
"Aku turun dulu ya, kak," pamitku pada kak Syafiq.
Saat ini mobil kak Syafiq sudah berhenti di gang dekat rumah Papa Bima, seperti biasanya kalau kak Syafiq mengantarku pulang. Setelah sempat berdebat tadi akhirnya kak Syafiq mengijinkan aku untuk pulang dan menginap di rumah Papa. Itupun karena tadi Bunda Sheila juga telepon dan menyuruh kak Syafiq untuk pulang ke rumah malam ini.
Jujur saja, sebenarnya aku masih merasa bersalah saat ini. Kak Syafiq tidak bisa pulang ke rumah itu karena aku. Tapi aku juga yang justru meminta kak Syafiq untuk menyembunyikan dulu mengenai masalah pernikahan kami ini. Aku belum siap untuk menghadapi reaksi dari Vira dan Mama Bella. Betapa pengecutnya aku ini.
Aku meraih tangan kanan kak Syafiq kemudian mencium punggung tangannya.
"Hati-hati ya. Langsung kabarin kalau ada apa-apa," pesan kak Syafiq.
"Iya. Kakak juga hati-hati ya," balasku.
Aku lalu turun dari mobil kak Syafiq dan berjalan menuju ke rumah Papa. Dan seperti biasanya juga, kak Syafiq baru menjalankan kembali mobilnya setelah aku memasuki halaman rumah Papa ini.
"Assalamu'alaikum," sapaku setelah membuka pintu rumah.
"Wa'alaikumsalam. Kakak,,," pekik bahagia Vira dan juga Azka setelah mereka mengetahui kedatanganku.
Aku tersenyum melihat dua adikku itu yang langsung bangun dari duduknya dan berlari menghampiriku. Mereka berdua pun langsung memelukku bersamaan. Aku melihat Papa dan Mama juga langsung berdiri dan berjalan menghampiriku. Sepertinya mereka berempat sengaja menunggu kedatanganku dengan menonton televisi bersama.
Setelah Vira dan Azka melepaskan pelukan mereka, aku pun kemudian mencium punggung tangan kanan Papa dan Mama bergantian.
"Papa," sapaku.
"Kamu sehat kan?" tanya Papa dengan tersenyum.
"Alhamdulillaah Pa," jawabku. "Mama," aku beralih mencium punggung tangan kanan Mama.
Diluar dugaanku Mama justru langsung memelukku.
"Maafin Mama ya, nak. Maaf," kata Mama dengan suara bergetar.
Aku sempat tertegun sejenak karena terkejut. Tapi kemudian aku membalas pelukan Mama dan tersenyum.
"Mama nggak salah, kenapa harus minta maaf ke Sena?" tanyaku setelah pelukan kami terlepas.
"Maafin untuk semua sikap buruk Mama ke kamu selama ini ya, Sen."
"Mama nggak ada salah kok. Jadi Mama nggak perlu minta maaf ke aku."
"Ini apa sih? Lebaran kan masih jauh, kenapa pada minta maaf sekarang coba," tanya polos Azka, bingung.
Aku, Papa, Mama, dan Vira pun tertawa kecil menanggapi ucapan konyol Azka tadi.
"Udah-udah. Kita duduk lagi yuk! Ini kakak tadi beli martabak manis rasa coklat kacang kesukaan Azka dan rasa keju kesukaan Vira," kataku kemudian dengan mengangkat kantong plastik berisi dua kardus martabak manis.
"Yeay," pekik Vira dan Azka bersamaan.
"Kak Sena emang terbaik deh," seru Azka dengan mengambil alih kantong plastik dari tanganku.
"Makasih kakakku sayang," kata Vira yang langsung mencium pipiku.
Aku tersenyum melihat raut wajah bahagia Vira dan Azka. Untung tadi aku sempat meminta kak Syafiq untuk berhenti di jalan dan membeli martabak manis kesukaan adik-adikku. Tapi pas aku tawarin sekalian untuk Safa tadi kak Syafiq nggak mau, katanya bukan dia banget bawa-bawa oleh-oleh kayak gitu. Aku jadi tersenyum sendiri mengingat kejadian tadi.
