Jerat Cinta CEO Arrogant

Jerat Cinta CEO Arrogant
Suara Aneh Yang Mengganggu


__ADS_3

Malam itu agenda ketiga pasangan anak muda itu adalah berburu kuliner di pusat jajanan malam yang letaknya tidak begitu jauh dari pantai tersebut. Terlebih dahulu Sean sudah menyewa sebuah mobil yang akan mereka gunakan sebagai sarana transportasi mereka selama dua hari mereka berada di Bali nanti.


Setelah berkendara sekitar lima belas menit, mereka berenam pun akhirnya sampai ke tempat pusat jajanan malam tersebut. Suasana di tempat itu sudah cukup ramai dengan pengunjung. Terdapat banyak gerai makanan yang menawarkan beraneka macam jenis jajanan, baik lokal maupun kekinian. Stand-stand jajanan tersebut berjajar dengan rapi di sebelah kanan dan kiri jalan.


Cuaca malam yang begitu cerah ditambah dengan keindahan bulan yang kebetulan juga dalam keadaan bulat sempurna. Benar-benar waktu yang tepat untuk menghabiskan waktu dengan jalan-jalan keluar. Ketiga pasangan anak muda itupun kemudian mulai berkeliling-keliling. Mereka kadang juga berhenti di salah satu gerai untuk membeli makanan yang sesuai dengan keinginan mereka.


"Mas mau nyobain waffle-nya?" tawar Sonia seraya mengangkat waffle dengan toping coklat keju yang ada di tangannya.


"Boleh sayang."


Sonia kemudian mendekatkan waffle yang dia pegang kepada Sean dan Sean pun langsung menggigitnya.


"Gimana? Enak kan? Manis dan gurih banget, ya," kata Sonia meminta pendapat dari suaminya itu.


"Enak kok sayang," balas sean. "Tapi nggak se-enak kamu," bisik Sean yang sudah mendekatkan wajahnya ke samping wajah Sonia.


"Maaasss,,," rajuk Sonia dengan wajah yang sudah memerah.


Sean tertawa melihat wajah istrinya yang menggemaskan itu.


"Sayang suapin lagi dong takoyaki-nya," pinta Syafiq.


"Iiisshh, kak Syafiq ahh. Tadi pas beli ditawarin nggak mau. Eh sekarang malah ngabisin punya aku. Aku baru makan dua loh, kakak udah lima aja," gerutu Sena, berbanding terbalik dengan tangannya yang bergerak menusuk takoyaki kemudian menyuapkannya kepada suaminya itu.


Hap. Nyam-nyam-nyam.


"Habisnya tadi nggak kepengen sih, sayang. Eh setelah kamu suapin ternyata rasanya enak juga," balas Syafiq di sela-sela kunyahannya.


"Nggak mau tau, pokoknya nanti kalau habis kakak harus beliin aku lagi," sewot Sena.


"Iya sayang, iya. Tenang aja, kamu mau berapa banyak juga pasti bakal kakak beliin kok. Tapi dengan satu syarat, kamu harus suapin kakak, ya. Soalnya kalau kamu yang suapin tuh rasanya jadi lebih enak banget, sayang," balas Syafiq lagi.


"Dih, modus," cibir Sena.


"Biarin. Modusin istri sendiri ini," kilah Syafiq.


"Kebiasaan," ketus Sena.


"Tapi kamu suka, kan?" tanya Syafiq dengan menaik-turunkan kedua alisnya berkali-kali, menggoda Sena.


"Kak Syafiq, iiisshh," geram Sena seraya mencubit ringan perut Syafiq.


"Hahaha, iya sayang, iya, maaf deh maaf," pinta Syafiq dengan tertawa karena geli bercampur sakit.


"Haish, nasib-nasib. Cuma bisa gigit jari dipamerin kemesraan dua pasangan halal itu," gerutu Adrian pelan dengan wajah mengkerut karena kesal.

__ADS_1


Adrian dan Safa memang berjalan di belakang pasangan Sean - Sonia dan Syafiq - Sena, jadi mereka bisa melihat dan mendengar dengan jelas interaksi kedua pasangan suami istri di depan mereka itu.


"Sabar sebentar lagi ya, Mas. Nanti kita juga bisa kayak gitu kok," hibur Safa seraya merangkul lengan Adrian dan tersenyum lembut.


Adrian menoleh ke arah Safa kemudian membalas senyum gadis pujaannya itu dengan sama lembutnya, berbanding terbalik dengan ekspresi wajahnya ketika sedang menggerutu tadi.


"Iya, sayang. Satu bulan lagi. Dan setelah kita sah menjadi suami istri, Mas janji pasti akan memberikan kebahagiaan yang lebih besar lagi sama kamu," balas Adrian.


"Aku percaya kok sama Mas Rian."


Keduanya kembali saling tersenyum lembut. Cup. Satu kecupan penuh sayang mendarat di kening Safa.


"Mas Rian mau nyobain kebab punya Safa?" tawar Safa kemudian.


"Boleh."


"Nih. Aaak..."


Safa mengangkat kebab di tangannya seraya membuka mulutnya, mengisyaratkan kepada Adrian agar membuka mulut seperti dirinya. Dan, hap. Satu gigitan kebab telah berpindah ke mulut Adrian.


"Hmm, enak sayang. Apalagi kamu yang suapin, jadi lebih enak lagi," kata Adrian.


