Jerat Cinta CEO Arrogant

Jerat Cinta CEO Arrogant
Me Time Bertiga


__ADS_3

Akhir pekan ini lagi-lagi Sena, Sonia, dan Safa ijin keluar untuk me time bertiga. Kebetulan juga suami-suami mereka sedang ada urusan dengan pekerjaan mereka masing-masing saat ini. Jadi mereka bertiga juga ada waktu luang untuk berkumpul.


Kali ini ketiga wanita cantik itu tidak memilih mall sebagai tempat mereka bertiga untuk menghabiskan waktu bersantai mereka. Ketiganya lebih memilih berjalan-jalan di taman, menikmati udara segar dan juga pemandangan indah bunga-bunga. Piknik kecil-kecilan ala mereka.


"Subhanallah, udaranya seger banget ya," kata Sonia seraya menghirup nafas dalam-dalam kemudian menghembuskannya perlahan.


Saat ini Sonia, Sena, dan Safa sedang berjalan-jalan mengelilingi taman tersebut seraya mengobrol bersama.


"Iya Mbak, bener banget. Udara pagi disini memang bener-bener seger," balas Sena.


"Pemandangannya juga indah. Bunganya cantik-cantik," lanjut Safa.


"Kamu bener banget, Sa. Eh, kita duduk di bawah pohon itu aja yuk!" ajak Sonia seraya menunjuk ke arah sebuah pohon yang agak besar di depan mereka.


Sena dan Safa menganggukkan kepala mereka tanda setuju.


Ketiganya kemudian berjalan menuju ke arah pohon rindang yang dimaksud oleh Sonia tadi. Sampai di bawah pohon, mereka kemudian menggelar tikar piknik mereka dan mengeluarkan bekal yang memang sengaja mereka bawa dari rumah tadi.


Sandwich, salad buah, cake, kue kering, jus dan juga teh hangat telah tertata rapi di atas tikar piknik mereka. Ketiga wanita cantik itu kemudian duduk bersama, menikmati waktu bersantai mereka kali ini.


"Kak Syafiq sama kak Ega meeting dimana kak?" tanya Safa kepada Sena seraya menikmati cake coklat buatan Sonia.


"Katanya sih di restoran dekat sini, Sa. Kalau Mas Rian sama Bang Sean?" jawab Sena sekaligus bertanya balik.


"Di kantor. Meeting sama bagian produksi gitu katanya," jawab Safa. "Heran deh, weekend gini kok masih pada meeting aja. Emang jam kerja mereka masih pada kurang apa?" gerutu Safa.


"Jangan ngomong kayak gitu, Sa. Suami-suami kita itu pimpinan di perusahaan mereka. Mereka memiliki tanggung jawab yang besar untuk kelangsungan perusahaan dan juga masa depan para karyawan mereka semuanya," kata Sonia bijak.


"Iya sih, So. Tapi kan waktu buat kita jadi berkurang juga," keluh Safa lagi.


"Maka dari itu kita harus pinter-pinter manfaatin waktu pas mereka ada di rumah. Sebisa mungkin menyenangkan hati mereka. Menghabiskan waktu berdua sekaligus menguatkan pondasi hubungan kita."

__ADS_1


"Hmh, iya So. Kamu bener."


"Mbak Sonia emang yang paling terbaik deh kalau ngasih nasehat ke kita," puji Sena.


"Jangan mulai lagi deh, Sen. Udah berapa kali coba Mbak bilang, pokoknya kita bertiga tuh saling sharing dan kasih masukan aja. Nggak ada terbaik-terbaik kayak gitu. Mbak juga sering kan minta nasehat dari kalian berdua juga."


"Ish, apaan? Kamu itu butuh nasehat kita berdua cuma kalau urusan trik baru buat muasin Bang Sean aja. Yang lainnya mah kamu juga udah lebih hebat daripada kita berdua, ya nggak kak?" goda Safa sekaligus meminta pendapat Sena juga.


"Nah, iya tuh, bener banget. Mbak Sonia terlalu malu kalau untuk urusan kayak gitu, makanya harus sering-sering kita training dengan trik baru," balas Sena juga ikut menggoda Sonia.


"Apaan sih kalian ini," kata Sonia dengan wajah memerah karena malu.


"Hahahahaha," tawa Sena dan Safa meledak seketika.


"Ketawa aja terus. Kalian berdua tuh emang paling kompak kalau urusan godain orang," gerutu Sonia kesal.


