Jerat Cinta CEO Arrogant

Jerat Cinta CEO Arrogant
This Night


__ADS_3

"Kenapa sih sayang? Dari tadi Ayah perhatiin kok Bunda kayak gelisah banget gitu?" tanya Steven yang merasakan kegelisahan Sheila yang duduk di sebelahnya itu.


"Hmh," Sheila nampak menghela nafasnya gusar. "Kok perasaan Bunda nggak enak ya, Yah," lanjut Sheila murung.


"Nggak enak kenapa? Emang Bunda lagi mikirin apa sih? Coba cerita sama Ayah,"


"Nggak tau kenapa, tapi kok Bunda kepikiran si kakak terus ya."


"Syafiq?"


"Iya. Tumben banget dua hari ini dia tidur di apartemen terus. Apalagi tadi pagi pas Bunda buka lemari mau ambil scarf tiba-tiba aja Bunda nemuin sapu tangan kesayangan milik si kakak dulu, yang gambar mobil itu. Ada bordiran nama Syafiq juga kan di sapu tangan itu. Nah, habis itu perasaan Bunda mulai jadi nggak enak Yah. Bunda ngerasa kayak ada sesuatu yang terjadi sama Syafiq, Yah," jawab Sheila menceritakan.


"Bukannya tadi habis makan malam Syafiq telepon Bunda ya?"


"Iya sih. Tapi tetep aja Yah, kayak ada yang nggak beres. Perasaan Bunda nggak enak banget," keluh Sheila.


Otak Steven mulai berpikir keras.


'Firasat Sheila ini hampir sama dengan ketika dia mimpi buruk tentang Sean malam itu. Apa jangan-jangan..... Aku harus secepatnya mencari tau besok.'


"Ya udahlah Bun, kan tadi anaknya juga udah telepon Bunda. Dan Bunda juga denger sendiri kan kalau dia baik-baik aja. Positif thinking aja lah Bun, jangan mikir yang enggak-enggak," kata Steven mencoba menenangkan istrinya.


"Huft. Iya juga ya, Yah."


"Udah yuk, kita tidur. Udah malem ini, jangan sampai Bunda sakit gara-gara kebanyakan pikiran," ajak Steven.


Sheila menganggukkan kepalanya dan tersenyum lembut kepada Steven. Steven mencium kening Sheila. Setelah itu Steven mengajak Sheila untuk membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur. Steven lalu menarik Sheila masuk ke dalam pelukannya. Sepasang suami istri itu pun kemudian tidur dengan berpelukan dan mulai memasuki alam mimpi mereka masing-masing.


🌺🌺🌺


"Apa yang Mama pikirkan? Sejak kita pulang dari makam tadi sore, Mama jadi lebih banyak diam," tanya Bima.


Saat ini Bima dan Bella juga sedang duduk bersisian di atas tempat tidur mereka.


"Mama ngerasa bersalah banget sama kak Arini, Pa. Bukannya menyayangi Sena seperti anak Mama sendiri, Mama justru udah jadi ibu tiri yang jahat untuk Sena," lirih Bella dengan air mata yang sudah kembali mengalir di kedua pipinya.


"Mama sama sekali nggak nyangka kalau Cinthya hanya memperalat Mama seperti ini. Cinthya bener Pa, Mama bener-bener orang yang bodoh. Mama ibu tiri yang jahat, Pa," sesal Bella makin terisak.


Bima segera merengkuh Bella ke dalam pelukannya.

__ADS_1


"Sssttt, Mama jangan ngomong seperti itu. Mama masih punya kesempatan untuk memperbaiki semuanya. Papa tau Mama kemarin hanya khilaf. Dan Papa juga yakin, Mama pasti bersedia untuk memperbaiki semuanya. Iya kan?"


"Mama bersedia Pa. Mama janji Mama akan memperbaiki semuanya. Tapi bagaimana Mama bisa memilih salah satu di antara anak Mama, Pa?" balas Bella seraya bangun dari dekapan Bima.


"Memilih? Maksud Mama apa?" tanya Bima bingung.


"Sena dan Vira sama-sama menyukai Syafiq, Pa. Lalu bagaimana Mama bisa mendukung kebahagiaan salah satu dari mereka dan membiarkan yang lainnya terluka?"


Bima terkejut mendengar perkataan dari Bella itu.


'Haish, anak-anak ini. Aku harus segera bicara pada mereka. Kesalahpahaman ini sudah semakin berlarut-larut.'


"Mama tidak harus memilih," kata Bima dengan memegang kedua pundak Bella.


Bella mengernyitkan keningnya, merasa tidak paham dengan maksud perkataan Bima tadi.


"Percaya sama Papa. Anak-anak kita semua bisa bahagia. Asalkan kita sebagai orang tua mau mendengarkan pilihan mereka dan tidak terlalu memaksakan kehendak kita kepada mereka, mereka pasti bisa bahagia," lanjut Bima menasehati.


"Iya Pa. Mama percaya sama Papa. Mama juga akan mengikuti semua nasehat Papa. Tolong maafkan semua kesalahan Mama selama ini ya, Pa. Maafkan Mama yang sering berbuat tidak adil pada Sena. Maafkan Mama yang belum bisa menjadi ibu yang baik buat Sena," sesal Bella yang kembali terisak.


