
Adrian dan Safa memutuskan untuk berjalan-jalan sebentar di sekitar pantai. Keduanya berjalan bersisian dengan saling bergandengan tangan.
"Malam ini indah banget ya, Mas. Bulan purnama, banyak bintang juga," kata Safa.
"Iya, sayang. Tapi tetep aja, nggak bisa ngalahin keindahan kamu. Nggak ada yang seindah kamu di dunia ini. Kamu adalah yang paling indah buat Mas, sayang" balas Adrian tulus seraya tersenyum lembut.
"Iiihhh, Mas Rian gombal," ledek Safa dengan wajah yang merona merah, berusaha menutupi hatinya yang sedang berbunga-bunga saat ini karena mendengar perkataan dari Adrian tadi.
"Loh, beneran sayang. Kapan sih Mas pernah gombalin kamu? Semua yang Mas omongin ke kamu itu tulus dari dalam hati."
"Iya deh, iya. Safa percaya."
"Harus dong. Kapan sih Mas pernah bohongin kamu, sayang?"
"Iya-iya, Mas Rian emang nggak pernah bohongin Safa dan selalu tulus sama Safa. Soalnya Mas Rian sayang sama Safa, iya kan?"
"Nah, itu tau," kata Adrian seraya mencubit kecil hidung Safa, gemas.
Adrian dan Safa tertawa bersamaan.
"Duduk yuk, sayang. Udah cukup lama kita jalan, takutnya kamu capek," kata Adrian lagi.
Safa menganggukkan kepalanya. Keduanya kemudian mendudukkan tubuh mereka di atas pasir pantai, menghadap ke arah laut seraya menikmati pemandangan indah bulan purnama dan bintang-bintang.
"Makasih ya Mas, udah bersabar sampai saat ini menghadapi Safa yang masih sering kayak anak kecil ini," celetuk Safa tiba-tiba dengan memandang ke arah Adrian.
Adrian pun menolehkan kepalanya ke arah Safa.
"Karena Mas sayang sama kamu. Mas cinta sama kamu, sayang. Jadi kamu nggak perlu bilang makasih kayak gitu sama Mas," balas Adrian.
__ADS_1
Keduanya tersenyum. Safa kemudian menyandarkan kepalanya di bahu kokoh Adrian.
"Safa juga sayang dan cinta banget sama Mas Rian. Dari masih kecil dulu malahan. Sampai sekarang. Jadi makin bertambah aja rasa sayang dan cintanya ke Mas Rian, hehe," kata Safa yang diakhiri dengan kekehan kecil.
Adrian ikut terkekeh kecil.
"Nggak cuma kamu aja kok, sayang. Mas juga gitu. Dari kamu masih bayi, kamu udah kunci-in hati Mas cuma buat kamu seorang. Makanya Mas nggak bisa berpaling ke lain hati. Dan sampai sekarang, rasanya juga jadi makin nambah-nambah aja deh rasa sayang dan cinta Mas ke kamu," balas Adrian juga.
Adrian kemudian mengeluarkan ponselnya dari dalam saku celananya. Membuka file galeri kemudian menunjukkan sebuah foto kepada Safa.
"Kamu ingat foto ini, sayang?" tanya Adrian kepada Safa.
Safa memperhatikan foto yang ditunjukkan oleh Adrian kepada dirinya. Di dalam foto tersebut nampak Anita yang sedang menggendong Safa ketika masih bayi. Di sebelahnya duduk Adrian kecil yang baru berusia tujuh tahun. Dan di foto itu terlihat tangan mungil Safa yang menggenggam erat jari telunjuk Adrian.
"Ah iya, Safa tau foto ini. Ada di album keluarga juga. Bunda bilang ini Bang Sean kan yang ngambil fotonya pakai HP Ayah."
Tanpa keduanya sadari, ternyata Sean berdiri di belakang pohon kelapa, tidak jauh dari tempat keduanya sedang duduk saat ini. Ya, Sean sempat melihat dari jendela kamarnya tadi ketika Adrian dan Safa keluar dari halaman cottage. Itu kenapa Sean memutuskan untuk mengikuti mereka dari jauh. Sekedar memastikan bahwa semuanya baik-baik saja dan mereka berdua tidak melakukan hal yang diluar batas.
Tes.
Setetes air mata Safa jatuh membasahi pipi gadis cantik itu. Senyuman manis pun juga terukir indah di wajah Safa. Adrian ikut tersenyum, kemudian menghapus air mata Safa menggunakan jari-jari tangannya. Adrian kemudian membingkai wajah cantik Safa menggunakan kedua telapak tangannya.
