Jerat Cinta CEO Arrogant

Jerat Cinta CEO Arrogant
Tertunai ( Rahasia Besar Yang Terungkap )


__ADS_3

Ketika Syafiq kembali ke kamarnya, setelah selesai mandi di kamar sebelah, Syafiq melihat kondisi kamar yang masih kosong. Sepertinya Sena belum selesai dengan urusan mandinya. Syafiq kemudian menghampiri lemari pakaian di sudut ruangan dan membukanya. Syafiq tadi tidak membawa baju ganti sekalian, jadi saat ini dia hanya mengenakan handuk sebatas perut ke bawah saja.


Dan ketika Syafiq sedang sibuk mengambil baju ganti di dalam lemari, tiba-tiba saja pintu kamar mandi berbunyi dan terbuka. Sena yang baru saja selesai dengan urusan mandinya terkejut dan terpaku di depan pintu kamar mandi melihat keadaan Syafiq yang hanya mengenakan handuk saja. Sesaat Syafiq pun sempat terkejut, tetapi dengan cepat Syafiq segera menormalkan kembali ekspresi wajahnya.


"Udah selesai?" tanya Syafiq seraya mengambil pakaian ganti dari dalam lemari.


"U-udah kak," lirih Sena dengan menundukkan wajahnya, merasa gugup dan canggung.


Sena tentu saja sudah memakai baju lengkap. Dia tadi membawa pakaian gantinya ke dalam kamar mandi. Dan melihat tubuh bagian atas Syafiq yang polos seperti itu tentu saja membuat jantung Sena berdetak tidak karuan.


"A-aku ke bawah dulu ya, kak. Buat minuman hangat untuk kita," pamit Sena kemudian.


"Oke. Kakak langsung turun setelah selesai berpakaian."


"I-iya."


Secepat kilat Sena kemudian keluar dari kamar tersebut dan bergegas untuk turun ke bawah. Sena segera menuju ke dapur di apartemen tersebut.


Beberapa saat kemudian Syafiq yang sudah selesai berpakaian pun turun ke bawah juga. Syafiq langsung mendudukkan dirinya di kursi meja makan seraya memijit ringan pelipisnya. Sena menghampiri Syafiq dengan membawa dua cangkir teh panas dan meletakkannya di atas meja.


"Kakak kenapa? Pusing ya?" tanya Sena khawatir.


Sena mendudukkan dirinya di kursi sebelah Syafiq dan memegangi bahu suaminya itu.


"Sedikit. Mungkin karena nggak pernah hujan-hujanan, jadi agak pusing aja."


"Maaf ya, kak. Gara-gara aku -"


"Ck, apa sih, kakak nggak selemah itu. Udah, jangan ngerasa bersalah, kakak nggak pa-pa kok," potong Syafiq cepat.


"Ini kak, diminum dulu teh panasnya. Biar hangat badannya," kata Sena dengan menggeser teh untuk Syafiq.


"Makasih."


Syafiq kemudian mengangkat cangkir tersebut dan meminum tehnya.


"Kalau gitu malam ini kita tidur disini aja ya, kak. Nanti biar aku hubungi Bunda sekalian minta ijin," usul Sena.


Syafiq menganggukkan kepalanya menyetujui usulan Sena tersebut.


"Kakak istirahat aja dulu di kamar. Biar aku masak untuk makan malam kita."


"Nggak pa-pa. Kakak disini aja."


"Ya udah kalau gitu. Aku tinggal dulu ya, kak."

__ADS_1


Lagi, Syafiq menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Sena kemudian membuka pintu kulkas dan melihat persediaan bahan makanan yang ada di dalamnya.


"Yah, nggak ada sayur. Nasi goreng telur sama sosis aja nggak pa-pa ya, kak?" tanya Sena kepada Syafiq.


