
"Sini naik," kata Syafiq kepada Sena setelah keempat orang tuanya itu meninggalkan kamar rawat inap tersebut.
Sena tersenyum. Menuruti permintaan suaminya itu, Sena kemudian bangun dari duduknya. Sena naik ke atas bed hospital Syafiq kemudian membaringkan tubuhnya di sebelah Syafiq. Dengan berbantal pada bahu kanan suaminya itu, Sena memeluk tubuh Syafiq dari samping. Tangan kanan Syafiq pun terangkat lalu mengelus-elus lembut kepala Sena. Syafiq pun kemudian mencium puncak kepala istrinya itu penuh sayang.
"Kakak kangen banget sama kamu," kata Syafiq.
"Aku juga kangen banget sama kakak," balas Sena. "Maaf ya kak, kemarin aku justru milih untuk pergi dulu dan ninggalin kakak," sesal Sena untuk kesekian kalinya.
"Nggak pa-pa. Kakak paham kok. Kakak juga salah sama kamu karena udah nyembunyiin semuanya itu dari kamu. Maafin kakak juga ya," kata Syafiq meminta maaf juga.
"Kakak ngelakuin itu kan demi kebaikan aku juga. Aku aja yang nggak bisa berpikir dewasa dan lebih mentingin ego aku sendiri. Aku yang lebih banyak bersalah. Sampai akhirnya kakak juga jadi sakit kayak gini. Maafin aku ya, kak," kembali Sena juga mengakui kesalahannya.
"Jangan bicara seperti itu. Tanpa kamu minta maaf pun kakak udah pasti bakal maafin kamu kok," hibur Syafiq.
"Aku masih kayak anak kecil ya kak. Belum bisa jadi istri yang baik juga buat kakak. Rasanya, cuma kata maaf aja juga nggak akan cukup kak buat aku," sesal Sena lagi dan lagi.
"Hei, kamu ngomong apa sih, sayang? Udah ah. Nggak akan ada habisnya kalau kita saling minta maaf terus kayak gini. Bener kata Bunda tadi, yang udah lalu biarlah berlalu, kita jadikan aja sebagai pelajaran untuk kita kedepannya nanti. Biar kita bisa menjalani rumah tangga kita dengan lebih baik lagi, oke," potong Syafiq akhirnya, menengahi.
Sena menganggukkan kepalanya pelan di dada bidang suaminya itu.
"Sekarang ceritain sama kakak, kemarin kamu pergi kemana? Kok kakak cariin tapi sama sekali nggak ada jejaknya. Bahkan Papa juga nggak bisa ngelacak keberadaan kamu," tanya Syafiq merubah topik pembicaraan.
"Ke kota S. Ke rumah almarhumah neneknya Mbak Sonia," jawab Sena.
"Sonia? Jadi yang bantuin kamu pergi itu Bang Sean?" tanya Syafiq lagi, terkejut mendengar jawaban Sena tadi.
"He'em," jawab Sena seraya mengangguk kembali di dada Syafiq.
"Astaga. Ternyata Bang Sean ya? Ck-ck-ck, bener-bener nggak nyangka kakak. Padahal hari itu kakak juga langsung ngehubungin Bang Sean loh, cerita kalau kamu pergi dari rumah. Sama sekali nggak nyangka kakak, bahkan kakak pun tertipu dengan sikap tenang Bang Sean waktu itu. Dan kakak juga beneran nggak ada kecurigaan sama sekali kalau Bang Sean yang bakalan bantuin kamu pergi," jelas Syafiq panjang lebar.
Sena hanya mengulum senyum kecil melihat reaksi kaget suaminya itu.
"Terus yang nemenin kamu selama di kota S siapa?" tanya Syafiq lagi.
"Naura sama Rey," jawab Sena.
"What???" kaget Syafiq untuk kesekian kalinya. "Kok bisa? Jadi yang kejadian di cafe Frans waktu itu?"
__ADS_1
"Bang Sean juga yang ngatur. Katanya Bang Sean udah memprediksi kalau kakak pasti bakal nyariin Rey. Makanya Bang Sean ngerencanain semua itu sebagai pengalihan, biar kakak nggak curiga lagi sama Rey ataupun Naura," jawab Sena menjelaskan.
"Masya Allah. Sehebat itu ternyata Abang gue. Perencanaan yang bener-bener matang. Sama sekali nggak nyangka kalau kakak bakal dibohongi mentah-mentah kayak gini sama Bang Sean, ck-ck-ck," lagi dan lagi Syafiq berdecak beberapa kali, merutuki kebodohannya sendiri.
Terdengar Sena justru terkikik kecil dalam pelukan Syafiq.
"Ngeledekin kakak kamu ya?" tanya Syafiq sewot.
"Enggak kok, kak. Maaf deh. Cuma nggak nyangka aja, ternyata masih ada yang jauh lebih hebat dari suami aku yang sombong ini, hehe," jawab Sena tersenyum jahil dengan mengangkat wajahnya melihat ke arah Syafiq.
"Eh, berani kamu ya ngatain suami kamu yang ganteng dan baik hati ini 'sombong'?" tanya Syafiq dengan berpura-pura marah. "Nih, rasain hukuman buat kamu."
Syafiq kemudian menggelitiki pinggang Sena, membuat istrinya itu tertawa terpingkal-pingkal. Syafiq ikut tertawa melihat istrinya yang menggeliat-geliat kegelian seperti itu.
