
Sena perlahan-lahan terbangun dari pingsan-nya. Kepalanya masih terasa sangat pusing. Sekuat tenaga Sena berusaha meraih kembali kesadarannya. Menyipitkan kedua matanya, Sena mencoba menyesuaikan penglihatannya dengan silau cahaya matahari yang masuk melalui jendela kaca pada ruangan rawat inap tersebut.
"Kamu udah sadar sayang?" tanya Bella lembut dengan mengelus kepala Sena penuh sayang.
"Ma-Mama. Aku dimana?" tanya balik Sena dengan suara yang pelan.
"Kamu ada di rumah sakit, nak," jawab Bella.
Sena menarik mundur ingatannya.
"Azka?" tanya Sena khawatir begitu dirinya sudah berhasil mengingat kembali semua kejadian yang sudah terjadi tadi.
Bella tersenyum lembut sebelum akhirnya menjawab.
"Alhamdulillaah Azka baik-baik aja. Tadi pagi dia udah sadar lebih dulu daripada kamu. Dan sekarang dia lagi tidur. Itu dia," jawab Bella dengan mengarahkan pandangannya ke arah Azka yang sedang terlelap di hospital bed di sebelah kiri Sena.
"Syukurlah," lirih Sena setelah melihat Azka dalam keadaan baik-baik saja.
"Minum dulu ya, Sen," kata Bella dengan menyodorkan segelas air putih yang sudah diberi sedotan terlebih dahulu.
Dengan dibantu Bima untuk sedikit mengangkat kepalanya, Sena pun meminum air putih tersebut menggunakan sedotan.
"Gimana keadaan kamu sekarang? Apa yang kamu rasain, Sen?" tanya Bella setelah meletakkan kembali gelas tersebut ke atas nakas.
"Sena udah nggak pa-pa kok, Ma. Cuma masih sedikit pusing aja," jawab Sena pelan.
"Syukurlah kalau gitu. Mama sangat bersyukur kalian berdua baik-baik saja. Makasih ya Sen, kamu udah mengambil tindakan yang begitu berani untuk menyelamatkan adik kamu," kata Bella mengungkapkan perasaannya.
"Nggak perlu bilang makasih, Ma. Itu udah kewajiban Sena sebagai seorang kakak," balas Sena.
"Ini baru anak Papa yang hebat. Papa bangga sama kamu," puji Bima.
Sena tersenyum menanggapi ucapan Bima. Tidak lama kemudian pintu ruangan tersebut terbuka. Nampak Sheila dan Steven muncul dari balik pintu tersebut dengan membawa kantong plastik berisi beberapa kotak makanan.
"Assalamu'alaikum," sapa Steven dan Sheila.
"Wa'alaikumsalam," jawab Bima, Bella, dan juga Sena.
Steven kemudian menaruh makanan-makanan tersebut ke atas meja sofa di ruangan tersebut. Baru setelah itu dia menyusul Sheila menghampiri yang lainnya.
"Eh, menantu cantik Bunda udah sadar ya," seru Sheila gembira yang langsung menghampiri dan memeluk Sena.
Sementara Sena terpaku dalam keterkejutannya. Bunda Sheila tadi memanggilnya dengan sebutan 'menantu', pendengaran Sena tidak bermasalah kan?
"Kok bengong? Kenapa sayang?" tanya Sheila setelah melepaskan pelukannya.
"Ta-Tante,,,"
"Kok Tante sih, panggil Bunda dong, Sen. Kan beliau udah jadi ibu mertua kamu sekarang," kata Bella juga, memotong perkataan Sena.
Sena semakin membulatkan kedua matanya. Bahkan Mama Bella pun sudah mengetahui kebenarannya?
"Nggak perlu kaget gitu, Sen. Semuanya memang sudah mengetahui tentang pernikahan kamu dan Syafiq," terang Bima yang justru semakin menambah keterkejutan di wajah Sena.
__ADS_1
"Vira?" lirih Sena dengan tatapan yang sendu.
Bella, Bima, Sheila, dan juga Steven tersenyum melihat reaksi Sena yang sesuai dengan dugaan mereka sebelumnya.
"Vira juga udah tau. Dan dia justru yang paling bahagia dengan kabar pernikahan kalian ini," kata Bella.
Kening Sena berkerut karena merasa bingung dengan maksud perkataan Bella tadi.
"Sekarang Vira dimana, Ma?" tanya Sena pada akhirnya.
"Dia lagi keluar sama pacarnya," jawab Bella.
Sena tertegun sejenak. Syafiq juga tidak ada disini saat ini. Dan Vira sedang keluar dengan pacarnya. Mungkinkah?
"Bim, Bel, kalian berdua makan aja dulu. Itu udah kita beliin sekalian tadi. Biar gue sama Sheila yang jagain Sena sama Azka," kata Steven memecah keheningan.
"Oke. Ayo Ma, kita makan dulu," balas Bima sekaligus mengajak Bella untuk makan.
Bella mengangguk mengiyakan. Keduanya kemudian berjalan menuju ke arah sofa untuk menikmati makanan yang sudah dibelikan oleh Steven dan Sheila untuk mereka.
"Kamu mau makan juga sayang? Bunda suapin, ya," tawar Sheila yang sudah mendudukkan dirinya di kursi di sebelah hospital bed Sena.
Sena terperanjat, tersadar dari lamunannya.
