Jerat Cinta CEO Arrogant

Jerat Cinta CEO Arrogant
Hampa


__ADS_3

Sudah tiga hari semenjak Sena pergi, keadaan Syafiq pun juga semakin kacau. Syafiq sudah berusaha mencari kemana-mana tapi masih belum ada hasil sama sekali. Bahkan sekarang keluarga besar pun juga sudah mengetahui kabar tentang kepergian Sena, meski mereka tidak diberitahu tentang alasan sebenarnya di balik kepergian Sena tersebut.


Bima dan yang lainnya tentu saja juga langsung turun tangan untuk mencari keberadaan Sena. Tetapi hasilnya masih tetap nihil.


Siang ini Sean dan Adrian datang berkunjung ke perusahaan RSA Group. Sean mendapat laporan dari Alvin dan Ega kalau kondisi Syafiq semakin kacau. Syafiq memang masih bisa fokus dalam menyelesaikan pekerjaannya, tapi Syafiq benar-benar melupakan kondisi kesehatannya sendiri. Ya, Syafiq seakan-akan melampiaskan rasa frustasinya dengan memforsir dirinya sendiri untuk bekerja lebih keras lagi.


"Assalamu'alaikum," salam Sean dan Adrian begitu membuka pintu ruangan Syafiq.


"Wa'alaikumsalam," balas Syafiq seraya mengangkat pandangannya dari laptop yang sedari tadi digelutinya. "Eh, Bang, Mas."


Syafiq segera berdiri dari kursi kebesarannya dan menyambut kedatangan Sean dan juga Adrian.


"Duduk Bang, Mas," kata Syafiq mempersilahkan.


Ketiganya kemudian duduk di sofa di dalam ruangan kantor Syafiq tersebut.


"Ada apa nih, tumben berduaan kesini?" tanya Syafiq setelah mereka duduk.


"Gimana keadaan kamu? Bunda bilang kamu belum pulang ke rumah sejak kejadian itu," tanya Sean.


Syafiq tersenyum kecut. Raut wajahnya berubah sendu, kembali teringat dengan kepergian istri tercintanya, Sena.


"Yah, kayak gini lah, Bang," jawab Syafiq lesu.


"Fiq, Lo jangan memforsir diri Lo sendiri kayak gini dong. Pikirin kesehatan Lo juga. Alvin bilang kalau Lo selalu lembur dan pulang malam. Bahkan Lo juga sering nggak makan siang. Jangan kayak gitu dong, Fiq. Sama aja Lo nyiksa diri Lo sendiri kalau terus kayak gini," nasehat Adrian panjang lebar.


"Mau gimana lagi, Mas. Gue selalu kepikiran sama Sena kalau di rumah, makanya gue lebih milih nyibukin diri gue dengan kerja," balas Syafiq.


"Kamu boleh menyibukkan diri dengan kerja, tapi jangan sampai lupa makan juga dong, Fiq. Pikirkan kesehatan kamu juga," sambung Sean.


"Gue nggak makan karena gue belum merasa lapar aja, Bang. Entar kalau lapar juga gue pasti makan kok. Kalian berdua tenang aja," kata Syafiq.


"Kamu bikin Bunda dan kita semua jadi khawatir kalau terus menerus kayak gini, Fiq."


"Sorry Bang, bukan maksud gue kayak gitu," sesal Syafiq.


Sean menepuk pundak adik laki-lakinya itu, mencoba menyalurkan semangat.


"Jangan kayak gini, kamu bisa sakit nanti. Gimana kamu mau nyariin Sena kalau kamu sakit? Kamu harusnya mikir, Sena pasti juga akan merasa sedih kalau ngelihat kamu jadi kayak gini, Fiq," nasehat Sean.


Syafiq terdiam, merenungkan semua perkataan Sean dan juga Adrian tadi.


"Iya Bang. Gue nggak akan kayak gini lagi. Gue janji akan jaga diri gue baik-baik," janji Syafiq kemudian.


"Baguslah," balas Sean dengan tersenyum.


"Oh iya, apa acara lamaran gue akhir pekan ini gue undur aja kali ya, nunggu Sena ketemu dulu?" tanya Adrian.

__ADS_1


"Jangan Mas. Nggak usah diundur. Kasihan Safa. Udah lama juga kan kalian berdua nungguin momen ini," larang Syafiq.


"Tapi kan -"


"Gue nggak pa-pa kok, Mas. Lanjutin aja rencana lamaran kalian," kata Syafiq memotong perkataan Adrian.


Adrian melihat ke arah Sean, dan setelah melihat Sean menganggukkan kepalanya pelan akhirnya Adrian pun setuju.


"Hmh, oke deh kalau gitu," balas Adrian pada akhirnya.


🌺🌺🌺


Sesuai rencana, akhir pekan ini diadakan acara lamaran dari keluarga Adrian kepada Safa. Sama seperti Adrian kemarin, awalnya semua orang juga berpikiran untuk mengundur saja acara lamaran tersebut. Tetapi Syafiq berhasil meyakinkan semuanya bahwa dia baik-baik saja dan acara lamaran tidak perlu untuk diundur.


Tidak ada pesta maupun perayaan besar, acara lamaran kali ini lebih ke acara keluarga bersama saja, mengingat bahwa Sena juga belum bisa ditemukan sampai sekarang. Acara lamaran malam ini berjalan dengan lancar dan khidmat. Kebahagiaan sangat nampak di wajah Adrian dan Safa, begitu juga dengan seluruh keluarga yang lainnya. Syafiq pun juga berusaha sebisa mungkin untuk tidak terlihat murung ataupun sedih. Tentu saja Syafiq tidak ingin merusak acara bahagia adiknya itu.


