Jerat Cinta CEO Arrogant

Jerat Cinta CEO Arrogant
Lambe Turah


__ADS_3

Akhir pekan ini diadakan acara syukuran tujuh bulanan kehamilan Sonia di rumah Sean dan Sonia. Acara tersebut dihadiri oleh seluruh keluarga besar Steven dan juga sahabat-sahabatnya, anak-anak di panti asuhan Opa Ricko, beberapa kolega bisnis, dan juga tentu saja warga di kompleks perumahan Sean dan Sonia tersebut.


Rangkaian acara demi acara berjalan dengan lancar. Ucapan selamat dan juga doa'-do'a baik untuk Sonia dan calon bayinya mengalir dari semua orang yang hadir dalam acara tersebut.


Setelah semua acara inti selesai, saat ini mereka semua sedang menikmati hidangan di halaman samping rumah Sean dan Sonia. Sayangnya, seperti yang sering terjadi pada umumnya, acara berkumpul seperti ini pasti selalu menjadi ajang perghibahan para ibu-ibu julid yang memiliki lambe turah.


Sena sedang mengambil beberapa camilan untuk dirinya dan Syafiq ketika dirinya tanpa sengaja mendengar gunjingan beberapa orang ibu-ibu yang sedang berdiri tidak jauh dari meja camilan tempatnya berdiri saat ini.


"Mantunya Jeng Sheila yang kedua belum hamil juga ya sampai sekarang?" tanya seorang ibu-ibu.


Deg.


Sena sampai menghentikan aktivitasnya yang sedang mengambil beberapa camilan karena terkejut mendengar apa yang dibicarakan oleh ibu-ibu tersebut.


"Eh, iya tuh bener. Padahal adiknya aja nih, si Safa, yang nikahnya belakangan, malah udah hamil loh sekarang," jawab ibu-ibu yang satunya lagi.


"Iiihhh, kok bisa lama gitu? Jangan-jangan ada yang nggak beres lagi. Perlu untuk diperiksakan ke dokter itu, siapa tau ada masalah," sahut ibu-ibu yang lainnya.


Akhirnya apa yang selama ini menjadi ketakutan Sena benar-benar muncul ke permukaan. Pergunjingan tentang dirinya yang belum juga hamil sampai sekarang.


Perbincangan para ibu-ibu itu masih terus berlanjut. Menghindari agar dirinya sendiri tidak terpengaruh semakin jauh dengan obrolan para ibu-ibu yang sedang menggunjingkan dirinya itu, Sena akhirnya memilih untuk pergi meninggalkan tempat tersebut.


'Haish, jangan terpengaruh, Sena. Anggap kamu nggak pernah mendengar semua perbincangan mereka,' kata batin Sena menyemangati diri sendiri.


Namun sayangnya, baru beberapa meter Sena berjalan, terlihat di depan sana mommy Lusia nampak sedang menegur beberapa orang ibu-ibu.

__ADS_1


"Bu, yang namanya hamil itu menjadi rahasia tersendiri dari Allah SWT untuk kita para wanita. Kapan kita dikasih kepercayaan untuk mengandung juga kita nggak ada yang tau. Dan itu semua nggak bisa disamakan antara wanita yang satu dengan yang lainnya," samar-samar suara Lusia dapat didengar oleh Sena.


Sena mengesah pelan. Ah, sepertinya masih topik perbincangan yang sama.


"Nggak ada peraturan bahwa yang nikah duluan harus hamil duluan juga. Semua itu menjadi rahasia takdir Allah SWT," lanjut Lusia.


Tiba-tiba saja Sena merasakan pundaknya dirangkul lembut oleh seseorang. Sena menolehkan kepalanya. Ah, ternyata itu adalah Sheila, ibu mertuanya.


"Ikut Bunda yuk, sayang," ajak Sheila kepada Sena.


"Iya, Bun," balas Sena.


Sheila kemudian membawa Sena untuk menghampiri sebuah meja yang lumayan besar. Ternyata disana sudah ada Anita, Sylvia, Dyah, Tya, Santi, Kania, dan Nia. Sheila mengajak Sena untuk duduk bersama dengan sahabat-sahabatnya itu.


"Enggak kok, Bun. Tenang aja," balas Sena.


"Ada lambe-lambe turah lagi ya, Shei?" tanya Anita.


"Iya, Mbak. Biasalah," jawab Sheila.


"Astaga. Bener-bener deh mereka itu," geram Tya.


Tidak lama kemudian Lusia datang dan bergabung bersama mereka semua. Lusia langsung duduk di sebelah Sena yang satunya lagi.


"Sena sayang, kamu tadi denger ya nyinyiran ibu-ibu julid itu?" tanya Lusia.

__ADS_1


Ya, Lusia tadi sempat melihat ketika Sheila membawa Sena pergi. Jadi Lusia sudah bisa menebak, pasti Sena mendengar gunjingan para ibu-ibu tadi tentang dirinya.


"Denger mom. Tapi nggak masalah kok," jawab Sena.


"Sayang, pokoknya gunjingan apapun yang kamu dengar, jangan kamu masukkan ke dalam hati ya, nak. Jangan sampai semua itu menjadi beban pikiran kamu. Karena Bunda dan yang lainnya nggak pernah mempermasalahkan hal itu sama sekali. Jadi kamu juga jangan sampai terpengaruh ya, sayang. Kita pasrahkan saja semuanya kepada Allah SWT," nasehat Sheila.


"Iya, Bun. Sena tau kok," balas Sena seraya tersenyum.


"Bunda pernah berada di posisi kamu, sayang. Jadi Bunda tau benar apa yang kamu rasakan saat ini. Tapi kamu jangan pernah menjadikan semua ini jadi beban pikiran kamu ya, Sena. Dulu Bunda juga satu tahun nikah baru dikasih hamil Sammy. Jadi kamu nggak perlu khawatir, semua memiliki takdirnya masing-masing," kata Sylvia berusaha menghibur dan menguatkan Sena juga.


"Iya Bun, makasih. Insya Allah Sena nggak akan terpengaruh sama semua omongan mereka kok, Bun," balas Sena.


"Kita hanya mempunyai dua telapak tangan, dan itu tidak akan pernah bisa kita gunakan untuk menutup mulut mereka semua yang membicarakan kita. Tetapi kita bisa menggunakan kedua telapak tangan kita untuk menutupi kedua telinga kita. Jadi kita tidak bisa mendengarkan semua pergunjingan mereka tentang kita. Itu yang selalu Sena jadikan pedoman," lanjut Sena lagi.


Sheila dan yang lainnya tersenyum mendengar perkataan Sena.


"Bunda bangga sama kamu, sayang," kata Sheila seraya mengusap lembut kepala Sena.


"Hebat kamu, Sena. Mommy sangat setuju dengan cara berpikir kamu itu," puji Lusia juga.


"Terima kasih Bunda, mommy, dan untuk semuanya juga. Terima kasih banyak untuk perhatian dan dukungan kalian semua," kata Sena tulus.


"Nggak perlu berterima kasih, sayang. Kami semua sayang sama kamu. Itu kenapa kami pasti akan selalu mendukung kamu," balas Anita yang diangguki oleh yang lainnya juga, tanda mereka semua setuju dengan perkataan Anita tadi.


Sena tersenyum. Merasa sangat bersyukur memiliki keluarga besar yang begitu menyayangi dan mendukung dirinya, dalam situasi dan kondisi apapun.

__ADS_1


__ADS_2