
"Aaarrrggghhh, Sena,,," teriak Syafiq dengan menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Sena ketika pelepasan itu kembali dia peroleh untuk yang ketiga kalinya.
"Kak, aaaaahhh,,," sementara Sena hanya mampu melenguh panjang menikmati pelepasannya, sudah terlalu lelah untuk berteriak lagi.
Tubuh Sena kembali mengejang, merasakan kembali kenikmatan baru yang benar-benar membuat dirinya seolah terbang ke nirwana. Nafas keduanya sama-sama memburu. Tubuh keduanya juga sangat basah karena bermandikan keringat. Dan pergulatan keduanya baru selesai ketika jam menunjukkan hampir pukul satu dini hari.
Syafiq mengangkat wajahnya dari ceruk leher Sena kemudian mencium kening istri cantiknya itu penuh sayang.
"Terima kasih banyak, sayang. Terima kasih," ucap Syafiq dengan nafas yang masih ngos-ngosan.
Sena tak kuasa untuk menjawab. Dirinya masih merasa sangat lemas saat ini, bahkan untuk sekedar membuka matanya saja rasanya sangat berat. Tidak ingin istrinya menahan beban berat tubuhnya lebih lama lagi, Syafiq pun kemudian melepas penyatuan mereka perlahan. Sena terlihat meringis pelan ketika Syafiq menarik diri dari dalam tubuh Sena.
Syafiq kemudian membaringkan tubuhnya di sebelah Sena. Ditariknya tubuh lemas istrinya itu ke dalam pelukannya. Syafiq kembali mencium kening Sena penuh sayang. Menguatkan hatinya sendiri, Syafiq sadar, mau tidak mau dia harus menceritakan kebenaran itu sekarang.
"Terima kasih ya, sayang, sudah memberikan pengalaman pertama yang sangat menakjubkan ini kepada kakak," ucap Syafiq.
Seketika Sena membuka kembali kedua matanya. Perkataan Syafiq tadi mengingatkan Sena tentang semua pertanyaan yang memenuhi pikirannya tadi.
"Ini juga yang pertama untuk aku kan, kak?" tanya Sena ingin memastikan.
"Iya," jawab Syafiq singkat.
"Jadi malam itu?" tanya Sena kaget dan bingung.
"Malam itu kakak hanya menggunakan tangan dan mulut kakak untuk membantu kamu," jujur Syafiq.
Sena melemas di dalam pelukan Syafiq. Kenyataan yang baru saja didengarnya itu benar-benar membuat Sena syok.
"Awalnya kakak memang sempat terbuai. Tapi kemudian kesadaran kakak berhasil kakak raih kembali. Kakak tidak boleh menghancurkan masa depan kamu. Itu kenapa sekuat tenaga kakak menahan diri kakak sendiri."
"Lalu kenapa kakak ngotot buat nikahin aku, kalau memang kakak nggak mengambil kesucian aku?"
"Karena kakak ingin melindungi kamu. Kakak nggak mau melihat kamu menderita lagi. Karena kakak yakin, ketika si penghasut itu tau kalau rencananya sudah gagal, dia pasti akan kembali membuat rencana-rencana lain untuk menyakiti kamu lagi."
Sena terdiam. Pikirannya seakan kosong. Semuanya ini terlalu mengejutkan untuk Sena. Tapi kemudian Sena mengingat satu hal.
"Apa Papa tau tentang semua ini?" tanya Sena penasaran.
"Ya. Papa tau."
"Lalu kenapa Papa juga maksa aku buat nikah sama kakak?"
"Karena Papa juga setuju dengan pemikiran kakak. Papa juga ingin melindungi kamu. Dan Papa juga percaya kalau kakak bisa melindungi kamu."
"Astaga," lirih Sena.
"Tolong maafkan kakak, Sena. Maaf karena kakak sudah membohongi kamu. Tapi sungguh, kakak melakukan semua ini hanya untuk melindungi kamu. Kakak nggak ingin melihat kamu menderita lagi. Karena kakak sayang sama kamu Sena," ucap Syafiq yang semakin mengeratkan pelukannya kepada Sena.
