
Ceklek.
Perhatian semua orang yang sedang menunggu di depan ruang bersalin seketika tertuju ke arah pintu ruangan yang baru saja terbuka. Nampak Syafiq keluar dari dalam ruang bersalin dengan mendorong box bayi berisi bayi mungilnya. Perawat yang tadi membukakan pintu untuk Syafiq kemudian berjalan mengikuti di belakang Syafiq.
Steven, Sheila, Bima, Bella, Vira, Azka, dan juga Sean serta Adrian, mereka kemudian langsung bergegas untuk menghampiri Syafiq.
"Subhanallah, cowok atau cewek, kak?" tanya Sheila antusias.
"Alhamdulillaah cewek, Bun. Cucu perempuan pertama yang sehat untuk Ayah dan Bunda, juga Papa dan Mama," jawab Syafiq bangga.
Ya, tentu saja bayi mungil itu merupakan cucu perempuan pertama Steven dan Sheila, karena anak Sean dan Sonia juga Safa dan Adrian adalah laki-laki semua.
"Alhamdulillaah," ucap bahagia semua yang ada disana.
"Keadaan Sena gimana, Fiq?" tanya Bella kemudian.
Seketika raut wajah Syafiq berubah menjadi murung. Dan hal itupun sontak membuat semua keluarga yang hadir disana menjadi bingung. Mereka menunggu jawaban dari Syafiq dengan perasaan yang was-was.
"Sena,,,,," Syafiq menggantung perkataannya dengan wajah yang sendu.
Dan tiba-tiba saja,
Ceklek.
Pintu ruang bersalin kembali terbuka. Kiara nampak keluar dari dalam ruang bersalin tersebut.
"Gimana, kak?" tanya Syafiq tidak sabar.
"Maaf Fiq, Om ganteng, Tante cantik, dan semuanya," lirih Kiara dengan wajah yang murung.
( Aaahhh manisnya, panggilan Kiara untuk Steven dan Sheila masih sama seperti dulu π€ )
Melihat wajah murung Kiara, perasaan tidak enak mulai menghinggapi semua keluarga yang ada disana saat ini, terlebih lagi Syafiq sendiri.
__ADS_1
"Pendarahan hebat membuat Sena berada dalam kondisi kritis. Saat ini Sena sedang dalam keadaan koma," lanjut Kiara menjelaskan dengan berat hati.
Seketika tubuh Syafiq luruh ke lantai. Sheila, Bella, dan Vira menutup mulut mereka dengan kedua tangan masing-masing karena terkejut. Air mata bahkan juga sudah mengalir membasahi pipi ketiga wanita tersebut.
"Sena," lirih Syafiq, begitu syok dan terpukul.
"Hiks-hiks, Sena, Pa," suara parau Bella merajuk kepada Bima. "Kenapa kejadian ini harus terulang lagi, Pa? Kenapa Sena harus mengalami hal yang sama dengan kak Arini dulu, Pa? Huuhuuhuu..." keluh Bella di dalam pelukan Bima, tidak kuasa menahan tangisannya.
Perkataan Bella mengingatkan mereka semua dengan kejadian dua puluh dua tahun silam. Saat itu Arini, almarhumah istri pertama Bima, juga mengalami kondisi seperti ini setelah melahirkan Sena. Dan sangat disayangkan karena akhirnya Arini tidak mampu bertahan melewati masa kritisnya hingga akhirnya dirinya pun meninggal dunia.
Bima juga nampak sangat terpukul saat ini. Kenangan buruk kejadian dua puluh dua tahun silam itu kembali terlintas di pikirannya. Dan Bima juga semakin merasa terpukul karena ternyata saat ini Sena pun mengalami hal yang sama dengan yang dialami oleh almarhumah Mama-nya dua puluh dua tahun yang lalu itu.
"Enggak," kata Syafiq seraya menggeleng-gelengkan kepalanya. "Sena kuat. Sena pasti bisa bertahan. Dia sudah berjanji untuk bertahan," lirih Syafiq dengan pandangan kosong.
