Jerat Cinta CEO Arrogant

Jerat Cinta CEO Arrogant
Makan Malam Keluarga Besar


__ADS_3

Halaman samping rumah Steven sudah disulap sedemikian rupa untuk acara makan malam bersama keluarga besar mereka pada malam hari ini. Dari dulu memang Steven dan Sheila selalu rutin mengadakan jamuan makan malam keluarga seperti ini. Tentu saja dengan tujuan agar semuanya bisa berkumpul dan semakin mempererat hubungan persaudaraan di antara mereka semuanya.


Tetapi acara makan malam keluarga kali ini lebih spesial karena juga dimaksudkan untuk merayakan kelulusan Sena sebagai seorang sarjana.


Bima, Bella, Vira, dan Azka yang lebih dulu tiba di rumah Steven. Tidak lama kemudian Sean, Sonia, Suci, Sendy, dan Dennis pun juga sampai. Adrian, Safa, Opa Ricko, dan Oma Amelia menyusul di belakangnya. Dan yang terakhir datang adalah Andika, Anita, dan Alvin.


Saat ini semuanya sedang berkumpul di ruang tamu. Saling menyapa satu sama lain.


"Selamat ya, sayang. Akhirnya kami bisa lulus dengan nilai yang memuaskan," kata Bella seraya memeluk Sena.


"Makasih banyak, Ma," balas Sena.


"Maaf ya kemarin nggak bisa datang. Ada rapat penting di sekolahnya Azka. Papa kamu juga kebetulan pas masih di luar kota, ngurusin supplier. Maaf banget ya, sayang," sesal Bella.


"Nggak pa-pa kok, Ma. Sena ngerti kok. Lagian kan kemarin juga Sena udah ditemenin sama kak Syafiq, Ayah, Bunda, dan yang lainnya juga. Jadi nggak masalah," balas Sena menenangkan ibunya yang terlihat sangat menyesal itu.


"Syukurlah kalau begitu," kata Bella lega.


"Selamat ya, nak. Papa bangga sama kamu," kata Bima juga.


"Iya, Pa. Makasih."


"Kakak,,," Vira dan Azka langsung menghambur dan memeluk Sena secara bersamaan.


Syafiq, Bima, Bella, dan yang lainnya hanya bisa tertawa kecil melihat tingkah kedua adik Sena itu.

__ADS_1


"Selamat ya, kak. Kakak berhasil lulus dengan nilai yang baik. Semoga nanti aku juga bisa kayak kakak, ya," kata Vira setelah pelukan mereka terlepas.


"Aamiin. Makasih ya, Vir. Kakak yakin kalau kamu nanti juga pasti bisa lulus dengan nilai yang baik kok," balas Sena.


"Aamiin," kata Vira meng-amin-kan.


"Azka kangen banget sama kakak," rajuk Azka yang sudah kembali memeluk Sena dari samping.


"Lebay kamu, Dek. Kakak kan sering pulang. Kalau kangen juga kamu kan bisa main kesini, Dek," kata Sena seraya menepuk pelan lengan adik laki-lakinya itu.


Satu per satu yang lain pun juga memberikan ucapan selamat kepada Sena atas kelulusannya. Setelah itu Sheila kemudian mengajak mereka semua untuk langsung menuju ke halaman samping rumahnya.


Acara makan malam bersama keluarga besar itu berlangsung dengan begitu hangat. Dan saat ini mereka semua sedang menikmati hidangan penutup seraya mengobrol bersama.


"Belum, Sa. Kenapa emangnya?" jawab Sena sekaligus bertanya balik.


"Syukurlah. Bantuin Safa di toko dong kak. Kak Sena kan pinter mengoperasikan komputer. Safa kewalahan banget belakangan ini. Soalnya kak Lathifah lagi ngidam, morning sickness-nya parah kata kak Kenzie. Jadi untuk sementara ini kak Lathifah mundur dulu dari urusan toko. Safa sama kak Raindyta kan pegang toko sendiri-sendiri, jadi kak Rain nggak bisa bantuin Safa," kata Safa menjelaskan.


"Iya, Sen. Mbak juga sering datang ke toko kok, nemenin Safa. Jadi nanti sekalian kita bisa kumpul sambil bantuin Safa," lanjut Sonia juga.


"Sena sih mau-mau aja Mbak, Sa. Kan memang nggak ada kesibukan juga. Tapi ya tetep harus ijin ke kak Syafiq dulu. Gimana kak, boleh enggak aku bantuin Safa di toko kuenya?" tanya Sena menoleh ke arah Syafiq.


Syafiq tersenyum kemudian menggenggam tangan kanan Sena.


"Boleh dong, sayang. Seperti yang udah kakak bilang kemarin, apapun keputusan kamu pasti kakak dukung," jawab Syafiq.

__ADS_1


"Makasih, kak," balas Sena ikut tersenyum.


"Sama-sama, sayang."


"Jadi, kak Sena mau kan?" sekali lagi Safa bertanya untuk memastikan.


"Oke, Sa. Insya Allah kakak bantuin, ya," jawab Sena.


"Yes. Alhamdulillaah. Akhirnya Safa nggak perlu bingung-bingung lagi mikirin masalah data di komputer. Makasih ya, kak," kata Safa girang.


"Sama-sama, Sa. Tapi nanti kakak diajarin dulu, ya. Kan kakak belum tau gimana cara kerja di tempat kamu," pinta Sena.


"Oke kak, aman pokoknya," balas Safa.


"Hebat ya kalian bertiga. Bisa rukun dan saling membantu gini. Oma salut deh sama kalian bertiga," puji Oma Amelia.


"Harus dong, Oma. Kita bertiga kan saudara. Dan sesama saudara itu harus rukun, saling membantu, dan saling melindungi. Saling mengingatkan juga kalau ada yang salah," kata Safa mantap.


Yang lain pun ikut tersenyum, menyetujui perkataan Safa tadi.


"Kalian beruntung Shei, Steve, memiliki tiga putri seperti mereka," puji Opa Ricko juga.


"Bukan hanya kami berdua, Pa. Tapi kami semua. Ada Mbak Suci, Bima dan Bella, juga Bang Dika dan Mbak Anita. Kami semua sebagai orang tua merasa sangat bangga karena memiliki putri seperti mereka bertiga," kata Sheila tersenyum penuh kebanggaan.


Semua yang ada di meja makan tersebut pun mengangguk membenarkan perkataan Sheila itu. Sean, Syafiq, dan Adrian tersenyum seraya menggenggam lembut tangan istri mereka masing-masing. Merasa sangat bangga terhadap istri mereka, penguasa hati mereka masing-masing.

__ADS_1


__ADS_2