
Suara adzan yang berbunyi dari aplikasi pada ponselnya membangunkan Sena dari tidur lelapnya. Membuka kedua matanya perlahan, Sena kemudian tersenyum mendapati bahwa dirinya terbangun dan masih berada dalam pelukan hangat suami tampannya itu.
"Kak, bangun," panggil Sena berusaha membangunkan Syafiq dengan mengguncangkan lengan Syafiq pelan. "Kak... Kak Syafiq, bangun yuk!"
"Hmh," balas Syafiq dengan bergumam.
"Bangun yuk, kak. Udah adzan," kata Sena lagi.
Syafiq pun perlahan membuka kedua matanya, dan hal pertama yang Syafiq lihat adalah wajah cantik istrinya yang sangat dia sayangi itu. Syafiq tersenyum lembut kemudian mencium kening Sena penuh sayang.
"Selamat pagi, istriku sayang," sapa Syafiq.
"Pagi juga, kak," balas Sena canggung.
Sena selalu saja salah tingkah dengan jantung yang berdebar dan wajah yang merona merah tiap kali Syafiq memanggilnya sayang atau menciumnya tiba-tiba seperti itu. Entah kenapa Sena masih saja belum terbiasa dengan sikap Syafiq yang begitu mesra kepada dirinya. Sangat berbeda sekali dengan sikap yang biasa Syafiq tunjukkan kepada orang lain. Syafiq yang dingin, terkesan sombong, tegas, dan juga tidak bisa dibantah.
"Kapan sih kamu manggil kakak dengan panggilan yang lebih mesra lagi, sayang?" tanya Syafiq merajuk seraya menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Sena.
"K-kak,,," protes Sena yang wajahnya semakin memerah.
Syafiq justru semakin menguselkan wajahnya, membuat tubuh Sena meremang karena merasa geli.
"Kak, kita sholat subuh dulu yuk! Habis itu aku mau bantuin Bunda di bawah," ajak Sena.
"Bentar lagi."
"Kak,,, nggak enak sama Bunda."
"Hmh, iya deh iya."
Mendengus pelan, Syafiq akhirnya mengalah. Syafiq kemudian membantu Sena untuk bangun dan mendudukkan tubuhnya. Dan dengan gerakan cepat, Syafiq tiba-tiba mencuri ciuman di bibir Sena. M e l u m a t nya sesaat kemudian melompat turun dari tempat tidur.
"Kaaakkk,,," protes Sena.
Tapi sia-sia saja, karena Syafiq sudah lebih dulu berlari ke arah kamar mandi sambil tertawa.
"Iiihhh, dasar. Nggak cukup apa yang semalem? Ini aja bibir aku rasanya masih tebel banget. Pasti bengkak deh," gerutu Sena pelan seraya membelai bibirnya sendiri.
πΊπΊπΊ
"Pagi Bunda," sapa Sena seraya menghampiri Sheila yang saat ini sedang memotong sayuran di dapur mewah rumah tersebut.
"Pagi sayang," balas Sheila dengan menoleh sekilas ke arah Sena dan tersenyum lembut.
"Sena bantuin ya, Bun," kata Sena.
"Boleh dong, sayang. Itu aja, kamu siapin aja sandwich telur kesukaan suami kamu untuk sarapan, ya," balas Sheila sekaligus memberi arahan kepada Sena.
"Oh, oke Bun," sahut Sena semangat.
"Sekalian buatin buat aku ya, kak," celetuk Safa yang baru saja datang.
"Eh, oh i-iya," jawab Sena canggung.
Sena merasa tidak enak hati, usianya satu tahun lebih muda dari Safa, tapi Safa memanggilnya dengan sebutan 'kakak'.
__ADS_1
'Biar bagaimana pun juga, kamu adalah istrinya Syafiq, kakak iparnya Safa. Jadi sudah sewajarnya kalau Safa memanggil kamu dengan sebutan kakak. Dibiasakan aja ya.'
Sena mengulum senyum kecil ketika teringat dengan nasehat Sheila malam itu, setelah acara syukuran pengumuman pernikahan dirinya dengan Syafiq selesai hari itu.
"Safa, kamu ini kebiasaan deh. Bukannya bantuin malah minta dibuatin sekalian," tegur Sheila pelan.
"Habisnya, sandwich buatan kak Sena enak banget sih, hehe," balas Safa dengan menunjukkan cengirannya.
"Nggak pa-pa kok, Bun. Kan sekalian juga aku buatnya," kata Sena membela Safa.
"Tuh kan, kak Sena aja bilang nggak pa-pa kok."
"Hmh, iya deh. Girang banget kamu Dek, sekarang udah ada yang belain tiap kali ditegur atau lagi diusilin sama kakak kamu itu," goda Sheila kepada Safa.
"Oh, iya dong, Bun. Sekarang kan Safa punya backingan. Jadi ya Safa bahagia lah," balas Safa yang kemudian memeluk Sena dari samping.
Sheila, Sena, dan Safa kemudian tertawa bersama-sama. Namun tiba-tiba saja, perhatian Safa tertuju ke arah bibir Sena yang sedikit bengkak.
"Wah, ternyata kak Syafiq ganas juga ya. Lihat nih Bun, bibir kak Sena sampe bengkak gini. Ck-ck-ck," celetuk Safa yang diakhiri decakan berkali-kali.
Sena yang kaget seketika membulatkan kedua matanya dan reflek langsung menutupi bibirnya dengan tangannya.
"Hahahaha, efek nggak pernah punya pacar ini, Bun. Sekalinya udah punya yang halal langsung disikat habis. Udah tau gimana rasanya, jadi candu dia, makanya mau terus dan nggak mau berhenti dia," lanjut Safa yang masih juga tertawa sambil memegangi perutnya.