Kami berlima kemudian duduk bersama di sofa. Ngobrol, bercanda, sambil menikmati martabak manis yang aku bawa tadi. Mama yang duduk di sebelahku memperlakukan diriku begitu hangat dan penuh kasih. Aku merasa sangat bahagia sekali saat ini.
Tidak lama kemudian kami semua pun makan malam bersama. Lagi, obrolan dan canda tawa menghiasi suasana makan malam kali ini. Seandainya saja suasana seperti ini yang terjadi setiap hari, betapa bahagianya diriku ini. Tapi senyumku seketika menghilang ketika aku melihat cincin yang melingkar di jari manisku.
__ADS_1
'Bagaimana kalau Mama dan Vira mengetahui kenyataan yang sebenarnya? Tawa bahagia ini pasti akan langsung hilang begitu saja.'
Aku mengesah pelan tanpa ada seorang pun yang menyadarinya.
Selesai makan malam, Papa mendapat telepon dari salah satu anak buahnya. Papa pun kemudian pamit untuk pergi ke markas. Azka juga pamit kembali ke kamarnya untuk mengerjakan tugas sekolahnya. Aku, Mama, dan Vira melanjutkan obrolan kami sembari menonton televisi bersama.
Tidak lama kemudian terdengar dua kali ledakan kecil. Kami bertiga sampai terlonjak kaget karena suara ledakan tersebut. Dan tidak lama kemudian tiba-tiba saja api sudah menyebar dengan begitu cepatnya. Kami bertiga seketika berdiri karena terkejut dan panik.
"Kebakaran Nyonya, Non," teriak Bik Prapti panik dengan berlari menghampiri kami.
"Kenapa bisa begini Bik?" tanya Mama yang juga sudah ikut panik.
"Nggak tau Nyonya. Tadi ada yang ngelempar botol kaca yang ada apinya di atasnya. Terus pas botolnya pecah api langsung menyebar kayak gini Nyah," jawab Bik Prapti.
"Bom molotov," seruku.
"Apa?" tanya Mama dan Vira bersamaan.
"Azka masih di atas," kataku setelah teringat pada Azka.
"Astaga, Azka," teriak Mama semakin panik.
"Mama sama Vira keluar dulu ya sama Bik Prapti juga. Biar Sena yang samperin Azka," kataku kemudian.
"Tapi ini bahaya kak," cegah Vira.
"Iya Non. Apinya udah menyebar kemana-mana," kata Bik Prapti juga.
"Nggak pa-pa. Azka harus segera diajak keluar juga. Anak itu pasti pakai earphone jadi nggak tau situasi saat ini," balasku.
"Kamu harus hati-hati Sena," pesan Mama dengan wajah yang sangat khawatir.
"Bik, bawa Mama dan Vira keluar sekarang juga. Aku akan langsung naik manggil Azka," pintaku pada Bik Prapti.
"Baik Non. Mari Nyonya, Non Vira."
"Kakak hati-hati."
"Kamu harus hati-hati ya, Sen."
Aku mengangguk membalas perkataan mereka bertiga. Setelah Bik Prapti mengajak Mama dan Vira untuk keluar dari rumah, aku pun segera bergegas naik ke lantai atas menuju ke kamar Azka. Sial, api cepat sekali menyebarnya. Kayaknya ini bukan cuma sekedar bom molotov biasa saja. Pasti ada sesuatu yang lain.
Aku langsung masuk ke dalam kamar Azka. Dan benar saja, Azka sedang asyik mengerjakan tugas sekolahnya seraya mendengarkan musik melalui earphone.
"Dek," panggilku seraya menarik lepas earphone dari telinga Azka.
"Astaga. Kakak bikin kaget aja deh," keluh Azka.
"Terjadi kebakaran Dek. Kita harus segera keluar dari rumah," kataku memberitahu.
"Apa?" pekik Azka kaget seraya berdiri.
