
Sore itu Syafiq dan Sena sedang dalam perjalanan pulang.
"Kita mampir ke taman dulu yuk, kak!" ajak Sena tiba-tiba.
Syafiq mengernyitkan keningnya.
"Tumben? Mau ngapain?" tanya Syafiq dengan menoleh sekilas ke arah Sena.
"Yaa, pengen aja gitu. Itung-itung buat refreshing juga, nyegerin pikiran," jawab Sena.
"Hmh, okey," balas Syafiq yang seketika menerbitkan senyuman di bibir Sena.
Tidak lama kemudian Syafiq sudah menghentikan mobilnya di parkiran taman kota. Syafiq dan Sena kemudian turun dari mobil. Keduanya lalu berjalan bersisian memasuki area taman. Sena nampak menghirup udara dalam kemudian menghembuskannya perlahan.
"Udaranya seger banget. Dan juga kecium wangi bunga dimana-mana," kata Sena sumringah.
Syafiq mengulum senyum kecil melihat tingkah istrinya itu. Syafiq dan Sena berjalan-jalan di sekitar area taman tersebut. Ikut menikmati indahnya suasana taman sore itu bersama dengan orang-orang yang lainnya yang juga sedang berada di taman tersebut.
"Mau es krim?" tawar Syafiq ketika melihat ada gerobak penjual es krim yang stand by di salah satu sudut taman tersebut.
"Mau-mau-mau," jawab Sena antusias.
Syafiq tersenyum seraya mengusak puncak kepala Sena perlahan.
"Kamu duduk di kursi itu, biar kakak yang beliin buat kamu," kata Syafiq seraya menunjuk sebuah kursi taman yang kosong tidak jauh dari tempat mereka berdiri saat ini.
"Ikut,,," rajuk Sena dengan wajah memelas.
"Ya udah, ayok!" kata Syafiq mengiyakan.
"Yeay," pekik girang Sena.
Syafiq menggelengkan kepalanya beberapa kali mendapati tingkah kekanakan istrinya itu. Syafiq dan Sena kemudian menghampiri bapak penjual es krim berseragam warna merah itu.
"Coklat vanila dua ya, Pak," kata Syafiq menyebutkan rasa es krim favoritnya dan Sena.
"Baik, Mas," balas bapak penjual es krim tersebut.
"Aku boleh tiga nggak, kak?" pinta Sena.
"Jangan kebanyakan. Cuaca lagi nggak bersahabat juga. Sering tiba-tiba hujan. Kebanyakan makan es krim nanti kamu sakit," tolak Syafiq.
Sena mengerucutkan bibirnya.
"Dua deh kalau gitu. Ya kak, ya. Please,,," mohon Sena dengan mengatupkan kedua tangannya di depan dadanya.
Menghembuskan nafas kasar, akhirnya Syafiq menyetujui permintaan Sena tersebut.
"Ya udah. Tapi kali ini aja, ya."
"Yeay. Makasih kak," pekik Sena kegirangan. "Tambah satu yang rasa strawberry ya, Pak," pinta Sena kepada si bapak penjual es krim.
"Baik Mbak."
"Dasar rakus," cibir Syafiq.
__ADS_1
"Biarin, wleee," balas Sena seraya menjulurkan lidahnya.
Syafiq tersenyum dan menggelengkan kepalanya pelan. Bahkan si bapak penjual es krim pun ikut mengulum senyum kecil melihat perdebatan pasangan muda di depannya itu.
"Silahkan, Mas, Mbak," kata si bapak penjual es krim seraya menyerahkan dua es krim rasa coklat vanila dan satu es krim rasa strawberry.
Dengan sigap Sena segera menerima ketiga es krim cone tersebut.
"Makasih ya, Pak," kata Sena.
"Sama-sama Mbak."
Syafiq kemudian mengeluarkan selembar uang berwarna merah dari dompetnya kemudian menyerahkannya kepada si bapak penjual es krim tersebut.