Dan hal itu justru semakin membuat Sena dan Safa tertawa semakin keras lagi.


"Alhamdulillaah sehat kok," jawab Sonia tersenyum seraya mengusap lembut perutnya yang belum begitu terlihat membesar itu dengan gerakan memutar.


"Alhamdulillaah," balas Sena dan Safa bersamaan seraya ikut tersenyum.


"Udah memasuki trimester kedua ya Mbak? Udah mulai gerak-gerak dong?" tanya Sena antusias.


"Iya, Sen. Alhamdulillaah udah lima bulan. Gerakannya belum begitu kerasa sih, tapi kalau pas malam hari, pas situasi tenang banget gitu, itu bisa kerasa banget. Bahkan Mas Sean pun juga udah bisa ngerasain walaupun masih pelan banget."


"Uuuhhh, pasti si Abang seneng banget tuh," kata Safa dengan mimik wajah imutnya.


"Banget, Sa. Kata Mas Sean bisa ngilangin penat sehabis lelah bekerja."


"Aaahhh, jadi pengen cepet-cepet hamil juga. Pasti Mas Rian juga bakalan seneng banget," rajuk Safa seperti anak kecil.

__ADS_1


Sonia bisa melihat raut wajah Sena dan Safa yang sama-sama begitu berharap.


"Aku do'ain semoga kalian berdua juga segera dikasih kepercayaan sama Allah SWT untuk dititipin amanah ini ya. Semoga kalian berdua juga segera hamil, aamiin," do'a Sonia setulus hati.


"Aamiin Yaa robbal 'aalamiin," Sena dan Safa meng-amin-kan bersamaan.


"Skripsi kamu gimana, Sen? Lancar kan?" tanya Sonia mencari topik pembicaraan lain.


"Alhamdulillaah Mbak. Ya paling revisi satu dua gitu, biasalah. Tapi alhamdulillah insya Allah semuanya masih bisa dibilang lancar kok," jawab Sena.


"Syukur alhamdulillah kalau gitu."


"Minta bantuan kak Syafiq aja dong kak kalau ada kendala. Kan kemarin juga kak Sena magangnya di perusahaan kak Syafiq," kata Safa.


"Iya sih, Sa. Sering dibantuin kak Syafiq juga kok. Tapi kalau keseringan justru aku yang kasihan sama kak Syafiq. Dia udah sibuk ngurusin kerjaan di kantor, eh masih harus bantuin aku buat skripsi juga," ucap Sena tidak enak hati.


"Jangan berpikiran kayak gitu dong Sen. Kak Syafiq pasti dengan senang hati kok bantuin kamu," kata Sonia.


"Iya, bener banget itu kak. Justru kak Syafiq akan ngerasa jadi suami yang nggak berguna kalau kak Sena ada masalah dalam skripsi kakak tapi nggak minta bantuan sama kak Syafiq buat nyelesai-in," imbuh Safa juga.


"Setuju banget. Kamu nggak perlu ngerasa nggak enak hati kayak gitu, Sen. Asal kamu tau ya, justru suami kita itu punya rasa bangga tersendiri ketika dia bisa membatu menyelesaikan masalah yang sedang kita hadapi. Ada kebanggaan dan kepuasan tersendiri. Dan bahkan, bisa jadi itu juga adalah salah satu cara suami kita menghilangkan kepenatan mereka setelah bekerja, dengan membantu kita, menghabiskan waktu berdua dengan kita," lanjut Sonia panjang lebar.


"Iya juga ya. Makasih banyak ya Mbak, Safa juga. Makasih udah ngingetin aku," kata Sena seraya tersenyum.


"Sama-sama kak. Nggak perlu sungkan," balas Safa.


"Iya, sama-sama Sen. Kan seperti yang sudah sering Mbak bilang juga, pokoknya kita bertiga itu saling sharing dan kasih nasehat aja. Mana yang sedang ada masalah, kita cari solusinya sama-sama. Nggak perlu ada rasa sungkan. Karena kita bertiga adalah saudara," kata Sonia.


"Iya Mbak, Sa," balas Sena.


Ketiga wanita cantik itu saling menggenggam tangan satu sama lain seraya tersenyum lembut. Persahabatan yang berubah menjadi persaudaraan di antara mereka nampak begitu kuat ikatannya.

__ADS_1


__ADS_2