Jerat Cinta CEO Arrogant

Jerat Cinta CEO Arrogant
Cinta Masa Lalu


__ADS_3

Sena dan Naura sudah mulai melakukan magang di perusahaan RSA Group. Keduanya ditempatkan di bawah pengawasan Ega secara langsung. Tentu saja hal itu berdasarkan perintah dari sang CEO, yaitu Syafiq. Syafiq tidak ingin istrinya mengalami kesulitan dan tetap dapat menjalankan program magangnya dengan lancar tentu saja.


Hari demi hari dilalui Sena dan Naura tanpa kendala yang berarti. Apalagi semua karyawan di perusahaan tersebut mengetahui bahwa Sena adalah istri dari CEO mereka dan Naura adalah sepupu dari Ega. Jadi tentu saja keduanya mendapatkan perlakuan yang sedikit istimewa, berbeda dengan mahasiswa magang pada umumnya.


Siang ini, selesai istirahat makan siang, Sena dan Naura sudah kembali berkutat dengan komputer di hadapan mereka. Keduanya sibuk memasukkan data yang tadi diberikan oleh Ega kepada mereka untuk di-input ke dalam komputer. Sampai akhirnya mereka bertiga dikejutkan oleh suara merdu seorang wanita cantik yang sedang bertanya.


"Selamat siang. Syafiq nya ada kan?" tanya wanita cantik tersebut.


Ega seketika mendongakkan kepalanya, melihat wanita cantik yang sedang bertanya kepada dirinya itu. Sena dan Naura pun secara refleks juga langsung menolehkan kepala mereka, apalagi setelah mendengar nama Syafiq disebut tadi.


"Aletta???" kata Ega kaget seraya berdiri dari duduknya.


"Hai Ega. Lama ya nggak ketemu. Gimana kabar Lo sekarang?" tanya wanita cantik yang dipanggil 'Aletta' oleh Ega itu.


Sena dan Naura saling berpandangan. Keduanya sama-sama bingung. Siapa wanita cantik ini? Kenapa dia mencari Syafiq? Dan bagaimana Ega bisa kenal juga dengan wanita cantik itu?


Ega menoleh sejenak ke arah Sena dan Naura sebelum menjawab. Nampak sekali raut wajah kaget dan bingung di wajah Ega yang biasanya selalu terlihat serius itu. Ega kemudian berdehem pelan untuk menormalkan kembali ekspresi wajahnya sendiri.


"Ekhem. Kabar gue baik kok, Ta. Lo sendiri gimana?" jawab Ega sekaligus bertanya balik.


"Gue lagi nggak baik, Ga. Lagi ada sedikit problem. Itu kenapa gue kesini sekarang. Gue mau minta tolong sama Syafiq," jawab sendu wanita cantik bernama Aletta itu.


Sena dan Naura bisa melihat wajah murung Aletta yang tidak sedang dibuat-buat itu. Tapi tetap saja, mereka masih menyimpan tanya tentang siapa sebenarnya Aletta ini.


"Gue bisa ketemu sama Syafiq kan, Ga?" tanya Aletta.


Ega nampak salah tingkah. Bingung harus menjawab bagaimana. Sekali lagi Ega kembali menoleh ke arah Sena dan Naura.


Sena memahami maksud dari tatapan mata Ega yang seakan-akan bertanya kepada dirinya. Sena pun kemudian menganggukkan kepalanya pelan. Ega nampak mengesah pelan sebelum akhirnya kembali melihat ke arah Aletta lagi.


"Gue kabarin Bos Syafiq dulu ya," kata Ega pada akhirnya.


"Iya, Ga," balas Aletta nampak sumringah.


Ega kemudian menghubungi Syafiq melalui intercom di atas meja kerjanya.


"Iya, Ga."


"Bos, ini ada Aletta. Dia pengen ketemu sama Bos katanya."


Hening beberapa saat. Sepertinya Syafiq pun juga merasa terkejut sama seperti Ega tadi.


"Ekhem. Ya udah, suruh masuk aja."


"Baik Bos."


Ega mengakhiri sambungan intercomnya.


"Silahkan, Ta. Lo boleh masuk," kata Ega kepada Aletta.

__ADS_1


"Oke. Thanks ya, Ga. Gue masuk dulu kalau gitu," balas Aletta dengan senyum sumringahnya.


Aletta kemudian beranjak untuk memasuki ruangan Syafiq.


"Cewek itu siapa kak? Kok dia kenal kakak sama kak Syafiq juga?" tanya Naura setelah kepergian Aletta.


"Oh, ehm, dia teman kuliah kita dulu," jawab Ega seperlunya.


"Hanya teman kuliah aja nih?" selidik Naura lagi.


Ega nampak sedikit gelagapan, bingung harus menjawab pertanyaan Naura seperti apa. Sementara Sena masih memilih untuk diam. Membiarkan sahabatnya itu untuk mengorek informasi dari kakak sepupunya yang semakin terlihat salah tingkah itu.


"I-itu,,," Ega tidak mampu melanjutkan perkataannya.