"Terima kasih, Mas. Terima kasih untuk rasa cinta yang begitu besar ini. Terima kasih karena sudah bersabar untuk menungguku sampai saat ini. Terima kasih karena mau bersabar menghadapi diriku yang masih banyak kekurangan ini," ucap Safa terharu.
"Terima kasih juga karena kamu selalu menjaga perasaan cinta kamu ke Mas sampai sekarang ini, sayang. Mas Rian sayang banget sama Safa. I love you, my sweet heart."
"Safa juga sayang banget sama Mas Rian. I love you too, my prince."
Perlahan-lahan Adrian mulai mendekatkan wajahnya ke arah Safa. Cup. Ciuman lembut penuh rasa cinta itupun menyapa bibir mungil Safa.
__ADS_1
Sesaat kemudian Adrian melepaskan pertautan bibir mereka. Keduanya saling memandang wajah satu sama lain. Tatapan mata yang penuh dengan rasa cinta dari keduanya. Dan sedetik kemudian Adrian kembali menyatukan bibir mereka. Adrian dan Safa sama-sama memejamkan kedua mata mereka, menikmati pertautan bibir keduanya. Kali ini bukan hanya sekedar ciuman lembut, tetapi ciuman intens yang penuh dengan l u m a t a n.
Tangan kiri Adrian berpindah ke belakang leher Safa untuk lebih memperdalam lagi ciuman mereka. Dan kedua tangan Safa pun bahkan juga sudah melingkar di leher Adrian. Karena terbawa dengan suasana intim yang tercipta, tanpa sadar tangan kanan Adrian bergerak turun dan menyentuh salah satu bongkahan di dada Safa.
Merasa tidak ada perlawanan dari Safa, tangan Adrian pun kemudian mulai meremat lembut. Merasai kelembutan yang selama ini belum pernah Adrian rasakan. Membuat keduanya sama-sama merasa terbuai dengan kenikmatan baru yang baru saja mereka rasakan itu.
Sean sudah mengepalkan tangannya erat. Sebisa mungkin berusaha untuk menahan dirinya terlebih dahulu. Menunggu apa yang selanjutnya akan terjadi. Sean juga sudah bersiap untuk menerjang maju ke depan seandainya situasi mulai berubah tidak terkendali.
"Eunghhh,,," satu lenguhan Safa lolos di sela-sela ciuman mereka.
Seakan tertarik kembali kesadarannya. Kedua mata Adrian seketika terbuka lebar. Adrian kemudian memutuskan dengan paksa pertautan bibir mereka berdua yang begitu panas.
"Astaghfirullah hal adziim. Yaa Allah. Astaghfirullah hal adziim. Mas khilaf, sayang. Tolong maafkan Mas," sesal Adrian yang langsung menarik Safa ke dalam pelukannya, nafas keduanya juga masih sama-sama tersengal akibat dari perbuatan mereka berdua tadi.
Sean menghembuskan nafas lega. Kepalan tangannya pun mulai memudar. Dari tempatnya berdiri, Sean masih bisa mendengar samar-samar suara Adrian yang berkali-kali mengucapkan istighfar dan juga meminta maaf kepada Safa atas perbuatannya yang sedikit melewati batas tadi.
'Huft, hampir aja gue nonjok Lo, Yan. Syukurlah Lo masih bisa menguasai diri Lo sendiri. Gue tau, Lo nggak akan mengecewakan Ayah sama Bunda yang udah ngasih kepercayaan penuh sama Lo.'
"Maaf ya, sayang. Sekali lagi tolong maafkan Mas karena sempat khilaf tadi. Sungguh, Mas sama sekali nggak bermaksud melewati batas seperti itu," sesal Adrian, lagi dan lagi, seraya menciumi puncak kepala Safa yang masih berada dalam pelukannya.
"Nggak pa-pa, Mas. Safa juga salah kok, nggak cuma Mas Rian aja."
Melihat situasi yang sudah kembali kondusif, Sean pun kemudian berbalik dan melangkah kembali ke arah cottage mereka, meninggalkan sepasang kekasih yang sama-sama sedang menyesali perbuatan mereka tadi. Beberapa saat kemudian, Adrian melepaskan pelukannya pada Safa.
"Ya udah yuk, kita balik aja. Angin malam juga semakin dingin. Mas nggak mau kalau kamu jadi sakit nanti."
"Iya, Mas," balas Safa seraya menganggukkan kepalanya.
Adrian kemudian membantu Safa untuk berdiri. Setelah membersihkan pasir yang menempel di celana mereka, Adrian dan Safa pun kemudian melangkah untuk kembali ke cottage. Berjalan bersisian, Adrian juga kembali menggandeng lembut tangan Safa.
__ADS_1