
Tanpa terasa waktu berlalu dengan begitu cepatnya. Dan kehamilan Sena saat ini sudah memasuki usia sembilan bulan.
Sejauh ini semuanya berjalan dengan lancar. Setelah kejadian ngidam aneh Sena yang ingin makan berdua dengan Rey dulu itu, Sena sudah tidak mengalami ngidam yang aneh-aneh lagi. Sena hanya beberapa kali menginginkan makanan tertentu, layaknya wanita hamil yang sedang ngidam pada umumnya.
Beberapa momen membahagiakan juga terjadi selama masa kehamilan Sena tersebut. Mulai dari kelahiran putri pertama Kenzie dan Lathifah, baby Keisha. Kemudian pertunangan Alvin dan Raindyta. Dan juga kelahiran putra pertama Adrian dan Safa, baby Arvin.
Mengingat kehamilan Sena yang sudah mendekati masa persalinannya, Syafiq menjadi lebih protektif dan siaga. Sekarang Syafiq selalu pulang tepat waktu dan tidak pernah lembur sampai malam hari lagi. Bahkan jika ada meeting dengan klien yang diadakan pada malam hari pun, maka Syafiq akan meminta bantuan kepada Alvin dan juga Ega untuk mewakili dirinya.
πΊπΊπΊ
"Ayah, kakak, kita makan malam dulu yuk! Udah siap makan malamnya," ajak Sheila kepada Steven dan Syafiq yang masih serius berdiskusi tentang masalah pekerjaan di ruang kerja Steven.
Steven dan Syafiq mengalihkan perhatian mereka kepada Sheila.
"Oke, Bun," balas Steven dan Syafiq kompak.
"Kak, panggil Sena untuk makan malam gih," pinta Sheila kemudian kepada Syafiq.
"Loh, emang Sena belum turun, Bun?" tanya Syafiq heran.
Biasanya Sena paling semangat untuk membantu Sheila, itu kenapa Syafiq sedikit merasa heran.
"Belum, kak. Mungkin capek dia. Kakak panggil dulu ya, ajakin buat makan malam," jawab Sheila sekaligus meminta sekali lagi kepada Syafiq.
"Oh, oke deh, Bun," balas Syafiq.
Syafiq kemudian bergegas untuk menuju ke kamarnya di lantai dua.
"Sayang," panggil Syafiq seraya membuka pintu kamarnya.
Dan begitu terkejutnya Syafiq ketika dirinya melihat Sena yang sedang berdiri bersandar pada meja riasnya. Sena nampak mengatur nafasnya beberapa kali. Tangan kiri Sena memegangi belakang pinggulnya, sementara tangan kanannya mengusap-usap perutnya yang sudah membuncit itu.
"Astaghfirullah. Kamu kenapa, sayang?" teriak Syafiq seraya berlari menghampiri istrinya yang nampak terengah-engah itu.
__ADS_1
"Huft, huft, huft... Perut aku,,, udah mulai sakit,,, kak," jawab Sena susah payah seraya mengatur nafasnya.
Syafiq yang sedang memegangi pundak dan perut Sena itupun kemudian membulatkan kedua matanya.
"Kamu udah mulai kontraksi, sayang?" tanya Syafiq kaget.
Tidak mampu menjawab, Sena hanya menganggukkan kepalanya pelan.
"Tunggu sebentar. Kakak panggil Bunda dulu ya, sayang."
Tanpa menunggu balasan dari Sena, Syafiq pun kemudian segera berlari keluar dari kamarnya.
"BUNDA!!!" teriak Syafiq seraya berlari menuruni anak tangga.
Sheila dan Steven yang sudah duduk menunggu di meja makan pun seketika terkejut mendengar suara teriakan Syafiq. Keduanya kemudian berdiri dari duduknya.
"Ada apa, kak?" tanya Sheila bergegas menghampiri Syafiq yang juga sedang berlari ke arahnya.
"Apa???" kaget Sheila. "Ayo cepat kita ke atas dulu!" ajak Sheila kemudian.
Sheila setengah berlari, berjalan lebih dulu. Syafiq dan Steven mengikuti di belakangnya.
"Gimana sayang?" tanya Sheila begitu memasuki kamar Sena dan Syafiq.
Sheila segera menghampiri menantunya itu. Dilihatnya Sena yang sedang meringis menahan rasa sakit yang saat ini sedang dirasakannya. Sheila kemudian mengusap-usap punggung Sena berulang kali, berharap bisa sedikit meredakan rasa sakit yang sedang dirasakan oleh Sena itu.
"Huft, huft, udah makin sering, Bun," lirih Sena.
"Sejak kapan mulai terasa sakit?" tanya Sheila.
"Tadi sore. Tapi tadi masih jarang-jarang."
"Yaa Allah, nak, kenapa nggak kasih tau Bunda," kata Sheila cemas. "Siapin mobil, Yah. Kita bawa Sena ke rumah sakit sekarang juga. Kakak, ambil tas yang berisi perlengkapan Sena dan adek bayi, ya," lanjut Sheila, mengarahkan Steven dan Syafiq.
__ADS_1
"Iya, Bun," jawab Steven dan Syafiq serempak.
Steven segera turun untuk menyiapkan mobil. Sementara Syafiq bergegas mengambil tas berisi perlengkapan untuk Sena dan juga calon bayi mereka yang memang sudah mereka persiapkan sebelumnya.
"MBAK DWI!!!" teriak Sheila memanggil asisten rumah tangganya.
Tidak lama kemudian,
"Iya, Bu," balas Mbak Dwi seraya memasuki kamar tersebut.
"Mbak tolong bawain tasnya ke bawah, ya," pinta Sheila.
"Baik, Bu."
"Biar dibawain Mbak Dwi, kak. Kakak gendong Sena turun aja," kata Sheila.
"Baik, Bun."
Syafiq kemudian menyerahkan tas yang dia bawa kepada Mbak Dwi.
"Masih kuat kan, sayang?" tanya Syafiq seraya menghampiri Sena.
Sena menganggukkan kepalanya, mencoba tetap memperlihatkan senyumannya. Tapi Syafiq tau benar istrinya itu sedang menahan rasa sakit yang teramat sangat. Wajah Sena sudah nampak pucat dengan keringat yang membanjir. Sheila mengambil tisu di atas meja rias kemudian menghapus keringat yang memenuhi kening dan leher Sena.
Syafiq kemudian mengangkat tubuh Sena dan membopongnya.
"Tahan ya, sayang. Kita ke rumah sakit sekarang juga," kata Syafiq lembut.
Syafiq berusaha sekuat tenaga untuk menyembunyikan rasa gugup dan paniknya, tidak ingin membuat Sena merasakan hal yang sama. Syafiq ingin membuat Sena justru merasa lebih tenang dan nyaman.
"Iya, kak," lirih Sena yang kemudian merebahkan kepalanya di bahu kokoh suaminya itu.
Syafiq kemudian membawa Sena turun dengan diikuti oleh Sheila dan juga Mbak Dwi di belakangnya.
__ADS_1