"Makasih ya, Pak," kata Syafiq juga.
"Sama-sama Mas. Tunggu sebentar Mas, kembaliannya," balas si bapak penjual es krim yang hendak mengambil uang kembalian untuk Syafiq.
"Nggak usah, Pak. Buat bapak aja," potong Syafiq cepat.
"Eh, tapi Mas,,,"
"Nggak pa-pa, Pak. Anggap aja rezeki buat bapak," kata Syafiq lagi.
"Alhamdulillaah. Makasih banyak ya Mas kalau gitu. Saya do'akan semoga Mas dan Mbak rezekinya lancar dan bahagia selalu," do'a si bapak penjual es krim tulus.
"Aamiin, makasih do'anya ya, Pak," balas Syafiq dan Sena.
Syafiq dan Sena kemudian meninggalkan si bapak penjual es krim. Keduanya kemudian duduk di kursi taman yang kosong di dekat situ dan mulai menikmati es krim mereka. Sena yang menghabiskan dua buah es krim tentu saja membutuhkan waktu yang sedikit lebih lama daripada Syafiq.
"Eh, iyakah?"
Sena kemudian mengambil tisu dari dalam tas selempangnya lalu membersihkan tangan Syafiq terlebih dahulu, baru kemudian Sena mengambil tisu lagi untuk membersihkan bibirnya sendiri. Syafiq tersenyum kecil, hatinya menghangat, ada rasa haru tersendiri ketika melihat Sena yang lebih mementingkan dirinya daripada diri Sena sendiri itu.
Setelah menghabiskan es krim mereka, Syafiq dan Sena tidak langsung beranjak dari tempat duduk mereka saat ini. Keduanya masih duduk di kursi taman tersebut, menikmati waktu bersantai mereka sejenak. Sampai beberapa saat kemudian, tiba-tiba saja mulai turun hujan. Syafiq sudah melepas jasnya dan meninggalkannya di mobil tadi, jadi dia tidak bisa melindungi Sena dari air hujan yang turun dengan tiba-tiba itu.
"Ayo buruan. Kita balik ke mobil sebelum hujannya makin deres," kata Syafiq seraya bangun dan menarik tangan kanan Sena.
Namun diluar dugaan Syafiq, Sena tidak bergeming sedikitpun. Gadis cantik itu justru menengadahkan wajahnya dan menutup kedua matanya, merasakan gerimis air hujan yang mulai jatuh membasahi wajah cantiknya.
"Sena," hardik Syafiq.
Sena kemudian membuka kedua matanya dan menoleh ke arah Syafiq.
"Bentar kak. Aku pengen menikmati air hujan ini," kata Sena seraya tersenyum lembut.
"Sena! Jangan macem-macem deh. Kamu bisa sakit nanti," marah Syafiq.
"Ck. Kakak nggak asyik ah," rajuk Sena dengan wajah sendu.
Syafiq menyugar rambutnya ke belakang.
"Haish, anak ini," gerutu Syafiq pelan.
Namun ternyata Syafiq justru kembali mendudukkan dirinya di sebelah Sena. Senyum Sena seketika langsung mengembang.
__ADS_1
"Sebentar aja. Nggak boleh lama-lama," tegas Syafiq.
Sena menganggukkan kepalanya berulang kali seraya tersenyum senang. Sena dan Syafiq duduk bersama menikmati rintik air hujan yang mengguyur tubuh mereka berdua. Sekitar lima menit kemudian, ternyata hujan yang turun justru semakin deras.
"Cukup Sena. Hujannya udah makin deras. Kita pulang sekarang," tegas Syafiq tidak ingin dibantah lagi.
Sena mengerucutkan bibirnya. Tapi Sena juga tidak melawan ketika Syafiq kembali menarik tangan kanannya. Sena kemudian mengikuti langkah Syafiq yang setengah berlari menuju ke mobilnya di tempat parkir. Setelah keduanya masuk ke dalam mobil, Syafiq kemudian mulai melajukan mobilnya tersebut.
