
Saat ini anak-anak sedang berkumpul di halaman samping panti asuhan. Syafiq sedang menemani anak-anak laki-laki bermain bola. Anak-anak perempuan juga sedang asyik dengan permainan mereka sendiri. Sementara Sena sedang membantu Umi Endah ( istri dari Abah Rohmat, putra ustadz sepuh sekaligus pengelola panti asuhan yang sekarang ) menyiapkan minuman dan makanan yang tadi dibawa oleh Syafiq dan Sena, titipan dari Sheila.
"Oh iya Umi, katanya ustadz sepuh lagi sakit ya?" tanya Sena seraya menata kue-kue di atas piring.
"Iya nak Sena. Ini Abah sama ustadzah sepuh juga lagi nganterin ustadz sepuh kontrol ke rumah sakit kok," jawab Umi Endah yang sedang menuangkan minuman ke dalam gelas-gelas kecil untuk anak-anak nanti.
"Oh gitu ya. Emang ustadz sepuh sakit apa, Umi?"
"Biasalah nak Sena, penyakit orang yang sudah tua. Sering masuk angin, daya tahan tubuhnya juga sudah menurun banyak."
Sena hanya membalas dengan ber-oh panjang seraya manggut-manggut.
"Udah selesai?" tanya Umi Endah.
"Udah Umi."
"Yuk, kita bawa ke halaman samping!"
"Oke Umi."
Sena dan Umi Endah kemudian membawa nampan yang masing-masing berisi kue-kue dan minuman ke halaman samping panti asuhan.
"Anak-anak, ini Umi sama kak Sena bawain kue sama minuman untuk kalian," kata Umi Endah kepada sekumpulan anak perempuan di bawah usia lima tahun yang sedang bermain bersama.
"Yeay... Makasih Umi, makasih kak Sena," sambut anak-anak perempuan, girang.
"Ucap apa? Alhamdu---" tanya Umi Endah terjeda.
"Lillaah," balas anak-anak perempuan kompak.
"Coba ulangi sekali lagi," pinta Umi Endah.
"Alhamdulillaah,,," pekik anak-anak perempuan bersamaan.
"Subhanallah. Sini duduk sini. Makan kue sama minum dulu," ajak Umi Endah.
__ADS_1
"Iya Umi," lagi-lagi anak-anak perempuan itu menyahut bersamaan.
Sena tersenyum gemas melihat tingkah lucu anak-anak kecil itu. Mereka kemudian duduk bersama di teras seraya menikmati kue-kue dari Sheila tersebut.
"Nak Syafiq, anak-anak, sini minum sama makan kue dulu," kata Umi Endah setengah berteriak memanggil Syafiq dan anak-anak laki-laki yang sedang bermain bola bersama.
"Bentar lagi Umi," sahut Syafiq dan anak-anak laki-laki itu, kompak.
"Haish, mereka itu kalau sudah pada main, susah banget disuruh berhenti-nya," keluh Umi Endah.
Sena tertawa kecil mendengar keluhan Umi Endah.
"Namanya juga anak-anak, Umi. Kak Syafiq juga sama aja tuh ternyata. Biarin aja lah, Umi. Nanti kalau udah ngerasa capek sama haus juga mereka pasti berhenti sendiri," balas Sena menanggapi.
"Iya nak Sena, bener banget kamu," kata Umi Endah juga.
"Kak sena-kak Sena," panggil seorang anak kecil tiba-tiba.
Sena menolehkan kepalanya.
"Iya Gendhis sayang. Kenapa?" tanya Sena setelah mengetahui bahwa yang memanggilnya itu adalah Gendhis, anak perempuan kecil berusia sekitar empat tahun.
Sena sedikit tersentak mendengar pertanyaan dari Gendhis tersebut. Tetapi sesaat kemudian Sena kemudian tersenyum kecil. Gendhis hanya seorang anak kecil. Dia hanya sekedar ingin tau saja. Sena kemudian melihat gambar yang ditunjukkan oleh Gendhis.