"Eh, enggak usah, Bun," tolak Sena masih merasa sedikit canggung untuk memanggil Bunda kepada Sheila.
"Ya udah," balas Sheila.
"Makasih Bun. Dan Sena juga mau minta maaf, karena sebenarnya Sena-lah yang sudah meminta kak Syafiq untuk menyembunyikan lebih dulu mengenai masalah pernikahan kami ini," sesal Sena dengan wajah sendu.
Steven dan Sheila tersenyum lembut mendengar perkataan Sena tadi.
"Nggak pa-pa kok, Sen. Kamu nggak salah," balas Steven seraya membelai lembut kepala Sena.
"Iya sayang. Bunda juga udah tau apa alasannya kenapa kamu melakukan semua itu. Dan Bunda bisa memahami itu," sambung Sheila juga.
"Makasih Bun, Yah," lirih Sena seraya tersenyum.
"Iya sayang, sama-sama," balas Steven dan Sheila ikut tersenyum juga.
Dalam hatinya Sena merasa sangat bersyukur karena dirinya bisa diterima dengan begitu hangat oleh bunda Sheila dan Ayah Steven. Bima dan Bella juga ikut tersenyum melihat interaksi Sena dengan kedua mertuanya itu. Mereka juga merasa sangat bersyukur karena Sena bisa diterima dengan hangat oleh keluarga Syafiq.
Tidak lama kemudian.
"Assalamu'alaikum," sapa Syafiq setelah membuka pintu ruang rawat inap tersebut.
"Wa'alaikumsalam," balas semua yang ada disana bersamaan.
'Kak Syafiq,' lirih batin Sena.
Syafiq kemudian berjalan menghampiri Sena dan duduk di pinggiran hospital bed Sena.
"Udah selesai, Fiq?" tanya Steven.
__ADS_1
"Udah kok Yah."
"Fiq, sini makan sekalian. Tadi pagi kan kamu juga nggak sarapan," ajak Bima dari sofa.
"Duluan aja, Pa. Syafiq sama Sena aja nanti," tolak Syafiq.
"Ya udah kalau gitu," kata Bima kemudian.
"Kamu makan sekarang aja, kak. Sekalian suapin istri kamu tuh. Tadi mau Bunda suapin tapi dia nggak mau," kata Sheila.
"Oh, oke deh Bun kalau gitu."
Syafiq kemudian bangkit dari duduknya dan mengambil sekotak makanan di atas meja lalu membawanya kembali ke arah hospital bed Sena dan kembali mendudukkan dirinya di sana. Syafiq menekan tombol di samping hospital bed Sena untuk menaikkan bagian kepala bed agar posisi Sena jadi setengah duduk.
"Kenapa?" tanya Syafiq seraya membuka tutup kotak makan tersebut.
"Nggak pa-pa kok," jawab Sena.
"Nggak usah mikir yang aneh-aneh," kata Syafiq dengan menyodorkan satu sendok berisi nasi dan sayur untuk Sena. "Buka mulutnya!"
Tidak ingin berdebat, Sena kemudian membuka mulutnya dan menerima suapan dari Syafiq tersebut. Syafiq kemudian menyendok nasi dan sayur lagi untuk dirinya sendiri.
"Emang aku mikir apaan coba?"
"Nggak usah ngelak. Kakak tau benar apa yang ada di otak kecil kamu itu," kata Syafiq seraya menyodorkan sendok ke mulut Sena lagi.
"PeDe," sarkas Sena dengan memutar kedua bola matanya.
"Kenyataan kok," balas Syafiq yang kemudian memasukkan sesendok nasi ke mulutnya sendiri.
"Kakak tadi ngurusin administrasi kamu sama Azka, bukannya pergi keluar sama orang lain," kata Syafiq menjelaskan seraya kembali menyuapi Sena.
"Nggak nanya," ketus Sena, yang sejujurnya sedang berusaha menyembunyikan kelegaan pada raut wajahnya.
"Nggak nanya, tapi itu kan yang pengen kamu tau?" tembak Syafiq tepat sasaran.
Sena mati kutu, kehilangan kata-kata untuk membalas perkataan Syafiq tadi.
"Nah kan nggak bisa jawab, hahahaha," kata Syafiq yang kemudian tertawa kecil. "Apa kakak bilang, kakak itu paling tau apa yang ada di otak kecil kamu ini," lanjut Syafiq dengan mengetuk pelan kening Sena.
"Kakak! Makan dulu yang bener. Istrinya baru sadar juga udah digodain kayak gitu," tegur Sheila.
Sena menghembuskan nafas lega.
'Huft Untung aja ditegur sama Bunda. Kalau enggak, aku mesti jawab apa coba?' monolog batin Sena merasa lega.
"Kalau nggak gitu ya bukan kakak, Bun," balas Syafiq enteng.
"Kakak," geram Sheila lagi.
"Hahaha, ampun Bun. Iya deh iya. Kakak berhenti nih, nggak godain Sena lagi," kata Syafiq kemudian.
Steven, Bella, dan Bima mengulum senyum melihat perdebatan yang terjadi di depan mata mereka tersebut. Sementara wajah Sena memerah, merasa malu kepada Sheila, Steven, Bella, dan juga Bima. Bisa-bisanya Syafiq sesantai itu menggoda dirinya di hadapan para orang tua.
__ADS_1