Jerat Cinta CEO Arrogant

Jerat Cinta CEO Arrogant
Gagal Lagi


__ADS_3

Saat ini Syafiq, Alvin, Ega, dan Rizal ( sekretaris Alvin ) sedang makan siang bersama di restoran dekat kantor mereka.


"Sena sama Naura tadi mau kemana? Tumben nggak ikut makan siang bareng kita?" tanya Alvin disela-sela mengunyah makan siangnya.


"Ada berkas yang harus dikumpulin ke kampus. Katanya nanti mereka nyusul kesini kalau udah selesai," jawab Syafiq.


"Kok nggak Lo anterin, Fiq?" tanya Alvin lagi.


"Dianterin sama Rey."


"What??? Seriusan? Dan Lo nggak cemburu gitu Rey nganterin bini Lo?" tanya Alvin kaget.


Alvin tau betul bagaimana dulu Syafiq sering cemburu kepada Rey, itu kenapa dia sangat kaget.


"Itu dulu. Kita udah damai sekarang. Dan lagi, sekarang kan Rey pacarnya Naura, jadi nggak masalah lah. Dan gue juga udah pastiin sendiri kalau Rey emang udah ngikhlasin Sena. Itu kenapa gue ngijinin Sena ikut sekalian sama Rey dan Naura," jawab Syafiq tenang seraya menyantap makan siangnya.


"Lo juga udah tau, Ga?" tanya Alvin beralih ke Ega.


"Tau kok, Bos," jawab Ega.


"Rizal?" tanya Alvin yang sekarang beralih ke Rizal.


"Saya juga udah tau, Bos," jawab Rizal.


"What? Jadi gue sendiri nih yang belum tau?" tanya Alvin tidak percaya.


"Hehe, sayangnya iya, kita semua udah tau. Bahkan kemarin Ega juga udah nguji Rey diem-diem. Ya, biar gimanapun juga Naura kan sepupu Ega, jadi dia pasti ingin yang terbaik dong buat sepupunya," kata Syafiq.


"Ini kenapa gue jadi ketinggalan informasi gini ya," keluh Alvin.


"Kudet Lo," cibir Syafiq.


"Sialan. Gara-gara Lo juga ini. Gue jadi lebih sering gantiin Lo buat komunikasi sama pengacara Aletta. Makanya gue jadi banyak ketinggalan info di kantor," gerutu Alvin.


"Wkwkwk, sorry deh Bro, sorry," kata Syafiq seraya tertawa.


"Asem Lo, Fiq," umpat Alvin lagi.


"Udah-udah. Nggak perlu diperpanjang lagi. Sorry ya, Vin. Oh iya, gimana perkembangan kasus perceraian Aletta?" tanya Syafiq mengalihkan pembicaraan.


"Masih alot. Pihak Gibran menolak gugatan cerai Aletta mentah-mentah. Dan Gibran sendiri juga belum bisa hadir di persidangan karena masih sibuk dengan bisnisnya di Amerika sana," jawab Alvin.


"Dulu Aletta dan Gibran menikah secara resmi dan terdaftar di catatan KUA kita. Itu kenapa mereka juga harus menyelesaikan urusan perceraian mereka disini," kata Ega menimpali.


"Lo bener, Ga. Haish, kenapa juga sih kita harus terlibat dalam masalah ini? Nambah-nambahin kerjaan aja," gerutu Alvin lagi.


"Jangan gitu. Biar gimanapun juga Aletta kan temen kuliah kita dulu. Masak sekarang dia minta bantuan sama kita terus kita mau nolak, kan nggak enak juga," kata Syafiq.

__ADS_1


"Ya Lo sih enak Fiq tinggal ngomong gitu doang, orang semuanya udah Lo lemparin ke gue. Jadi gue kan yang ngurusin semua ini," kesal Alvin bersungut-sungut.


"Jangan lebay deh. Gue sama Ega kan juga bantuin Lo," sanggah Syafiq yang sudah menyelesaikan makan siangnya, begitu juga dengan yang lainnya.


Keempat eksekutif muda itu masih duduk bersama dan menikmati waktu istirahat mereka dengan mengobrol.


"Iya, tapi tetep aja lebih banyakan gue yang ngurusin," lagi-lagi Alvin menggerutu.


Syafiq kembali menyemburkan tawanya melihat Alvin yang terus saja bersungut-sungut karena kesal. Sementara Ega dan Rizal sekuat tenaga menahan tawa mereka. Tidak ingin menyinggung sang atasan tentu saja.


"Puas Lo semua? Ketawain aja terus. Asem emang Lo pada," kesal Alvin untuk yang kesekian kalinya.


"Jangan gitu, Vin. Yang ikhlas, biar jadi pahala," kata Syafiq menasehati.


"Lo mah enak tinggal ngomong gitu, Fiq. Gue ketar-ketir ini, jangan sampai nanti Rain jadi salah paham," keluh Alvin yang kemudian menyeruput es cappucino-nya.


"Insya Allah nggak akan. Selama ini kan Raindyta selalu bisa berpikir jernih dan sangat dewasa," hibur Syafiq.


"Hmh, semoga aja gitu, Fiq. Lo kan tau sendiri, cemburu seringkali bisa bikin orang jadi lost control, berbuat diluar kebiasaan mereka."


