Jerat Cinta CEO Arrogant

Jerat Cinta CEO Arrogant
Terlambat


__ADS_3

Intercom di sudut meja kerjanya yang berbunyi, sejenak menghentikan Syafiq dari aktivitasnya. Syafiq pun segera menekan tombol untuk menerima panggilan intercom dari Ega tersebut.


"Iya, Ga."


"Bos, ini ada Aletta. Dia pengen ketemu sama Bos katanya."


Deg.


Syafiq benar-benar merasa terkejut mendengar apa yang dikatakan oleh Ega tadi.


'Aleta? Dia kembali? Astaga, Sena...'


Seketika Syafiq teringat kalau Sena juga berada di dekat Ega. Entah apa yang dipikirkan Sena saat ini. Syafiq berdehem pelan untuk menormalkan kembali ekspresinya.


"Ekhem. Ya udah, suruh masuk aja."


"Baik Bos."


Sambungan intercom pun terputus. Syafiq membuang nafasnya kasar.


"Huft. Kenapa dia harus kembali sih? Kenapa harus sekarang, disaat semuanya sudah terlambat?" gerutu Syafiq pelan.


Tidak lama kemudian pintu ruangan Syafiq terbuka dan menampakkan sosok seorang wanita cantik. Untuk sesaat Syafiq sempat dibuat tertegun. Ya, itu adalah Aletta. Gadis yang dulu pernah disukai oleh Syafiq ketika masih kuliah dulu.


'Aletta. Setelah empat tahun, nggak nyangka kita bisa ketemu lagi. Bahkan Lo yang lebih dulu datang buat nyari gue kesini.'


"Hai, Syafiq," sapa Aletta dengan senyum yang begitu manis.


"Hai, Let. Silahkan duduk," balas Syafiq seraya mempersilahkan Aletta untuk duduk.


"Lo masih nggak berubah ya, Fiq. Cuma Lo yang manggil gue kayak gitu. Lo itu memang spesial, beda dari yang lain," kata Aletta masih dengan senyuman manisnya, seraya mendudukkan dirinya di kursi di depan meja kerja Syafiq.


'Spesial?'


Sayangnya itu semua sudah terlambat. Syafiq tersenyum kecut.


"Gimana kabar Lo sekarang? Lama nggak ketemu," tanya Syafiq kemudian.


Raut wajah Aletta seketika berubah menjadi murung.

__ADS_1


"Kabar gue lagi nggak baik-baik aja, Fiq. Itu kenapa gue kesini nyari Lo. Gue mau minta tolong sama Lo, Fiq," jawab Aletta sendu.


"Ada masalah apa, Let? Apa yang bisa gue bantu?"


"Gue mau cerai sama Gibran, Fiq. Hiks hiks," jawab Aletta yang mulai terisak pelan.


Bagai sebuah sambaran petir di siang hari. Syafiq begitu terkejut mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh Aletta tadi.


"Apa? Cerai?" tanya Syafiq tidak percaya.


"Iya, Fiq. Kita udah nggak bisa sejalan lagi. Gibran juga selalu sibuk dengan kerjaannya dan sering mengabaikan gue, Fiq," keluh Aletta.


Merasa situasi mengarah ke hal-hal yang tidak diinginkan untuk terjadi, Syafiq pun kemudian mengirim pesan singkat kepada Sena.


'Sayang, kamu masuk sekarang ke ruangan kakak, ya.'


"Bukannya setelah nikah kalian tinggal di Amerika?" tanya Syafiq setelah menaruh kembali ponselnya ke atas meja kerjanya.


"Iya, Fiq. Baru seminggu yang lalu gue balik kesini. Dan gue bingung mau minta bantuan sama siapa. Itu kenapa gue akhirnya mutusin untuk minta tolong sama Lo. Mengingat hubungan kita yang sangat dekat dulu, Lo pasti mau kan Fiq bantuin gue?"


Tok. Tok. Tok.


Ceklek.


Sedang ada tamu, itu kenapa Sena tetap menggunakan norma kesopanannya dengan mengetuk pintu terlebih dahulu, meskipun itu adalah ruangan suaminya sendiri.


"Sayang," panggil Syafiq.


Aletta nampak tersentak mendengar Syafiq memanggil 'sayang' pada gadis yang baru saja memasuki ruangan Syafiq tersebut.


Syafiq langsung berdiri dari duduknya kemudian berjalan menghampiri Sena yang juga sedang berjalan menuju ke arah meja kerjanya itu. Syafiq mencium kening Sena kemudian merangkul pinggang ramping istri cantiknya itu.


"Aletta, kenalin ini istri gue, Sena," kata Syafiq memperkenalkan Sena kepada Aletta.


Sena dapat melihat raut wajah Aletta yang nampak begitu terkejut, bahkan sampai terbengong-bengong.


"Sayang, kenalin itu Aletta. Dia temen kuliah kakak dulu," kata Syafiq yang juga memperkenalkan Aletta kepada Sena.


