia dulu sering bermimpi buruk, memporak-porandakan pribadi seorang Jacob sebagai seorang lelaki yang kejam, sampai sekarang masih membuat dia mengalami trauma itu.
Seumur hidupnya, dia tidak ingin melihat wajah lelaki yang telah membuat dia mengalami Childhood.
__ADS_1
Mata dingin Jacob menatap wajah pria tua itu dengan tajam.
Bersambung.....