
Naura berjalan dengan membawa segelas minuman di tangan kanannya. Kepala gadis cantik itu sibuk menoleh ke kanan dan ke kiri, mencari-cari keberadaan kakak sepupunya.
"Kak Ega mana sih? Main tinggal gitu aja. Sebel deh," gerutu Naura.
Karena tidak fokus dalam berjalan, tiba-tiba saja Naura menabrak seseorang di depannya dan minuman yang dia bawa pun tumpah mengenai kemeja batik orang tersebut.
"Astaghfirullah hal adziim," kaget Naura.
Sadar dirinya telah melakukan sebuah kesalahan, Naura pun segera berusaha untuk membersihkan kemeja batik laki-laki yang dia tabrak tadi menggunakan sapu tangannya.
"Duh, maaf banget ya, Mas. Saya beneran nggak sengaja tadi," sesal Naura seraya berusaha mengelap tumpahan minuman di kemeja batik laki-laki tersebut.
"Nggak pa-pa kok. Saya juga salah karena jalan nggak lihat-lihat tadi," balas Rey yang juga mengakui kesalahannya.
Seketika Naura mengangkat wajahnya. Sepertinya Naura mengenali suara laki-laki tersebut.
"Eh, Mas Rey, ya? Temennya Sena yang dulu sering jemput Sena itu kan?" tanya Naura memastikan.
"Iya. Saya Rey temannya Sena. Kamu?" Rey gantian bertanya, merasa sedikit bingung karena ternyata gadis di depannya mengenal dirinya.
"Gue Naura, Mas. Teman kuliah Sena. Ya, bisa dibilang gue sahabat baiknya Sena lah," jawab Naura. "Eh, sorry, nggak pa-pa kan gue pake bahasa yang nggak formal. Belibet lidah gue Mas, nggak terbiasa, hehe," lanjut Naura diakhiri dengan senyumannya yang memperlihatkan deretan gigi putihnya.
Deg.
Ada perasaan asing yang dirasakan Rey saat ini, ketika melihat senyum polos Naura. Entah kenapa senyuman itu menggetarkan hati kecil Rey. Sesaat Rey pun dibuat terpaku oleh Naura.
"Mas? Kok bengong? Nggak boleh ya? Hmh, ya udah deh kalau gitu, maaf ya," sesal Naura lagi dengan wajah penuh penyesalan.
Rey pun akhirnya tersadar dari lamunannya.
"Eh, e-enggak kok. Bukan gitu maksudnya. Sorry-sorry. Gue nggak masalah kok kalau Lo mau pake bahasa kayak gini. Lebih nyaman juga buat gue," balas Rey mengklarifikasi.
"Ah, syukurlah kalau gitu. Gue kirain tadi Mas Rey nggak suka gue ngomong pake bahasa kayak gini," ucap Naura, lega. "Duh, Mas, sorry banget ya, kemejanya jadi basah deh," sesal Naura, meminta maaf sekali lagi.
"Nggak pa-pa kok, santai aja. Gue udah mau balik juga, jadi nggak masalah," balas Rey.
"Syukur deh kalau Mas Rey nggak marah. Eh, udah mau balik juga ya? Sama dong. Udah pamitan sama Sena belum, Mas? Bareng aja yuk sekalian, gue juga mau pamitan sama Sena nih, biar ada temennya," cerocos Naura.
Rey mengulum senyum kecil.
'Tipe gadis yang unik. Polos tetapi juga banyak bicara. Pasti menyenangkan bisa dekat dengan gadis seperti ini. Haish, mikir apa sih Lo, Rey.'
"Mas?" panggil Naura melihat Rey yang lagi-lagi melamun.
"Eh, iya. Gue juga baru mau pamitan kok. Yuk, kita bareng aja," balas Rey kemudian.
"Ayok!" sambut Naura bersemangat.