Syafiq terdiam. Ya, di dalam hatinya Syafiq sangat menyetujui perkataan Alvin itu. Karena dia sendiri memang sudah mengalaminya. Baik Syafiq maupun Sena, keduanya pernah jadi hilang kendali saat cemburu menguasai hati mereka.


"Ngomong-ngomong Bang Sean belum berhasil juga ya?" tanya Alvin tiba-tiba dengan nada suara yang putus asa.


Syafiq terhenyak. Tersadar dari lamunannya.


"Kalau kakaknya Aletta?" tanya Ega.


"Masih di Singapura ngurusin bisnisnya disana. Bang Sean juga masih usaha ini," jawab Syafiq.


"Semoga aja segera ada hasilnya," kata Alvin.


"Aamiin," Syafiq, Ega, dan Rizal meng-amin-kan bersamaan.


Tanpa mereka berempat sadari ternyata Aletta dan seorang temannya sudah mengawasi mereka sejak beberapa saat yang lalu dari luar restoran. Setelah merasa waktunya tepat, kedua wanita cantik itu kemudian memasuki restoran dan berjalan menghampiri meja Syafiq, Alvin, Ega, dan Rizal.


"Hai semuanya," sapa Aletta riang. "Wah, nggak nyangka ya kita bisa ketemu disini juga."


Syafiq dan yang lainnya pun secara refleks langsung mengalihkan perhatian mereka kepada Aletta.


"Eh, hai Ta," sapa Alvin.


Syafiq, Ega, dan Rizal pun juga lantas menyapa Aletta dan temannya itu. Alvin melihat ke arah Syafiq, meminta pendapat. Dan Syafiq pun menganggukkan kepalanya samar.


"Ehm, silahkan duduk kalian berdua," kata Alvin mempersilahkan, sedikit canggung.


"Thanks ya, Vin," balas Aletta.

__ADS_1


Aletta dan temannya itu kemudian ikut duduk di meja mereka, di tempat yang sebenarnya sengaja mereka sisakan untuk Sena dan Naura nanti.


Syafiq mengangkat tangan kanannya dan melihat ke arah jam tangannya.


"Udah jam segini. Gue keluar buat jemput Sena dulu ya," pamit Syafiq kemudian.


Aletta nampak sedikit terkejut. Sementara Alvin, Ega, dan Rizal sudah memahami maksud Syafiq yang memang sengaja ingin menghindar.


"Oke deh, Bro. Hati-hati ya," pesan Alvin.


"Iya, Bos," Ega dan Rizal menjawab bersamaan.


'Sial. Syafiq sengaja pengen menghindar. Gue tau itu. Tapi gue nggak boleh nyerah gitu aja.'


Aletta melihat ke arah luar restoran dari dinding kaca. Nampak Sena dan Naura sedang berjalan hendak masuk ke dalam restoran. Sesuai dengan perkiraannya tadi.


'Gue harus bisa manfaatin situasi ini.'


Aletta kemudian langsung berdiri dari duduknya, mengikuti Syafiq yang sudah berdiri dari duduknya dan hendak pergi meninggalkan meja tersebut.


Melihat Aletta yang juga ikut berdiri, Syafiq seketika waspada. Pasti akan terjadi sesuatu. Melirik ponselnya yang masih tergeletak di atas meja, Syafiq pun seketika memiliki ide.


"Tunggu, Fiq. Ada sesuatu yang mau gue diskusi-in sama Lo. Aaahhh,,," ucapan Aletta terpotong karena dirinya yang memang sengaja menyandungkan kakinya sendiri pada kaki meja.


Tapi sayangnya,


Bruk!


"Aaarrrggghhh," pekik Aletta kesakitan.


Naas bagi Aletta karena Syafiq secepat kilat mencondongkan tubuhnya untuk mengambil ponselnya yang masih tergeletak di atas meja. Sehingga niat Aletta untuk menubruk Syafiq gagal. Aletta justru meluncur bebas kemudian jatuh membentur lantai.


"Aletta!!!" pekik teman Aletta, Alvin, Ega, dan Rizal yang langsung berdiri dari duduknya.


"Eh," sementara Syafiq berakting sok polos, seolah-olah baru menyadari apa yang sedang terjadi.


"Astaga, kak Aletta!"


Diluar dugaan semua orang, justru Sena yang terlebih dahulu langsung berlari dan membantu Aletta untuk bangun.


"Kakak nggak apa-apa kan?" tanya Sena khawatir seraya membantu Aletta untuk duduk di kursi.


Syafiq dan yang lainnya terkejut melihat kehadiran Sena yang tiba-tiba.


"Eh, i-iya,,, kakak nggak pa-pa kok, Sen," jawab Aletta terbata.


'Sialan. Gue gagal lagi. Mana badan gue juga jadi sakit, eh ini malah Sena pula yang bantuin gue. Dia pasti lagi ngetawain gue nih sekarang,' umpat Aletta dalam hati.

__ADS_1


'Sorry kalau kak Aletta jadi terluka. Tapi Kak Aletta sendiri yang milih jalan ini. Gue sama kak Syafiq cuma berusaha untuk mempertahankan rumah tangga kami,' batin Sena.


__ADS_2