
"Assalamu'alaikum," salam Syafiq seraya berjalan menghampiri Sena yang saat ini sedang duduk di sofa ruang tamu, mengerjakan tugas kuliah pada laptop miliknya.
"Wa'alaikumsalam," jawab Sena.
Sena mengangkat wajahnya, melihat ke arah Syafiq. Dan begitu terkejutnya Sena ketika melihat keadaan Syafiq yang cukup berantakan, bahkan ada noda darah di kemeja Syafiq. Sena langsung melompat turun dari sofa dan memburu ke arah Syafiq.
"Kakak kenapa? Kakak terluka? Kenapa ada darah di kemeja kakak?" tanya Sena memberondong karena terlalu panik.
Syafiq justru tertawa kecil melihat reaksi Sena yang seperti itu. Syafiq kemudian menuntun Sena untuk kembali duduk di sofa.
"Duduk dulu. Kakak nggak pa-pa kok. Nggak usah panik gitu," jawab Syafiq setelah mereka berdua duduk bersisian di sofa.
"Tapi noda darah ini?" tanya Sena masih terdengar khawatir.
"Ini bukan darah kakak. Mungkin darah dari anak buah Rudi yang tadi berkelahi dengan kakak."
"Anak buah Om Rudi? Orang yang menjebak aku di hotel kemarin?" tanya Sena kaget.
"Iya. Jadi tadi pagi Ega telepon itu ngabarin kalau tempat persembunyian Cinthya sudah ditemukan. Rudi yang sudah membantu Cinthya melarikan diri. Bahkan ternyata Rudi juga terlibat dengan insiden kebakaran di rumah Papa kemarin."
"Apa?" tanya Sena semakin kaget dan tidak percaya.
Syafiq kemudian menceritakan semua yang sudah terjadi kepada Sena. Air mata Sena mengalir begitu mengetahui siapa sebenarnya Cinthya. Syafiq merengkuh Sena ke dalam pelukannya.
"Aku nggak pernah nyangka sama sekali kalau ternyata ada cerita seperti ini. Bahkan masih ada sangkut pautnya dengan almarhumah Mama Arini juga," kata Sena di sela-sela isak tangisnya.
"Udah ya. Jangan nangis lagi. Semuanya sudah berakhir sekarang. Dan kakak janji, setelah ini semuanya akan berjalan lebih baik untuk kita semua ke depannya," hibur Syafiq.
Sena mengangguk pelan dalam pelukan Syafiq.
"Oh iya, gimana tadi pembicaraan kamu sama Bunda, Safa, dan Sonia?" tanya Syafiq mencoba mengalihkan pembicaraan.
Sena melepaskan diri dari pelukan Syafiq kemudian menghapus air matanya sebelum menjawab.
"Acaranya akan digelar akhir pekan ini di rumah Ayah. Semua persiapan juga udah selesai. Bahkan undangan juga udah diurusin semua sama Bang Sean. Jadi kita tinggal mempersiapkan diri aja, gitu kata Bunda tadi."
"Oh, oke deh kalau gitu."
"Tapi kakak beneran nggak pa-pa kan? Nggak ada yang terluka?" tanya Sena lagi masih merasa khawatir.
"Kakak baik-baik aja, sayang," jawab Syafiq dengan tersenyum lembut.
__ADS_1
Tubuh Sena menegang mendengar Syafiq memanggil dirinya dengan sebutan 'sayang'. Dan hal itu justru membuat Syafiq tertawa kecil.
"Kamu kenapa jadi bengong gitu sih, sayang?"
"Ka-kakak,,,"
"Kenapa? Nggak boleh ya panggil istri sendiri dengan sebutan 'sayang'? Kan kamu istrinya kakak. Dan kakak kan emang sayang sama kamu. Sayang banget malah."
Blush.
Wajah Sena seketika merona merah mendengar semua perkataan Syafiq tadi.
"Gemes banget sih lihat wajah kamu yang memerah kayak gini, sayang. Sini peluk kakak lagi," kata Syafiq dengan tertawa kecil yang kemudian kembali menarik Sena masuk ke dalam pelukannya.
Sementara Sena semakin tersipu mendapati perlakuan dari Syafiq yang semakin terang-terangan dalam memperlihatkan rasa sayangnya kepada dirinya.
'Ah, Tuhan emang bener-bener baik. Gue nggak perlu susah-susah ngelakuin trik apapun untuk menggugurkan satu syarat dari Sena kemarin. Semuanya udah terjadi atas kuasa-Nya sehingga kami nggak perlu untuk menyembunyikan tentang pernikahan kami lagi. Alhamdulillaah, segala puji bagi-Mu, Yaa Allah,' Syafiq bersyukur dalam hatinya kemudian mencium puncak kepala Sena penuh sayang.
πΊπΊπΊ
Sesuai dengan rencana yang sudah disepakati sebelumnya, akhir pekan ini diadakan acara pengajian dan syukuran di rumah Steven untuk mengumumkan tentang pernikahan Syafiq dan Sena kepada semua orang. Seperti halnya Sean dan Sonia kemarin, Syafiq dan Sena pun juga menolak untuk diadakan pesta resepsi pernikahan, sehingga disepakati-lah acara pengajian dan syukuran ini.
Halaman samping dan belakang rumah Steven sudah penuh dengan para tamu undangan yang hadir. Kerabat, kolega, sahabat-sahabat Steven beserta keluarganya, dan juga tidak lupa anak-anak dari panti asuhan Opa Ricko tentu saja.