__ADS_1
Naura dan Rey kemudian berjalan bersama hendak menghampiri Sena dan Syafiq. Dari kejauhan Naura dan Rey sudah bisa melihat kedua pengantin baru itu. Mereka sedang duduk berdua dan menikmati sepotong kue sembari sesekali bercanda dan saling menggoda.
Syafiq nampak menyendok kue untuk dirinya sendiri. Setelah itu Syafiq pun kemudian berniat untuk menyuapi Sena. Terlihat Sena yang sudah bersiap dan membuka mulutnya menanti suapan dari Syafiq. Tapi Syafiq dengan sengaja justru memutar balik sendok yang sudah dia arahkan ke mulut Sena dan melahap sendiri kue di sendok tersebut.
Sena nampak kesal dan mengerucutkan bibirnya yang justru membuat Syafiq tertawa terbahak-bahak. Secara tiba-tiba Sena kemudian mencolek krim di atas kue tersebut dan mengoleskannya ke pipi Syafiq. Dan keadaan pun terbalik, gantian Sena yang tetawa begitu riang melihat Syafiq yang nampak kesal karena pipinya terkena krim. Rey mengulum senyum kecil.
'Ah, Sena sudah sebahagia ini. Gue juga harus ikut bahagia untuk Sena.'
"Ekhem-ekhem," dehem Naura secara sengaja, menginterupsi keseruan pasangan pengantin baru yang sedang saling menggoda itu.
Sena dan Syafiq pun sontak mengalihkan perhatian mereka berdua ke arah Naura dan Rey.
"Eh, Nau? Rey?" kaget Sena yang langsung berdiri diikuti oleh Syafiq di sebelahnya.
"Cie cie, mesra banget sih pengantin baru kita ini. Lihat sikon atuh neng, acara belum selesai ini. Masih banyak tamu undangan juga tuh. Nggak kasihan apa sama yang jomblo kayak gue gini. Jiwa jomblo gue udah meronta-ronta nih lihat kemesraan kalian berdua," goda Naura yang diakhiri dengan mimik wajah nelangsa.
Sena nampak tersenyum canggung karena malu. Sementara Syafiq justru tertawa menanggapi perkataan Naura tadi.
"Sorry Nau. Kelepasan gue. Rasanya tuh nggak afdol kalau nggak ngegodain istri gue yang nggemesin ini," balas Syafiq dengan mencubit gemas pipi Sena pelan.
"Kaaaak,,," protes Sena dengan memanjangkan kata.
"Hahaha, iya sayang, iya. Maaf," kata Syafiq kemudian.
Naura dan Rey mengulum senyum kecil melihat interaksi pasangan pengantin baru di depannya itu.
"Oh iya, selamat ya Sena, Bos, untuk pernikahan kalian berdua. Semoga menjadi keluarga yang sakinah mawadah warahmah. Sekalian saya mau pamit. Dan terima kasih banyak atas undangannya," kata Rey.
"Gue juga mau pamit duluan ya, Sen, kak. Selamat untuk pernikahan kalian berdua. Semoga bahagia selalu dan langgeng sampai kakek nenek nanti. Satu lagi, cepet kasih gue ponakan yang lucu, ya," pamit Naura juga yang diakhiri dengan menggoda pasangan pengantin baru tersebut.
"Nau,,," protes Sena.
"Aamiin, do'ain aja ya Nau, semoga disegerakan," balas Syafiq.
"Pasti itu kak," kata Naura lagi.
"Kamu mau pulang bareng siapa, Nau? Ega tadi udah pamit duluan, soalnya tiba-tiba ada urusan mendadak tentang proyek baru yang harus dia selesai-in," tanya Syafiq sekaligus memberitahu.
"Oh, pantes aja dari tadi gue cariin nggak ketemu, ternyata udah balik duluan dia. Mana nggak ngabarin gue lagi. Huh," dengus Naura kesal.
Sena dan Syafiq saling bertukar pandangan sejenak. Tatapan mata keduanya seakan berbicara satu sama lain. Seolah mengetahui maksud dan keinginan satu sama lain, keduanya kemudian tersenyum kecil.
