Jerat Cinta CEO Arrogant

Jerat Cinta CEO Arrogant
Kembali


__ADS_3

πŸ“ž : Assalamu'alaikum Sen.


πŸ“ž : Wa'alaikumsalam Mbak.


πŸ“ž : Gimana kabar kamu sekarang?


πŸ“ž : Sena baik kok Mbak. Mbak Sonia sama Bang Sean gimana kabarnya? Ibu, Dennis, Sendy juga gimana kabarnya?


πŸ“ž : Alhamdulillaah kami semua juga baik-baik saja kok, Sen.


πŸ“ž : Mmm,,, kabar keluarga disana gimana Mbak?


πŸ“ž : Alhamdulillaah kabar semua keluarga disini juga baik, Sena. Cuma satu orang yang kabarnya lagi nggak baik-baik saja. Suami kamu, kak Syafiq.


( Hening. Lama kelamaan mulai terdengar isakan kecil dari Sena. )


πŸ“ž : Kapan kamu kembali Sena? Ini sudah satu minggu. Sudah cukup kalian berdua menyiksa diri kalian masing-masing seperti ini. Keadaan kak Syafiq juga semakin kacau tiap harinya. Dia terus memforsir dirinya sendiri dengan bekerja. Tetapi seringkali kak Syafiq tidak memperhatikan waktu makannya, bahkan sering nggak makan siang juga kata Ega.


( Terdengar suara tangis Sena yang semakin terisak-isak. )


πŸ“ž : Mbak sangat tau, kamu disana juga sama aja kan Sen. Kamu terus kepikiran sama kak Syafiq. Bahkan Naura bilang kamu juga sering telat makan. Sena, sebenarnya kalian berdua itu sama-sama merasa hampa dan kesepian. Kalian berdua saling merindukan satu sama lain, saling membutuhkan satu sama lain. Jadi Mbak mohon sama kamu, sudahi semuanya ini Sena. Kembalilah.


🌺🌺🌺


"Mikirin apa sih, sayang?" tanya Sean ketika melihat istri cantiknya itu melamun.


Saat ini Sean dan Sonia sedang duduk bersisian seraya menyandarkan tubuh mereka pada headboard ranjang di kamar mereka. Sonia menoleh ke arah Sean kemudian menyandarkan kepalanya di bahu kokoh suaminya itu.


"Lagi mikirin Sena sama kak Syafiq," jawab Sonia pelan.


"Kenapa lagi?"


"Mereka berdua tuh sebenernya sama-sama saling butuh, sama-sama kangen, tapi kenapa harus kepisah kayak gini sih, Mas?" keluh Sonia.


Sean tersenyum mendengar perkataan istri cantiknya itu.


"Mas..."


"Hmm..."


"Mas Sean nggak ada rencana kah yang bisa buat Sena bersedia untuk kembali pulang? Biar mereka bisa bersama lagi."


"Mmm,,," Sean nampak berpikir sejenak. "Ada sih. Tapi harus ada sedikit pengorbanan juga," kata Sean berteka-teki.


"Pengorbanan apaan?" tanya Sonia penasaran.


"Kasih Mas imbalan dulu, baru Mas bantuin mereka," jawab Sean yang sudah mulai menguselkan wajahnya di ceruk leher Sonia.


"Maaasss,,,,,"


"Mas janji habis ini Mas pasti bantuin mereka biar mereka bisa bersama lagi."


Cup.


Sebuah ciuman sayang mendarat di kening Sonia. Sean kemudian merebahkan tubuh istrinya itu dan memulai aksinya. Imbalan dimuka untuk misi penyatuan yang akan dilakukan oleh Sean nantinya.

__ADS_1


🌺🌺🌺


Suara dering ponselnya yang berbunyi nyaring mengalihkan perhatian Sean dari layar laptop yang sedang ditekuninya. Sean kemudian meraih ponselnya yang tergeletak di atas meja kerjanya itu.