"Ish, Mas Rian bisa aja deh ngomongnya," balas Safa dengan wajah yang sudah merah karena tersipu.


Sean yang sedang menolehkan kepalanya ke belakang pun ikut tersenyum melihat interaksi adik bungsu dan sahabat baiknya itu. Dalam hatinya Sean berdo'a, semoga acara pernikahan Safa dan Adrian yang akan dilaksanakan bulan depan berjalan dengan lancar. Dan semoga kebahagiaan terus menyelimuti adik dan sahabatnya itu.


Sesampainya di cottage.


"Udah malem, kita langsung istirahat aja ya semuanya. Besok kita lanjutin lagi acara liburan kita," kata Sean mengintruksikan kepada yang lainnya.


"Iya, Bang."


"Oke."


Balas Safa, Syafiq, Sena, dan Adrian. Mereka berenam kemudian masuk ke dalam kamar masing-masing.


Di dalam kamar Safa.


Safa langsung mengambil baju ganti dari dalam lemari kemudian masuk ke dalam kamar mandi. Setelah selesai membersihkan tubuhnya dan berganti baju, Safa lalu duduk di depan meja riasnya. Mengambil krim malamnya, Safa kemudian memulai rutinitas malamnya sebelum tidur.


Setelah selesai dengan rutinitas malamnya, Safa pun kemudian merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Berdo'a di dalam hati kemudian mulai menutup kedua matanya, mencoba untuk memasuki alam mimpinya.


Namun belum juga Safa terlelap sepenuhnya, tiba-tiba saja Safa mendengar suara-suara aneh yang mengganggu pendengarannya.


"Aaahhh,,, kaaakkk,,, mmmhhh,,,"

__ADS_1


Sontak kedua mata Safa langsung terbuka lebar seketika. Menajamkan indera pendengarannya. Dan benar saja, sepertinya itu sesuai dengan dugaan Safa.


"Haish, kakak ini. Harus ya sampai sekeras itu suaranya? Nggak bisa lebih pelan apa? Astaga, gini amat ya nasib gue," keluh Safa menggerutu pelan.


Safa kemudian menutupi kedua telinganya menggunakan bantal yang sedang dia pakai, lalu mencoba untuk kembali memejamkan kedua matanya. Namun ternyata suara d e s a h a n dan e r a n g a n itu masih saja tetap bisa terdengar oleh kedua telinganya.


"Aaarrrggghhh,,,"


Mendudukkan tubuhnya dengan emosi, Safa pun menggeram pelan.


"Gimana mau tidur coba kalau suara mereka aja sekenceng itu," gerutu Safa lagi.


Menghembuskan nafasnya kasar. Safa kemudian turun dari tempat tidur. Menyambar cardigan di gantungan baju, Safa kemudian mengenakan cardigan tersebut kemudian melangkah hendak keluar dari kamarnya.


Ceklek.


Baru saja Safa membuka pintu kamarnya, pandangan matanya langsung bersirobok dengan pandangan mata Adrian yang juga sedang membuka pintu kamarnya.


"Loh, sayang," panggil Adrian.


"Mas Rian mau keluar juga?" tanya Safa.


Safa dan Adrian kemudian melangkah keluar dari kamar masing-masing kemudian menutup kembali pintu kamar mereka masing-masing.


"Kamu sendiri mau kemana malam-malam begini?" tanya balik Adrian.


Belum sempat Safa menjawab pertanyaan Adrian, suara-suara aneh itu sudah kembali terdengar lagi. Perhatian keduanya pun langsung tertuju ke arah kamar Syafiq dan Sena. Ternyata dari luar kamar pun bahkan suara-suara itu samar-samar masih bisa terdengar juga.


Adrian tertawa kecil.


"Rupanya kita mengalami hal yang sama, ya," kata Adrian di sela-sela tawanya.


"Jadi mereka juga?" tanya Safa dengan membulatkan kedua matanya seraya menunjuk ke arah kamar Sean dan Sonia.


"Hmm," jawab Adrian berdehem seraya menganggukkan kepalanya beberapa kali.


"Cuma nggak sekeras mereka berdua aja suaranya," lanjut Adrian dengan menunjuk ke arah kamar Syafiq dan Sena.


"Astaga," keluh Safa dengan menepuk keningnya sendiri. "Bener-bener ya mereka ini," gerutu Safa.


"Sabar. Maklumin aja lah, sayang. Namanya juga suami istri, masih terhitung baru juga kan pernikahan mereka. Yang satu masih anget-angetnya, yang satu lagi juga sedang gencar-gencarnya biar cepet jadi." kata Adrian mencoba memberi pengertian kepada kekasih hatinya itu.


"Huft, mau gimana lagi. Ya gini lah Mas resiko kita kalau pergi liburan sama pasutri yang lagi bucin," balas Safa masih sedikit dongkol.


"Udah-udah. Kita jalan-jalan aja yuk keluar, cari udara segar sebentar," ajak Adrian kemudian.

__ADS_1


"Hmh, oke deh," balas Safa pasrah.


Adrian tersenyum kemudian menggandeng tangan gadis pujaannya itu lembut. Safa pun membalas senyuman Adrian. Keduanya kemudian berjalan bersama menuju ke arah pintu, memutuskan untuk berjalan-jalan di luar sebentar.


__ADS_2