Tapi ternyata Syafiq tidak mampu bertahan terlalu lama dengan kepura-puraannya itu. Tidak ingin merusak suasana bahagia yang ada, akhirnya Syafiq pun memutuskan untuk pamit lebih dulu. Syafiq kemudian mendekati Steven dan Sheila.


"Yah, Bun, kakak balik duluan ya. Masih banyak pekerjaan yang belum selesai," pamit Syafiq pelan kepada kedua orang tuanya itu.


"Kakak nggak tidur di rumah aja?" tanya Sheila.


"Maaf Bun. Tapi tolong biarin kakak untuk sendiri dulu sementara waktu ini," lirih Syafiq.


"Tapi kakak juga belum makan loh," cegah Sheila lagi.


"Tapi kak -"


Steven merangkul pundak istri tercintanya yang sudah mulai berkaca-kaca kedua matanya itu.


"Biarin kakak sendiri dulu, Bun," kata Steven.


Sheila menghela nafas. Tapi dia tau kalau apa yang dikatakan oleh suaminya itu sangat benar.


"Hmh. Ya udah kalau gitu. Tapi kakak janji sama Bunda ya, kakak harus jaga diri kakak baik-baik," pesan Sheila.


"Pasti Bun," balas Syafiq.


Syafiq kemudian mencium punggung tangan kanan Steven dan Sheila bergantian.


"Kakak pamit ya, assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam, hati-hati ya kak."


Steven dan Sheila tentu saja merasa sedih melihat keadaan putra keduanya itu saat ini. Namun keduanya juga tau bahwa saat ini putranya itu butuh waktu untuk menenangkan diri dulu. Steven dan Sheila hanya bisa mendo'akan semoga masalah yang dihadapi Syafiq dan Sena bisa segera diselesaikan.


🌺🌺🌺

__ADS_1


Syafiq sudah sampai di apartemennya. Selesai membersihkan diri dan berganti pakaian, Syafiq kemudian merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Memiringkan tubuhnya, Syafiq lalu meraba sisi kosong tempat tidur di sebelahnya.


"Kamu dimana sayang? Hidup kakak rasanya hampa tanpa kehadiran kamu di sisi kakak," lirih Syafiq.


Tes.


Air mata Syafiq menetes begitu saja.


"Maafkan kakak, Sena. Kakak tau kakak udah berbuat salah sama kamu. Tapi jangan siksa kakak seperti ini. Kembalilah Sena. Kakak nggak bisa hidup tanpa kamu kayak gini," ucap Syafiq sendu.


🌺🌺🌺


Sementara itu di kota S.


Saat ini Sena sedang menghubungi Sonia dan meminta kepada kakak iparnya itu untuk membawa Safa ke dalam kamar. Ya, Sena ingin mengucapkan selamat secara langsung kepada adik iparnya itu, tapi tentu saja tanpa sepengetahuan keluarganya yang lainnya.


"Assalamu'alaikum," sapa Safa.


"Wa'alaikumsalam Safa," balas Sena.


"Kak Sena?" pekik Safa seakan tidak percaya.


"Iya, ini kakak."


"Kakak dimana? Gimana kabar kakak sekarang?" tanya Safa antusias.


"Kakak baik-baik aja kok. Oh iya, kakak ucapin selamat ya untuk kamu dan Mas Rian. Semoga dilancarkan sampai hari pernikahan nanti ya," kata Sena.


"Aamiin, makasih kak. Tapi kakak sekarang ada dimana? Kasihan kak Syafiq, kak. Dia kayak kehilangan semangat hidup semenjak kakak pergi. Kak Syafiq kacau banget kak sekarang. Kakak pulang ya," bujuk Safa.


"Untuk saat ini kakak belum bisa, Safa. Kakak masih butuh waktu untuk menenangkan diri terlebih dahulu. Tapi kakak janji, kakak pasti akan pulang," balas Sena.


"Kakak,,," rajuk Safa.


"Ya udah ya, kakak tutup dulu teleponnya. Sekali lagi kakak ucapin selamat ya untuk kalian berdua. Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam kak."


Tut.


Sambungan telepon terputus. Sena meletakkan ponselnya di atas meja kecil di samping tempat tidur. Sena kemudian merebahkan tubuhnya.


"Maafin aku yang belum bisa pulang untuk saat ini, kak. Maafin aku yang masih butuh waktu untuk menyembuhkan rasa kecewaku ini. Maafin aku yang belum bisa menjadi istri yang baik untuk kakak. Tolong maafin aku, kak," lirih Sena dengan memandang kosong ke arah langit-langit kamar.


Tes.


Tanpa Sena sadari air mata Sena pun juga menetes dengan sendirinya. Sena tau apa yang dilakukannya saat ini tidak benar. Tapi Sena juga masih merasa kecewa karena Syafiq sudah membohongi dirinya tentang malam itu. Sena kecewa karena Syafiq tidak mengatakan yang sejujurnya tentang hubungannya dengan Vira. Sena juga kecewa karena Syafiq sudah memaksanya untuk menikah dengan cara berbohong seperti itu. Dan yang lebih membuat Sena kecewa lagi adalah karena ternyata Papa-nya dan Sean yang juga sudah mengetahui semua rahasia itu dari awal, tapi mereka tetap merahasiakan semuanya itu dari Sena.

__ADS_1


Sena tau mereka semua melakukan semua itu demi kebaikan Sena juga. Tapi tetap saja, rasa kecewa itu masih ada di hati Sena. Dan Sena butuh waktu untuk menyembuhkan rasa kecewanya itu.


__ADS_2