"Nggak pa-pa. Seadanya aja. Atau kita delivery aja? Biar kamu nggak ribet," jawab Syafiq yang sekaligus menawarkan pilihan lain kepada Sena.


"Nggak usah lah kak. Cuma nasi goreng aja, nggak ribet kok," balas Sena menolak.


"Ya udah kalau gitu, terserah kamu aja."


Sena kemudian mulai meracik bumbu untuk membuat nasi goreng. Syafiq memperhatikan bagaimana istrinya itu mulai memasak untuk makan malam mereka berdua. Syafiq mengulum senyum kecil, ternyata istrinya itu sangat cekatan. Sesaat kemudian dua piring nasi goreng yang harum dan menggugah selera sudah terhidang di atas meja.


"Silahkan, kak."


"Makasih ya, sayang."


Setelah berdo'a, Syafiq dan Sena kemudian mulai menikmati makan malam sederhana mereka tersebut.


"Hmm, masakan kamu kenapa selalu seenak ini sih, sayang," puji Syafiq setelah menelan sesuap nasi gorengnya.


"Syukurlah kalau kakak suka," balas Sena.


"Pasti suka lah. Masakan apapun yang kamu buat, rasanya selalu luar biasa, sayang."


"Udah ah, kak. Jangan muji-muji aku terus kayak gitu. Oh iya, akhir pekan ini jadi kan kak acara lamaran Mas Rian sama Safa?" tanya Sena mengalihkan pembicaraan.


"Salut banget ya kak sama kisah cinta mereka berdua. Dari kecil sampai sekarang, nggak tergoyahkan sama sekali. Keduanya bisa menjaga hati dan perasaan masing-masing untuk saling setia satu sama lain," kata Sena, mengagumi kuatnya hubungan antara Adrian dan Safa.


Deg.


Syafiq merasa tertohok dengan perkataan Sena.


'Maafkan kakak yang sempat tergoda dengan gadis lain, Sena. Walaupun pada akhirnya Tuhan menunjukkan kalau gadis itu tidak baik untuk kakak. Sampai akhirnya kakak menyadari kalau hati kakak sudah tertambat ke kamu sejak kejadian waktu kita kecil dulu itu. Tapi tetap saja, maafkan kakak yang pernah tergoda.'


"Kak," panggil Sena melihat Syafiq yang sedang melamun.


"Hmh," balas Syafiq setelah tersadar dari lamunannya.


"Kok ngelamun?" tanya Sena.


"Enggak kok. Habisin makannya, habis itu kita sholat Maghrib jamaah," jawab Syafiq sekaligus memberi perintah kepada Sena.


"Iya, kak," balas Sena tidak ingin membantah.


Syafiq dan Sena kemudian melanjutkan acara makan malam mereka. Setelah selesai, keduanya kemudian melaksanakan sholat Maghrib berjamaah.

__ADS_1


🌺🌺🌺


Saat ini Sena sedang duduk di depan meja riasnya dan mengaplikasikan krim malam pada wajahnya. Syafiq yang baru saja keluar dari kamar mandi pun segera menghampiri istrinya itu. Syafiq berdiri di belakang Sena dan meletakkan kedua tangannya di atas pundak Sena.


Cup.


Sena terkejut ketika tiba-tiba Syafiq membungkukkan badannya dan mencium pipi kanannya.


"Istri kakak cantik banget sih," puji Syafiq dengan melihat wajah Sena di cermin.


Syafiq dan Sena saling berpandangan melalui pantulan diri mereka pada cermin rias tersebut. Syafiq bisa melihat wajah cantik Sena yang sedang merona merah saat ini. Syafiq kemudian membimbing Sena untuk bangun dari duduknya. Diputarnya tubuh istrinya itu hingga menghadap ke arah dirinya. Syafiq membelai lembut pipi kiri Sena dengan punggung tangan kanannya.


"Kakak mencintai kamu, Sena. Kakak sayang banget sama kamu," kata Syafiq lembut.