Sean dan Adrian segera menghampiri Syafiq. Keduanya berjongkok di sebelah kanan dan kiri Syafiq. Merangkul pundak Syafiq, mencoba menyalurkan kekuatan kepada Syafiq.
"Iya, Fiq. Sena kuat. Dan dia pasti akan bisa bertahan," kata Adrian menguatkan Syafiq.
Seperti Bella yang sedang menangis di dalam pelukan Bima, Sheila pun juga sedang menangis di dalam pelukan Steven. Sementara Azka juga merangkul Vira yang juga sudah sesenggukan saat ini.
πΊπΊπΊ
Saat ini Syafiq sedang berada di dalam ruang ICU, menemani Sena yang masih juga belum sadarkan diri. Sementara Steven dan yang lainnya menunggu di kursi tunggu di depan ruang ICU.
"Abang sama Mas Rian pulang saja dulu. Kasihan Sonia sama Safa nungguin, sama putra-putra kalian yang masih bayi juga," kata Sheila kepada Sean dan Adrian.
"Oke. Tapi Bunda sama Ayah juga jangan lupa istirahat ya, jaga kondisi kesehatan," balas Sean yang juga diangguki oleh Adrian, tanda setuju.
"Iya, Bang. Tenang aja," kata Sheila seraya tersenyum.
"Langsung kabari kita kalau ada perkembangan ya, Bun, Yah," pinta Adrian.
"Pasti. Kalian berdua tenangkan istri kalian juga. Mereka pasti akan sangat bersedih karena hal ini," balas Steven sekaligus menasehati.
__ADS_1
"Iya, Yah," Sean dan Adrian menjawab bersamaan.
"Mama juga pulang dulu ya sama Vira sama Azka. Biar Papa yang nunggu disini," kata Bima juga kepada Bella.
"Enggak, Pa. Mama mau tetep disini nungguin Sena. Perasaan Mama justru nggak bisa tenang kalau Mama di rumah dan ninggalin Sena disini," tolak Bella.
"Ya udah kalau gitu. Vira, Azka, kalian pulang aja dulu, ya. Besok kan masih harus sekolah juga," kata Bima kemudian.
"Baik, Pa," balas Vira dan Azka bersamaan.
Setelah berpamitan dan mencium punggung tangan kanan keempat orang tuanya, Sean, Adrian, Vira, dan Azka kemudian bergegas untuk pulang terlebih dahulu.
Steven melihat Bima yang nampak sedang menyembunyikan kesedihannya. Steven kemudian memberi isyarat kepada Sheila. Memahami maksud suaminya, Sheila kemudian mengangguk pelan.
"Bel, kita lihat cucu kita di ruang bayi, yuk!" ajak Sheila kepada Bella.
"Oh, iya Mbak. Ayo."
Sheila kemudian membawa Bella pergi untuk melihat cucu mereka yang saat ini berada di ruang bayi.
Setelah Sheila dan Bella pergi, Steven kemudian mendekati Bima. Ditepuknya pundak sahabat yang sekarang juga menjadi besannya itu.
"Semua pasti baik-baik saja. Sena anak yang kuat," kata Steven.
"Semoga ya, Steve. Gue nggak bisa bayangin gimana hancurnya Syafiq kalau dia harus mengalami apa yang pernah gue alami dulu," balas Bima lemas, seakan masih belum percaya bahwa putrinya harus mengalami seperti apa yang dialami oleh almarhumah Mama-nya dulu.
"Kita berdo'a sama-sama, Bim. Semoga kejadian dulu tidak terulang lagi. Semoga Sena bisa melewati masa kritisnya," kata Steven mendo'akan.
"Aamiin. Itu yang paling gue harapkan, Steve," balas Bima penuh harap.
..._ _ _ _ _ _ _...
### Detik-detik menuju ending ya π€π€π€
__ADS_1