
"Kenapa sayang?" tanya Adrian heran seraya menolehkan kepalanya ke arah Safa.
Safa tiba-tiba saja menarik tangan Adrian dan menghentikan langkah mereka berdua ketika mereka hendak menaiki undakan tangga menuju ke teras cottage.
"Kalau mereka belum selesai gimana?" tanya Safa dengan raut wajah memelas.
Adrian tersenyum mendengar pertanyaan dari gadis pujaannya itu. Memutar tubuhnya menghadap ke arah Safa, Adrian kemudian membingkai wajah cantik Safa menggunakan kedua tangannya.
"Terus kamu maunya gimana, hmm?" tanya Adrian lagi menanyakan pendapat Safa.
"Mmm,,," Safa nampak berpikir sejenak. "Kita duduk di teras dulu aja ya, Mas. Mas Rian temenin Safa ngobrol. Nanti kalau Safa udah ketiduran, baru deh Mas Rian gendong Safa ke dalam, hehe," usul Safa yang diakhiri dengan cengirannya.
"Dasar," cibir Adrian seraya mencubit hidung Safa.
Keduanya tertawa bersamaan.
"Iya deh, Mas temenin kamu ngobrol sampai kamu ketiduran. Yuk, kita duduk di situ."
Adrian kemudian mengajak Safa untuk duduk di undakan tangga teras cottage tersebut. Keduanya duduk bersisian seraya kembali menikmati pemandangan indah bulan purnama.
"Sayang," panggil Adrian.
"Hmm," jawab Safa dengan bergumam.
Safa kembali menyandarkan kepalanya di bahu kokoh Adrian serta memeluk lengan kiri kekasih hatinya itu.
"Setelah kita nikah nanti, kamu mau honeymoon kemana?" tanya Adrian memulai obrolan mereka berdua.
"Safa sih pengen ke Venice, Mas. Naik gondola sambil menikmati indahnya sunset berdua sama Mas Rian. Uuuhhhh, pasti romantis banget deh," jawab Safa seraya memejamkan kedua matanya, membayangkan suasana romantis yang baru saja diucapkannya tadi.
"Venice ya? Boleh juga."
"Tapi kalau Mas Rian masih sibuk dengan urusan kantor, honeymoon-nya kita undur juga nggak pa-pa kok, Mas. Safa tau kalau saat ini perusahaan lagi banyak project. Ini aja Mas Rian sama Abang juga nyempetin banget kan waktunya. Kalian bahkan sampai lembur beberapa malam kemarin untuk nyelesai-in kerjaan sebelum ditinggal liburan ini, iya kan?"
"Tau darimana?" tanya Adrian heran.
"Sonia yang cerita. Beberapa malam kemarin tiap kali Safa telepon juga Mas pasti lagi nyelesai-in kerjaan kan. Jadi ya Safa tau lah."
"Emang lagi ada beberapa proyek baru sih sayang. Tapi insya Allah untuk honeymoon nanti Mas udah ajuin cutinya juga kok. Ya walaupun cuma seminggu juga sih."
"Jangan dipaksain, Mas. Daripada nanti kerjaan Mas malah jadi keteteran."
"Enggak kok, sayang. Insya Allah nanti Rizky masih bisa handle semuanya, kan dibantuin Sean sama Nadirga juga. Lagian, Sean juga kok kemarin yang nyaranin kayak gitu. Katanya jangan diundur-undur, mumpung moment bahagianya juga masih hangat-hangatnya, gitu katanya."
__ADS_1
"Oh, ya udah deh kalau gitu. Safa ngikut aja," balas Safa yang sudah mulai merasa nyaman dan mengantuk.
"Iya, pokoknya kamu serahin aja semuanya sama Mas Rian, ya."
Safa mengangguk pelan di bahu Adrian, antara sadar dan tidak, karena sudah semakin larut dalam kantuknya.
"Terus sayang, untuk mahar kamu nanti, kamu mau minta mahar apa sama Mas Rian? Nggak usah ragu, bilang aja sayang. Apapun yang kamu minta, insya Allah Mas akan berusaha sekuat tenaga untuk memenuhinya."
Hening. Merasa tidak mendapatkan respon dari Safa, Adrian pun kemudian menolehkan kepalanya ke arah Safa.
"Sayang," panggil Adrian.
Adrian melihat Safa yang sudah terlelap di bahunya.
"Hmh, sudah tidur rupanya," lirih Adrian.
Adrian kemudian merubah posisinya lalu mengangkat tubuh Safa pelan-pelan ke dalam gendongannya. Untungnya Safa tidak terusik, hanya sedikit menggeliat di dalam gendongan Adrian. Setelah itu Adrian pun kemudian membawa Safa yang berada dalam gendongannya untuk masuk ke dalam cottage.
Perlahan Adrian membuka pintu kamar Safa. Memasuki kamar Safa, Adrian kemudian meletakkan tubuh Safa di atas tempat tidurnya secara perlahan-lahan. Menyelimuti tubuh gadis pujaannya itu, Adrian kemudian mencium kening Safa penuh sayang.