"Aaahhh, ampun kak. Udah-udah. Iya deh iya, aku minta maaf. Udah kak, please," mohon Sena di sela-sela tawanya.
Syafiq pun kemudian menghentikan gelitikannya di pinggang Sena.
"Kakak jahat," gerutu Sena seraya menghapus air mata tawa di sudut matanya.
"Enggak kok enggak. Iya deh, maaf," kata Sena akhirnya.
Syafiq tertawa kemudian kembali menarik kepala Sena untuk berbantal di bahunya. Cup. Kembali Syafiq mencium puncak kepala istrinya itu penuh sayang.
"Kakak kemarin itu mukul wajahnya Rey kenceng banget sih. Sampe bengkak loh itu, kasihan dia," tegur Sena beberapa saat kemudian.
"Biarin, salah sendiri dia dulu suka sama kamu, ya kakak kan jadi mikirnya yang enggak-enggak. Mana dia bukannya jelasin malah nyalahin kakak lagi, pake bilang kata-kata yang memprovokasi kakak juga. Ya kakak jadi emosi dong. Dasarnya emang lagi butuh pelampiasan, ya udah kakak pukul aja dia sekalian melampiaskan emosi kakak," balas Syafiq membela diri.
"Astaga kak Syafiq,,, kasihan amat ya si Rey jadi sasaran pelampiasan emosi kakak," tegur Sena setelah mengangkat kepalanya lalu menggelengkan kepalanya beberapa kali, tidak habis pikir dengan jawaban dari suaminya itu tadi.
"Hehe, anggap aja lagi khilaf," kata Syafiq dengan cengiran khasnya.
Sena nampak melotot garang, tidak setuju dengan perkataan Syafiq itu.
"Iya-iya, besok kakak minta maaf deh ke Rey," Syafiq akhirnya memilih mengalah setelah melihat istrinya itu nampak marah.
"Nah gitu dong," kata Sena seraya tersenyum kemudian kembali meletakkan kepalanya di atas bahu kokoh suaminya itu.
__ADS_1
"Kakak tiap kali emosi selalu gitu ya? Melampiaskannya dengan mukul orang. Sembarangan orang pula mukulnya," tanya Sena iseng.
"Nggak juga. Kan waktu itu kebetulan aja kondisinya mendukung, Rey nya juga memprovokasi kakak dengan nyalahin kakak, jadi ya udah deh kakak mukul dia. Salah sendiri dia berani saingan sama kakak yang hebat ini buat dapetin cinta kamu. Nggak level dong," jawab Syafiq angkuh.
"Dih, dasar arogan!" cibir Sena.
"Biarin arogan, tapi kamu cinta kan?" tanya Syafiq dengan nada menggoda.
"Ah, iya. Sayangnya aku udah terjerat dengan cinta CEO Arrogant ini sejak dulu. Bahkan sejak aku masih kecil, hmh," keluh Sena membenarkan.
Syafiq nampak tertawa mendengar pengakuan istrinya itu.
"Dan kakak jamin, kamu nggak akan pernah bisa lepas dari Jerat Cinta CEO Arrogant ini," tegas Syafiq di sela-sela tawanya.
"Iya deh iya, aku juga tau kok kalau aku nggak bakalan bisa lepas dari jerat cinta CEO Arrogant kesayangan aku ini," balas Sena yang juga ikut tertawa kecil, merasa konyol sendiri dengan pembicaraan mereka itu.
Beberapa saat kemudian, setelah tawa keduanya mereda.
"Kakak sayang banget sama kamu, Sena," kata Syafiq setulus hati.
"Aku juga sayang banget sama kak Syafiq," balas Sena pula.
Syafiq kemudian mengangkat wajah istrinya itu menggunakan ibu jari dan jari telunjuknya.
"I love you, my wife," bisik Syafiq tepat di depan wajah Sena.
"I love you too, my husband," balas Sena dengan tersenyum lembut.
Perlahan-lahan Syafiq kemudian memajukan wajahnya. Diciumnya lembut penuh perasaan sayang bibir mungil istrinya itu yang sudah sangat dia rindukan selama lebih dari sepuluh hari ini. Syafiq dan Sena memejamkan kedua mata mereka masing-masing, meresapi kehangatan dan limpahan rasa kasih sayang satu sama lain. Menyalurkan semua rasa rindu yang sudah terpendam selama lebih dari sepuluh hari terakhir ini.
Ciuman yang awalnya lembut dan penuh perasaan itupun akhirnya lama kelamaan mulai berubah menuntut dan semakin intens. Namun kemudian Sena yang terlebih dahulu melepaskan dirinya dari ciuman panas tersebut.
"Kak,,, kondisi kakak masih belum pulih benar. Dan juga, ini kita lagi di rumah sakit," lirih Sena dengan nafas yang sedikit terengah-engah, mengingatkan suaminya itu agar tidak sampai kebablasan.
"Kakak tau kok. Kakak juga masih bisa menahan sampai kita pulang nanti. Tapi kalau cuma peluk sama cium aja boleh kan?" tanya Syafiq meminta persetujuan.
Sena tersenyum mendengar perkataan suaminya itu. Sena pun kemudian menganggukkan kepalanya tanda setuju. Dan sejurus kemudian, Syafiq sudah kembali menyatukan bibir mereka berdua. Sepasang suami istri itu pun akhirnya larut dalam kemesraan mereka. Menumpahkan rasa rindu dan rasa sayang satu sama lain, meski dengan kondisi yang terbatas.
__ADS_1