Sena hanya mampu terdiam, tidak kuasa untuk menjawab. Sena sendiri masih bingung harus bagaimana menyikapi semuanya ini.
"Sekali lagi tolong maafkan kakak, Sena. Kamu mau kan maafin kakak?"
Sesaat Sena masih terdiam dan tidak menjawab pertanyaan dari Syafiq. Sementara Syafiq menunggu dengan harap-harap cemas.
__ADS_1
"Sena butuh waktu untuk mencerna semuanya ini kak," lirih Sena pada akhirnya.
"Ya. Kakak bisa memahami hal itu," balas Syafiq pasrah. "Sudah larut malam, kita tidur ya. Kamu juga pasti capek banget kan."
Sena menganggukkan kepalanya pelan di dada Syafiq.
"Selamat malam istriku sayang," kata Syafiq yang kemudian kembali mencium kening Sena.
Sena masih diam saja dan tidak menjawab. Syafiq mencoba memahami kalau istrinya itu membutuhkan waktu untuk bisa menerima semua kebenaran ini. Tidak butuh waktu lama, Syafiq pun akhirnya tertidur karena merasa sangat lelah setelah aktivitas panjang mereka tadi.
πΊπΊπΊ
Sena yang tidak mampu untuk memejamkan kedua matanya walaupun hanya sebentar, akhirnya pelan-pelan melepaskan diri dari pelukan Syafiq. Sedikit terusik, tapi untungnya Syafiq tidak terbangun. Sena meringis pelan ketika menggerakkan tubuhnya untuk turun dari tempat tidur.
"Ssshhh,,, astaga, perih sekali," lirih Sena.
Perlahan-lahan Sena memaksa dirinya untuk turun dari tempat tidur dan berjalan pelan menuju kamar mandi. Sena kemudian merendam tubuhnya di dalam bathtub. Merilekskan sejenak tubuhnya.
'Yaa Allah, ternyata ada rahasia sebesar ini dan aku baru mengetahuinya sekarang. Kecewa? Tentu aku merasa sangat kecewa. Bisa-bisanya kak Syafiq membohongiku mengenai masalah ini. Dan bahkan Papa juga mengetahuinya dan menyetujuinya. Oh, astaga. Apa yang harus aku lakukan sekarang, Yaa Allah? Aku benar-benar butuh waktu untuk menenangkan diri sendiri dulu dan memikirkan masalah ini baik-baik.'
Setelah cukup lama, Sena kemudian mengakhiri acara berendamnya. Sena lalu membilas tubuhnya dan mandi junub di bawah pancuran shower.
Selesai mandi, kebetulan sudah masuk waktu sholat subuh. Sena kemudian mengambil wudhu dan melaksanakan sholat subuh. Selesai sholat dan melipat kembali mukenanya, Sena sempat memandang wajah Syafiq yang sedang terlelap. Tatapan mata Sena sangat sendu, antara tidak rela dan menahan beban pikiran.
"Maaf, kak," lirih Sena.
Sena kemudian melangkahkan kakinya keluar dari kamar tersebut dan pergi.
πΊπΊπΊ
Matahari sudah mulai merangkak naik. Aktivitas di sekitar taman tersebut pun sudah mulai ramai. Namun hal itu tetap tidak bisa mengalihkan perhatian Sena dari lamunannya.
Tidak jauh dari tempat Sena duduk,
"Gimana menurut Lo, enak kan bubur ayamnya?" tanya Rey kepada Naura.
Rey dan Naura baru saja selesai sarapan bubur ayam bersama di sekitar area taman tersebut.
"Hmm, iya, Mas. Rasanya beda sama bubur ayam di tempat lain. Lebih gurih, lebih mantep," jawab Naura.
"Apa gue bilang, Lo pasti suka. Ini tuh bubur ayam langganan gue sejak masih kuliah dulu."
"Iya-iya, gue akuin gue salah deh. Sorry kemarin sempat nggak percaya," sesal Naura.
"It's okey," balas Rey dengan mengusap lembut kepala Naura.