"Selamat malam, sayang. Tidur yang nyenyak ya," lirih Adrian.
Adrian kemudian berbalik dan berjalan hendak keluar dari kamar Safa.
"Mas Rian ngapain keluar dari kamar Safa?" hardik Syafiq.
Adrian sedikit berjengit karena terkejut mendengar suara Syafiq tadi.
"Apaan sih, Fiq. Gue nggak ngapa-ngapain kok," jawab Adrian tenang.
"Apanya yang nggak ngapa-ngapain? Jam berapa ini? Mas Rian ngapain tengah malam kayak gini keluar dari kamar Safa?" tanya Syafiq lagi penuh selidik.
"Ck. Gue tadi jalan-jalan keluar sebentar sama Safa. Terus Safa ketiduran pas kita lagi ngobrol di teras. Jadi ya udah deh, gue gendong dia terus bawa ke kamarnya. Udah itu aja," jawab Adrian menjelaskan.
"Bohong. Jangan cari alesan deh, Mas," sergah Syafiq masih belum percaya.
"Beneran, Fiq. Gue nggak bohong."
"Halah, nggak usah ---"
"Cukup, Fiq," lerai Sean, memotong perkataan Syafiq.
Sean langsung keluar dari kamarnya begitu mendengar suara Syafiq yang bernada tinggi tadi.
__ADS_1
"Bang, Mas Rian baru aja keluar dari kamar Safa. Tengah malam kayak gini, Bang. Ngapain coba kalau nggak berniat yang enggak-enggak," kata Syafiq berapi-api.
"Adrian sama Safa nggak ngapa-ngapain. Abang tau itu," balas Sean tenang.
"Apanya yang nggak ngapa-ngapain? Darimana Abang tau? Kenapa Abang bisa seyakin itu coba?" tanya Syafiq bertubi-tubi.
"Abang sempat buntutin mereka berdua tadi. Mereka memang cuma jalan-jalan di sekitar pantai terus ngobrol di teras. Safa pasti ketiduran, itu kenapa Adrian bawa Safa ke kamarnya. Dan itu juga kenapa Adrian keluar dari kamar Safa jam segini," jawab Sean menjelaskan kepada Syafiq.
Adrian sedikit kaget mengetahui ternyata tadi Sean sempat membuntuti dirinya dan Safa.
'Jangan-jangan Sean juga lihat pas gue hampir kebablasan tadi? Sial. Duh, siap-siap kena marah deh gue.'
"Abang serius?" tanya Syafiq meyakinkan.
"Serius. Tadi Abang lihat dengan mata kepala Abang sendiri."
"Oh, ya udah deh kalau gitu," kata Syafiq akhirnya memilih mengalah. "Sorry ya, Mas. Gue sempet curiga dan nuduh Lo yang enggak-enggak."
"It's okey," balas Adrian. "Makanya, lain kali kalian kalau main pelan dikit. Lihat situasi dan kondisi, cottage ini cuma rumah kayu, nggak kedap suara. Pikirin kita juga yang belum halal ini," lanjut Adrian to the point.
Syafiq nampak terkejut dan merasa tertohok dengan perkataan Adrian tadi. Sementara Sean hanya diam saja. Dalam hati Sean mengakui kalau mereka memang bersalah dalam hal ini.
"Sorry deh, Mas," sesal Syafiq dengan mengusap tengkuknya yang tidak gatal.
"Hmm," balas Adrian bergumam. "Udah malem, gue mau tidur dulu. Kalian berdua juga pasti capek kan habis tempur."
"Oke. Gue juga masuk dulu ya kalau gitu. Duluan ya, Bang, Mas," pamit Syafiq.
Sean dan Adrian menganggukkan kepala mereka sebagai jawaban. Syafiq kemudian masuk ke dalam kamarnya, meninggalkan Sean dan Adrian berdua.
"Lo juga lain kali lebih kontrol, jangan sampai kebablasan lagi kayak tadi," tegur Sean pelan kepada Adrian setelah Syafiq masuk ke dalam kamarnya.
Kali ini giliran Adrian yang merasa tertohok dengan perkataan Sean.
"Sorry deh, Bro. Beneran khilaf tadi gue. Kebawa suasana," sesal Adrian.
"It's okey. Tapi nggak ada lain kali," peringat Sean tegas.
"Insya Allah, gue janji kedepannya gue lebih kontrol diri lagi," janji Adrian meyakinkan.
"Gue pegang janji Lo. Ya udah, masuk gih, udah malem. Gue juga mau masuk dulu," kata Sean.
"Oke," balas Adrian.
__ADS_1
Sean dan Adrian pun kemudian masuk ke dalam kamar masing-masing. Dalam hati Adrian sangat mengagumi kedua sahabatnya itu. Sean dan Syafiq sudah menepati janji mereka kepada orang tua mereka untuk bertanggung jawab dalam menjaga adik perempuan mereka, Safa, meski dengan cara mereka sendiri-sendiri.