Jerat Cinta CEO Arrogant

Jerat Cinta CEO Arrogant
Keanehan Sikap Sena


__ADS_3

Hari ini Syafiq pulang jam delapan malam karena lembur menyelesaikan beberapa pekerjaan yang mendesak harus segera dirampungkan.


"Assalamu'alaikum," salam Syafiq seraya membuka pintu kamarnya.


Syafiq mengernyitkan keningnya, didapatinya Sena sudah tertidur di atas tempat tidur mereka.


'Hmh? Tumben jam segini udah tidur?' batin Syafiq.


Syafiq berjalan menghampiri ranjang. Dilihatnya Sena benar-benar sudah pulas dalam tidurnya. Syafiq kemudian mencium kening Sena pelan.


"Capek banget kelihatannya," lirih Syafiq seraya tersenyum.


Tidak ingin mengganggu tidur lelap istrinya itu, Syafiq kemudian meninggalkan Sena. Syafiq lalu masuk ke dalam kamar mandi dan membersihkan dirinya.


🌺🌺🌺


Tidur lelap Syafiq terusik ketika dirinya merasakan ada seseorang yang menciuminya dan membelai rambutnya berulang kali. Perlahan-lahan Syafiq mulai mencoba untuk membuka matanya.


Mengerjapkan kedua matanya beberapa kali, mencoba menyesuaikan dengan cahaya lampu kamar, samar-samar akhirnya Syafiq bisa melihat Sena yang sedang berbaring tengkurap di atas dadanya dan melihat ke arah dirinya.


Cup.


Sekali lagi Sena mengecup bibir Syafiq.


"Sayang," panggil Syafiq dengan suara serak khas bangun tidur.


"Maaf ya kak, semalam kakak pulang aku udah tidur," sesal Sena. "Maaf juga karena sekarang aku bangunin kakak kayak gini."


"Hmm, nggak pa-pa kok, sayang. Kakak tau kamu pasti capek, makanya tidur duluan," balas Syafiq, mulai terkumpul kesadarannya.


"Terus kenapa kakak nggak bangunin aku?"


"Tidur kamu pules banget. Kakak nggak tega lah buat bangunin kamu."


Sena tersenyum mendengar perkataan Syafiq. Syafiq pun membalas senyuman istrinya itu.


"Terus kenapa sekarang kamu bangunin kakak? Ini masih jam tiga pagi loh?" tanya Syafiq setelah melihat jam dinding yang tergantung di dinding kamar mereka.


"Mmm, kak,,," panggil Sena ragu-ragu seraya memainkan jari telunjuknya membentuk pola abstrak di dada Syafiq.

__ADS_1


"Iya. Kenapa?"


"Aku pengen," lirih Sena, pelan sekali.


"Hmh, maksud kamu gimana, sayang?" tanya Syafiq bingung.


"Iiihhh, kakak mah," gerutu Sena kesal. "Pengen itu." lanjut Sena masih ambigu.


"Pengen apa sih, sayang?" tanya Syafiq semakin bingung.


Bugh.


Sena memukul pelan dada Syafiq.


"Kakak iiisshh. Ya udah deh, karena aku yang pengen jadi biar aku yang pegang kendali. Pokoknya kakak harus nurut dan nggak boleh banyak protes," kesal Sena.


Secepat kilat Sena kemudian mencium bibir Syafiq me lu mat nya dengan ganas. Syafiq yang masih bingung sempat kaget karena tiba-tiba mendapat serangan mendadak dari istrinya itu. Tetapi sesaat kemudian akhirnya Syafiq paham, ternyata yang dimaksud oleh Sena tadi adalah bahwa dia ingin melakukan hubungan suami istri dengan Syafiq.


Syafiq tersenyum kecil dalam ciumannya. Menuruti perkataan istrinya tadi, akhirnya pagi itu Syafiq benar-benar pasrah dengan apapun yang dilakukan oleh Sena. Sesuai dengan keinginannya, Sena benar-benar memegang penuh kendali permainan mereka pagi itu.


🌺🌺🌺


Syafiq benar-benar dibuat heran dengan keanehan tingkah laku Sena beberapa hari belakangan ini. Selepas sholat isya' Sena pasti selalu meminta ijin untuk tidur terlebih dahulu. Dan seringkali pagi harinya Syafiq akan mendapatkan serangan fajar dari istri cantiknya itu.


Malam inipun juga begitu. Begitu kembali dari ruang kerjanya, Syafiq mendapati Sena sudah terlelap tidur di atas tempat tidur mereka.


Tidak ingin mengganggu tidur istrinya itu, Syafiq kemudian memutuskan untuk turun ke bawah.


Syafiq menghampiri Steven dan Sheila yang sedang menonton televisi bersama di ruang keluarga.


"Sena udah tidur ya, kak?" tanya Sheila.


"Iya, Bun," jawab Syafiq seraya mendudukkan dirinya di sofa tunggal di sebelah kedua orang tuanya itu.


"Kakak heran deh, Bun. Belakangan ini kok Sena selalu tidur lebih awal ya? Udah gitu pagi harinya dia pasti jadi bersemangat banget," kata Syafiq mengutarakan kebingungannya.


"Coba kamu telepon adek kamu. Tanyain, apa di toko lagi sibuk-sibuknya," saran Steven.


"Eh, iya juga ya, Yah. Bentar, kakak telepon Safa dulu."

__ADS_1


Syafiq kemudian mengeluarkan ponselnya kemudian mendial nomor Safa.


"Speaker kak," pinta Sheila.


"Iya, Bun," balas Syafiq yang kemudian memencet tombol loud speaker pada ponselnya.


"Halo. Assalamu'alaikum, kak."


"Wa'alaikumsalam, Dek."


"Tumben telepon malem-malem. Ada apa, kak?"


"Dek, kakak mau tanya, di toko belakangan ini lagi repot banget ya?"


"Hmh, enggak kok, kak. Justru malah semenjak ada Ayesha, kerjaan Safa sama kak Sena jadi ringan banget. Emangnya kenapa sih kak, kok nanya gitu?"


Syafiq, Steven, dan Sheila sama-sama mengernyitkan keningnya begitu mendengar jawaban dari Safa itu.


"Beberapa hari ini Sena selalu tidur lebih awal, kayak kecapekan banget gitu, makanya kakak tanya sama kamu, Dek."


"Eh, iyakah? Tapi di toko justru nggak ada banyak kerjaan kok, kak. Ayesha banyak bantu banget soalnya. Eh, tunggu-tunggu, tapi emang beberapa hari belakangan ini nafsu makan kak Sena juga jadi bertambah lebih banyak loh kak, nggak kayak biasanya. Seringkali habis makan siang, kak Sena pasti buat sandwich telur. Safa aja juga sering ikut makan soalnya."


Syafiq semakin mengerutkan keningnya.


"Sandwich telur?"


"Iya kak, sandwich telur kesukaan kakak itu."


"Tapi Sena kan nggak begitu suka sandwich telur. Selama ini dia cuma suka buatnya aja, tapi nggak pernah ikut makan, karena nggak suka sama amisnya, gitu katanya," kata Sheila menyanggah.


"Eh, iyakah Bun? Tapi beneran loh Bun, kak Sena bahkan makannya lahap banget loh."


"Hmh. Ya udah deh, Dek, kalau gitu. Makasih banget infonya. Kakak tutup dulu ya. Assalamu'alaikum."


"Iya kak. Wa'alaikumsalam."


Tut.


Sambungan telepon terputus.

__ADS_1


__ADS_2