
Syafiq keluar dari kamar mandi dan melihat Sena yang sedang mengaplikasikan krim malam pada wajahnya dengan sedikit melamun di depan meja riasnya. Ah, sepertinya masalah ini benar-benar sudah mengganggu pikiran istri cantiknya itu.
Syafiq berjalan menghampiri Sena kemudian berdiri di belakangnya. Nampaknya Sena benar-benar sedang terhanyut dalam lamunannya saat ini. Sena sama sekali tidak menyadari kalau Syafiq sudah berdiri di belakangnya sekarang.
Grep!
Sena tersentak ketika tiba-tiba saja Syafiq memeluknya dari belakang.
"Ngelamunin apa sih? Sampai nggak nyadar kalau suaminya ada di belakangnya kayak gini," tanya Syafiq seraya menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Sena.
"Kak,,," protes Sena merasa kegelian.
Dan tiba-tiba saja ponsel Sena berdering nyaring. Perhatian keduanya kemudian teralihkan kepada ponsel Sena yang tergeletak di atas nakas di samping tempat tidur.
Syafiq melepaskan pelukannya pada Sena kemudian berjalan menghampiri meja nakas. Diambilnya ponsel Sena tersebut kemudian dia bawa kembali menghampiri Sena dan menyerahkannya kepada Sena.
"Makasih," kata Sena seraya menerima ponselnya dari tangan Syafiq.
Video call dari Ayumi. Sena kemudian menggulir tombol warna hijau pada ponselnya itu keatas.
"Assalamu'alaikum," sapa Sena.
"Wa'alaikumsalam Sen, kak Syafiq."
Sena mengerutkan keningnya melihat keadaan di belakang sahabatnya itu.
"Yum Lo lagi di rumah sakit ya? Siapa yang sakit?" tanya Sena kaget sekaligus khawatir.
"Hehe, iya nih Sen. Kak Frans yang sakit. Tadi sore dia pingsan di kafenya terus langsung gue bawa kesini deh."
"Astaghfirullah hal adziim. Kak Frans sakit apa Yum?"
"Tipes Sen. Tapi alhamdulillah ini udah mendingan kok keadaannya."
"Yaa Allah," lirih Sena dengan wajah prihatin.
"Frans lagi apa Yum?" tanya Syafiq juga.
Sena sedikit bingung. Tidak ada nada kaget dalam pertanyaan suaminya itu.
"Tidur dia kak. Habis minum obat tadi. Mungkin pengaruh dari obatnya juga."
__ADS_1
"Om dan Tante masih belum datang?" tanya Syafiq lagi.
"Belum kak. Masih di jalan katanya. Bandung kesini kan butuh waktu yang lumayan juga kak."
"Oh, iya juga sih. Kamu udah ngabarin orang rumah belum?"
"Udah dong kak. Tadi aku udah telepon Bunda juga kok."
"Syukurlah kalau gitu."
"Kak Syafiq sekali lagi makasih banget ya tadi udah bantuin Ayumi ngurusin semua administrasi dan yang lainnya. Maaf juga karena HP kak Syafiq jadi jatuh dan rusak setelah kita tabrakan di koridor tadi."
"Nggak pa-pa kok, Yum, santai aja. Justru kakak yang mau bilang makasih sama kamu udah bawa Frans ke rumah sakit secepatnya. Untung aja ada kamu. Thanks ya, Yum. Kalau soal HP, tenang aja, kakak udah ada yang baru kok. Cuma emang belum sempat ngaktifin aja, hehe," kata Syafiq panjang lebar yang secara tidak langsung juga sedikit memberi penjelasan kepada Sena.
"Hmh, iya deh yang CEO. Beli HP kayak beli kerupuk aja, wkwkwk. Nggak perlu bilang makasih juga kak. Lagian juga kan kak Frans sekarang pacarnya Ayumi, jadi wajar dong kalau Ayumi ngurusin kak Frans."
"What??? Jadi Lo sama kak Frans beneran udah jadian Yum?" tanya Sena kaget.
"Hehe, iya Sen. Baru juga sebulan ini kok."
"Permisi, mau ganti infusnya dulu ya."
Sena dan Syafiq bisa mendengar ada suara seorang perawat dari seberang panggilan.
"Iya Yum, nggak pa-pa kok," balas Syafiq.
"Oke deh. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam," balas Sena dan Syafiq bersamaan.
Tut.
Sambungan video call pun terputus. Sena kemudian langsung berbalik menghadap ke arah Syafiq.
"Kak,,," panggil Sena dengan perasaan yang bercampur aduk, antara menyesal dan juga penasaran.
Syafiq tersenyum, kemudian menarik tangan istrinya itu untuk bangun.
"Sini!"