"Iya. Ayo cepat. Kita harus keluar sekarang," ajakku.
Azka kemudian mengikutiku berjalan menuju pintu. Tapi belum juga kami sampai di pintu, api ternyata sudah membakar pintu kayu tersebut dan menghalangi jalan keluar kami.
"Astaga, kak. Pintunya udah kebakar. Gimana kita mau keluar kak?" tanya Azka yang mulai panik.
__ADS_1
'Sial. Kenapa apinya cepet banget sih nyebarnya."
"Tenang dulu Dek. Jangan panik. Kakak akan cari jalan keluar yang lain," kataku berusaha menenangkan Azka.
Aku memutar otakku, mencoba mencari ide.
"Uhuk uhuk,,,"
Azka mulai terbatuk karena terlalu banyak menghirup asap. Aku kemudian menarik selimut di atas tempat tidur Azka dan mencari satu lagi di dalam lemari. Dua selimut itu aku bawa masuk ke dalam kamar mandi kemudian aku basahi. Keluar dari kamar mandi aku segera memakaikan selimut itu ke tubuh Azka dan ke tubuhku sendiri.
"Ayo Dek, kita keluar lewat balkon!" ajakku.
"Kita mau lompat kak?" tanya Azka ketakutan.
"Nggak ada cara lain Dek. Kamu percaya kan sama kakak?"
Terdiam sesaat, namun kemudian Azka menganggukkan kepalanya mantap.
"Iya, aku percaya sama kakak."
"Bagus."
Aku kemudian mengajak Azka keluar dari kamar menuju ke arah balkon. Api sudah menyebar kemana-mana. Suhunya sangat panas dan asap juga sudah membuat kami terbatuk-batuk.
Selimut basah ini cukup melindungi tubuh kami dari api ketika melewati pintu menuju balkon yang juga sudah terbakar. Sampai di balkon, aku melihat Vira, Mama, dan Bik Prapti berteriak khawatir terhadap kami. Beberapa warga juga nampak berusaha memadamkan api dengan membawa air dalam ember.
"Azka, Sena!!!" teriak Mama dari bawah.
"Kak Sena, Azka, hati-hati," teriak Vira juga.
Api semakin membesar. Tidak ada waktu lagi, aku kemudian merangkul Azka dan menumpuk dua selimut yang kami pakai. Setidaknya ketika kami jatuh ke bawah akan sedikit tertahan dengan bantuan dua selimut tebal ini, begitu pikirku.
"Kamu percaya sama kakak kan Dek?" tanyaku sekali lagi pada Azka.
"Iya kak."
"Kalau gitu kita harus lompat sekarang juga. Tenang aja, dua selimut ini akan mengurangi resiko benturan kita," kataku meyakinkan Azka.
Azka mengangguk. Aku kemudian mengajak Azka untuk melompat dari balkon tersebut.
'Lindungi kami Yaa Allah,' pintaku dalam hati.
"Kak Sena, Azka!!!" teriak Vira.
"Sena, Azka!!!" suara Mama.
Dan aku juga mendengar suara teriakan-teriakan yang lainnya.
Bruk.
Tubuhku dan tubuh Azka membentur tanah dengan cukup keras. Ternyata rasanya masih sesakit ini walaupun sudah menggunakan dua selimut tebal sekaligus. Pandanganku sudah berkunang-kunang, kesadaranku hampir hilang. Samar-samar aku bisa mendengar suara orang-orang yang berteriak panik melihat keadaan kami. Tapi ada satu suara yang begitu jelas menarik perhatianku.
"SENA!!!"
Itu suara kak Syafiq. Benarkah? Dan sesaat kemudian aku merasakan tubuhku direngkuh oleh tangan kekar itu.
"Sena kamu nggak pa-pa kan?" tanya kak Syafiq nampak sangat khawatir.
__ADS_1
"K-kak... Sya-"
Dan semuanya gelap. Aku bahkan tidak bisa melanjutkan perkataanku yang ingin memanggil namanya.