Kedua mata indah Sena mulai berkaca-kaca karena merasa terharu. Bibir cantik itu menyunggingkan senyuman manisnya.


"Sena juga mencintai kak Syafiq. Sena juga sayang banget sama kak Syafiq," balas Sena.


Syafiq kemudian menundukkan wajahnya dan mulai memagut lembut bibir istrinya itu, yang sekarang sudah menjadi candu bagi Syafiq. Keduanya memejamkan mata, menikmati hangatnya kasih sayang satu sama lain.


Perlahan ciuman mereka berdua pun menjadi semakin panas. Ciuman itu berubah semakin menuntut. Menuntut sesuatu yang lebih. Bahkan Sena pun juga mulai mengalungkan kedua tangannya di leher Syafiq, membalas pelukan Syafiq di pinggangnya. Ketika keduanya mulai merasa kehabisan nafas, Syafiq pun melepaskan ciumannya kemudian menyatukan kening mereka berdua. Nafas keduanya sama-sama memburu.


"Kakak menginginkan kamu, Sena. Bolehkah?" tanya Syafiq dengan suara yang mulai serak menahan n a f s u.


Sena memejamkan kedua matanya. Sena menyadari kalau ini adalah kewajibannya sebagai seorang istri. Dan cepat atau lambat, hal ini pasti akan terjadi juga. Memantapkan hatinya, Sena kemudian membuka kembali kedua matanya.


"Aku milikmu, kak," jawab Sena dengan tersenyum lembut.


Senyum Syafiq mengembang. Kembali dipagutnya bibir istrinya itu. Perlahan-lahan Syafiq mulai membimbing Sena ke arah tempat tidur. Direbahkannya perlahan tubuh istrinya itu tanpa melepaskan tautan bibir keduanya. Sesaat kemudian tangan Syafiq sudah berhasil membuka pakaian istrinya itu. Syafiq pun kemudian mulai membuka pakaiannya sendiri juga.


Syafiq terus menciumi semua bagian tubuh Sena. Kedua tangannya juga tidak tinggal diam dan terus membelai serta meremas di bagian-bagian tertentu. Sena hanya bisa melenguh dengan memejamkan kedua matanya, merasakan setiap gelenyar asing yang baru pertama kali ini dia rasakan. Rasanya sungguh memabukkan dan membuat Sena seakan merasa terbang melayang.


"Tahan sebentar ya sayang. Kamu boleh menggigit pundak kakak kalau merasa sakit," bisik Syafiq ketika dirinya sudah berada tepat di depan pintu masuk bagian pribadi Sena.


Sena hanya membalas dengan menganggukkan kepalanya pelan. Dan ketika Syafiq mulai melesak masuk, Sena merasakan kesakitan yang teramat sangat. Sampai akhirnya tiba pada penghalang di dalam sana.


"Aaarrrggghhh," pekik Sena ketika Syafiq mendorong menerobos penghalang itu.


Sena sampai menitikkan air matanya. Tubuh Sena rasanya seperti terbelah. Tapi Sena kemudian menyadari satu hal, dia baru saja kehilangan keperawanannya.


'Jadi malam itu???'


"Kak?" tanya Sena di sela-sela ringisannya menahan perih, menuntut penjelasan.


"Terima kasih sudah memberikan kesucian kamu untuk kakak, sayang," bisik Syafiq yang kemudian mencium kening Sena dalam.

__ADS_1


Setelah merasa Sena bisa menerima dirinya di dalam sana, Syafiq pun kemudian mulai menggerakkan tubuhnya, mengayun perlahan. Benak Sena yang masih penuh dengan berbagai macam pertanyaan pun akhirnya terkalahkan dengan buaian dari Syafiq. Menyingkirkan sejenak kegundahan hatinya, Sena tak kuasa menolak ajakan Syafiq untuk meniti ke puncak kenikmatan terindah untuk mereka berdua.


__ADS_2