"Ega?"


Sean pun segera menggeser tombol hijau pada layar ponselnya tersebut.


"Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam, Bos. Bos Syafiq tiba-tiba pingsan di kantor. Ini saya sedang dalam perjalanan bawa Bos Syafiq ke rumah sakit."


"Oke, Ga. Saya langsung nyusul kesana."


"Baik Bos."


Sambungan telepon terputus. Sean pun kemudian meraih jas dan kunci mobilnya lalu segera keluar dari ruangannya tersebut.


"Ga, Abang ke rumah sakit dulu ya. Ega barusan telepon katanya Syafiq tiba-tiba pingsan dan sekarang mereka sedang dalam perjalanan ke rumah sakit," kata Sean kepada Nadirga.


"Baik, Pak. Biar saya yang handle semua urusan kantor hari ini," balas Nadirga.


"Oke. Thanks ya, Ga "


"Sudah menjadi kewajiban saya, Pak. Sama-sama."


"Saya berangkat sekarang. Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam."


'Ah, ternyata rencana Tuhan memang selalu yang terbaik. Bahkan aku tidak perlu menjalankan rencanaku untuk membuat Syafiq pura-pura kecelakaan biar Sena mau untuk kembali pulang. Dan sekarang Syafiq justru benar-benar masuk rumah sakit karena sakit. Semoga musibah kecil ini bisa menjadi sarana untuk mereka berdua berbaikan. Semoga Sena bersedia untuk kembali pulang setelah mengetahui kalau Syafiq masuk rumah sakit.'


🌺🌺🌺


Sena yang saat ini sedang memasak di dapur bersama Naura tiba-tiba dikejutkan dengan suara dering ponselnya yang berbunyi nyaring. Masih dengan membawa spatula di tangan kanannya, Sena kemudian mengambil ponselnya yang tergeletak di atas meja makan.


"Mbak Sonia, Nau. Gue angkat dulu sebentar ya," kata Sena memberitahu Naura.


"Oke," balas Naura singkat.


Sena kemudian menggeser tombol hijau pada layar ponselnya tersebut.


"Assalamu'alaikum Mbak," sapa Sena setelah mengangkat panggilan teleponnya.


"Wa'alaikumsalam Sena. Kak Syafiq masuk rumah sakit, Sen," balas Sonia terdengar sangat panik.


Klang!


Tanpa sadar Sena menjatuhkan spatula yang dia pegang karena begitu terkejut mendengar berita yang disampaikan oleh Sonia tadi. Naura yang kaget karena suara benturan spatula dengan lantai pun kemudian mendekati Sena karena merasa penasaran.


"A-apa? Kapan Mbak? Kenapa? Sakit apa?" tanya Sena memburu, bahkan kedua mata Sena juga sudah berkaca-kaca saat ini.


"Tadi siang, Sen. Kata Mas Sean sih asam lambungnya naik. HB nya juga rendah, sama dehidrasi juga. Bahkan kata Mas Sean sampai sekarang kak Syafiq juga masih belum sadar. Kak Syafiq masih berada di ruang ICU saat ini."


"Astaghfirullah hal adziim," lirih Sena dengan air mata yang sudah mengalir membasahi kedua pipinya.

__ADS_1


Sedikit banyak Naura bisa mendengar perkataan Sonia tadi. Memahami kekhawatiran sahabatnya itu, Naura kemudian merangkul tubuh Sena yang melemas lalu mendudukkannya di kursi meja makan tersebut. Naura masih merangkul sahabatnya itu, mencoba menyalurkan kekuatan.


"Kamu pulang ya, Sen. Kak Syafiq sangat membutuhkan kamu saat ini."


"Iya Mbak. Hari ini juga Sena pulang," kata Sena di sela-sela isak tangisnya.


"Ya udah. Mbak tutup dulu ya. Kamu hati-hati di jalan nanti. Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam."


Tut.