"Iya sayang. Ini namanya ibu-nya sedang mengandung. Di dalam perutnya ada dedek bayinya," jawab Sena lembut.
Umi Endah tersenyum, bangga dengan sikap Sena yang mampu menyikapi pertanyaan Gendhis dengan bijak.
"Di dalam perut kak Sena ada dedek bayinya juga enggak?" tanya polos Gendhis lagi.
Sena tersenyum getir mendengar pertanyaan Gendhis dengan nada polosnya itu. Menarik nafas dalam, kemudian menghembuskannya perlahan. Sena pun kemudian mencoba untuk tersenyum kembali.
"Sayangnya belum ada, sayang," jawab Sena, menahan rasa perih di hatinya.
"Gendhis sayang, kita do'a-in kak Sena sama-sama yuk," ajak Umi Endah, berusaha menengahi. "Biar di dalam perut kak Sena segera ada dedek bayinya. Kan do'a anak-anak yatim seperti Gendhis dan teman-teman ini paling cepet sampainya ke Allah SWT. Jadi biar cepet dikabulkan," lanjut Umi Endah.
__ADS_1
"Oh iya, Umi bener," balas Gendhis sumringah. "Teman-teman, yuk kita do'a-in kak Sena sama-sama. Biar di dalam perut kak Sena bisa ada dedek bayinya," ajak Gendhis kepada teman-temannya yang lain.
"Ayok! Ayok!" balas yang lainnya bersemangat.
Anak-anak kecil itu kemudian menengadahkan kedua telapak tangan mereka bersama-sama.
"Yaa Allah, semoga di dalam perutnya kak Sena bisa ada dedek bayinya, Yaa Allah," ucap Gendhis memimpin do'a mereka dengan gaya polosnya.
"Aamiin," seru anak-anak yang lainnya menyahuti dengan semangat.
Kedua mata indah Sena sudah berkaca-kaca, terharu melihat ketulusan semua anak-anak kecil itu.
"Biar kita semua bisa punya teman main baru. Biar kak Sena sama kak Syafiq juga bahagia," lanjut Gendhis lagi.
"Aamiin," sahut yang lainnya lagi bersama-sama.
"Tapi dedek bayinya yang imut ya, Yaa Allah. Yang lucu. Yang nggemesin. Biar semua orang suka."
Sena yang sudah menitikkan air matanya jadi tertawa kecil karena mendengar kata-kata Gendhis yang polos itu.
"Aamiin," lagi-lagi semuanya meng-amin-kan.
"Sekali lagi ya, Yaa Allah. Pokoknya, semoga di dalam perutnya kak Sena cepet ada dedek bayinya ya. Aamiin," kata Gendhis kemudian mengusapkan kedua telapak tangannya ke wajah kecilnya, mengakhiri do'anya itu.
"Aamiin," sahut yang lainnya yang juga ikut mengusapkan kedua telapak tangan mereka masing-masing ke wajah kecil mereka.
"Aamiin Yaa robbal 'aalamiin," kata Umi Endah, Sena, dan juga Syafiq yang ternyata sudah berdiri di belakang Sena.
Sena segera membalikkan badannya begitu mendengar suara suaminya itu.
"Kak,,," panggil Sena.
Syafiq mendudukkan dirinya di belakang Sena kemudian memegang pundak istrinya itu menggunakan kedua tangannya.
"Tetap berpikir positif ya nak Sena, nak Syafiq. Yang sabar dan tetap semangat. Do'a anak yatim terijabah. Semoga do'a anak-anak tadi segera dikabulkan oleh Allah SWT," kata Umi Endah kepada Syafiq dan Sena.
__ADS_1
"Iya, Umi. Aamiin," balas Syafiq dan Sena seraya tersenyum.
Di dalam hatinya, mereka semua benar-benar berharap semoga do'a anak-anak tadi bisa segera dikabulkan oleh Allah SWT.