"Oh, hai Mbak Aletta. Kenalin, aku Sena, istrinya kak Syafiq," ucap ramah Sena seraya tersenyum.

__ADS_1


Namun diluar dugaan, Aletta justru langsung bangun dari duduknya kemudian mendekati Syafiq yang masih berdiri merangkul pinggang Sena itu.


"Apa-apaan ini, Fiq? Ini semua bohong kan?" tanya Aletta menuntut.


"Maksud Lo apa sih, Let? Bohong apa?" Syafiq yang bingung pun balik bertanya kepada Aletta.


"Gue tau kalau Lo masih menyimpan perasaan sama gue, Fiq. Lo masih suka sama gue. Temen-temen yang lain juga bilang gitu ke gue. Itu kenapa gue milih datengin Lo buat minta bantuan sama Lo."


Deg.


Sena benar-benar merasa terkejut mendengar semua perkataan Aletta tadi. Ada apa ini sebenarnya?


"Lagian juga, selama ini nggak pernah ada berita tentang pernikahan Lo. Kenapa tiba-tiba Lo bilang kalau cewek ini adalah istri Lo? Lo pasti cuma bohongin gue kan, Fiq? Lo masih marah sama gue dan Lo mau balas dendam sama gue, begitu kah?" tanya Aletta sendu.


"Sorry, Let. Gue nggak lagi bohongin Lo. Sena memang istri gue. Dan sungguh, gue nggak marah sama Lo, apalagi mau balas dendam sama Lo. Nggak pernah sedikitpun terlintas di pikiran gue, Let. Bagi gue, yang lalu ya udah, biarlah berlalu. Masa depan masih panjang, buat apa gue terus terjebak di masa lalu," jawab Syafiq tenang.


Sena memilih untuk diam dan mendengarkan dulu semuanya. Karena memang Sena belum mengetahui situasi dan permasalahan yang sebenarnya sedang terjadi saat ini.


"Jadi udah nggak ada kesempatan kedua lagi buat gue?" tanya Aletta yang sudah kembali mulai terisak kecil.


"Kesempatan kedua apa, Let? Dulu kan Lo sendiri yang bilang ke gue, hubungan kita cukup berteman aja, nggak lebih dari itu. Lo bahkan meminta gue untuk melupakan perasaan gue ke Lo. Dan Lo juga berharap kalau gue bisa menemukan seseorang yang lebih tepat buat gue, iya kan?"


Aletta tertegun mendengar semua perkataan Syafiq. Ya, Aletta tentu ingat kalau dulu dia sendiri yang mengatakan semua perkataan itu kepada Syafiq. Hanya saja Aletta sama sekali tidak menyangka kalau situasinya akan berbalik seperti sekarang ini.


"Dan sekarang gue udah nemuin Sena," lanjut Syafiq dengan memandang wajah Sena penuh cinta. "Sena adalah wanita yang gue sayangi, bahkan sejak gue masih kecil dulu, sebelum gue tau apa itu arti cinta yang sebenarnya."


"Fiq... Jadi perasaan Lo dulu ke gue? Itu semua bohong?" lirih Aletta.


"Sorry, Let. Mungkin dulu gue pernah suka sama Lo. Tapi entahlah, itu bisa disebut cinta atau enggak. Karena jujur aja, perasaan yang dulu gue rasain ke Lo, sama perasaan yang gue rasain ke Sena sekarang, itu beda banget. Dan yang jelas, saat ini cuma ada Sena di hati gue. Gue cinta sama Sena. Apalagi sekarang Sena adalah istri gue."


Aletta semakin terisak-isak. Ah, sepertinya Sena mulai memahami duduk permasalahannya sekarang.


"Jadi Let, seperti yang Lo bilang tadi kalau Lo mau minta bantuan sama gue, gue janji gue pasti akan bantuin Lo semampu gue. Tapi gue minta sama Lo, tolong jangan lagi mengungkit masalah perasaan gue sama Lo di masa lalu. Gue udah punya istri sekarang. Dan gue nggak mau membuat istri gue jadi salah paham apalagi sakit hati karena masalah itu. Lo bisa kan, Let?" tanya Syafiq menegaskan.


Aletta nampak menghirup udara dalam-dalam, mencoba menenangkan dirinya sendiri.


"Oke, Fiq. Makasih sebelumnya, Lo udah bersedia buat bantuin gue. Kalau gitu gue pamit dulu, ya. Besok gue kabarin Lo lagi. Gue pamit ya Sena, sorry kalau tadi gue sempat mengungkit masalah cinta masa lalu gue sama suami Lo," pamit Aletta kepada Syafiq dan Sena.


"Iya Mbak, nggak pa-pa kok," balas Sena.

__ADS_1


Aletta kemudian meninggalkan Syafiq dan juga Sena. Sesaat, Sena bisa mendengar kalau Aletta kembali menangis.


'Sialan. Gue terlambat. Kenapa semuanya jadi gini sih? Tapi gue nggak boleh nyerah gitu aja. Apalagi cuma gadis kecil kayak Sena,' gumam batin Aletta.


__ADS_2