Sambungan telepon terputus. Sena langsung menoleh dan memeluk Naura, menangis terisak-isak dalam pelukan sahabatnya itu. Rey yang baru saja memasuki dapur pun langsung mendekati Sena dan Naura. Rey bingung dan khawatir melihat Sena yang menangis tergugu dalam pelukan Naura.


"Kak Syafiq, Nau," raung Sena.


"Iya, Sen, gue tau. Lo yang sabar ya. Tenangkan diri Lo. Kita pulang sekarang juga. Biar Mas Rey yang ngurus semuanya," kata Naura menenangkan Sena.


"Kenapa Nau?" tanya Rey khawatir.


"Mbak Sonia telepon, katanya kak Syafiq masuk rumah sakit. Tolong Mas urus semuanya ya. Kita balik hari ini juga," jawab Naura.


"Astaga. Oke, gue urus masalah tiket dan yang lainnya. Lo sama Sena langsung siap-siap aja sekarang," kata Rey.


"Oke Mas."


Rey kemudian mengeluarkan ponselnya dan menghubungi anak buah Sean yang berada di kota S tersebut. Sementara Naura membawa Sena ke kamar untuk bersiap-siap dan mengemasi barang-barang mereka.


🌺🌺🌺


Beruntung bagi Sena, Naura, dan Rey, karena mereka langsung mendapatkan penerbangan sore itu juga. Dan begitu mereka bertiga tiba kembali di ibukota, sudah ada anak buah Sean yang menunggu kedatangan mereka di bandara. Mereka pun kemudian langsung menuju ke rumah sakit dimana Syafiq dirawat saat ini.


Setibanya di rumah sakit, mereka langsung menuju ke ruangan ICU. Dan Sena bisa melihat kalau hampir semua keluarganya sudah ada di depan ruang ICU saat ini. Dengan langkah yang sedikit ragu Sena mendekati semua keluarganya. Tentu saja rasa bersalah itu menguasai hati Sena saat ini.


"Assalamu'alaikum," sapa Sena lirih.


"Wa'alaikumsalam," balas semuanya yang kemudian mengalihkan perhatiannya ke arah Sena.


"Sena," panggil Sheila yang langsung memburu dan memeluk Sena.


"Bunda. Tolong maafkan Sena, Bun," pinta Sena yang kembali menangis dalam pelukan ibu mertuanya itu.


"Sssttt. Kamu nggak salah sayang. Jadi nggak ada yang perlu untuk dimaafkan. Kita ambil aja hikmah dari semua kejadian ini, ya," balas Sheila bijak.


Sena mengangguk di dalam pelukan hangat Sheila. Sheila kemudian melepaskan pelukannya pada Sena, menghapus air mata Sena dengan jari-jarinya lalu mencium kening menantunya itu penuh sayang.


"Kamu sapa Ayah dan yang lainnya dulu ya," kata Sheila.


"Baik Bun," balas Sena.


Sena kemudian menyapa dan mencium punggung tangan kanan Steven, Bima, dan Bella secara bergantian. Sena juga meminta maaf kepada para orang tuanya tersebut. Dan beruntungnya Sena karena baik Steven, Bima, maupun Bella juga tidak menyalahkan Sena, sama seperti Sheila tadi. Begitu juga dengan Safa, Adrian, Sonia, dan Sean yang semuanya juga sudah mengetahui tentang kebenaran yang sudah terjadi.


Sonia kemudian membimbing Sena untuk melihat keadaan Syafiq dari balik dinding kaca ruang ICU tersebut. Dan tangis Sena tidak bisa terbendung lagi begitu melihat suaminya itu terbaring tidak sadarkan diri di dalam sana. Sena benar-benar merasa sangat bersalah saat ini.


'Kak Syafiq. Maafkan aku, kak. Tolong maafkan istrimu ini yang sudah berdosa kepadamu kak,' sesal Sena di dalam hatinya.

__ADS_1


__ADS_2