"Mmm, Nau, kenapa Lo nggak pulang bareng Rey aja? Kebetulan kan kalian satu arah?" usul Sena tiba-tiba.
"Ck, jangan ah. Tadi aja gue udah numpahin minuman ke kemeja Mas Rey, masak sekarang gue mau ngerepotin dia dengan numpang pulang. Ya nggak enak lah," balas Naura.
"Nggak pa-pa kok Nau, kan kita satu arah juga," sahut Rey.
__ADS_1
"Nah, itu Rey udah bilang nggak pa-pa," kata Sena lagi.
"Jangan lah, Mas. Nggak enak gue ngerepotin Lo," tolak Naura merasa sungkan.
"Gue nggak ngerasa direpotin kok. Tenang aja."
"Udah Nau, Lo pulang bareng Rey aja. Rey nya kan juga nggak keberatan," kata Syafiq.
"Iya Nau, daripada Lo pulang sendirian, lebih aman kan kalau bareng sama Rey," sambung Sena.
"Hmh, ya udah deh kalau gitu. Gue pulang bareng Mas Rey. Sorry ya Mas jadi ngerepotin," kata Naura pada akhirnya.
"Santai aja kali, Nau. Nggak ngerepotin kok. Ya udah kalau gitu, kita pamit dulu ya Sena, Bos," pamit Rey sekali lagi.
"Oke Rey, hati-hati," balas Syafiq.
"Dah, bestie," kata Naura seraya memeluk Sena.
"Thanks ya, Nau. Hati-hati kalian berdua," balas Sena.
Naura dan Rey mengangguk, kemudian keduanya berbalik dan meninggalkan Sena dan Syafiq.
"Dasar. Pinter banget sih kalian memanfaatkan kesempatan," kata Sean yang tiba-tiba datang bersama Sonia.
Ya, Sean dan Sonia melihat dan mendengar semua yang terjadi tadi.
"Apaan sih, Bang. Kan kita cuma bantuin mereka buat PDKT. Niat kita baik loh," balas Syafiq.
"Alesan aja Lo. Jangan dikira Abang nggak tau ya."
"Hehe, apa sih Bang yang bisa gue sembunyiin dari Lo," kata Syafiq dengan cengiran khasnya.
Mereka berempat pun tertawa bersamaan.
"Oh iya, lusa Abang sama Sonia mau honeymoon ke Lombok. Kalian mau ikut sekalian nggak? Kalau iya, biar Abang reservasi-in sekalian. Atau mau ada destinasi sendiri? Bilang aja ke Abang, biar nanti Abang yang siapin semuanya," tanya Sean menawarkan.
Sena dan Syafiq saling memandang satu sama lain. Dan lagi-lagi, mereka seolah bisa mengerti maksud dari tatapan mereka masing-masing.
"Makasih sebelumnya Bang. Tapi kayaknya gue sama Sena nanti aja deh. Sena udah ketinggalan banyak mata kuliahnya," tolak Syafiq halus.
"Iya Bang, aku mau fokus ngejar ketinggalan aku dulu, biar bisa lulus tahun ini," imbuh Sena juga.
"Oh, ya udah kalau gitu," balas Sean.
"Hmh, sayang banget ya, kirain kita bisa pergi sama-sama," kata Sonia menyayangkan.
"Maaf ya, Bang, Mbak," sesal Sena merasa tidak enak hati.
__ADS_1
"Nggak pa-pa kok, Sen. Tenang aja. Pendidikan kamu juga lebih penting," balas Sonia seraya tersenyum lembut dan memegang pundak kanan Sena.
Sena membalas senyuman Sonia dengan canggung. Sena masih merasa tidak enak hati karena sudah menolak niat baik kedua kakak iparnya itu. Sementara Syafiq menggelengkan kepalanya pelan, yang dibalas anggukan kepala sekilas oleh Sean. Kedua kakak beradik itu seakan berkomunikasi melalui tatapan mata mereka yang berbicara satu sama lain.