Setelah sesi acara resmi selesai, saat ini semua tamu undangan sedang menikmati hidangan dan berbincang dengan santai di halaman samping dan belakang rumah besar Steven tersebut. Satu per satu dari mereka juga mengucapkan selamat kepada Syafiq dan Sena, serta mendo'akan untuk kebahagiaan pernikahan mereka kedepannya.
"Nggak nyangka gue Bro, ternyata Lo secepat itu nyusulin gue. Cuma sehari dan Lo langsung nikah juga, ckckck," celetuk Kenzie yang diakhiri dengan decakan berkali-kali.
Saat ini Syafiq dan sahabat-sahabatnya yang lain sedang duduk bersama mengelilingi sebuah meja. Mereka sedang memanfaatkan waktu untuk berbincang bersama.
"Ya, mau gimana lagi, namanya juga udah jodoh," jawab Syafiq enteng.
"Asem Lo, Fiq. Ternyata diam-diam Lo nggak mau keduluan ya sama gue. Udah langsung main ijab kabul aja Lo, mana diem-dieman lagi," sungut Sammy juga.
"Apanya yang diem-dieman woy. Yang nikahin gue aja Papa Bima langsung. Bang Sean juga hadir kok kemarin," sanggah Syafiq melakukan pembelaan.
"Tapi Ayah sama Bunda nggak Lo kasih tau kan?" cibir Adrian.
"Hehe, kalau itu pengecualian Mas, ada sedikit trouble kemarin," balas Syafiq dengan cengiran khasnya.
"Hilih, alesan aja Lo, kak," cibir Lucky juga.
__ADS_1
"Diem Lo. Lo juga jadi salah satu alasannya tau nggak? Kalau bukan karena perjanjian sialan itu, Sena nggak bakal mikir yang enggak-enggak dan nggak akan ngajuin syarat kayak kemarin itu," sungut Syafiq emosi.
"Hehe, sorry kak, sorry," sesal Lucky merasa bersalah juga.
"Hmh, berarti Mas Rian sekarang udah nggak ada halangan lagi dong buat ngehalalin Safa. Udah nggak ada yang ditunggu lagi," celetuk Alvin.
"Wah, iya juga ya. Hmh, kira-kira duluan gue atau Mas Rian ya nanti?" sambung Sammy juga.
"Siapapun yang duluan, kita do'akan yang terbaik aja buat semuanya," kata Sean menengahi.
"Nah, setuju banget tuh, Bang. Abang emang selalu paling ngertiin kita deh. Buruan dihalalin ya Mas, Safa-nya. Biar gue segera dapet kakak ipar," balas Alvin, memuji Sean sekaligus menggoda Adrian.
"Hilih, bilang aja habis Mas ngehalalin Safa kamu juga udah nggak sabar mau ngehalalin Raindyta, iya kan?" cibir Adrian yang balik menggoda adiknya.
"Mas Rian," geram Alvin.
Seketika tawa pun pecah di antara para sahabat tersebut. Sementara Alvin menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, sedikit salah tingkah mendengar godaan dari kakaknya tadi.
πΊπΊπΊ
"Siang Om Bima, Tante Bella," sapa Lucky yang kemudian mencium punggung tangan kanan Bima dan Bella bergantian.
"Oh, hai Ky," balas Bima.
"Om, Tante, saya mau minta ijin buat bawa Vira ketemu sama Mama sama Papa, ya. Mumpung kita semua lagi kumpul di acara syukuran ini," kata Lucky meminta ijin.
Vira yang sedang berdiri di samping Bima, Bella, dan Azka pun tersipu malu. Sedikit gugup juga mendengar bahwa Lucky hendak mengajak dirinya untuk bertemu dengan Mama Tya dan Papa Leon.
"Boleh kok. Silahkan aja," balas Bima memberikan ijinnya.
Terjadi sedikit pertentangan di dalam hati Bella. Jujur saja Bella belum bisa seratus persen percaya bahwa foto-foto yang dia dapat dulu itu benar-benar palsu. Foto-foto itu terlalu meyakinkan menurut Bella. Tapi kemudian Bella teringat dengan nasehat dari Bima beberapa saat yang lalu.
'Percaya sama Papa. Anak-anak kita semua bisa bahagia. Asalkan kita sebagai orang tua mau mendengarkan pilihan mereka dan tidak terlalu memaksakan kehendak kita kepada mereka, mereka pasti bisa bahagia.'
Menghembuskan nafasnya pelan, akhirnya Bella pun berusaha untuk mempercayai perkataan suaminya. Ya, Bella harus bisa menghargai pilihan anak-anaknya dan tidak memaksakan kehendaknya sendiri.
"Boleh kan, Ma?" tanya Vira pelan kepada Bella.
Vira menyadari perubahan raut wajah Bella. Vira tau benar kalau mamanya itu belum bisa percaya sepenuhnya kalau Lucky tidak seperti berita yang selama ini dia terima. Namun diluar dugaan Vira, Bella justru tersenyum lembut kepada dirinya.
"Tentu saja boleh, sayang. Kan Papa kamu juga udah bilang boleh tadi," jawab Bella.
__ADS_1
"Makasih, Ma," seru Vira riang seraya langsung memeluk Bella dari samping.
Bella tersenyum lembut, kemudian mengelus puncak kepala Vira. Ah, melihat Vira sebahagia ini, hati Bella pun juga merasa sangat bahagia. Bella kemudian menoleh ke arah Bima. Dilihatnya suaminya itu tersenyum lembut dengan sedikit menganggukkan kepalanya. Bella pun membalas senyuman dari suaminya itu. Ya, Bella harus percaya pada suaminya itu, dan menghargai keputusan anak-anaknya. Semua itu demi kebahagiaan anak-anaknya juga, jadi Bella tidak boleh egois.