Keduanya kemudian tersenyum bersama. Sampai akhirnya, tiba-tiba saja pandangan Naura tertuju ke arah Sena. Naura sampai memicingkan kedua matanya untuk mempertajam penglihatannya sendiri.
"Kenapa Nau?" tanya Rey bingung.
"Eh, Mas, itu kayak Sena bukan sih?"
"Mana?" tanya Rey yang kemudian mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Sena.
__ADS_1
"Itu, yang lagi duduk di kursi taman," jawab Naura seraya menunjuk ke arah kursi dimana Sena sedang duduk saat ini.
Sesaat Rey ikut memperhatikan baik-baik.
"Eh, iya, itu Sena," kata Rey setelah memperhatikan dengan jelas. "Tumben tuh anak ada disini jam segini?"
"Samperin yuk, Mas," ajak Naura yang langsung menarik tangan Rey untuk mengikutinya.
Naura dan Rey kemudian menghampiri Sena.
"Sena," panggil Naura setelah berada di dekat Sena.
Sena nampak terlonjak kecil. Tersadar dari lamunannya, Sena kemudian menolehkan kepalanya ke arah sumber suara yang memanggilnya.
"Nau? Rey? Kalian berdua kok bisa ada disini?" tanya Sena terkejut begitu mengetahui kalau itu adalah Naura dan Rey.
"Gue habis sarapan bubur ayam sama Mas Rey di sekitar sini. Lo sendiri ngapain duduk ngelamun disini sendirian?" jawab Naura sekaligus bertanya balik kepada Sena.
Mengesampingkan kegundahannya sejenak, Sena tidak ingin membuat Naura dan Rey ikut mengkhawatirkan dirinya. Sena berusaha untuk bersikap seperti biasanya saja saat ini.
"Oh, jadi diam-diam ada yang lagi pedekate nih ceritanya," goda Sena kepada Naura dan Rey.
Naura dan Rey pun seketika menjadi salah tingkah.
"A-apaan sih Lo, Sen," sangkal Naura gugup.
"Hmh, siapa ya yang dulu nolak waktu mau gue kenalin ke temen gue? Dia bilang dia masih laku kalau cuma mau cari cewek," goda Sena lagi, kali ini kepada Rey.
"Ah, sialan Lo, Sen. Iya-iya, gue akuin gue salah. Waktu itu kan gue nggak tau kalau temen Lo ternyata secantik dan sebaik Naura. Tau dari dulu, gue juga nggak bakalan nolak dong," balas Rey.
Sena kemudian menyemburkan tawanya mendengar pengakuan dari Rey. Sementara wajah Naura sudah memerah karena merasa malu.
"Udah ah, jangan ketawa lagi. Lo ngapain disini sendirian? Bos Syafiq mana?" tanya Rey kemudian.
Sena tidak menjawab. Diingatkan tentang Syafiq, seketika pikiran Sena kembali diingatkan pada kenyataan bahwa Syafiq sudah membohongi dirinya.
"Sen, Lo nggak pa-pa kan?" tanya Naura melihat wajah Sena yang berubah sendu.
Sena menghembuskan nafasnya pelan.
"Hmh,,, gue nggak pa-pa kok. Lo bawa mobil Rey?"
"Bawa."
"Sen, Lo lagi ada masalah, gue tau itu. Cerita dong Sen ke kita, siapa tau kita bisa bantuin Lo," kata Naura.
"Gue nggak bisa cerita sekarang. Tapi, kalau kalian emang mau bantuin gue, tolong anterin gue ke rumah Bang Sean sama Mbak Sonia. Dan tolong, kalian jangan bertanya apa-apa dulu, gue belum bisa jawab-nya," balas Sena.
Naura dan Rey saling berpandangan. Rey kemudian menganggukkan kepalanya pelan, memberi isyarat kepada Naura untuk mengikuti keinginan Sena.
"Okey. Yuk, kita anterin Lo ke rumah bos Sean," kata Rey pada akhirnya.
Sena menganggukkan kepalanya. Sena bangun dari duduknya dan langsung digandeng oleh Naura. Ketiganya kemudian melangkah meninggalkan taman tersebut.
__ADS_1