Bima kembali menarik Bella ke dalam pelukannya.


"Mama nggak perlu minta maaf sama Papa. Tapi mungkin Mama bisa minta maaf sama Sena."


Bima tersenyum seraya membelai lembut kepala istrinya itu.


🌺🌺🌺


"Kamu ngapain berlama-lama di depan cermin kayak gitu? Nggak usah ngulur-ngulur waktu, udah malem ini. Besok kan kamu ada jadwal kuliah pagi juga. Sini naik, kita tidur," kata Syafiq dengan senyuman jahilnya.


Saat ini Syafiq sedang berbaring miring di atas tempat tidurnya dengan tangan kanan yang menopang kepalanya dan menghadap ke arah Sena yang masih juga betah duduk di depan meja riasnya dari tadi.


Sena memejamkan kedua matanya dan menggeram dalam hati.


'Sialan. Tau aja dia kalau gue sengaja ngulur-ngulur waktu. Tuhan, gue harus gimana ini? Bener nggak sih kalau semalam gue udah ngelakuin itu sama dia? Kenapa gue nggak bisa ingat apa-apa coba? Tapi emang tadi pagi gue ngerasa kebas dan pegal banget sih di area pribadi gue. Jadi bener dong kalau semalam kita udah ngelakuin itu? Terus nanti kalau dia minta lagi gimana? Semalam kan gue nggak sadar. Kalau sekarang? Haduh, gue kok jadi gugup gini sih. Takut banget, Yaa Allah.'


"Sena," panggil Syafiq mengagetkan Sena yang sedang melamun.


Sena sampai terlonjak karena kaget mendengar panggilan Syafiq tadi.

__ADS_1


"Kamu kenapa malah ngelamun gitu sih?" tanya Syafiq tersenyum menyebalkan.


"Ah, e-enggak kok kak," jawab Sena tergagap.


"Ya udah sini naik. Udah malem loh ini," kata Syafiq sedikit menaikkan nada bicaranya.


Sena menelan ludah, antara gugup dan takut. Apalagi mendengar nada bicara Syafiq yang sedikit meninggi tadi, nyali Sena benar-benar menciut saat ini.


"Sini naik, Sen," perintah Syafiq lagi, tegas.


"I-iya kak."


Sena perlahan-lahan bangun dari duduknya kemudian berjalan mendekati tempat tidur. Dengan ragu-ragu Sena mendudukkan dirinya di pinggir tempat tidur.


"Kamu kenapa takut gitu sih Sen? Kakak nggak akan makan kamu kok," tanya Syafiq kembali ke mode jahil.


"Bu-bukan gitu kak."


"Udah buruan tidur. Jangan khawatir, malam ini kakak nggak akan minta hak kakak sebagai seorang suami sama kamu. Kakak tau kamu masih capek."


Dan akhirnya Sena bisa bernafas dengan lega setelah mendengar perkataan Syafiq tadi.


"I-iya kak."


Sena kemudian merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur dengan perlahan. Sena sengaja mengambil posisi paling tepi. Sena bahkan juga sengaja memunggungi Syafiq. Ya, Sena berusaha menghindar dari Syafiq.


Syafiq mengulum senyum geli melihat tingkah laku istrinya itu. Tapi bukan Syafiq namanya kalau hanya berhenti sampai disini. Syafiq kemudian mendekatkan tubuhnya ke arah Sena.


Greb.


Sena terperanjat kaget ketika tiba-tiba Syafiq melingkarkan tangannya di perut Sena.


"K-kak,,," cicit Sena, pelan sekali.


"Kakak nggak akan minta hak kakak sebagai suami, tapi kalau cuma peluk aja nggak pa-pa kan?" tanya Syafiq berbisik di dekat telinga Sena.


Sena merasakan bulu kuduknya meremang. Jantung Sena juga berdetak dua kali lebih kencang. Ini benar-benar sesuatu yang baru untuk Sena. Belum pernah Sena sedekat ini dengan seorang laki-laki. Dan lagi, laki-laki itu adalah orang yang sama yang telah berhasil menguasai hati Sena sejak masih kecil dulu. Tidak kuasa untuk menjawab, Sena hanya mampu menganggukkan kepalanya pelan.


Syafiq tersenyum merasakan anggukan kepala Sena. Dengan memejamkan matanya Syafiq pun kemudian menguselkan wajahnya di ceruk leher Sena, mencari posisi yang paling nyaman.

__ADS_1


'Ah, gini ya rasanya punya istri tuh. Ada yang nemenin. Ada yang bisa digodain. Tidur juga bisa sambil meluk. Nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan, hehe. Ah, nyaman banget rasanya. Nyesel gue kenapa nggak dari dulu-dulu.'


Rasa nyaman itu dengan cepat mengantarkan Syafiq ke alam mimpinya. Sementara Sena masih belum bisa menetralkan detak jantungnya yang menggila. Tetapi, rasa nyaman itu pun perlahan-lahan mengambil alih, dan akhirnya mengantarkan Sena juga ke alam mimpinya.


__ADS_2