Dan tiba-tiba saja ponsel Sena berbunyi. Sebuah notifikasi pesan masuk dari Syafiq. Sena kemudian segera membukanya.


'Sayang, kamu masuk sekarang ke ruangan kakak, ya.'


Sena sedikit mengerutkan keningnya, namun tidak berniat untuk membantah.


"Gue disuruh masuk sama kak Syafiq. Gue masuk dulu, ya," pamit Sena kepada Naura dan Ega.


"Oh, oke deh, Sen," balas Naura.


"I-iya, Sena. Silahkan," balas Ega juga.


"Jadi, cewek tadi siapa, kak? Nggak mungkin kalau cuma sekedar teman kuliah aja, kan?" lagi-lagi Naura mendesak jawaban dari kakak sepupunya itu.


Ega mengusap wajahnya seraya membuang nafasnya kasar.


"Hah... Bisa dibilang, Aletta adalah cewek yang dulu pernah disukai oleh Bos Syafiq, Nau," jawab Ega pada akhirnya.


Naura sampai menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya karena terkejut.


"Jadi???" tanya Naura masih dengan keterkejutannya.


Ega menggelengkan kepalanya beberapa kali.


"Masalah ini diluar teritori kita. Sebaiknya kita tidak ikut campur terlalu jauh. Udah, balik kerja lagi sana," kata Ega yang diakhiri dengan perintah.


"I-iya, kak."


Naura pun akhirnya mengikuti perintah Ega. Keduanya kemudian kembali duduk di kursi masing-masing dan kembali mengerjakan pekerjaan mereka. Meski jujur saja, pikiran mereka berdua sama-sama masih belum bisa lepas dari wanita bernama Aletta tadi.


🌺🌺🌺


Beberapa saat kemudian.


"Syafiq ada kan, Ga?" tanya Alvin ketika sudah hampir tiba di depan meja kerja Ega.

__ADS_1


Ega segera mendongakkan kepalanya.


"Bos Alvin? Ada kok Bos di dalam. Eh, tapi,,," teringat akan Aletta, Ega pun jadi ragu-ragu untuk melanjutkan perkataannya.


"Tapi kenapa, Ga?" tanya Alvin lagi yang saat ini sudah berdiri di depan meja kerja Ega.


"Hmh, itu Bos,,,"


Ceklek.


Perhatian Ega, Alvin, dan Naura pun seketika beralih ke arah pintu ruangan Syafiq yang mengayun terbuka. Nampak Aletta keluar dari dalam ruangan Syafiq dengan berurai air mata.


"Aletta?" tanya Alvin kaget dan tidak percaya.


Aletta menghentikan langkahnya dan langsung mengangkat wajahnya.


"Alvin," lirih Aletta begitu melihat Alvin.


Aletta seketika langsung berlari dan menghambur memeluk Alvin kemudian menumpahkan tangisannya di dalam pelukan Alvin.


Ega dan Naura bisa melihat Alvin yang nampak merasa tidak nyaman. Alvin lalu mulai berusaha untuk melepaskan pelukan Aletta terhadap dirinya dengan perlahan-lahan, tidak ingin menyinggung perasaan Aletta tentu saja.


"Lo kenapa, Ta? Kenapa nangis?" tanya Alvin dengan memegangi kedua pundak Aletta.


"Gue nggak baik-baik aja, Vin. Gue hancur. Gue hancur, Vin," ratap Aletta dengan tangisan yang semakin tersedu-sedu.


Melihat kondisi Aletta sekarang, Alvin tau bahwa ini bukan saat yang tepat untuk bertanya lebih banyak lagi kepada Aletta.


"Lo butuh waktu untuk menenangkan diri Lo dulu, Ta. Lo pulang dulu, ya. Tenangin diri Lo terlebih dahulu. Nanti kalau Lo udah merasa lebih tenang, Lo bisa ceritain semuanya ke gue. Okey?"


Aletta nampak menganggukkan kepalanya pelan.


"Lo kesini naik apa?" tanya Alvin.


"Gue dianter sopir," jawab Aletta di sela isak tangisnya.


"Ya udah kalau gitu. Naura, tolong Lo anterin Aletta ke bawah, ya. Tolong pastikan Aletta sampai ke mobilnya dengan aman," perintah Alvin kepada Naura.


"Baik, kak," balas Naura.


Naura kemudian mendekati Aletta.


"Mari Mbak, saya antar sampai ke mobilnya," kata Naura sopan.


Aletta menganggukkan kepalanya kembali. Keduanya kemudian berjalan beriringan menuju ke arah lift.


"Haish,,, kenapa jadi gini sih, Ga? Kenapa cinta masa lalu Syafiq harus kembali sekarang? Kenapa harus saat semuanya sudah bahagia seperti ini?" keluh Alvin setelah Aletta dan Naura masuk ke dalam lift.


"Saya sendiri juga tidak tau, Bos," balas Ega sama bingungnya dengan Alvin.

__ADS_1


__ADS_2