Syafiq mengajak Sena untuk duduk berhadapan di atas tempat tidur.
__ADS_1
"Jadi tadi?" tanya Sena kemudian.
"Iya, tadi kakak bantuin Ayumi buat ngurusin administrasi pendaftaran rawat inapnya si Frans. Kebetulan tadi nggak sengaja tabrakan sama Ayumi di koridor IGD rumah sakit. Kita sama-sama paniknya tadi jadi nggak lihat jalan. Dan karena tabrakan itu akhirnya HP kakak jadi jatuh dan mati," jawab Syafiq menjelaskan.
"Terus setelah kakak tau kalau Ayumi nganterin Frans yang nggak sadarkan diri, akhirnya kakak sama Alvin bagi tugas. Kakak yang bantuin Ayumi, Alvin yang ngurusin Aletta. Kakak juga nemenin Ayumi dulu tadi, soalnya kan kasihan dia sendirian nungguin Frans. Bahkan tadi setelah Alvin selesai dengan urusan Aletta, dia juga ikut nungguin Frans sebentar sampai Sammy datang buat nemenin Ayumi," lanjut Syafiq.
"Terus kondisi kak Aletta gimana kak?" tanya Sena lagi.
"Kata Alvin tadi dokter bilang kalau Aletta mengidap hipotensi atau tekanan darah rendah. Kemungkinan udah lama, tapi nggak pernah disadari jadi nggak pernah diobati juga. Analisis dokter sih gitu kata Alvin," jawab Syafiq.
"Terus yang nungguin kak Aletta selama di rumah sakit siapa kak? Kan katanya orang tua sama kakaknya di luar negeri semua."
"Sepupunya. Cewek yang kemarin nemenin Aletta pas kita ketemu di restoran dekat kantor itu loh."
"Oh, yang itu. Syukurlah kalau gitu, berarti ada yang jagain kak Aletta selama di rumah sakit," kata Sena lega.
"Kamu kenapa sebegitu peduli sama Aletta sih, sayang? Kan kamu tau sendiri dia ada niat yang enggak baik," tanya Syafiq heran.
"Ya, sekedar rasa kemanusiaan aja sih, kak. Biar bagaimanapun juga kan kak Aletta itu temen kuliah kakak juga dulu. Dan sekarang dia lagi kena musibah. Jadi wajar dong kalau aku simpati," jawab Sena.
"Uuuhhh, baik banget sih istri kakak ini," puji Syafiq seraya mencubit lembut hidung Sena.
"Sini peluk," pinta Syafiq yang kemudian langsung menarik Sena masuk ke dalam pelukannya.
Cup.
Syafiq mencium puncak kepala istrinya itu penuh sayang.
"Kakak minta maaf ya udah buat kamu jadi khawatir," kaya Syafiq lagi.
"Kakak nggak salah. Kenapa harus minta maaf? Justru aku yang salah, jadi aku yang harusnya minta maaf sama kakak. Maaf ya kak, udah sempet berpikiran yang enggak-enggak," sesal Sena.
"Kamu juga nggak salah kok, sayang. Kan HP kakak mati, HP Alvin juga ketinggalan di kantor, makanya kakak sama sekali nggak bisa kasih kabar ke kamu. Jadi sangat wajar kalau kamu jadi berpikiran yang enggak-enggak. Apalagi yang kakak anterin ke rumah sakit itu cewek yang notabene-nya lagi berusaha buat ngedeketin kakak lagi. Jadi sangat wajar kalau kamu merasa khawatir," balas Syafiq bijak.
"Makasih ya, kak, udah selalu mau ngertiin aku dan selalu sabar ngadepin sifat aku yang masih sering kekanakan ini," ucap Sena.
"Jangan pernah ngomong seperti itu lagi, sayang. Kakak nggak suka," tegas Syafiq. "Di dunia ini nggak ada manusia yang sempurna. Yang paling penting adalah kita mau berusaha untuk berubah menjadi lebih baik lagi. Berusaha untuk memperbaiki diri kita menjadi pribadi yang lebih baik. Kamu mengerti?"
"Iya kak," jawab Sena dengan menganggukkan kepalanya di dada bidang suaminya itu.
"Pokoknya, lain kali kalau ada masalah lagi, apapun itu, kita harus menyelesaikannya hari itu juga, sebelum kita berdua tidur. Biar kita bisa tidur dengan tenang dan nggak ada yang mengganjal lagi di hati. Jadi kalau ada masalah apapun kamu jangan ragu untuk bilang atau tanya ke kakak langsung, ya," pinta Syafiq.
__ADS_1
"Iya kak, insya Allah."
Syafiq kembali mencium puncak kepala istrinya itu kemudian mengeratkan pelukannya.