"Safa!!!" tegur Sheila dan Sena bersamaan.
Sheila kemudian merangkul pundak Sena.
"Jangan dimasukin ke hati ya, sayang. Biasalah, Safa kalau punya kesempatan buat ngeledekin kakaknya ya gitu, langsung kegirangan deh dia," kata Sheila menghibur Sena.
"Tapi, lain kali bilang ke si kakak, jangan ganas-ganas, biar nggak sampe bengkak kayak gini. Nggak tega Bunda lihat kamu," bisik Sheila menggoda di dekat telinga Sena.
"Bunda," rajuk Sena.
Sheila nampak terkikik pelan sementara wajah Sena sudah sangat merah. Seperti itulah sekarang hari-hari yang dilalui Sena di rumah mertuanya. Penuh dengan candaan dan godaan. Tapi di dalam hati Sena merasa sangat bersyukur, sudah lama Sena tidak merasakan kehangatan keluarga yang begitu tulus seperti yang dia rasakan saat ini.
πΊπΊπΊ
Sore itu Sena, Naura, dan Ayumi ( putri kedua Max dan Sylvia ) sedang berada di kafe milik Frans. Ketiga gadis cantik yang kebetulan satu jurusan mata kuliah itu sedang bersama-sama membahas masalah persiapan magang mereka dua bulan lagi.
"Gimana? Permohonan magang kalian berdua di RSA Group udah di ACC kan?" tanya Ayumi setelah menyeruput jus jeruknya.
"Woo, ya jelas udah dong. Kan suami Sena yang jadi CEO disana, jadi permohonan kita otomatis langsung lancar jaya lah," jawab Naura sedikit menyombong.
"Apa sih Nau," tegur Sena.
"Hahaha, dianya malu ternyata, Yum," goda Naura dengan tertawa.
"Udah ah. Terus Lo sendiri gimana Yum? Permohonan magang Lo di JJ Group juga udah di ACC kan?" tanya Sena mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Ya udah dong, Sen. Kan CEO nya kakak gue sendiri, kak Sammy, sama kakak sepupu gue, kak Lucky. Jadi ya lancar jaya juga lah," jawab Ayumi.
"Syukurlah kalau gitu. Semoga praktek magang kita nanti juga lancar-lancar aja ya," do'a Sena.
"Aamiin," balas Naura dan Ayumi, meng-amin-kan.
__ADS_1
"Hai gadis-gadis cantik," sapa Frans yang tiba-tiba sudah berdiri di samping meja ketiga gadis tersebut. "Eh, salah gue. Yang dua emang masih gadis, tapi kan yang satu udah jadi nyonya, ya," ralat Frans kemudian.
"Kak Frans," protes Sena merasa malu.
Dan hal itu sukses membuat Frans, Ayumi, dan Naura tertawa bersamaan. Frans kemudian mendudukkan dirinya di sebelah Ayumi yang memang masih kosong. Membuat gadis manis itu tersipu dan sedikit salah tingkah.
"Nggak usah grogi gitu kali, Yum," goda Naura.
"Nau,,, ngomong apa sih Lo," protes Ayumi malu-malu.
"Iya nih, Nau. Lo kalo ngomong ada-ada aja deh. Tuh, kasihan kan Ayumi jadi malu gitu," bela Frans juga.
"Heleh, Lo aja juga nyari-nyari kesempatan dalam kesempitan gitu, Frans," celetuk Syafiq yang tiba-tiba saja sudah berada di dekat meja mereka.
"Kak Syafiq," sapa Sena yang langsung berdiri dan mencium punggung tangan kanan Syafiq.
"Assalamu'alaikum," salam Syafiq.
"Wa'alaikumsalam," jawab Sena dan yang lainnya.
Syafiq dan Sena kemudian duduk bersebelahan.
"Ah, asem Lo, Fiq. Ganggu gue lagi cari kesempatan aja," gerutu Frans dongkol.
"Hahahaha, tuh kan ngaku juga. Yum, bilangin sama kak Sammy, ada cowok yang berusaha deketin Lo nih," goda Syafiq lagi.
"Syafiq," geram Frans.
"Kak Syafiq," seru Sena dan Ayumi bersamaan.
"Hahahaha, udah ah. Gue sama istri gue mau balik sekarang, udah sore banget juga ini," kata Syafiq kemudian. "Udah selesai kan pembahasan kalian?" tanya Syafiq kepada Sena.
Ya, Syafiq memang sengaja datang untuk menjemput istri cantiknya itu, karena tadi Sena meminta ijin untuk berkumpul bersama Naura dan Ayumi untuk membahas masalah persiapan magang mereka.
"Oh, udah kok kak," jawab Sena.
"Ya udah. Yuk, kita pulang sekarang!" ajak Syafiq.
"Iya, kak."
Sena dan Syafiq kemudian kembali berdiri.
"Nau, Yum, kak Frans, kita balik duluan ya," pamit Sena.
"Iya, kalian hati-hati ya," pesan Frans, Ayumi, dan Naura.
"Gue balik ya Bro. Duluan ya Nau, Yum," pamit Syafiq juga.
"Oke, hati-hati, Bro," balas Frans.
"Iya kak, hati-hati," balas Ayumi dan Naura juga.
"Assalamu'alaikum," pamit Sena dan Syafiq.
"Wa'alaikumsalam," jawab Frans, Ayumi, dan Naura.
__ADS_1
Sena dan Syafiq kemudian berbalik dan meninggalkan Frans, Ayumi, dan juga Naura.