"Kita pulang ke apartemen dulu ya. Lebih dekat juga dari sini. Biar kita bisa cepet mandi dan ganti baju. Biar nggak sakit," kata Syafiq seraya mengemudikan mobilnya.
Sena hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
"Lagian kalau kita pulang dalam keadaan basah kuyup kayak gini, Bunda pasti jadi khawatir," lanjut Syafiq.
"Maaf," sesal Sena dengan menundukkan wajahnya, merasa bersalah sudah mengajak Syafiq untuk hujan-hujanan tadi.
Syafiq hanya tersenyum kemudian mengusap kepala Sena beberapa kali.
πΊπΊπΊ
Sesampainya di gedung apartemen, Syafiq dan Sena segera naik menuju ke unit apartemen mereka. Dan sungguh sebuah kebetulan, ketika Syafiq hendak membuka pintu apartemennya, tiba-tiba saja pintu sudah terbuka dari dalam. Rupanya itu Mbak Sumi yang hendak pulang setelah selesai dengan tugas-tugasnya di apartemen mereka itu.
"Loh, Den Syafiq, Non Sena?" tanya Mbak Sumi terkejut.
"Mbak Sumi," sapa Syafiq dan Sena bersamaan.
"Eh, ini kenapa, kok pada basah kuyup gini?" tanya Mbak Sumi heran.
"Oh, nggak pa-pa kok, Mbak. Tadi ada anak kecil yang minta buat hujan-hujanan. Kasihan kalau nggak diturutin, udah mau nangis tadi dia," jawab Syafiq.
Sena menundukkan wajahnya, merasa malu kepada Mbak Sumi karena sindiran halus dari Syafiq tadi.
"Oh gitu. Ya udah, Aden dan Non buruan mandi terus ganti baju, biar nggak sakit. Mbak buatkan minuman hangat dulu, yuk," kata Mbak Sumi kemudian.
"Eh, nggak usah Mbak. Biar nanti Sena buat sendiri aja. Mbak Sumi kan udah mau pulang juga," tolak Sena halus.
"Nggak pa-pa, Non. Cuma sebentar aja kan," balas Mbak Sumi.
"Nggak usah Mbak. Mbak Sumi pulang aja nggak pa-pa. Nanti biar kita buat sendiri aja," kata Syafiq juga.
Hafal dengan sifat majikannya yang tidak suka dibantah, akhirnya Mbak Sumi pun mengikuti keinginan kedua majikannya itu.
"Ya udah deh kalau gitu. Mbak pulang duluan ya, Den, Non. Mari, assalamu'alaikum," pamit Mbak Sumi pada akhirnya.
"Wa'alaikumsalam Mbak," balas Syafiq dan Sena bersamaan.
Mbak Sumi kemudian melanjutkan langkah untuk pulang sementara Syafiq dan Sena lalu masuk ke dalam apartemen mereka. Keduanya langsung bergegas naik ke lantai dua menuju ke kamar mereka. Sena langsung membuka pintu lemari dan mengambil handuk bersih dari dalam lemari tersebut.
"Ini kak," kata Sena seraya mengulurkan handuk bersih kepada Syafiq.
"Makasih. Kamu mandi disini aja, biar kakak mandi di kamar sebelah, biar nggak kelamaan," balas Syafiq seraya menerima handuk bersih dari Sena.
"Oh, oke," sahut Sena dengan menganggukkan kepalanya pelan.
Syafiq tersenyum dan mengusap kepala Sena lembut sebelum akhirnya berbalik dan keluar dari kamar mereka tersebut. Sena pun kemudian masuk ke dalam kamar mandi, hendak membersihkan tubuhnya yang mulai terasa dingin karena air hujan.
__ADS_1